Header Ads


Breaking News

Tenaga Medis, Garda Terdepan Melawan Virus Corona

Pandemi Covid-19 yang kini masih berlangsung menjadi medan perang bagi tenaga medis di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Tak mudah bagi mereka untuk berjuang dalam menangani pasien Covid-19, mengingat virus ini memiliki risiko penularan yang sangat tinggi dan tidak terkendali. Menangani pasien Covid-19 tak hanya menjadi tugas utama para tenaga medis ini mulai dari dokter, perawat, dan pekerja rumah sakit. Mereka pun harus memastikan diri mereka agar tetap sehat dan meminimalisir risiko penularan Covid-19, sekalipun mereka berada di zona merah.

 


JURU Bicara Pemerintah untuk penanganan Covid-19, Prof drh Wiku Bakti Bawono Adisasmito MSc, PhD secara daring, Rabu (6/5) lalu mengatakan, "Hingga saat ini, ada sekitar 38 dokter dan 17 perawat meninggal.”

Wiku mengatakan penyebab kematian para tenaga medis terdiri atas sejumlah faktor. Faktor pertama, kata Wiku, adalah banyak tenaga medis tidak menyadari kalau mereka menangani pasien Covid-19. Situasi tersebut diperburuk dengan sikap pasien yang tidak terbuka dengan penyakit maupun sejarah perjalanan sehingga protokol kesehatan tidak diterapkan dengan baik. Kedua adalah sejumlah petugas medis meremehkan penyakit Covid-19 saat menangani pasien. Ketiga adalah penyalahgunaan alat pelindung diri. Keempat adalah kelelahan akibat bekerja melebihi jam kerja, dan faktor terakhir yakni ketidakmampuan tenaga medis dalam menangani pasien saat mengalami gawat darurat.

Wiku mengatakan pemerintah turut berduka atas meninggalnya para tenaga medis tersebut. Melihat banyaknya tenaga medis yang meninggal, pemerintah menjadikan sebagai pekerjaan rumah agar jumlahnya tak terus bertambah. Oleh karena itu tak berlebih jika dalam rubrik Sapaan Gembala, Rama YR Edy Purwanto Pr menyebut mereka sebagai ‘pahlawan dan martir zaman ini’.

Bahkan Presiden RI Joko Widodo dalam pidato kenegaraan dalam memperingati hari kemerdekaan ke-75 RI di depan MPR menyebut dengan jelas dan mengapresiasi dengan tulus jasa para tenaga medis dan non-medis dalam menangani Covid-19. Kalimat lengkapnya adalah sebagai berikut: “Atas nama rakyat, bangsa dan negara, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para dokter, perawat, serta seluruh  petugas  di rumah  sakit,  di laboratorium, di klinik-klinik kesehatan, dan di rumah isolasi, kepada tokoh masyarakat, para relawan, awak media, aparat TNI dan Polri,  para  ASN di pusat dan di daerah.”

Sangat bisa dipahami bahwa cukup banyak dari mereka harus meninggal karena terinfeksi oleh virus ganas tersebut. Pada awal-awal masa pandemi ini, ketika mereka yang disebut ‘pahlawan atau martir zaman ini’ meninggal sebagai akibat dari kerjanya menangani para penderita Covid-19; banyak warga masyarakat yang angkat topi dan menaruh hormat pada mereka. Bahkan tidak sedikit yang menyerukan agar mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan dimana mereka meninggal, sebab mereka itulah pahlawan-pahlawan sejati di tengah pandemi ini.

 

Rumah Singgah

Sementara itu, Gereja mencoba bekerjasama dengan pemerintah dan juga kelompok sosial masyarakat lainnya membantu mereka untuk mendapatkan perlakuan yang semestinya dari masyarakat. Sebab ada juga di antara mereka yang harus mengalami penolakan oleh tetangga-tetangganya, bahkan dilarang untuk pulang ke rumah atau kampungnya karena dianggap membahayakan warga lainnya. Salah satu yang dilakukan oleh Gereja Keuskupan Agung Semarang melalui Karina-KAS adalah menyediakan rumah singgah untuk para korban dan juga para tenaga medis yang tidak bisa atau tidak diperbolehkan pulang ke rumahnya.

Pendiri Kampung Edukasi Watu Lumbung di Kabupaten Bantul menandatangani perjanjian kerjasama dengan Karina-KAS, sebuah yayasan di bawah Keuskupan Agung Semarang. Kedua belah pihak melakukan kerjasama di bidang sosial kemanusiaan yaitu menjadikan Watu Lumbung sebagai tempat karantina sementara, bagi warga terdampak Covid-19.

Di samping itu Gereja juga terus mendoakan para tenaga medis dan non-medis ini dalam setiap perayaan Ekaristi live-streaming di masa pandemi ini maupun di Ekaristi offline di masa adaptasi kebiasaan baru. “Dekaplah dalam kasih-Mu ya Bapa, para tenaga medis, para dokter, perawat, seluruh petugas kesehatan, para peneliti bidang kesehatan, para saudara yang merawat pasien agar mereka tabah dan tegar dalam upaya mereka membantu sesama. Jagalah mereka dan seluruh sanak keluarganya, agar tetap sehat dan aman sentausa” (Doa Mohon Perlindungan dari Wabah Virus Corona, Komisi Liturgi KAS 2020).

Pandemi virus corona jenis baru ini di hampir seluruh belahan bumi ini menyisakan cerita dari mereka yang memiliki profesi sebagai tenaga medis. Baik dokter, perawat, maupun petugas kesehatan lainnya yang setiap hari menangani langsung kasus pasien Covid-19, mempertaruhkan nyawa mereka.

Kehidupan mereka bersentuhan langsung dengan sumber penularan virus yang sudah menewaskan lebih dari lebih dari seratus ribu orang di seluruh dunia itu. Seorang perawat di Italia mengaku setiap hari, dia berangkat kerja dengan perasaan takut yang terselip dalam hatinya.

Meski dilengkapi dengan alat perlindungan diri, mereka tetap orang yang paling rentan terpapar virus tersebut. Hal ini juga diakui Dyah Ani Purwitasari, tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas Getasan Kabupaten Semarang. Perawat lulusan  Akper, September 2005 ini juga selalu khawatir tertular virus corona. Namun tidak sampai membuatnya panik. Karenanya ia bersama rekan sejawat dengan menerapkan protokol kesehatan sesuai SOP dengan lebih disiplin. Dan yang paling utama adalah berserah kepada Tuhan untuk setiap pelayanan yang ia berikan.

 


Mengatasi rasa khawatir

Drg Elisabeth Dwi Atmanti Nuswantari selaku Kepala Puskesmas Kecamatan Klaten Selatan pun menyampaikan hal yang sama. Namun untuk mengatasi rasa khawatir, Dwi selalu berdoa terlebih dulu sebelum tangani Covid-19. “Doa menjadi modal utama kita. Dan puji Tuhan, meski kita sudah berulangkali melakukan tes swab, kita tetap sehat, dan tidak terpapar Covid-19. Padahal dari sekian banyak orang yang telah kita swab, hasilnya ada positif juga,” ucapnya.

Kekhawatiran yang sama juga dimiliki dokter Putri Dwi Astuti SpPD. Awalnya ia bukanlah tenaga khusus untuk menangani pasien terinfeksi virus ini. “Semua berawal dari salah seorang terdekat saya tertular Covid-19. Maka mau tidak mau saya harus mampu belajar dengan cepat perihal penanganan virus ini dan terlibat langsung  merawat rekan saya ini. Kondisi ini membuat saya harus bergerak aktif di rumah sakit khususnya penangani Covid-19. Dan saya pun akhirnya dipercaya oleh rumah sakit menjadi salah satu tenaga medis yang menangani pasien covid,” tutur dokter spesialis penyakit dalam di RS St Elisabeth ini.

Selama bertugas melayani setiap pasien Covid-19 dalam hati kecilnya terkadang terselip rasa was-was dan cemas. Ada rasa khawatir, ungkapnya. Meski sempat pernah tertular dan sembuh, namun ia tetap berisiko tertular lagi. Ketakutan dilawannya dengan pengalaman dan iman.

“Semakin lama saya memahami dan menerima virus ini ada di sekitar kita. Risiko tertular bukan hanya di rumah sakit, namun juga di tempat umum. Karenanya saya selalu update ilmu dan melakukan pencegahan merupakan metode terbaik. Selalu berdoa sebelum memberikan pelayanan, dapat menguatkan hati saya dan mengurangi kecerobohan yang meningkatkan risiko penularan,” tandas tenaga medis yang lulus dokter umum tahun 2012.

Menurutnya, iman memiliki peran yang sangat besar. Kita tahu bahwa dunia saat ini masih beradaptasi dengan penyakit ini. Kita tidak memiliki pegangan kuat dalam menghadapi penyakit ini, selain pada Tuhan. Hanya karena kehendak-Nya lah, saat ini ia masih sehat, mampu malayani dengan baik. “Hanya Dia lah yang selalu melindungi dan menuntun saya dalam melayani pasien covid.”

Namun di balik rasa kekhawatiran tersebut ada pengalaman mengharukan seperti diceritakan Agustin Widyaningrum, umat Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran, perawat di RS Elisabeth Ganjuran yang bertugas merawat pasien Covid-19.

“Waktu itu menangangi satu pasien yang membuat kami wooww. Jadi ketika aku masuk ruangan ataupun teman-teman bahkan dokter yang masuk ruangan pasien tersebut, pasti dan selalu di doakan sama pasien itu. Dan berdoa nya itu menyebutkan nama kami yang berada di ruangan tersebut agar kita selalu di beri kesehatan, kesabaran. Dan pasien itu selalu berpesan ‘tetap semangat dan selalu bersyukur suster. Tuhan Yesus memberkati' selalu seperti itu ... bikin terharu kami yang jaga di ruangan itu,” ceritanya.

 

Kriteria khusus

Menjadi tenaga medis dalam menangani amukan virus corona, meski rata-rata cukup menimbulkan rasa khawatir, namun tidak semua bisa menjadi tenaga medis yang bisa menangani pasien Covid-19.

Ada sederet ketentuan yang harus dimiliki tenaga medis untuk bisa lolos menjadi tenaga kesehatan yang menangani pasien Covid-19 ini. Diantaranya seperti dikatakan Agustin Widyaningrum, umat Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran, perawat di RS Elisabeth Ganjuran yang bertugas merawat pasien Covid-19; dr Putri Dwi Astuti SpPD, dokter spesialis penyakit dalam di RS St Elisabeth; maupun Kepala Puskesmas Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, drg Elisabeth Dwi Atmanti Nuswantari.

Mereka sepakat mengatakan bahwa ada kriteria khusus yang harua dipenuhi diantaranya umur tak lebih dari 60 tahun, sehat jasmani , tidak yang sedang sakit atau yang sedang menjalani pengobatan, tidak ada komorbit ataupun penyakit bawaan, dan yang tidak sedang hamil. dan secara lebih dalamnya pasti ada kriteria-kriteria yg menuhi syarat dan standar sesuai tim gugus covid.

Yang membuat mereka tak habis pikir adalah susahnya masyarakat untuk disosialisasi terkait masalah Covid-19. Hal ini dikatakan Dyah Ani Purwitasari sebagai tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas Getasan Kabupaten Semarang,bersama rekan sejawat juga melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait dengan pentingnya menjaga kesehatan supaya terhindar dari Covid-19. “Saat edukasi itu ternyata banyak orang susah diberi pengertian untuk Stay at Home dengan kesehatan mereka,” ucap nakes Puskesmas Getasan sejak 1 April 2006 ini.

Oleh karenanya sempat terbersit dalam pikiran Drg Elisabeth Dwi Atmanti Nuswantari jika virus yang satu ini agak susah lenyap dari muka bumi.

“Kalau toh Covid-19 ini tidak bisa berakhir, maka kita harus hidup berdampingan. Caranya, bagaimana agar kita tidak tertular Covid-19. Ya harus memakai masker, sering mencuci tangan, menjaga jarak, kemana-mana bawa handsanitizer, dan lain-lain,” tandasnya.

Ibu tiga anak ini berpesan agar warga selalu memakai masker saat beraktivitas di luar rumah.

“Memakai masker memang sangat membantu agar kita tidak tertular atau menularkan Covid-19. Karena masker menghalangi droplet. Maka, marilah kita tetap memakai masker, meskipun kita belum terbiasa,” pesannya. # Penulis: Rama Marcellinus Tanto Pr, Monica Warih, Laurentius Sukmta, Philipus Ari Wibowo, Bernard D Elwin J






Tidak ada komentar