Header Ads


Breaking News

Bapa Uskup Tahbiskan Dua Imam Praja di Tahun Corona

 

PENUMPANGAN TANGAN: Bapa Uskup menumpangkan tangan kepada kedua calon imam sebagai inti tahbisan imamat. (Foto: Seminari Tinggi Kentungan)

Pandemi corona telah mengacaukan rencana manusia; namun demikian rencana Tuhan tak akan pernah terkacaukan. Tahun ini Tuhan telah merancang dan mengangkat dua puteranya untuk menjadi imam-Nya di tengah pandemi. Lewat tangan Bapa Uskup Mgr Robertus Rubiyatmoko telah ditahbiskan dua imam diosesan Keuskupan Agung Semarang: Rama  Benediktus Nugroho Susanto Pr dan Rama Yustinus Andi Muda Purniawan Pr.


TAHBISAN
imam angkatan corona (angcor) -demikian banyak orang menyebutnya- dilaksanakan dengan protokol kesehatan penuh: mencuci tangan (hand sanitazer), memakai masker, dan menjaga jarak. Karenanya, selain tak banyak umat yang hadir, seluruh hadirin termasuk Bapa Uskup dan para imam mengenakan masker selama perayaan tahbisan berlangsung.

Tak hanya itu, inti perayaan tahbisan imam yaitu penumpangan tangan di atas kepala calon imam, pun dilakukan dengan menjaga jarak. Bila biasanya tangan Bapa Uskup dan para imam menyentuh kepala calon imam, maka di hari itu kedua tangan hanya mendekat di atas kepala saja.

Perayaan penuh rahmat ini berlangsung hari Rabu, 19 Agustus 2020 pukul 10.00 di kapel Seminari Tinggi St Paulus Kentungan Yogyakarta. Bapa Uskup sebagai konselebran utama didampingi Rama Agustinus Tri Edy Warsono Pr dan Rama Ignatius Wardi Saputra SJ staf Seminari Tinggi Kentungan. Selain wakil keluarga tertahbis, hadir pula 20an imam.

Dalam homili Bapa Uskup menyatakan, meski suasananya penuh pembatasan dalam perayaan tahbisan imam ini, namun hal ini tidak sedikitpun mengurangi keagungan, kemeriahan, keseriusan, dan kekusukan perayaan tahbisan imam ini.

“Saya menangkapkan dari diri diakon calon imam ini ada sukacita. Ada kegembiraan yang ditampilkan dari hari ke hari. Sukacita dan kegembiraan itu sekarang diringkas dalam logo dan motto para tertahbis ‘Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih’ (1 Kor 16:14). Motto tersebut menampakkan sukacita panggilan calon imam dalam Tuhan. Motto ini dirumuskan dari pengalaman nyata keduanya dimana merasa diri penuh dengan kelemahan, kekurangan, ketidakmampuan. Meski demikian, dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi imam-Nya,” ucap Bapa Uskup.

Lanjutnya, “Kedua calon imam ini mengalami dari waktu ke waktu selama 13 tahun menjalani masa panggilan, mereka merasa didampingi, disertai, dan diberkati oleh Tuhan sendiri. Meski banyak kekurangan, namun dipakai Tuhan untuk tugas pelayanan. Ringkasnya, mereka merasa dikasihi oleh Allah. Pengalaman dikasihi Allah itulah yang mendorong mereka untuk membagikan kasih Allah itu kepada orang-orang yang dipercayakan dalam pelayanannya.”

Pada kesempatan itu Bapa Uskup berpesan. Pertama, melakukan pelayanan dalam kasih adalah melakukan pelayanan penuh totalitas. Dalam arti penuh kesungguhan, tidak setengah-setengah. Kedua, tulus. Artinya dengan penuh kerelaan, penuh kebebasan. Tanpa keterpaksaan, dan tanpa embel-embel yang lain. Ketiga, ora petung. Tidak perhitungan. Artinya, tidak mencari sesuatu untuk diri sendiri. Semua dilakukan hanya untuk kemuliaan Allah dan demi keselamatan umat manusia. “Inilah ciri khas pelayanan kasih,” tegas Mgr Rubiyatmoko.

 

Kedua calon imam mohon restu orangtua sebelum menerima tahbisan suci.

Perutusan

Sebelum berkat penutup, Mgr Rubiyatmoko menyampaikan tugas perutusan perdana kedua neomis (imam baru) ini. ‘Bulan madu’ sebagai imam dinikmati oleh keduanya bukan di paroki ‘basah’ melainkan di daerah pegunungan. “Rama Benediktus Nugroho Susanto saya utus ke Paroki St Petrus dan Paulus Kelor Wonosari, dan Rama Yustinus Andi Muda Purniawan diutus ke Paroki St Theresia Lisiuex Boro Kulon Progo,” ucap Bapa Uskup dengan disambut tepuk tangan hadirin.

Kedua neomis rupanya tidak hanya teman seangkatan dalam tahbisan imamat dan perutusan. Keduanya ternyata selalu bersama dalam setiap jenjang tahapan pendidikan imamat. Mulai di Seminari Menengah Mertoyudan, Seminari Tahun Orientasi Rohani Sanjaya Jangli, hingga di Seminari Tinggi Kentungan. Bahkan tahbisan diakonat pun diterima bersama pula.

Dan sebagai neomis Rama Beni dan Rama Andi untuk pertama kalinya juga memberikan berkat perdana bersama-sama. Berkat ini diberikan sebelum seluruh acara tahbisan imamat ini selesai. # Elwin

Neomis (imam baru) memberikat berkat perdana di akhir perayaan.

=======================================================================

Rama Yustinus Andi Muda Purniawan Pr

 Lahir di Sleman, 28 Oktober 1992

Asal Paroki St Maria Assumpta Pakem

Seminari Menengah St Petrus Canisius Mertoyudan (2007-2011)

Seminari TOR Sanjaya Jangli (2011-2012)

Seminari Tinggi St Paulus Kentungan (2012-2020)

Tahbisan Diakonat 25 Januari 2020 di Kapel Seminari Tinggi Kentungan

Tahbisan Imamat 19 Agustus 2020 di Kapel Seminari Tinggi Kentungan

======================================================================

Rama Benediktus Nugroho Susanto Pr

Lahir di Kulon Progo, 10 Juli 1992

Asal Paroki St Theresia Lisieux Boro

Seminari Menengah St Petrus Canisius Mertoyudan (2007-2011)

Seminari TOR Sanjaya Jangli (2011-2012)

Seminari Tinggi St Paulus Kentungan (2012-2020)

Tahbisan Diakonat 25 Januari 2020 di Kapel Seminari Tinggi Kentungan

Tahbisan Imamat 19 Agustus 2020 di Kapel Seminari Tinggi Kentungan

=======================================================================














Tidak ada komentar