Header Ads


Breaking News

41 Anak Paroki Wedi Terima Komuni Pertama

 

KOMUNI PERTAMA: Anak-anak penerima komuni pertama berfoto bersama para rama Paroki Wedi usai perayaan komuni pertama. (Foto: Sukamta) 

Sebanyak 41 anak di Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Klaten menerima komuni pertama dalam perayaan Ekaristi yang dipimpin Rama Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi Pr dan Rama Emanuel Maria  Supranowo Pr di Gereja Paroki Wedi, Senin (31/8) petang.

Perayaan Ekaristi ini disiarkan secara live streaming melalui channel youtube Komsos Paroki Wedi agar umat juga bisa mengikuti misa tersebut dari rumah. Dalam homili Rama EM Supranowo berpesan kepada anak-anak untuk bersemangat dan rajin menerima Sakramen Mahakudus.

“Di masa pandemi Covid-19 ini kita diminta jaga jarak. Tetapi dengan Kristus jangan jaga jarak, jangan menjauh.Justru melalui komuni pertama ini, Kristus, roti dari Surga menjadi hadiah bagi anak-anak. Saya berharap, anak-anak tetap semangat menerima komuni yang kedua, ketiga, dan seterusnya,” pesan rama.

Sementara itu Kabid Pewartaan dan Evangelisasi Paroki Wedi Agustinus Sukirmo menjelaskan, perayaan Ekaristi penerimaan komuni pertama ini merupakan kegiatan yang tertunda karena adanya pandemi Covid-19. Awalnya, penerimaan komuni pertama dijadwalkan pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus tanggal14 Juni 2020. Namun karena adanya pandemi Covid-19, penerimaan komuni pertama ditunda, dan baru bisa diadakan pada Senin (31/8) ini.

“Semua anak telah mengikuti pendampingan selama satu tahun. Anak-anak juga sudah mengikuti kegiatan pemantapan, yaitu Triduum pada 10-12 Agustus 2020, wawancara dengan Rama pada 18 Agustus 2020, dan penerimaan Sakramen Tobat pada 25 Agustus 2020. Awalnya, jumlah anak yang mengikuti pendampingan ada 43 anak. Tetapi 2 anak pindah tempat tinggal,” katanya.

Proses penerimaan komuni pertama di Paroki Wedi ini memang cukup lama. Karena selain waktu pembinaannya yang cukup lama, pendampingannya juga perlu keseriusan, baik dari pendamping maupun anak-anak.

Dalam pembinaan anak-anak dilatih untuk menjadi pribadi mandiri sehingga mampu memahami dan memaknai kehadiran Yesus Kristus dalam Perayaan Ekaristi dan kehidupan nyata sehari-hari. Maka Gereja tidak boleh main-main dalam mengijinkan seseorang untuk menerima Tubuh dan Darah Kristus dalam perayaan Ekaristi.

Perayaan Ekaristi diselenggarakan dengan tetap memenuhi protokol kesehatan dan pembatasan umat yang hadir di gereja. # Laurentius Sukamta

Tidak ada komentar