Header Ads

Breaking News

Festival Literasi Mangunwijaya, Menghargai Proses Belajar


PENDIDIKAN tidak harus selalu berseragam formal dan berada di ruang kelas. Hal inilah yang diterapkan di Sekolah Eksperimental Mangunan (TK, SD, dan SMP). Sekolah ini berada di bawah Yayasan Dinamika Edukasi Dasar yang dirintis oleh Rama YB Mangunwijaya Pr.

ANAK-ANAK mempraktikkan pembuatan batik dengan pewarnaan dari pewarna alami kunyit dan secang. (Foto: Warih)

Tepat pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (2/5), sekolah eksperimental Mangunan menyelenggarakan puncak Festival Literasi Mangunwijaya. Kegiatan ini merupakan puncak dari proses belajar siswa selama satu semester. Literasi di sini tidak terbatas pada kemampuan baca tulis saja.
Seorang siswa kelas VII SMP Eksperimental Mangunan, Meda, mengatakan bahwa literasi berasal dari kata Literatus yang berarti seseorang yang mengalami proses belajar. Hal ini juga disampaikan oleh Ketua Panitia penyelenggara festival, Yohanes Carol Kurnia Awan V J.
“Kami mencoba melihat bahwa zaman sekarang banyak orang ngomong tentang literasi. Di situ kami tergelitik melihat apa sih sebenarnya literasi itu. Banyak hal mengenai literasi, terutama yang kami lihat di Indonesia itu berkaitan dengan baca tulis. Dalam prosesnya, kami merasa masak cuma segitu juga literasi. Kemudian kami mencoba mencari lagi bahwa seperti yang dikatakan Meda tadi bahwa literasi berasal dari kata literatus yang berarti proses belajar. Maka kami merasa kita juga sudah melakukan literasi di sekolah Mangunan ini,” ujar Carol.
Festival Literasi Mangunwijaya ini mengambil spirit dari Rama Mangun tentang proses pembelajaran yang menggembirakan dan pendidikan merupakan proses. Tema yang diangkat adalah ‘Merawat Lingkungan Menumbuhkan Cinta Semesta’.
Tema tersebut berkesinambungan dengan tema besar sekolah Mangunan ini yaitu komunikasi, teknologi, dan pertanian. Bagaimana manusia merawat kehidupan itu perlu dengan komunikasi dan melek pada teknologi yang ada. “Setiap pribadi, anak-anak, guru, dan orangtua  adalah pelaku utama dan itu ada dalam satu lingkungan yang hidup. Kalau itu semua mati ya sudah tidak ada proses belajar,” ujar Carol.
Proses belajar ini dilakukan dengan EKI (Eksploratif, Kreatif, dan Integral). Anak-anak tidak hanya diberi ceramah oleh guru tetapi mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya. “Setiap anak punya modal dasar, ada tujuh modal dasar di Mangunan ini, yaitu karakter, bahasa, orientasi diri, logika kuantitatif, cita-cita, olahraga, dan kerjasama. Tujuh modal dasar ini yang coba diolah dengan proses EKI tadi,” ujar Carol.


“Kegiatan memasak sebenarnya adalah bagian dari mata pelajaran hasta karya. Tetapi ada juga mata pelajaran yang terlibat di dalamnya seperti IPS, bahasa, komunikasi iman, dan matematika. Semua ini bermula dari keprihatinan kami mengenai banyaknya jajanan instan dan kurang sehat sehingga buruk bagi kesehatan kami,” ujar Meda.
Puncak festival literasi Mangunan ini dihadiri juga oleh orangtua siswa dan guru-guru sekolah lain. Para siswa yang telah mengeksplorasi materi selama satu semester akan mempresentasikan hasilnya kepada tamu yang hadir. Dalam interaksi tersebut akan muncul kembali proses belajar bersama.
Menurut Carol, kegiatan ini juga mendorong siswa belajar bagaimana bekerja sama sehingga akhirnya proyek tersebut dapat dimaknai dalam satu kelas dan apakah yang dibuat ini berguna bagi orang lain atau tidak. Pengalaman bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang ini membuat anak-anak dapat memperoleh pengalaman dan dapat mengembangkan kreativitasnya. # Monica Warih

Tidak ada komentar