Header Ads

Breaking News

SAATNYA BEA-GURU

Pendidikan di sekolah-sekolah Katolik di Indonesia –tak terkecuali di wilayah Keuskupan Agung Semarang (KAS)– mengalami tantangan yang serius, baik secara eksternal maupun internal. Fenomenanya antara lain, jumlah siswa yang kian merosot. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Kualitas dan kesejahteraan guru, ditengarai menjadi salah satu faktor pentingnya. Lalu, apa langkah Gereja KAS mengatasi kondisi itu?


         Sekolah-sekolah Katolik sejauh ini memang menjadi sarana yang penting untuk penyemaian nilai-nilai kasih, yang menjadi dasar iman Katolik. Maka itu, Gereja KAS sangat peduli terhadap keberadaan sekolah-sekolah Katolik dan pendidikan di dalamnya. Kepedulian itu terwujud dalam bentuk pemberian beasiswa, pembangunan gedung sekolah, pelengkapan sarana pendidikan, dan lain sebagainya.
         Tampaknya itu belum cukup. Kondisi terus berubah. Perlu upaya dan kreativitas yang lebih serius untuk membuat sekolah-sekolah Katolik itu mampu berjalan seiring irama zaman, bahkan mendahuluinya. Guru-guru sekolah Katolik menjadi prioritas kepedulian Gereja.
         Uskup Agung Mgr Robertus Rubiyatmoko menegaskan, kesejahteraaan guru di sekolah-sekolah Katolik KAS menjadi tanggung jawab Gereja. “Kita mempunyai keprihatinan yang sangat besar terkait dengan keberlangsungan pendidikan Katolik di Indonesia, khususnya di keuskupan kita. Kita sebenarnya mempunyai banyak sekolah Katolik. Mulai dari Kanisius milik Keuskupan yang pengelolaanya diserahkan kepada ordo Serikat Yesus (SY), maupun yang secara langsung diselenggarakan oleh Keuskupan sendiri dan juga oleh tarekat-tarekat.”
          Keprihatinan itu, menurut Bapa Uskup, adalah begitu banyak sekolah-sekolah yang mengalami kesulitan, berawal dari semakin sedikitnya murid yang masuk. Ada banyak unsur yang menyebabkannya. Selain jumlah anak dalam keluarga Katolik yang semakin sedikit, namun juga ada unsur-unsur yang lain yakni bahwa semakin sedikit anak-anak non Katolik yang masuk ke sekolah Katolik. Karena mereka punya pola pendidikannya sendiri atau mempunyai misi sendiri. Dan mau tidak mau, akhirnya jumlah anak-anak yang belajar di sekolah Katolik itu semakin menurun.
          Praktis sekarang ini, lanjut Mgr Ruby, banyak sekolah Katolik yang muridnya menjadi hanya anak Katolik saja. Situasi ini memang memudahkan pendidikan keagamaan, namun di pihak lain, sisi pewartaan menjadi kurang. Berkurangnya siswa otomatis akan berpengaruh pada kemampuan untuk pembiayaan. Maka tak mengherankan banyak sekolah Katolik mengadakan perampingan dan bahkan tak mampu bertahan lagi. Ini keprihatinan yang utama.
         “Di balik itu semua, tidak hanya pembiayaan untuk siswa, namun juga untuk gurunya sendiri. Ketika dana yang masuk itu berkurang, maka kemampuan untuk menggaji guru juga semakin berkurang. Tidak sedikit guru-guru kita yang sifatnya honorer. Meskipun demikian yang menjadi kebanggaan kita adalah banyak umat kita yang menjadi guru honorer. Meskipun digaji sedikit mereka tetap bertahan. Karena mereka punya misi untuk pendidikan anak-anak kita sendiri. Ini satu hal yang patut diacungi jempol,” tutur Bapa Uskup.
          Gereja punya tanggung jawab untuk menyejahterakan para guru sekolah Katolik. “Pendidikan semakin bermutu bila guru-gurunya tersejahterakan. Tersejahterakan tidak hanya dalam arti gaji yang tinggi, namun juga mereka dibekali dengan aneka macam kemampuan atau kompetensi yang akhirnya memampukan mereka untuk memberikan pendidikan yang baik,” tegas Mgr Rubiyatmoko. 
           Maka itu, Gereja KAS mengembuskan gagasan bea-guru. Untuk apa bea-guru itu? Untuk membantu kesejahteraan guru-guru. Tidak hanya dalam arti peningkatan jumlah gaji yang diterima, namun juga terutama adalah peningkatan kemampuan. “Kalau gurunya sejahtera maka mereka akan memberikan pendidikan yang terbaik. Kalau pendidikannya baik, maka otomatis akan dicari oleh orangtua. Dan orangtua akan menyekolahkan anaknya di sekolah guru yang berkualitas itu berada.”                Istilah ‘bea-guru’ memang belum populer. Padanan analogisnya adalah ‘beasiswa’ untuk pelajar dan mahasiswa. Tujuan bea-guru adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah-sekolah Katolik.
            “Bea-guru pasti tidak ringan. Meski demikian, kita mencoba bergerak bersama-sama. Maka tak mengherankan jika kevikepan-kevikepan dan paroki-paroki mulai untuk melakukan ‘Gerakan Rp 2000’ untuk mengumpulkan dana, baik untuk beasiswa, maupun bea-guru,” kata Mgr Ruby.
             Bea-guru ini selanjutnya menjadi gerakan keuskupan. Gereja sudah mengumumkan hal itu kepada para rama paroki dalam kesempatan acara Temu Pastoral (Tepas). Menurut Bapa Uskup, kuncinya ada pada rama di tingkat paroki.
            “Saya sangat bangga, karena umat KAS ini mempunyai kemurahan hati yang semakin tinggi. Semakin murah hati, semakin rela berbagi. Yang penting adalah bagaimana memanfaatkan kemurahan hati umat dengan baik. Maka dengan gerakan bea-guru ini, saya berharap semakin tertopanglah proses belajar-mengajar ini,” tuturnya.


Kondisi Sekolah Katolik 
Potret lebih detail mengenai kondisi pendidikan di sekolah-sekolah Katolik KAS dikemukakan oleh Ketua Komisi Pendidikan KAS, Rama Basilius Edy Wiyanto Pr. Menurutnya, kondisi penyelenggaraan pendidikan sekolah-sekolah Katolik sangat beragam. Sebanyak 20% sekolah-sekolah Katolik di wilayah KAS tergolong bagus dan aman. Sementara yang harus berjuang keras 40%. Selebihnya, di antara keduanya.
          “Saya pernah keliling ke empat Kevikepan, ke-78 sekolah, tahun 2018. Mereka dalam kondisi kesulitan di tingkat operasional. Memprihatinkan lah,” ujar Rama Edy.
          Menurutnya, sejak 2008 perhatian terhadap guru menjadi salah satu hal yang dicermati. “Sebenarnya pencermatan itu sudah dimulai Rama YB Mangunwijaya tahun 80-90-an. Ia mengatakan, untuk menjamin keberlangsungan sekolah Katolik perlu adanya perhatian pada guru,” ujar Rama Edy.
         Perhatian pada melalui bea-guru, menurutnya, perlu dipertegaskan. Kalau membicarakan beasiswa yang tergambar adalah proses pendidikan siswa mencapai tingkatan tertentu. Sedangkan konsep bea-guru adalah meng-upgrade kompetensi guru dan menjamin kesejahteraan mereka, khususnya yang penghasilannya di bawah UMR.
         “Yang pertama-tama, para guru sekolah Katolik perlu disapa lebih dulu. Kita mendengarkan persoalan-persoalan yang mereka hadapi, selain kita juga mengapresiasi semangat mereka, yang ibaratnya ingin mengatakan, ‘Saya ini seorang guru. Seorang guru sejati!’. Peningkatan insentif juga penting, karena dari 78 sekolah yang kami kunjungi, cukup banyak guru yang pendapatannya 250 ribu per bulan. Tetapi hebatnya, perhatian mereka justru tertuju pada keberlangsungan anak-anak untuk sekolah. Mereka gembira kalau anak-anak di sekitarnya bisa sekolah, hingga lulus,” ujar Rama Edy.
          Menurut Rama Edy, yang dibutuhkan guru saat ini, dan pernah dikemukakan oleh Rama Mangun, adalah sanggar guru atau teacher center. Gerakan ini sudah dimulai di Kevikepan Yogyakarta. Setiap workshop, ada minimal 30 guru yang didampingi selama 18 pertemuan. Ini menjadi salah satu gerakan pengalokasian dana untuk perhatian guru.
          Rama Edy juga mengatakan bahwa Komisi Pendidikan KAS terus mengolah bentuk-bentuk manifestasi dari pemanfaatan bea-guru, selain untuk peningkatan insentif para guru. Apakah bea-guru diprioritaskan untuk menyiapkan umat yang mau menjadi guru? Atau, dialokasikan untuk berbagai pelatihan yang meningkatkan kompetensi guru? Atau juga untuk pendampingan para guru kreatif? “Banyak sekali kemungkinannya,” tuturnya.
         Terkait dengan pelaksanaan bea-guru di Kevikepan Surakarta, menurut Rama Edy, pelaksanaannya belum secara khusus mengarah kepada bea-guru. “Idenya adalah solidaritas untuk pendidikan. Yang selama ini diaplikasikan adalah membantu lembaga sekolah. Setahun ada sekitar 16 lembaga. Setiap lembaga dibantu Rp 6 juta-an. Itu untuk menunjang sarana prasarana seperti laptop dan LCD. Ada juga untuk upgrading guru. Ada penguatan wawasan, rekoleksi, dan lainnya. Setahun, mereka dua kali menyelenggarakan kegiatan untuk guru-guru honorer,” ujar Rama Edy. 
          Menurut Rama Edy, Komisi Pendidikan KAS tahun ini memiliki program memperhatikan sekolah-sekolah yang dulu pernah dilepas dari yayasan induk dan berjuang mencari payung hukum. “Ada 31 sekolah, targetnya setahun ini kalau per kevikepan ada 12 yang tertangani. Selama 2-3 tahun mungkin program ini masih akan berjalan. Satu program lagi yaitu mendampingi sekolah-sekolah pinggiran. Ini kami mau mencoba menguatkan, kemudian menyadarkan karakter dengan menggali dan menyadari hidup harian mereka. Ini yang baru digagas.” ujar Rama Edy.
          Komisi Pendidikan telah memberikan rekomendasi kepada Keuskupan mengenai bea-guru, tetapi keputusan ada di tangan Kuria atau Bapa Uskup. “Rekomendasi kami, perlu disadarkan bea-guru itu sumbernya dari mana. Kami mengajak spiritualitas menghadirkan wajah Kerahiman Allah di dalam dunia pendidikan. Identitas Gereja KAS adalah Gereja Papa Miskin. Berarti itu mau menyadarkan bahwa prioritas yang diutamakan adalah perhatian pada yang miskin.”
         “Kami menangkap ajakan Bapa Paus, juga mengunakan motto Bapa Uskup Quaerere et Salvum Facere yakni bagaimana mencari dan menyelamatkan dengan menghadirkan belas kasih. Kami mengusulkan ada gerakan solidaritas. Ini menjadi gerakan kesadaran peduli pendidikan. Solidaritas itu menurut saya bukan hanya masalah duit tapi masalah hati,” ujar Rama Edy.
          Lebih lanjut, Rama Edy menjelaskan rekomendasi yang diberikan oleh Komisi Pendidikan kepada Keuskupan. “Rekomendasinya begini, di tingkat dasar dan menengah itu sudah ada gerakan lima roti dan dua ikan, yaitu setiap tanggal 7 Mei itu menyumbang dana untuk dikumpulkan di Majelis Pendidikan Katolik (MPK). Tetapi masih perlu dioptimalkan karena belum semua menyumbang.”
          Dia mengusulkan perguruan tinggi Katolik juga perlu diberi ruang untuk bersolidaritas. Mahasiswanya perlu didorong untuk menyumbang, sehingga mahasiswa di perguruan tinggi Katolik itu juga memiliki kepedulian pada pendidikan.
          Terkait dengan Tim Peduli Pendidikan, Rama Edy menjelaskan bahwa pada awalnya Tim Peduli Pendidikan ini adalah ide emergency. Tahun 2009 Keuskupan meminta kevikepan-kevikepan ada tim peduli pendidikan karena pada waktu itu melihat lembaga pendidikan Katolik dalam kondisi berjuang. Salah satunya memang emergency dana. Sudah ada gerakan yang amat beragam dan masing-masing punya potensi. Surakarta dengan gerakan 2000 rupiah, kecil tapi masih bisa hidup. Yogyakarta dan Semarang dengan donatur, siapa yang mau membantu. Kedu mengumpulkan orang-orang yang punya hati untuk membantu.
         “Tetapi kemudian tim ini merasa seperti sapi perahan, hanya diminta terus. Maka masing-masing kevikepan punya dinamika sendiri. Kami dari Komdik mencoba lebih mengefektifkan koordinasi dengan mengajak pihak-pihak yang berkepentingan duduk bersama, yaitu Komdik, Badan Kerjasama Sekolah (BKS), yayasan-yayasan Katolik dan Tim Peduli Pendidikan (TPP).”
         Rama Edy memiliki mimpi bahwa pendidikan karakter yang ditanamkan di sekolah-sekolah Katolik tidak hanya dengan memasukkan ke kurikulum. Tetapi kemudian bagaimana lebih membangun kondisi.
        “Pengondisian muatan nilai-nilai baik, itu tidak diuji secara kognitif tetapi melalui pembiasaan dan apresiasi. Maka, ajakan ‘menghadirkan wajah Allah yang berbelas kasih’ akan termanifestasi di sana,” kata Rama Edy.


Awalnya di Kevikepan Surakarta 
Gerakan bea-guru pertama kali disemai di Kevikepan Surakarta. Pencetusnya adalah Rama Vikep di Kevikepan Surakarta, Rama Antonius Budi Wihandono Pr (waktu itu), yang kini mempromosikan gerakan bea-guru ini ke tingkat keuskupan. Oleh Bapa Uskup, gerakan ini memperoleh tanggapan positif dan akan dijadikan gerakan keuskupan.
         Sejak menjadi Vikep Kevikepan Surakarta itu ia sudah mewacanakan tentang bea-guru. “Saya menyerukan supaya Gereja tidak hanya menekankan beasiswa saja, namun juga bea-guru,” tegasnya. 
         Pertimbangannya, pertama, masih banyak guru yang secara kualitas perlu ditingkatkan. Mereka tentu sulit untuk membiayai peningkatan kualitas mereka. Harus ada sumber dana lain. Di sisi lain, dana dari yayasan juga terbatas.
         Kedua, banyak juga guru-guru honorer yang honornya sangat minim. Bahkan tidak layak. Padahal mereka menangani pendidikan karakter untuk anak-anak. Dan ketika guru-guru sendiri mengalami banyak keterbatasan, maka untuk mendampingi anak-anak itu kurang optimal.
         Karenanya perhatian Gereja, dalam hal ini Keuskupan Agung Semarang, adalah bagaimana cara untuk meningkatkan kualitas guru, yang salah satunya adalah meningkatkan honor guru. Entah itu nanti diwujudkan melalui yayasan atau Tim Peduli Pendidikan (TPP) atau Keuskupan yang mengalokasikan itu. Ini sangat penting.
        “Maka saya meminta, bagaimana jika keuskupan melalui dana Aksi Puasa Pembangunan (APP) atau dari gerakan-gerakan paroki mengalokasikan sungguh-sungguh untuk pemberdayaan guru. Itu artinya untuk bea guru,” seru imam diosesan ini.
         Menurutnya, di Kevikepan Surakarta, TPP telah berjalan berjalan, hanya pengoptimalan gerakan Seribu Rupiah itu baru tahun 2012. Pemberdayaan semacam bea guru itu bisa melalui TPP. Contoh, ada guru yang diikutsertakan dalam kegiatan semacam kursus-kursus. Kemudian mengadakan semacam rekoleksi, dimana para guru juga diberi tambahan uang saku. Tanggapan dari para guru pun cukup positif.
         Bea-guru itu bukan sekedar pemberian uang, tetapi termasuk bagaimana nantinya menyekolahkan para guru, meski ini baru wacana. Namun seperti Paroki St Petrus Sambiroto Semarang telah membiayai dua guru di Sekolah Tinggi Pastoral dan Kateketik (STPKat) St Fransiskus Assisi. Paroki Kebon Dalem juga sudah mengalokasikan dana untuk bea-guru ini. Paroki-paroki lain juga sudah menanggapi dengan positif. Semua ini menjadi embrio-embrio yang baik bagi peningkatan kualitas guru. Syukur jika di kemudian hari ada semacam uang insentif bagi para guru, yang memang harus diprogramkan.
         Jadi Bea-guru ini dikelola oleh Keuskupan melalui jalur-jalur yang ada seperti TPP, paroki-paroki, dalam kerjasama dengan Komisi Pendidikan KAS, juga dengan BKS (Badan Kerjasama Sekolah) dan MNPK (Majelis Nasional Pendidikan Katolik). Harapannya semua lembaga ini dapat bergerak bersama untuk mewujudkan bea guru.
         Selain itu, akan disosialisasikan gerakan “Dua ribu rupiah” (minimal) per orang untuk mewujudkan bea guru ini. Sehingga tidak hanya lembaga-lembaga pendidikan ataupun Gereja, namun juga seluruh umat diajak mewujudkan gerakan ini.
        “Gerakan ini baru akan disosialisasikan di Kevikepan Semarang mulai bulan Mei 2019 ini. Bentuk gerakan 2 ribu rupiah ini akan diserahkan kepada kreativitas masing-masing paroki atau kevikepan,” ucap Rama berkumis ini.
         Bercermin dari Kevikepan Surakarta yang pernah melaksanakan gerakan ini, mungkin bisa saja gerakan ini akan diadakan setiap bulan Mei dan Oktober. Dana-dana itu dikelola jalurnya melalui lingkungan, dan dari lingkungan melaporkan ke paroki.
         Misalnya, dulu di Paroki Purbowardayan ada 82 lingkungan. Dan 82 lingkungan ini akan melaporkan gerakan 2 ribu rupiah ini selama satu bulan itu memperoleh berapa. Oleh paroki semua hasilnya digabung dan dikumpulkan oleh kevikepan serta dikelola oleh TPP (Tim Peduli Pendidikan). Di Kevikepan Surakarta dulu per bulan Mei dan Oktober masing-masing terkumpul dana sekitar Rp 40 juta.
         Pada kesempatan ini, Rama Budi Wihandono berpesan, “Guru itu pekerjaan yang sungguh-sungguh mulia. Karena guru itu membentuk karakter iman, karakter moral, karakter sosial, karakter pribadi anak. Maka guru itu perlu mendapat penghargaan yang baik. Dan untuk dapat seperti itu, maka perlu ada, pertama, perhatian Gereja dalam arti seluruh umat maupun sebagai lembaga. Entah itu lembaga tingkat paroki atau keuskupan. Semoga menjadi banyak kesadaran bersama, dan guru menjadi optimal dalam pelayanan serta berkualitas baik dan juga sejahtera.”


Semakin Memacu Guru 
Mendengar bahwa Keuskupan Agung Semarang menghembuskan wacana tentang gerakan bea-guru, Kepala Sekolah SD Kanisius Hasanudin Semarang, Fransiska Widiatiningsih, menyambut gembira kabar baik tersebut. Menurutnya, wacana bea-guru ini pasti akan memberi semangat tersendiri bagi para guru untuk semakin meningkatkan kerja yang lebih baik.
        “Meski gaji di SD Kanisius sudah sesuai, namun mungkin bea-guru ini bisa dialokasikan untuk membantu pendampingan anak-anak dalam banyak hal. Karena kalau hanya mengandalkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah-red.) tidaklah cukup,” tutur Widi.
         Widi berharap, jika guru-guru terpacu untuk memberikan pendampingan lebih kepada anak-anak, maka proses pembelajaran juga akan lebih. Dan buahnya, mutu sekolah juga akan semakin baik.
         Guru SD PL Servatius Gunung Brintik Semarang, Patricius Sunardi, mengapresiasi adanya program bea-guru yang akan dijalankan oleh Gereja. Mengingat tidak semua gaji guru itu sama, bahkan setiap yayasan pendidikan pun memiliki skala gaji yang berbeda-beda. Bagi teman-teman guru di daerah pedesaan ataupun di tempat terpencil, program bea-guru akan sangat membantu para guru dalam meningkatkan kualitas SDM maupun iman mereka, serta berguna untuk menambah biaya hidup sehari-hari.
        “Saya pribadi sangat senang sekali mendengar kabar gembira ini. Inilah salah satu bentuk perhatian Gereja terhadap para guru sebagai saka guru pendidikan,” tutur Sunardi.
         Guru Kelas IV ini juga mengajak rekan-rekan para guru untuk proaktif dalam menyambut program bea-guru ini. Caranya bagaimana? Caranya rekan-rekan guru bisa lebih meningkatkan pelayanan-pelayanan terhadap anak didik. Dengan demikian diharapkan kualitas pendidik kepada anak-anak pun kian membaik dan berkualitas.***marcelinus tanto pr, warih, elwin, anto

Tidak ada komentar