Header Ads


Breaking News

Kembali ke Katolik, Setelah Nikah di Protestan


Rama Yeremias yang terhormat, enam tahun lalu, saya menikah dengan laki-laki dari Gereja Protestan. Waktu itu, karena sudah terlanjur hamil, saya ikuti permintaan suami untuk pindah agama dan pindah gereja. Tiga tahun setelah menikah, kami bercerai. Dan kini, saya ingin sekali kembali menjadi Katolik. Apa yang harus saya lakukan? Dan apakah ke depannya saya masih bisa menikah di Gereja Katolik. Mohon nasehat Rama. Terima kasih. Berkah Dalem.

Valencia
Sragen



VALENCIA yang baik, Anda seorang Katolik, akan tetapi dengan alasan-alasan tertentu pindah agama dan gereja Protestan serta menikah dalam gereja tersebut. Ikut prihatin dengan perkawinan yang telah bercerai. Dan Anda kini ingin kembali ke pangkuan Gereja Katolik. Untuk maksud itu ada hal-hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan.
Pertama, pembaptisan yang pernah Anda terima ketika dibaptis dalam Gereja Katolik tetap memberikan meterai kekal dan tak terhapuskan. Sekali dibaptis dalam Gereja Katolik Anda tetap orang Katolik sampai Anda dengan keputusan sadar dan bulat meninggalkan Gereja Katolik dan memilih agama lain. Karena Anda telah dibaptis, maka apabila ingin kembali ke pangkuan Gereja Katolik Anda tidak akan dibaptis lagi, karena pembaptisan dahulu sudah sah dan tetap selamanya.
Kedua, karena Anda pernah meninggalkan Gereja Katolik dan menjadi anggota jemaat dari suatu gereja lain, maka Anda tidak serta merta bisa langsung ambil bagian secara aktif dalam Gereja Katolik. Dalam hal ini Anda tidak langsung dapat menerima sakramen-sakramen dalam Gereja Katolik, khususnya dalam hal menerima komuni suci. Sebelum Anda bisa menerima komuni suci dalam perayaan Ekaristi, Anda diminta untuk menyadari kesalahan Anda, menyesal dan bertobat.
Ungkapan pertobatan itu Anda nyatakan dalam tindakan menerima sakramen tobat atau pengakuan dosa. Di dalam dan melalui sakramen tobat, seorang imam yang in persona Christi (yang mewakili Kristus sendiri) memberikan absolusi pengampunan atas dosa-dosamu dan penitensi. Selanjutnya Anda diharapkan juga terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan hidup menggereja baik di paroki maupun di lingkungan.
Ketiga, mengenai perkawinan dalam gereja Protestan. Gereja Katolik melalui Kitab Hukum Kanonik menetapkan bahwa sebuah perkawinan Katolik yang sah harus memenuhi tiga kriteria atau syarat pokok, yakni kesepakatan yang bebas tanpa ada yang dipaksa atau memaksa, bebas dari halangan-halangan perkawinan atau halangannya sudah didispensasi oleh pihak-pihak yang memang berwewenang memberikannya, serta perkawinan tersebut diteguhkan dan dilaksanakan menurut forma canonica (tata peneguhan) yang benar  yakni di hadapan saksi resmi Gereja dan dua orang saksi dari umat.
Syarat pertama dan kedua saya andaikan bahwa itu benar: Anda sungguh bebas, tidak dipaksa dan Anda pun bebas dari halangan kodrati. Akan tetapi Anda telah menikah tanpa ada izin menikah beda Gereja dan tidak di hadapan pejabat resmi Gereja Katolik. Maka dalam pandangan Gereja Katolik perkawinan Anda tidak sah dan tidak ada. Maka kalau Anda sekarang bercerai maka Anda perlu memproses urusannya di pengadilan dan catatan sipil. Sedangkan dari pihak Gereja Katolik perkawinan Anda dianggap sebagai tidak ada.
Demikian dan semoga membantu Anda. #






Tidak ada komentar