Header Ads


Breaking News

MENJADI ORANG KATOLIK YANG TRANSFORMATIF


 
Tidak terasa tahun 2019 telah kita lalui. Dan kaki kita telah menapaki awal tahun 2020. Kehidupan, sebagai anugerah Tuhan yang Mahakasih, harus terus diberi makna. Kita harus terus melangkah seiring dengan irama bumi. Kita tidak boleh berpangku tangan. Sebab, kata penyair Khalil Gibran, berpangku tangan akan menjadikan kita  orang asing bagi musim, sementara kehidupan terus berbaris dalam keagungan menuju keabadian. Lalu, langkah-langkah seperti apa yang akan kita lakukan?

Umat Katolik Keuskupan Agung Semarang boleh berbahagia, karena dalam rangka memberi makna atas kehidupan yang terus bergerak dalam keagungan menuju keabadian itu,  kita punya acuan yang penting dari Gereja KAS, yakni menjadi  “Umat Katolik yang Transformatif”. Ini bukan sekadar ajakan atau dorongan, tetapi sesungguhnya manifestasi dari jatidiri Gereja.
Transformatif berarti berani berubah dan berbenah. Pertama, untuk  diri sendiri. Lalu, diri sendiri yang telah berubah itu akhirnya punya daya ubah  untuk lingkungan sekitar dan masyarakat luas.
Transformatif mengandung unsur pertobatan, pembaruan diri selaras dengan bimbingan Roh Kudus. Kita simak kembali contoh-contoh peristiwa transformatif, misalnya dalam kisah Zakeus, Paulus, atau bahkan perjalanan institusi Gereja ketika melahirkan Konsili Vatikan II.
Umat yang transformatif menjadi terang dan garam bagi yang lain. Dalam kesatuan dengan Yesus Kristus, hidup umat Katolik tidak pernah untuk dirinya sendiri. Umat yang transformatif adalah umat yang dalam hidupnya --berkat iman akan Kristus-- mengalami proses head-heart-hand, inform-form-transform, lived-living-lifegiving.
Menjadi umat Katolik yang transformatif tentu membutuhkan pendampingan, pembinaan dan pembelajaran atau katekese. Setidaknya ada dua cara pencapaiannya. Pertama, internal, langkah-langkahnya berupa: (1) Mendampingi keluarga-keluarga agar mampu memerankan diri sebagai wadah, rumah dan lingkungan bagi lahir, hidup dan tumbuhnya iman semua anggota keluarga, (2) Meningkatkan kegiatan-kegiatan Gereja, seperti pengajaran katekismus Gereja Katolik (KGK) dan dokumen gereja lainnya, meningkatkan semangat peran serta dalam liturgi, meningkatkan pertemuan-pertemuan umat yang menarik, (3) Meningkatkan kualitas rasuli pelayan umat yang menyangkut spiritualitas, kinerja, kepemimpinan, pengetahuan dan kesediaan/ kesadaran akan perubahan, dan (4)  Pemanfaatan aneka macam media untuk memperkaya dan meneguhkan iman umat serta untuk mendorong partisipasi umat dalam hidup menggereja.
Kedua, eksternal, berupa: (1) Menanggapi secara serius setiap undangan/ajakan dari warga untuk suatu kegiatan bersama, (2) Meningkatkan kualitas rasuli tokoh umat yang menyangkut spiritualitas, kinerja, kepemimpinan, pengetahuan dan kesediaan/kesadaran akan perubahan, dan (3) Menumbuhkan keaktifan masuk dalam kantong-kantong yang menentukan perubahan dan kebijkanan publik.

Manifestasi di Tingkat Kevikepan
Bagaimana mewujudkan gerakan Menjadi Orang Katolik yang Transformatif itu di tingkat Kevikepan? Apakah ada keunikan-keunikan di masing-masing wilayah?
      Vikep Semarang, Rama Antonius Budi Wihandono Pr, mengemukakan,  tahun 2020 merupakan tahun ke-5 atau tahun terakhir dari Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (Ardas KAS) VII dalam rentang waktu 2016-2020. Di tahun terakhir ini, Keuskupan Agung Semarang memfokuskan arah pastoralnya dengan tema: ‘Orang Katolik yang Transformatif’.
                Sesuai kebijakan Bapa Uskup Mgr Robertus Rubiyatmoko yang mencanangkan Kevikepan sebagai Pusat Pastoral, tema ‘Orang Katolik yang Transformatif’ akan secara intens menjadi acuan setiap kevikepan untuk mewujudkannya. Tak terkecuali Kevikepan Semarang. “Kita sambut dengan antusias,” kata Vikep Semarang.
Bagi Rama Budi Wihandono, kata transformatif dalam Orang Katolik yang Transformatif itu tidak bisa dilepaskan dari kata reflektif. Pertanyaan: mengapa perlu transformasi? Jawabannya adalah karena ada refleksi dahulu yang mendasarinya. Tanpa ada refleksi yang mendasarinya, tentu juga tidak mengerti akan ada transformasi seperti apa.
“Maka bagi saya, fokus umat yang transformatif adalah kerja keras refleksi untuk menemukan hal-hal yang dapat ditransformasi. Lalu diperkuat dengan spiritualitas yang kuat dari pribadi orang-orang yang mau bertanggungjawab terhadap transformasi itu,” papar Rama Vikep Semarang.
Terkait dengan realisasi nyata dari fokus pastoral tersebut, dikatakan, akan merangkum refleksi dari paroki-paroki dan dari komisi-komisi kevikepan, bagaimana hasil refleksi mereka mengenai paroki dan komisi yang mereka ampu.
Tentu refleksi ini juga berdasar pada RIKAS (Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang) dan Ardas. RIKAS dengan tiga pintu: sejahatera, beriman, dan bermartabat. Ardas dengan inklusif, inovatif, dan trasnformatif. Bagaimana hal-hal tersebut sudah berjalan di paroki-paroki dan komisi-komisi?
“Kejelian dan kemampuan reflektif dari para rama paroki dan komisi menjadi hal yang pokok bagaimana mewujudan umat Katolik yang transformatif. Dalam arti ini, perwujudannya adalah bahwa yang transformatif itu pertama-tama ialah orangnya, para ramanya, dewan parokinya, dan mereka yang mengurusi komisi-komisi,” tandas Rama Budi.

Ad Intra, Ad Extra
Transformasi orang Katolik bisa diwujudkan dalam Ad Intra dan Ad Extra. Keduanya bisa dibedakan, tetapi tidak bisa dipisahkan. Keduanya seperti keping mata uang dengan dua sisi. Istilah yang lebih mudah bagi umat adalah bagaimana orang Katolik bertanggungjawab terhadap imannya, dan bagaimana orang Katolik bertanggung jawab terhadap masyarakat.
“Saya memakai istilah bertanggungjawab bukan sekedar terlibat. Bertanggung jawab itu memang setiap orang masuk pada hakekat. Kata ‘hakekat’ itu mau menekankan kata ‘harus’. Harus bertanggung jawab Gereja dan masyarakat (Gaudium et Spes art.1),” tegas Rama Budi.
Kata ‘harus’ itu kalau tidak dilakukan, itu namanya kesalahan. Maka kalau orang Katolik tidak bertanggung jawab terhadap Gerejanya, itu satu kesalahan. Dan sebagai warganegara tidak bertanggung jawab terhadap negaranya itu juga satu kesalahan.
Lanjutnya, sedangkan istilah terlibat itu sekedar fakultatif, manasuka. Orang Katolik harus bertanggung jawab dalam liturgi, koinonia, diakonia, keryma, dan martyria. Ketika orang Katolik dibaptis dengan 3 karunia kenabian (nabi, raja, imam), maka ia harus bertanggung jawab terhadap Gereja. Bukan sekedar terlibat. Karena kalau terlibat itu manasuka atau fakultatif. Sedangkan bertanggung jawab itu ‘harus’. Dan semangat ini yang harus dimunculkan dalam diri umat.
Dan tantangannya adalah bagaimana mendampingi sekaligus menemukan umat yang mempunyai mobilitas yang tinggi, ucapnya. Jika ditanya tentang tantangannya, maka tantangannya adalah menyadarkan para pelaku pastoral --entah itu rama, komisi-komisi, dan juga umat--  untuk memaknai kata ‘harus bertanggung jawab’.
Contoh dari bertanggung jawab, misalnya, dalam bidang liturgia itu yang bertanggung jawab adalah semua umat. Bentuk tanggung jawab itu ketika muncul kata ‘suka menawarkan’. Misalnya Rama berkata, “Paduan suara kurang anggota koor”; lalu ada umat yang menjawab, “O iya, saya mau.” Ketika ada yang mengatakan “Petugas yang mengurusi altar kurang”, lalu ada jawaban “Aku mau”.  Petugas lektor tidak ada, lalu spontan menjawab, “Aku mau.” Ini merupakan suatu bentuk tanggung jawab.
Namun sayang bentuk tanggung jawab ini kadang tidak terjadi dalam hidup menggereja. Masih sedikit orang yang mau menawarkan diri untuk terlibat dalam suatu tugas Gereja. Sehingga banyak yang hanya sekedar menjadi penonton dalam liturgi Gereja.
Dalam paguyuban-paguyuban tingkat dasar, seperti lingkungan, betapa banyak orang yang tidak mau bertanggung jawab terhadap lingkungannya. Jika dibiarkan nanti bisa berkembang ke wilayah dan paroki, sekedar menjadi penonton.  “Yang mengikuti kegiatan ini paling banyak 30%. Ini berarti ada 70% yang belum bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Bidang-bidang lain pun juga demikian, seperti bidang diakonia, keryma, dan lainnya. Maka yang dipakai  pakai untuk pendasaran bentuk tanggung jawab itu adalah semangat martyria. Dalam dirinya jiwa pengurbanan. Semakin banyak adanya jiwa martyria, maka segala macam persoalan dapat teratasi.

Kualitas Pengurbanan
Dalam kesempatan ini, Rama Budi Wihandono berharap semua orang Katolik memiliki kualitas martyria atau pengurbanan -sebagaimana Tuhan Yesus yang diimaninya- yang menjadi dasar bagi semua yang lainnya. Salah satu persoalan Gereja dan masyarakat adalah karena kurangnya kualitas martyria atau pengurbanan. Kualitas martyria ini melawan budaya mengurbankan yang lain, melawan budaya apatis, budaya sekedar menunggu, dan budaya-budaya lainnya yang membuat rusak atau tidak berkembang.
Kualitas martyria (pengurbanan) itu jika diisikan dalam hal apa saja akan memberikan hal positif. Misalnya. (a) Jika di keluarga ada semangat pengurbanan, maka banyak persoalan keluarga akan diselesaikan. (b) Jika dalam Gereja diisi dengan semangat pengurbanan, maka banyak masalah Gereja akan diselesaikan. (c) Jika di masyarakat banyak orang makin berkurban, maka banyak masalah akan diselesaikan.
Semangat martyria ini juga bisa diterapkan kepada siapa saja. (1) jika suami-isteri mempunyai semangat pengurbanan, hidup keluarga pasti lebih bahagia. (2) Jika anak mempunyai semangat pengurbanan, orangtua pasti lebih bahagia. (3) Jika umat di lngkungan, wilayah, atau paroki banyak yang mempunyai semangat pengurbanan, pasti Gereja akan menjadi lebih hidup. (4) Jika di masyarakat para pejabat mempunyai semangat pengurbanan, maka keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran pasti akan lebih terwujud.
“Bagi saya, kunci transformatif harus menghasilkan orang-orang Katolik yang memiliki jiwa martyria atau pengurbanan seperti Tuhan Yesus. Puncak dari seluruh transformasi pelayanan Tuhan Yesus adalah inkarnasi (penjelmaan menjadi manusia) dan pengurbanan dirinya di kayu Salib yang menjadi transformasi penyelamatan bagi seluruh dunia. Tanpa adanya jiwa martyria, harapan transformasi tidak akan pernah tercapai,” tandas Rama Antonius Budi Wihandono.

Orientasi Aksi
Bagi Rama Robertus Budiharyana Pr , Vikep Surakarta, transformasi adalah proses tindakan nyata untuk melakukan suatu perubahan, merubah bentuk. Perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Satu ons tindakan untuk sebuah perubahan lebih bermakna daripada satu ton pemahaman tentang arti sebuah perubahan,” tuturnya.
Perubahan lebih sering membuat tidak enak bahkan menyakitkan. Perubahan sering dialami sebagai gerakan berpindah dari zona nyaman ke zona berisiko. Fokus Pastoral tahun 2020, Umat Katolik yang Transformatif ini tidak hanya mengajak kita semua untuk berubah namun juga berdaya ubah.
Kevikepan sebagai pusat kegiatan pastoral mewujudkan fokus pastoral 2020 dimaksudkan agar umat lebih terlayani, tersapa, terdengar harapannya, dan lebih tepat menjawab kebutuhannya. Semakin disadari bahwa Keuskupan Agung Semarang adalah Keuskupan yang besar karena banyak jumlah umatnya, banyak parokinya, dan banyak pula jenis serta bidang karyanya.
Penetapan Kevikepan sebagai Pusat Kegiatan Pastoral adalah sebuah keputusan yang sangat berani dan mensyaratkan terjadinya perubahan dalam banyak hal,” kata Rama Vikep Surakarta itu.
Tata hubungan antara Keuskupan, Kevikepan, dan Paroki berubah. Pengelolaan keuangan berubah. Kewenangan dan tanggungjawab Rama berubah. Tugas dan tanggungjawab komsi-komisi berubah. Prinsip penting adalah melaksanakan reksa pastoral kevikepan seperti telah dirumuskan dalam pedoman.
 Dampak atau perubahan yang dicapai dengan kegiatan mesti terukur. Semuanya ini tentu bukan perkara mudah dan harus diperjuangkan bersama-sama dengan sabar dan tekun,” lanjutnya.
Selanjutnya Rama Vikep Surakarta itu menjelaskan perubahan itu dilakukan ke dalam ( transformasi ad intra) dan keluar (transformasi ad extra). Menurutnya, transformasi Ad Intra adalah perubahan ke dalam, perubahan diri sendiri. Umat Katolik Keuskupan Agung Semarang, yaitu seluruh umat: ya awam, ya imam, ya bruder, ya suster, pokoknya semua saja tanpa kecuali, baik sendiri-sendiri, pribadi per pribadi maupun bersama-sama mesti berubah.
Dengan cara apa perubahan itu diwujudkan? Gereja Katolik mempunyai semboyan atau sesanti "Ecclesia Semper Reformanda", artinya Gereja selalu memperbarui diri. Dari waktu ke waktu, tercatat dalam sejarah dan menjadi sejarah, Gereja membarui pandangan dan sikapnya berhadapan dengan dunia. Gereja pernah salah dan dengan rendah hari memperbaiki diri.
Kesadaran bahwa Gereja tinggal di tengah-tengah masyarakat yang beraneka ragam suku, budaya, agama, dan etnis menuntut setiap warganya, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, melakukan perubahan dalam cara bergaul, meningkatkan srawung dengan masyarakat.
Berhadapan dengan alam ciptaan dan lingkungan hidup yang rusak, tercemar dengan berbagai macam sampah plastik, setiap warga Gereja diajak melakukan perubahan dengan memilah sampah. Berhadapan dengan kemarau panjang dan kekeringan, kurangnya air, setiap warga Gereja diajak melakukan perubahan dengan menanam pohon-pohon yang dapat mengikat air, membuat biopori. Perubahan harus dimulai dari diri sendiri, dari waktu ke waktu.
Sementara itu, transformasi ad extra, menurutnya , adalah perubahan ke luar, perubahan diri sendiri yang membawa dampak pada perubahan yang lain. Umat Katolik mesti berdaya ubah, artinya membawa perubahan pada masyarakat dan dunia.
Umat Allah Keuskupan Agung Semarang menjadi contoh, tidak hanya memberi contoh dalam  melakukan perubahan, secara nyata dalam memperjuangkan keadilan, dalam melestarikan keutuhan ciptaan, dalam mewujudkan kesejahteraan, dalam menciptakan perdamaian.
Umat Katolik mesti berani bertindak seperti Yohanes Pembaptis, "Suara yang berseru-seru di padang gurun", menyerukan pertobatan. Perubahan dunia harus dimulai dari diri sendiri.

Tantangan
Untuk melakukan perubahan pasti ada tantangannya, itu pasti, khususnya di Kevikepan Surakarta. Paradigma baru mengajak kita untuk memahami tantangan sebagai peluang atau kesempatan.
Kevikepan Surakarta terdiri dari 5 rayon 27 paroki dan 2 paroki administratif. Rayon Timur (5 paroki): Sragen, Gemolong, Karanganyar, Jumapolo, Palur. Rayon Selatan (3 paroki):  Danan, Baturetno, Wonogiri. Rayon Kota I (5 paroki): Sukoharjo, Solo Baru, Kartasura, Dirjodipuran, Purbayan. Rayon Kota  II (6 paroki): Mojosongo, Purbowardayan, Purwosari, Kleca, Boyolali, "Simo". Rayon Klaten (10 paroki): Delanggu, Jombor, Cawas, Bayat, Wedi, "Ketandan", Klaten, Gondang, Kebonarum, Dalem.
Jumlah paroki lumayan banyak dan wilayahnya cukup luas. Setiap rayon punya kekhasannya masing-masing. Rayon Selatan mengalami kekeringan dan kurang air di musim kemarau panjang. Rayon Kota berhadapan dengan masyarakat yang bersumbu pendek. Rayon Klaten cukup nyaman, satu kabupaten 10 paroki, "kempel", daerah pertanian subur yang tergerus pembangunan pabrik-pabrik. Rayon Timur mencakup 2 kabupaten yang lumayan luas, kabupaten Sragen dan Karanganyar.
Pada tahun 2020 ini nanti melaksanakan pilkada serentak di 5 kabupaten, minus kabupaten Karanganyar. Penetapan Kevikepan sebagai Pusat Pastoral dan pemekaran-pemekaran paroki yang selama ini terjadi juga menjadi tantangan tersendiri bagi umat. Tantangan yang tidak mudah menghadapinya  adalah beralih dari zona nyaman.
Yang penting mesti selalu diingat bahwa tantangan sejatinya adalah peluang,” tuturnya.

Sesuaikan Kondisi Lingkungan
Rama Alexius Dwi Aryanto Pr, Vikep Kedu, mengatakan,  fokus pastoral 2020, ‘Umat Katolik yang Transformatif’ dimaknai sebagai sebuah cita-cita yang menjadi daya dorong bagi seluruh umat Katolik KAS untuk selalu berintrospeksi mengenai kehadirannya di tengah umat dan masyarakat.
Apakah selama ini kehadirannya sudah dapat mewarnai kehidupan bersama dan hidup umat Katolik sendiri sudah berdampak. Bagi umat Katolik, hidupnya sendiri harus selalu dilihat kembali setiap saat, sejauhmana perubahan-perubahan yang terjadi menuju ke arah yang lebih baik.
Maka bagi saya, kita bisa mentransformasi diri kalau kita berani terus menerus koreksi diri, terbuka terhadap perubahan dan harus berani menyesuaikan diri dengan zaman meski tetap berpegang pada nilai-nilai dan ajaran-ajaran kristiani. Jadi kita ikut arus tetapi tidak hanyut. Harus tetap menampakkan jati diri kita sebagai orang katolik yang menjunjung tinggi nilai-nilai injili demi kemanusiaan,” tuturnya.
Menurutnya,  Kevikepan Kedu sebagai bagian dari KAS akan mewujudkan fokus pastoral tersebut sesuai dengan kondisi di Kevikepan Kedu. Fokus pastoral tersebut akan diwujudkan melalui program-program komisi di Kevikepan.
Misalnya saja, program Sekolah Pemandu, yang dibuat oleh Komisi Kitab Suci Kevikepan. Program ini memberi kesempatan kepada perwakilan dari paroki-paroki untuk belajar menjadi pemandu di lingkungan. Selama ini sejauh diamati, pertemuan-pertemuan di lingkungan misalnya, BKSN, APP, BKL, dipandu oleh orang-orang yang dianggap mampu, seperti prodiakon atau ketua lingkungan.
Kemampuan mereka tentu tidak diragukan lagi. Akan tetapi supaya dalam memandu lebih bisa hidup maka perlu pelatihan. Belum pernah pertemuan di lingkungan dipandu oleh orang-orang yang dibekali secara khusus, bagaimana teknik memandu pada saat  pertemuan,” tuturnya.
Oleh karena itu diharapkannya dengan adanya sekolah pemandu ini ada suatu perubahan paling tidak dari sisi para pemandu, sedikit mempunyai Teknik-teknik dasar memandu. Sekali lagi, fokus pastoral tersebut mau diwujudkan melalui program-program pelayanan pastoral di komisi-komisi.
                Transformasi ke dalam Ad Intra dan Ad Extra bisa diwujudkan melalui tiga kata kunci sebagaimana terumus dalam RIKAS, yaitu kesejahteraan, keberimanan dan kebermartabatan. Ke dalam (Ad Intra), diwujudkan dengan semakin memperdalam iman melalui formatio iman berjenjang mulai dari PIA-PIUL.
Melalui pendalaman iman diharapkan ada perubahan yang signifikan dalam diri umat. Kedalaman iman diharapkan semakin memapukan umat untuk memiliki daya ubah baik dalam dirinya maupun dalam kehidupan bersama. Misalnya, kedalaman iman semakin membuat orang memiliki kesabaran, kasih yang tulus, tangguh dalam menghadapi berbagai macam tantangan kehidupan. Semakin mampu mengembangkan dialog untuk menciptakan persaudaraan.
Sementara perwujudan Ad Extra, bisa dilakukan melalui kata kunci kesejahteraan dan kebermartabatan. Umat katolik diharapkan semakin mampu mewujudkan perubahan dalam tataran pemenuhan kebutuhan-kebutuhan primer umat dan masyrakat. Banyak gerakan-gerakan dari umat Katolik yang semakin mendorong terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik.
Harapan saya, fokus pastoral tersebut bisa benar-benar mengubah cara berpikir, cara bertindak seluruh umat agar kehadiran umat katolik, khususnya di Kevikepan Kedu sungguh relevan dan signifikan. Selain itu umat semakin terbuka terhadap berbagai macam pembaharuan yang terjadi, tidak hanya berhenti, ‘mandheg’ dan berpuas diri namun selalu ada usaha untuk maju mengembangkan inovasi-inovasi dan kreativitas-kreativitas pastoral yang menjawab kebutuhan zaman,”  katanya.  

Memperjuangkan Kesempurnaan
Bagi Vikep DIY, Rama Adrianus Maradiyo Pr, menjadi umat Katolik yang transformatif adalah menjadi umat Katolik -baik secara pribadi, kelompok, atau komunitas melalui pertobatanny-  siap untuk: pertama, berbenah, berubah, berbuah, dan lalu membawa dampak atau berdampak. Jadi berbenah, berubah, berbuah, berdampak.
Dampaknya untuk siapa? Dampaknya bagi lingkungan sekitarnya sehingga umat Katolik itu siap untuk menjadi berkah. Lalu apa yang mendasari?
Yang pertama adalah dari Injil Matius 5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna. Maka untuk mencapai kesempurnaan itu kita diajak untuk memahami menjadi semakin sempurna sebagaimana Bapa di surga sempurna. Kita diajak untuk terus menerus memperjuangkan yang namanya kesempurnaan itu. Karena kesempurnaan itu pada dasarnya adalah milik Allah.
 Kecuali itu, tuturnya, kita diajak untuk menyadari pula adanya paham yang sungguh-sungguh jelas, paham soal ecclesia semper reformanda. Gereja yang diajak untuk terus menerus mengadakan pembaharuan, membaharui diri terus menerus. Ini yang disebut dengan dasar, dasar mengapa umat katolik diajak untuk transformatif.
Lalu gerak transformasi yang mau dibangun itu macam apa? Yang pertama adalah gerak dinamis ad intra. Artinya perubahan dalam diri masing-masing orang Katolik menjadi semakin sempurna sebagaimana Bapa di surga adalah sempurna. Lalu perubahan dalam Gereja Katolik sebagai sebuah paguyuban umat beriman diajak untuk umat itu semakin guyup, semakin padu, berlandaskan tiga hal yang disampaikan oleh Bapa Uskup: yang pertama adalah Karitas, yang kedua adalah fraternitas, dan yang ketiga adalah solidaritas. Ini harus dibangun dalma kehidupan ad intra sebagai orang Katolik yang transformatif.
Lalu yang kedua adalah gerak dinamis ad extra. Bahwa masing-masing umat Katolik diajak tidak cukup hanya menjadi agen perubahan tetapi orang Katolik diajak untuk menjadi aktor perubahan. “Kamu adalah garam dunia, kamu adalah terang dunia, dalam Injil Matius 5:13-16.
Ini gerak ad extra. Gereja diajak secara bersama-sama memberi daya ubah bagi masyarakat dan lingkungannya, menjadi semakin relevan dan signifikan bagi masyarakat. Ini jelas sekali yang namanya Gereja Katolik yang transformatif itu tidak hanya secara internal dalam diri tetapi diajak Gereja itu kita sebagai orang Katolik adalah garam dan terang dunia, membawa daya ubah untuk kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Ini yang dimaksud dengan umat Katolik yang transformatif.
Tentu harapannya bahwa perubahan itu sampai pada semangat dasar yang bersumber dari Yesus Kristus sendiri. Yesus yang mau menjelma menjadi manusia, itu proses inkarnasi, Allah Putra menjelma menjadi manusia. Ini adalah transformatif sekali.
 Dan kalau kita mencoba untuk merenungkan setiap Sabda Tuhan, itu kan semua Sabda Tuhan itu sungguh-sungguh transformatif, membawa daya ubah, membawa dampak. Apa yang dibuat oleh Yesus lewat sabda-sabda-Nya dan karya-karya-Nya itu adalah sabda dan karya yang sungguh transformatif,” tuturnya.    
                                                                                                                                                 Tidak Sentralistis
Kevikepan sebagai pusat kegiatan pastoral ini mempunyai maksud supaya kegiatan-kegiatan tidak sentralistis tetapi justru desentralistis. Tujuannya tidak lain adalah, secara ad intra, supaya umat Katolik semakin banyak yang terlibat dalam kehidupan menggereja. 
                Bukan sekedar perwakilan kalau ada acara-acara, kegiatan-kegiatan, tetapi sungguh akan semakin banyak umat yang ikut serta ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan itu. Baik itu kegiatan secara ad intra di dalam Gereja, seperti misalnya dalam kepengurusan Gereja: Ketua lingkungan, ketua wilayah, dewan pastoral paroki harian, sampai pada kegiatan yang ada dalam program-program kerja yang dibuat.
Menurut Rama Maradiyo, dua hal ini tidak bisa kita lupakan, tidak bisa kita tinggalkan. Sebagai garam itu artinya harus siap membuat masyarakat itu menjadi enak, menjadi harmoni, menjadi sedap. Maka orang Katolik harus ajur-ajer. Ajur-ajer dalam kehidupan di tengah masyarakat.
Contohnya, umat Katolik ikut dalam siskamling, umat Katolik ikut dalam gotong royong, umat Katolik ikut dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat: menjadi ketua RT, menjadi ketua RW. Ini adalah wujud konkrit dari umat Katolik secara ad extra.
Sehingga diharapkan kehadiran umat Katolik dalam lembaga-lembaga kemasyarakatan ini itu akan sungguh-sungguh sadar sebagai garam, artinya siap untuk ajur-ajer. Tetapi jangan ajur-ajer ikut arus. Tapi di dalamnya kamu adalah terang dunia. Ajur-ajer di tengah-tengah masyarakat tetapi juga memberikan pencerahan kepada masyarakat.
Saya mempunyai wacana bahwa komisi-komisi yang ada di Kevikepan DIY ini siap untuk terjun ke paroki-paroki atau ke rayon-rayon. Baik itu dalam selebrasi maupun dalam edukasi sehingga akan semakin banyak umat di paroki yang terlibat. Tidak hanya terlibat tetapi juga umat yang semakin tersapa,” kata Rama  Maradiyo.
Dengan model macam ini, ada konsekuensi yang harus disiapkan. Konsekuensinya harus ada penguatan komisi. Kerja tim diharapkan sungguh-sungguh semakin kompak. Lalu yang kedua, juga ada kerjasama dengan rama-rama paroki, kata Vikep DIY itu.
Dari penjelasan para  Rama Vikep di atas, greget dan spirit untuk membangun umat Katolik yang Transformatif sangatlah terasa. Bekal yang bagus mengawali tahun baru.  Selamat Tahun Baru 2020.***marcellinus tanto pr, warih, elwin, antoprab


Tidak ada komentar