Header Ads


Breaking News

KARYA ROH KUDUS DI TENGAH PANDEMI

 Mendengar kata ‘Pentakosta’ budi kita tentu berpikir tentang dua kata, yaitu Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang pertama kali mengobarkan semangat para rasul awali untuk berani keluar mewartakan kabar gembira yang telah diajarkan oleh Yesus Kristus, Sang Guru. Roh Kudus yang sama pulalah yang membimbing dan menuntun Gereja sepanjang sejarahnya. Namun bagaimana Roh Kudus di masa pandemi corona ini? Seperti apakah Roh Kudus tetap berkarya dengan cara-cara yang luar biasa? Bagaimana Roh yang sama itu menggerakkan banyak orang untuk semakin beriman di tengah berbagai pembatasan?

 

Roh Kudus menggerakkan orang untuk berbuat baik.

 

PENTAKOSTA berasal dari bahasa Yunani berarti kelimapuluh  (pentekoste). Dalam iman kristiani, Pentakosta adalah suatu peristiwa dimana turunnya Roh Kudus ke atas Para Rasul. Tepat lima puluh hari setelah perayaan Kebangkitan Tuhan Yesus yang wafat di kayu salib demi menebus dosa-dosa manusia, dan setelah sepuluh hari kenaikan Tuhan.

Dalam Kitab Kisah Para Rasul diceritakan bahwa pada hari Pentakosta, ketika “semua orang yang percaya kepada Kristus berkumpul di satu tempat, tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya” (2:2-4).

Dalam tradisi Yahudi juga mengenal perayaan Pentakosta. Tradisi Yahudi, Pentakosta merupakan hari raya terbesar kedua. Perayaannya adalah satu hari penuh pada akhir musim petik gandum, dan merupakan saat sukacita dan syukur kepada Tuhan (lih. Kitab Keluaran 34:22). Pentakosta merupakan hari kelimapuluh (tujuh minggu) sesudah Paskah, dan oleh umat Yahudi dirayakan sebagai hari Nabi Musa menerima Kesepuluh Perintah Allah. Hari raya ini juga merupakan peringatan bagi bangsa Israel untuk memberi perhatian khusus pada perbaikan Bait Suci Yerusalem.

Pentakosta bagi Gereja juga merupakan penggenapan Nubuat Nabi Yoel, “Juga, pada hari-hari itu akan Kucurahkan Roh-Ku ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan dan mereka akan bernubuat" (Yl 2:28-32).

Dalam sejarahnya, Gereja juga mengalami kemerosotan iman. Akhir abad ke-19 adalah masa-masa dimana dunia merasakan kemerosotan iman. Modernisme dan kritisisme biblis merajalela, mengaburkan Pribadi Yesus dan membuat kebenaran iman tampak semakin sulit dipahami oleh umat beriman.

Pada tahun 1897, Paus Leo menerima surat-surat dari seorang biarawati dari Italia yang bernama Beata Elena Guerra, pendiri Tarekat Oblat Roh Kudus. Ia mengharapkan supaya Bapa Suci membuka abad yang datang dengan melagukan Veni Creator Spiritus dan supaya Paus minta kepada para uskup dan seluruh umat beriman agar mengadakan novena kepada Roh Kudus. Pada tahun 1950-an, seorang Imam Spanyol, Santo Josemaria Escriva, menulis, "Berdoalah bersama saya untuk memohon suatu Pentakosta baru, yang sekali lagi akan membuat dunia ini bernyala."  

Gerak Roh di Masa Pandemi

Di masa pandemi corona ini dimana antar-manusia ‘dijauhkan’ termasuk perjumpaan dalam Ekaristi, banyak dari mereka yang enggan ke gereja, beberapa mengalami kelesuan iman, masihkah api pentakosta membara untuk ‘membakar’ iman setiap anak-anak Allah? Masihkah Roh Kudus berkarya? Di mana mereka yang tersulut oleh api Roh Kudus?

Ketua Bidang (Kabid) Paguyuban dan Persaudaran Paroki Santa Maria Assumpta Klaten, Agustina Maria Nawangwulan, mengatakan dirinya tetap mendapat pencurahan Roh Kudus pada saat Pentakosta.

“Bagi saya, tidak para rasul yang mendapat pencurahan Roh Kudus. Saya dan Anda juga  mendapat pencurahan Roh Kudus. Sehingga hidup kita selalu dalam tuntunan Roh Kudus dan dijaga Roh Kudus. Dengan demikian, hidup kita harusnya lebih mematuhi kehendak-Nya dan terarah kepada-Nya,” kata guru SMP Negeri 3 Klaten ini.

Umat Lingkungan Santo Yoseph Sekarsuli Paroki Klaten ini mengatakan, Roh Kudus masih berkarya sampai saat ini dan selamanya. Menurutnya, di dalam menjalani hidup yang semakin sulit ini banyak godaan dan tantangan yang bisa menjerumuskan manusia menjadi manusia yang jahat atau mudah putus asa.

“Maka peran Roh Kudus sangat diperlukan untuk menuntun dan memperingatkan jika manusia mulai tersesat dan putus asa. Karenanya, di setiap peristiwa hidup, manusia harus tetap mendengarkan suara Tuhan,” ujar warga Klaten Utara ini.

Mantan Kabid Liturgi dan Peribadatan Paroki Santa Maria Assumpta Klaten ini menyatakan, pandemi covid-19 adalah kejadian luar biasa. Cobaan yang sangat berat bagi umat manusia, yang mengubah kehidupan dan cara hidup manusia.

“Maka diperlukan peran Roh Kudus dalam menguatkan manusia, supaya tetap bertahan hidup di jalan Tuhan. Karena di setiap peristiwa hidup, apapun dan seberat apapun, Tuhan pasti hadir,” tandas Agustina.

Menurutnya, ciri-ciri orang yang hidup sesuai dorongan Roh Kudus adalah orang yang dalam setiap peristiwa hidupnya baik senang atau sedih, bahkan jika mendapat musibah, tetap mencari rencana Tuhan lewat peristiwa itu.

Senada dengan Agustina Maria adalah Ketua Bidang Liturgi Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Klaten, Grejinda Budi Harmaka.

“Saya memahami Pentakosta sebagai peristiwa kepenuhan hidup seorang kristiani melalui pencurahan Roh Kudus oleh Tuhan sendiri. Melalui pencurahan Roh Kudus itu pula, penyertaan atau kehadiran Tuhan kekal di dalam setiap pergulatan hidup setiap orang,” katanya.

Guru yang mengajar di SMK Pangudi Luhur Leonardo Klaten ini meyakini, bahwa Roh Kudus itu masih berkarya hingga saat ini. Menurutnya, ini adalah konsekuensi janji penyertaan Tuhan pada umatNya, bahwa Dia akan menyertai sampai akhir jaman dalam peristiwa kenaikan ke surga.

Ia menyatakan, bentuk yang nyata bahwa karya Roh Kudus itu tetap berkarya sampai saat ini yaitu penyertaan Roh Kudus akan keberadaan Gereja.

“Karya Roh Kudus pada saat ini juga dapat kita jumpai pada pribadi-pribadi yang bersemangat dan peduli dengan sesama yang sedang ditimpa musibah bencana misalnya. Tidak sedikit pula kita lihat upaya-upaya mewujudkan toleransi, perdamaian, termasuk juga upaya-upaya mewujudkan kesejahteraan bersama lintas suku, agama dan ras,” terangnya.

Warga Dukuh Karang, Desa Kalitengah, Wedi, Klaten ini mengatakan, pandemi covid-19 telah mempengaruhi segi kehidupan manusia, sosial, ekonomi, pendidikan, dan bahkan dalam kehidupan beriman. Kondisi ini ternyata memunculkan dinamika baru yang tidak pernah terbayang sebelumnya.

“Meski begitu, ilham Roh Kudus terus bekerja. Ini dapat dilihat dari munculnya pribadi-pribadi yang semakin tergerak untuk terlibat dalam mengatasi keprihatinan-keprihatinan gereja atau paroki melalui kerelaannya menjadi relawan-relawan di gugus pelayanan dampak covid-19 tingkat paroki,” tandasnya.

Hal yang sama pun dikatakan Tim Kerja Kerasulan Kemasyarakatan (Keramas) dan Hubungan Antaragama dan Keyakinan (HAK) Paroki Santa Maria Assumpta Cawas, Kabupaten Klaten, Herman Yosep Wiji.

“Bagi saya, Pentakosta adalah suatu peristiwa dimana Tuhan hadir dalam hidup dan kehidupan saya secara pribadi, yang membawa Roh Kebijaksanaan, Roh Akal Budi, Roh Pengetahuan, Roh Kesejateraan, dan Roh Penghiburan yang membuat hidup saya menjadi tenteram dan aman,” katanya.

Guru Teknik Bangunan di SMK Kristen 1 Klaten ini menyatakan, Roh Kudus masih tetap berkarya dalam hidup kita sampai saat ini.

“Sebagai contoh, kami sekeluarga selalu diberikan kesehatan dan terhindar dari covid-19. Dan sebagai guru, saya masih dimampukan untuk tetap mengajar demi masa depan anak didik saya. Semua ini kalau tanpa campur tangan Tuhan dan berkat Roh Kudus, tidak akan dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.

Laurentius Petrus Suhartono sebagai Wakil Koordinator Umum BPK PKK KAS (Badan Pelayanan Keuskupan Pembaruan Karismatik Katolik Keuskupan Agung Semarang), mengatakan Roh Kudus masih berkarya dan akan terus berkarya bahkan dalam masa pandemi ini. Buktinya di beberapa tempat ada banyak baptisan baru. Terjadi banyak pertobatan dan pemulihan di dalam kehidupan berkeluarga, banyak orang disadarkan dan menemukan arti hidupnya.

Banyak orang juga berani dan haus ikut pengajaran-pengajaran untuk memperdalam iman mereka dan mengenal Tuhan lebih dekat. Bahkan mereka berani membayar harga yang tidak tergolong murah. Beberapa yang lain terdorong membantu saudara, teman,  tetangganya yang terdampak secara ekonomi. Yang lain lagi tekun berdoa bersama dengan keluarga yang awalnya tak pernah mereka lakukan.

Melalui persekutuan doa dan pengajaran online banyak  yang mengalami diteguhkan, mengalami roh keperkasaan untuk menghadapi krisis multidimensi di masa pandemi, semakin peka terhadap penderitaan sesama dan tergerak untuk membantu.

Orang-orang Pembaruan Karismatik menghidupi kehadiran Roh Kudus dengan aksi nyata, langkah konkret yang mereka dapatkan saat bersekutu dalam doa bersama, saat doa pujian penyembahan harian yang memuncak dalam hadirnya karunia nubuat serta sabda pengetahuan, juga saat Ekaristi harian dan mingguan baik secara online maupun offline.

Semua yang dikatakan umat tersebut diamini Uskup KAS Mgr Robertus Rubiyatmoko. Bapa Uskup percaya bahwa Roh Kudus berkarya dalam diri umat, dalam kehidupan umat dan Gereja secara keseluruhan. Roh Kudus bekerja dari waktu ke waktu menggerakkan seluruh umat; Roh Kudus bukannya hadir ketika ada perayaan Pentakosta saja. Mgr Rubiyatmoko yakin 100% bahwa apa yang umat  lakukan sampai sekarang ini pun juga digerakkan oleh Roh Kudus.

“Maka yang paling penting adalah bagaimana umat kita itu semakin memiliki kepekaan dan keterbukaan untuk menangkap gerak Roh ini. Mengetahui apa yang menjadi kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari. Itu kepekaan yang diandaikan ada di dalam diri orang Katolik. Supaya tindak tanduk, pekerjaan, dan pelayanan  umat sungguh-sungguh sesuai dengan kehendak Allah sendiri. Dan ini semua yang kita lakukan menjadi buah-buah Roh. Maka mudah-mudahan dalam perayaan Pentakosta nanti memuncaki syukur umat. Syukur atas pendampingan dan berkat Roh Kudus yang akan tetap mendampingi hidup selamanya,” tandas Bapa Uskup.

 

Mengapa Lidah Api?

Vikaris Episkopal (Vikep) Kategorial Rama Yohanes Dwi Harsanto Pr menjelaskan, lidah-lidah api sebetulnya mau mengatakan Roh Kudus itu adalah Ruah. Ruah atau Roh, itu arti aslinya udara. Udara itu menghidupi, ada oksigennya. Setiap orang membutuhkan udara.

           Sedangkan api menandakan dinamis, semangat; kobarannya membuat kita hangat. Ada energi dan tenaga yang menghidupi dan menjadi jiwa atau anima dari Gereja. Roh Kudus itu jiwa Gereja. Tanpa Roh Kudus kita tidak bergerak apa-apa. Ibarat listrik, meski kabel-kabel dan instalasinya sudah dipasang namun jika tidak ada setrum atau aliran listriknya maka lampu tidak menyala atau kipas angin bergerak. Atau ibarat bahan bakar, mobil sudah ada sopirnya dan sudah diservis namun tanpa bahan bakar maka mobil tersebut tidak bisa berjalan. Roh Kudus itulah jiwa Gereja, tidak tampak namun menggerakkan.

Gereja kita, Gereja di keuskupan-keuskupan seluruh dunia di bawah kegembalaan Paus, selalu berkobar dengan Roh Kudus. Sistemnya sudah ada dari Paus sampai paroki; lalu paroki sampai kepada ketua lingkungan, ada dewan pastoral paroki. Sistem ini harus disulut oleh Roh Kudus.

Rama Dwi Harsanto yakin bahwa di tengah pandemi ini Roh Kudus tetap terus berkarya. “Saya sebagai vikep kategorial merasakan hal itu. Kelompok-kelompok kategorial itu dinamis. Bahkan muncul kelompok-kelompok baru, seperti ini ada gerakan untuk Sekolah Evangelisasi Pribadi; lalu sekarang muncul alumninya membentuk KELASI (Keluarga Alumni Evangelisasi Pribadi). Bahkan adanya Gereja itu karya Roh Kudus. Nah, tugas Gereja mohon lebih mendengarkan bisikan Roh Kudus di setiap zaman.”

Bahkan jika ada yang bertanya apakah pandemi akan membunuh Gereja? Jawabannya, sama sekali tidak karena janji Kristus jelas bahwa ‘Engkaulah Petrus di atas Batu Karang ini akan Kudirikan Gerejaku, alam maut tidak akan menguasainya. Maut tidak menguasai Gereja kita’. Hiduplah yang menguasai. Kobaran api Roh Kudus itu tetap ada.

Lalu mengapa banyak umat yang belum berani ke gereja? Jika ada umat yang belum berani ke gereja karena memang alasannya kuat, yaitu karena komorbid, sepuh, anak-anak itu sudah ingin tetapi belum boleh sama orang tuanya. Mereka perlu dibimbing. Kalau menerapkan protokol kesehatan 5M itu benar-benar pasti aman.

“Yang masih takut-takut itu kita beri bimbingan berdasar bimbingan Roh Kudus. Namun juga kita bimbing dengan cara edukasi, meyakinkan, menyemangati,” katanya.

 

Bisikan Roh Kudus

Bisikan Roh Kudus datang melalui orang lain. Tidak ada suara Roh Kudus dari langit, yang ada suara dari manusia. Allah beserta kita, Imanuel, yang menyusupi darah daging manusia lain, sehingga apa yang menjadi jeritan dunia itu menjadi jeritan Allah.

Untuk melatih kepekaan akan Roh Kudus dapat diperdalam dengan semangat untuk mendengarkan, kontemplasi, dan doa. Kita perlu lebih mendengarkan. Belajar dari sejarah Gereja, dimana Gereja juga pernah mengalami masa kelam karena kurang mendengarkan. Kurang dalam bersemangat mewartakan Injil. 

Peristiwa Gunung Sinai


Menurut wakil dekan Fakultas Teologi USD
Rama Dr D Bismoko Mahamboro Pr, Pentakosta mengingatkan pada peristiwa di Gunung Sinai. Seperti orang Israel berkumpul di Gunung Sinai, para murid beserta orang-orang saleh di Yerusalem berkumpul.

Kemudian “tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing” (Kis 2:2-3).

Ini tentunya mengingatkan mereka pada kehadiran Allah di Gunung Sinai di hadapan orang Israel kuno dulu. Ketika orang-orang Yahudi melihat lidah-lidah api, mereka pasti bertanya-tanya apakah Shekinah telah kembali. Bahkan para murid itu dapat mengisahkan perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah dalam aneka bahasa sehingga orang-orang asing dapat mengerti. Ini seperti turunnya Perintah Allah, bahwa masing-masing dapat mendengar firman Tuhan dalam bahasa mereka sendiri.

Kejadian para murid yang dapat berkata-kata dalam aneka bahasa itu tentu membuat banyak orang tercengang dan heran. Bahkan ada yang nyinyir: “Ah… mereka ini sedang mabuk oleh anggur manis. Gitu aja koq repot….” (bdk. Kis 2:13). Namun Petrus kemudian angkat bicara: “Hai kamu orang-orang Yahudi dan semua yang tinggal di Yerusalem, janganlah kamu salah sangka. Orang-orang ini tidak mabuk seperti dugaanmu, karena kejadian ini sudah dinubuatkan oleh Nabi Yoel…” (Kis 2:14-16). Kemudian Petrus mengutip kata-kata Nabi Yoel: “Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat.” (bdk. Yoel 2:28-29).

Bagi Lukas, teks dari nabi Yoel ini penting, yakni bahwa perbedaan antara muda dan tua, antara laki-laki dan perempuan, dan antara majikan dan budak telah dilenyapkan. Semua menjadi nabi, orang muda dan tua akan mempunyai visi dan impian, Allah akan mencurahkan Roh-Nya kepada para hamba-Nya.

Ketika melihat peristiwa turunnya Roh Kudus atas para murid dalam rupa lidah-lidah api dengan bingkai peristiwa kehadiran Allah di Gunung Sinai dan peristiwa eksodus bangsa Israel, kita dapat memaknai bahwa Allah kini hadir dan mendiami para murid.

 

Bahasa Ibu

Para murid menjadi semacam Bait Allah yang mobile (bisa berpindah-pindah). Selain itu, Anselm Grün, seorang penulis buku-buku rohani dan rahib Benediktin, melihat Pantekosta itu sebagai ‘momen bahasa’. Para murid yang adalah orang-orang Galilea dapat menyapa orang-orang yang berasal dari Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, dan dari Roma (Kis 2:9-10).

“Para murid itu dapat menyapa mereka dengan bahasa ibu mereka. ‘Bahasa ibu’ (mother tongue, ing.) adalah bahasa pertama yang diajarkan kepada kita saat kita masih bayi,” ucap Rama Bismoko. # Tim Peliput: Monica Warih, Laurentius Sukamta, Filipus Ariwibowo, BD Elwin Jhanto

 

Tidak ada komentar