Header Ads


Breaking News

Pemberkatan Kapel dan Gua Maria di Gereja Ayam

KAPEL: Rama JB Fitri Gutanto Pr ketika memberkati kapel Gereja Jago. (Foto: dok.)

TEPAT pada Hari Raya Bunda Maria Diangkat ke Surga, Kamis 15 Agustus 2019, dilaksanakan pemberkatan Kapel, Stasi Jalan Salib, dan Gua Maria di kawasan Rumah Doa Bukit Rhema, Borobudur, Magelang. Pemberkatan diadakan dalam perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Rama Julius Blasius Fitri Gutanto Pr dari Gereja St Petrus Borobudur. Kegiatan ini dihadiri oleh sebagian umat Katolik sekitar, pengelola Bukit Rhema dan beberapa tamu.
Rumah Doa Bukit Rhema saat ini lebih dikenal dengan sebutan Gereja Ayam, meski sebenarnya yang dimaksud adalah merpati. Gereja Ayam  dirintis oleh Daniel Alamsjah, sejak 1992, dan diawali oleh visiun rohani pada tahun 1988 untuk mendirikan rumah doa di bukit itu. Di kompleks Gereja Kristen ini, dibangun pula area doa untuk beragam agama: Islam, Budha, serta Katolik. Dalam rencana ke depan akan dibangun pula area doa untuk umat Hindu, Konghucu, dan kepercayaan. Selain area doa, ada pula pelayanan Panti Rehabilitasi.
Dalam Ekaristi pemberkatan ini, Rama Fitri menyematkan nama Kapel dan Gua Maria Bunda Segala Bangsa. Menurutnya, nama tersebut sangat sesuai dengan peristiwa yang melatarbelakangi. “Pada tanggal 25 Maret 1945, pada Hari Raya Kabar Sukacita, Santa Perawan Maria menampakkan diri kepada Ida Peerdeman, 40 tahun, di rumah tempat ia tinggal bersama para saudarinya di Amsterdam. Terjadi 56 kali penampakan dalam kurun waktu lebih dari empat belas tahun, yang berakhir pada tanggal 31 Mei 1959 di mana Bunda Maria menampakkan diri sebagai Sang Ibu untuk semua orang,” paparnya.
Lanjutnya, sesudah Paus Pius XII memaklumkan dogma Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga tanggal 1 November 1950, Bunda Maria memperkenalkan gelarnya yang baru, ucapnya, ‘Nak, aku berdiri di atas bola dunia ini, sebab aku ingin disebut Bunda Segala Bangsa’ (16 November 1951). Sebagai seorang Bunda sejati, Bunda Maria meyakinkan anak-anaknya, entah mereka beriman atau tidak, terpelajar atau tidak, "Tak peduli siapapun engkau, aku ini untukmu: Ibu, Bunda Segala Bangsa (31 Mei 1954)."
Dan nama tersebut sesuai dengan kehadiran Rumah Doa Bukit Rhema yang menggabungkan konsep tempat doa dan destinasi wisata. Daniel Alamsjah, Founder Rumah Doa Bukit Rhema menambahkan, "Sejak awal, saya memang mempunyai visi itu, rumah doa untuk segala bangsa. Nama ini sangat sesuai dengan visi ini."
Dalam amanat perutusan, Rama Vitri berpesan, "Semoga kehadiran Kapel, Stasi Jalan Salib, dan Gua Maria ini serta seluruh kompleks Rumah Doa Bukit Rhema dapat berkontribusi nyata untuk membangun komunitas Borobudur sebagai etalase kebhinnekaan Indonesia." # Fitri G

DISKUSI: Di dalam kelompok-kelompok peserta berdiskusi tentang media sosial. (Foto: Heru)

Tidak ada komentar