Header Ads


Breaking News

HUT ke-65 GMKA, Ditandai Nyala Lilin yang Mengular


Jarum jam mendekati angka 6 ketika prosesi lilin mengular sepanjang 100 meter menyusuri pelataran parkir GMKA menuju taman doa hingga akhirnya berhenti di pelataran gua. Keelokan lidah api kian memukaukan mata seiring dengan sirnanya mentari. Tak hanya itu, replika Maria Asumpta yang ditandu diantara lilin-lilin menambah indahnya ritual prosesi di Gua Maria Kerep Ambarawa ini. Inilah prosesi menyambut HUT ke-65 GMKA, Kamis, 15 Agustus 2019.
MENGULAR: Prosesi replika Maria Asumpta dengan nyala lilin panjang mengular mengitari GMKA. (Foto: Elwin)
ADA sekitar 3.000 orang mengikuti prosesi tersebut sembari melambungkan lagu Ave Maria: “Ave… Ave… Ave Maria…..” Prosesi agung diikuti oleh Mgr Robertus Rubiyatmoko bersama 11 imam, misdinar, lektor, prodiakon, pembawa vandel, dan seluruh umat yang hadir. Pembawa replika Maria Asumpta adalah para frater dari Seminari TOR Sanjaya dan dari Novisiat SJ St Stanislaus Girisonta.
Dalam homili Bapa Uskup menyampaikan, bahwa Bunda Maria yang kita hormati mempunyai peran besar dalam umat beriman. Dialah Bunda Allah, dialah Bunda Tuhan. Karena dialah yang melahirkan Yesus ke dalam dunia ini, sehingga karya keselamatan Allah semakin nyata untuk kita semua. Karenanya peran Bunda Maria sangat istimewa bagi umat manusia.
“Maka tak mengherankan Bunda Maria memperoleh gelar Bunda Pemersatu Segala Bangsa. Bunda Maria menyertai perjalanan hidup Yesus mulai di dalam kandungan hingga sampai kepada wafat-Nya. Bunda Maria mendampingi Yesus dari awal hingga akhir dengan penuh kesetiaan. Bunda Maria juga merengkuh semuanya bagi mereka yang tidak mempunyai harapan. Pada kesempatan ini kita pun dipanggil untuk menjadi jawaban harapan bagi orang lain yang membutuhkan, lewat tegur sapa kita semua,” ucap Monsinyur.
Pada kesempatan itu sebelum berkat penutup diadakan pemotongan tumpeng sebagai tanda HUT ke-65 GMKA dirayakan. Pemotong dilakukan oleh Mgr Rubiyatmoko dan diserahkan kepada ketua Tim Pengelola GMKA Alamsyah Djaynurdin. 
Mgr Rubiyatmoko menyerahkan potongan tumpeng kepada ketua Tim Pengelola GMKA, N Alamsyah Djaynurdin. 
Ke Paroki-Paroki
Sebelum diarak di GMKA, replika patung Maria Asumpta diarak (prosesi) atau singgah di 8 paroki di Kevikepan Semarang. Kedelapan paroki tersebut adalah Katedral (4 Agustus), Atmodirono (6 Agustus), Lampersari (7 Agustu), Karangpanas (8 Agustus), Banyumanik (9 Agustus), Ungaran (10 Agustus), Girisonta (12 Agustus), dan Ambarawa (13 Agustus) sebelum akhirnya sampai ke GMKA. Sehingga total ada 9 persinggahan yang membentuk rantai novena.
Menurut ketua HUT ke-65 GMKA Yohanes Winarno, prosesi ini merupakan realisasi dari pesan mendiang Mgr Yohanes Pujasumarta. Tujuannya supaya replika patung Maria Asumpta bisa diarak juga ke paroki-paroki agar umat di paroki pun bisa menghormatinya dengan lebih dekat. # Elwin

Replika Maria Asumpta saat diarak di Paroki Atmodirono. Replika ini juga diarak ke-8 paroki di Kevikepan Semarang. 









Tidak ada komentar