Header Ads


Breaking News

Pemekaran Kevikepan Yogyakarta: Barat dan Timur (7 Oktober 2020)

 

TANGGAL 7 Oktober 2020 menjadi hari bersejarah bagi Keuskupan Agung Semarang, terlebih bagi Gereja Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Di hari inilah kevikepan ini dimekarkan oleh Bapa Uskup menjadi Kevikepan Yogyakarta Barat dan Kevikepan Yogyakarta Timur. Optimalisasi pelayanan pastoral dan keterlibatan banyak umat dalam reksa pastoral merupakan orientasi utama dari pemekaran ini.

 

BAPA Uskup Mgr Robertus Rubiyatmoko menjelaskan latarbelakang pemekaran Kevikepan DIY didasari oleh kompleksitas yang sangat kuat dari kevikepan ini. Pertama, sisi geografis kevikepan ini cukup luas meliputi 4 kabupaten (Sleman, Kulon Progo, Bantul, Wonosari) dan 1 kotamadya (Yogyakarta). Selain itu dari sisi demografis memiliki umat banyak sekali, yaitu 142.597 jiwa (data 2019) dan mencakup 37 paroki termasuk paroki administratif. Bahkan jika dibandingkan dengan keuskupan-keuskupan lain, Kevikepan Yogyakarta lebih luas; misalnya Keuskupan Purwokerto hanya berapa puluh paroki saja dan jumlah umatnya tentu di bawah umat Kevikepan DIY.

“Dari sisi ini saja tentu akan menghabiskan energi yang sangat besar dan berat jika ditangani oleh satu orang Vikaris Episkopal atau Vikep. Berdasarkan data-data konkret tersebut, saya berpikir bahwa Yogyakarta sudah saatnya dimekarkan menjadi 2 kevikepan,” tandas Bapa Uskup.  

Dengan peristiwa pemekaran ini Mgr Rubiyatmoko berharap, ada optimalisasi pelayanan terhadap umat beriman. Pelayanan terhadap umat menjadi semakin baik karena meliputi wilayah yang lebih sempit dan jumlah umat yang lebih sedikit, tentu saja ditopang oleh keterlibatan semakin banyak orang. Karena semakin kecil kelompok pelayanannya, semakin terasa lebih padu, lebih hangat, dan lebih melibatkan.

“Maka yang menjadi orientasi utama saya adalah optimalisasi pelayanan pastoral kepada umat beriman, dan sekaligus semakin banyaknya orang-orang yang bisa dilibatkan dalam reksa pastoral kevikepan ini. Berkaitan dengan optimalisasi untuk mengeksplorasi kemampuan kevikepan. Dalam arti, masing-masing daerah memiliki kekhasannya dan bagaimana itu dapat dieksplorasi, diangkat, dan dikembangkan agar masing-masing tempat itu dapat terakomodasi,” ucap Mgr Ruby.

Kevikepan DIY dimekarkan antara Barat dan Timur. Jumlah paroki di kedua kevikepan pun berimbang. Kevikepan Yogyakarta Barat ada 19 paroki, meliputi total Kulonprogo, Sleman Barat yang dibatasi oleh jalan Kaliurang, Bantul (minus Pringgolayan) dan Nandan. Sedangkan Yogyakarta  Timur terdiri 18 paroki, meliputi seluruh Gunungkidul, Kotamadya Yogyakarta (minus Nandan), Sleman Timur, dan Pringgolayan.

Kevikepan Yogyakarta Timur meliputi Paroki Wates, Nanggulan, Boro, Promasan, Adm Bonoharjo, Adm Pelem Dukuh, Sedayu, Klepu, Ganjuran, Bantul (Klodran), Somohitan, Mlati, Medari, Warak, Brayut, Gamping, Banteng, Pakem, dan Nandan.

Sedangkan Kevikepan Yogyakarta Timur meliputi Paroki Minomartani, Paroki Babadan, Paroki Kalasan, Paroki Macanan, Paroki Pangkalan, Paroki Pringgolayan, Paroki Baciro, Paroki Pringwulung, Paroki Babarsari, Paroki Kotabaru, Paroki Jetis, Paroki Kidul Loji, Paroki Kumetiran, Paroki Pugeran, Paroki Bintaran, Paroki Wonosari, Paroki Kelor dan Paroki Bandung.

Untuk Kevikepan Yogyakarta Timur tetap dilayani oleh Rama Adrianus Maradiyo Pr sebagai Vikaris Episkopal, dengan pusat pastoral di Domus Pacis Puren, Paroki Pringwulung.  Sedangkan Kevikepan Yogyakarta Barat, sebagai Vikep adalah Rama Alphonsus Rodriquez Yudono Suwondo Pr. Pusat pelayanan pastoral kevikepan ada  di Paroki Wates.

“Paroki Wates dipilih karena mempunyai fungsi sangat strategis untuk ke depannya, mengingat adanya  Bandara Internasional di Wates. Selain itu kompleks Paroki Wates memiliki lahan yang cukup luas sehingga dimungkin untuk pastoran paroki maupun pastoran kevikepan. Jadi kemungkin pengembangan masih sangat besar,” papar Bapa Uskup. 

Vikep Barat

Sebagai kevikepan baru, Kevikepan Yogyakarta Barat digembalakan oleh Rama AR Yudono Suwondo Pr. Seperti apa perutusan baru ini diterima oleh Rama Wondo?  Menurutnya, ia tidak tahu dan tidak mengikuti berita pemekaran ini. Yang jadi perhatiannya saat itu adalah tugas sebagai pastor paroki di Pangkalan TNI AU Adisutjipto dan di Komisi Liturgi KAS.

Menurutnya, dua kali Bapa Uskup menelepon dirinya di tahun 2020. Pertama ketika awal masa pandemi di bulan Maret. Saat itu Bapa Uskup mengatakan, tugasnya sebagai tim Gugus Tugas Covid-19 adalah membuat naskah-naskah liturgi. Lalu telepon kedua diterimanya dari Bapa Uskup yang meminta dia menjadi Vikep Yogyakarta Barat.

“Saya tidak mengatakan apa-apa selain meminta waktu untuk merenungkannya sekitar 2 minggu. Dua minggu berikutnya kembali Bapa Uskup menghubungi saya. Saya tidak mengatakan apa-apa selain ‘Bapa Uskup menghendaki apa, saya siap dan taat, karena saya kan pembantu Bapa Uskup’.

Terkait dengan persiapan sebagai Vikep Yogyakarta Barat, Rama Suwondo menyatakan tidak ada persiapan. Persiapannya adalah melayani umat di Paroki Pangkalan dengan baik. Karena setiap kali ia menerima perutusan bagi di paroki maupun di seminari, ia akan dengan sekuat tenaga melakukan dengan sungguh-sungguh. “Tidak ada yang hebat, tidak ada yang menonjol, tidak ada yang sempurna. Dan justru dalam ketidaksempurnaan inilah saya diajak untuk bertumbuh dengan cara Gemati, Open, Ngopeni,” ucap imam yang bermotto imamat:  ‘Aku bersyukur kepada Dia yang telah menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan itu kepadaku’ (1 Timotius 1:12). 

Rama AR Yudono Suwondo Pr,
Vikep Kevikepan Yogyakarta Barat.
Berdasar Data

Sebagai vikep baru, langkah awal yang dibuat oleh Rama AR Yudono Suwondo adalah akan melihat data secara luas, tidak hanya data kuantitatif saja tetapi juga data kualitatif. Selain itu ia akan banyak berjumpa dengan sebanyak mungkin orang, khususnya para imam paroki yang telah gigih mengembangkan paroki masing-masing.

“Sebetulnya pekerjaan kevikepan itu rumusannya harus terus menerus dicari. Jika paroki-paroki telah bekerja dengan baik, maka sekarang tinggal bagaimana kevikepan sebagai pusat pastoral ditata di bangun,” ungkapnya.

Maka sebetulnya prinsip pentingnya adalah bahwa visi utama pekerjaan yang harus dilakukan sebagai apapun itu adalah seperti yang disampaikan Paulus. Apolos menanam, Paulus menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Jadi tugas-tugas itu memang harus diletakkan dalam kerangka itu. Bahwa ada yang menanam, jangan dihilangkan ini. Ada yang menyiram, jangan dihilangkan ini. Tetapi entah menanam, menyiram, menyiangi, merawat, semuanya itu kembali kepada Allah. Gereja di wilayah Kevikepan Jogja Barat itu adalah Gereja yang dibimbing oleh Allah dalam diri Yesus Kristus melalui Roh Kudus. Itu saja keyakinannya. Bahwa kemudian ada programasi pekerjaan itu adalah Langkah-langkah manusiawi yang menjadi ikhtiar kita untuk terlibat dalam karya Allah. Jadi utamanya adalah Allah-lah yang bekerja. 

Harapan Vikep

Perihal harapan, Rama Suwondo mengatakan, “Saya kira harapan saya sama dengan harapan Bapa Uskup, supaya semakin banyak orang terlibat. Mari kita hidupi lima bidang Gereja, yaitu liturgia yang benar, indah, dan baik; pewartaan yang menyentuh; paguyuban yang hidup; pelayanan kemasyarakatan yang tepat guna; dan kelima adalah kesaksian. Biarlah orang-orang di sekitar wilayah Yogyakarta Barat itu merasa beruntung ada Gereja Katolik, untung ada orang Katolik, jangan koq malah aduh ada orang Katolik. Orang Katolik bukan menjadi batu sandungan tetapi menjadi batu pijakan untuk kesejahteraan dan keadaban kasih seperti sesuai RIKAS itu peradaban kasih di masyarakat Indonesia yang multikultur. Pancasila, lima sila itu harus dihidupi,” tuturnya. # Warih/Elwin

1 komentar:

  1. Usul koreksi:
    Alinea 6:
    tertulis: "Kevikepan Yogyakarta Timur....
    seharusnya: "Kevikepan Yogyakarta Barat....

    BalasHapus