Header Ads


Breaking News

Makin Jadi Berkat!

“Ada lebih dari 500 pasien yang kami bantu selama Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia Februari lalu. Dan tidak berhenti sampai situ. Kami bukakan akses khusus ke direktur rumah sakit, para suster yang terlibat dalam aktivitas itu, untuk dengan bijak melihat pasien yang butuh dana karena tidak mampu, siapapun mereka,” tutur Rama Jonathan Billie Cahyo Adi Pr, rama paroki Marganingsih Kalasan yang juga Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Kevikepan Yogyakarta. 

PSE Kevikepan DIY memberi bantuan orang sakit di Paroki Bandung.
GEREJA, tuturnya, telah menjadi berkat bagi sesama, dan terus berusaha makin menjadi berkat. Itu bisa terjadi ketika umat yang terlibat semakin banyak. “Kata ‘sesama’ tidak hanya sebatas umat Katolik yang membutuhkan bantuan, namun juga masyarakat luas. Kesejahteraan umm (bonum commune) yang berusaha kita wujudkan, tidak sebatas pada umat sendiri, dan bukan hanya hal yang fisik sifatnya,” katanya menghayati gerakan Aksi Puasa Pembangunan (APP) tahun ini. Sejak 1971, Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang memulai gerakan Aksi Puasa Pembangunan selama masa Prapaskah. Melalui gerakan ini, seluruh umat diajak untuk bersyukur kepada Allah yang senantiasa berbelas kasih dan memberikan berkat. Dalam semangat pertobatan, umat beriman diingatkan kembali untuk senantiasa bertumbuh dalam keutamaan hidup kristiani, mengasah kepekaan sosial dengan tergerak untuk berbelarasa dan memperjuangkan keadilan sosial. Terutama bagi sesama yang menderita dan berkekurangan.

Gerakan APP pertama kali digagas oleh Rama C Carry SJ (Vikjen KAS waktu itu). Gerakan ini mendasarkan diri dalam kesadaran akan Allah yang senantiasa berbelas kasih, melimpahkan berkat-Nya agar siapapun dan apapun dapat saling menjadi berkat. Belas kasih Allah merangkul semua orang supaya semua orang menikmati kembali syalom (damai sejahtera) dalam kerajaan Allah. Perutusan ini dapat secara konkret diwujudkan dalam keterbukaan orang untuk terlibat aktif dalam usaha-usaha menegakkan keadilan, kedamaian, dan keutuhan ciptaan, terutama dengan mewujudkan pilihan dasar Gereja: preferential option for and with the poor, pilihan untuk mengutamakan mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. Tema Aksi Puasa Pembangun 2019 ini adalah ‘Makin Tergerak untuk Berbagi Berkat’. Tema ini lanjutan dari tema APP 2018 ‘Mengasihi dengan kata dan perbuatan’. Dengan kesinambungan itu, maka diharapkan perutusan untuk menghadirkan karya belas kasih Allah semakin nyata dalam hidup kita sebagai murid-murid Kristus yang diutus. Ini semua bagian dari cita-cita Keuskupan Agung Semarang, yakni ‘mewujudkan peradaban kasih’. 

Sejak awal, gerakan APP dimaksudkan sebagai gerakan untuk membangun kesalehan hidup dan pertobatan melalui olah rohani dan matiraga. Dengan cara itu, diharapkan terus tumbuh momentum religius untuk mengembangkan hidup kristiani: berbelarasa terhadap mereka yang menderita dan berkekurangan, berpartisipasi dalam aneka perjuangan keadilan sosial dalam membangun Kerajaan Allah di dunia.

Untuk wilayah Kevikepan Yogyakarta, Rama Jonathan Billie Cahyo Adi Pr, mengemukakan, sebenarnya tidak ada hal khusus gerakan APP tahun ini. Ada sejumlah pertemuan APP, kotak APP, panduan katekese. Konsepnya sama seperti tahun lalu. “Yang berbeda barangkali adalah pelibatannya semakin luas. Semua berusaha digerakkan untuk ambil bagian dalam kegiatan secara menyeluruh,” tuturnya. Yang juga berbeda tahun ini adalah pemanfaatan karya-karya Komsos, berupa video-video, yang disebar melalui berbagai media sosial. Diharapkan umat akan terbantu dalam berkreasi dalam peribadatan semasa prapaskah.

Pemberian bantuan anak difabel yang sakit di Paroki Ganjuran.
Orang Sakit dan Panti Asuhan
Di komisi PSE Kevikepan Yogyakarta, gerakan bersama dimulai dengan memanfaatkan momentum Hari Raya Orang Sakit Sedunia, dengan terjun ke sejumlah rumah sakit Katolik di Yogyakarta: Boro, Baktiningsih, Panti Rahayu, Panti Rini, Panti Nugroho, Elisabeth Ganjuran. “Kami hadir untuk membantu mereka yang masih memiliki tanggungan beban biaya kesehatan, yang ternyata memang sangat besar jumlahnya.” Selain itu, lanjut Rama Billie, pihaknya tergerak untuk membantu beban biaya beberapa panti asuhan di wilayah DIY. Khususnya terkait dengan dana pendidikan anak-anak panti. Ternyata anak-anak panti asuhan yang bersekolah di sekolah katolik pun biaya sekolahnya sama, atau bahkan ada yang lebih tinggi daripada siswa pada umumnya. “Jadi itulah yang kemudian menjadi keprihatinan panti asuhan bahwa mereka disamakan dengan siswa-siswa pada umumnya.” 

Jadi ada dua aksi APP tahun ini. Gerakan itu disertai juga dengan pendampingan tingkat rayon dan paroki. “Melanjutkan tahun lalu, kami masih melaksanakan supervisi. Kami ingin menyadarkan bagaimana dana APP atau pemanfaatan pelayanan kegiatan karitatif itu dapat berjalan dengan baik.” 

Prapaskah, menurut Rama Billie, tidak lepas dari semangat tobat, semangat untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dengan berdoa dan beramal kasih. “Saya kira soal pertobatan, tidak hanya pertobatan pada Tuhan tetapi juga dengan sesama dan alam, dan juga semakin bertekun dalam doa yang kemudian diwujudnyatakan dalam tindakan-tindakan cinta kasih kepada sesama.” Ketika berbicara tentang APP, maka tidak bisa terlepas dari dana sosial paroki di mana di dalamnya ada dana papa miskin. Pada dasarnya itu untuk meningkatkan martabat umat atau masyarakat pada umumnya, Landasan dasar itu harus disadari. Bukan perkara bagi-bagi uang tetapi bagaimana kemudian semangat dasar masa prapaskah itu tetap menjadi dasar untuk aneka macam pelayanan karitatif sehingga lebih tulus, lebih sesuai sasaran, dan bermanfaat bagi banyak orang, tuturnya. Merespon tema Prapaskah tahun ini, “Tergerak untuk makin terlibat menjadi berkat”, Rama Bille mengatakan, umat Katolik sudah sering berbagi berkat. Kalau tahun ini ada kata ‘makin’, maka tuntutannya berkat itu harus semakin besar atau semakin luas manfaatnya bagi sesama. Jadi, harus ada usaha yang lebih, tidak standar-standar saja.

Caranya ada berbagai macam, dengan aneka macam aktivitas yang dibuat di tingkat paroki ataupun di tingkat Kevikepan. Sehingga berkat itu tidak hanya berhenti pada dana APP. “Umat sudah berbagi berkat, hanya kita diajak untuk lebih. Hal penting lainnya, berkat itu tidak hanya eksklusif untuk diri sendiri, tetapi juga masyarakat pada umumnya,” tutur Ketua Komisi PSE Kevikepan Yogyakarta itu. 

Soal kesejahteraan umum, tuturnya, tidak lepas dari tiga hal, yakni pangan, sandang dan papan. Jangan sampai di sekitar kita ada yang kelaparan dan kekurangan pangan, ada yang kekurangan sandang, serta kalau ada yang rumahnya kurang layak, sanitasinya buruk sehingga berpengaruh pada kesehatan anggota keluarganya, sudah sewajarkan kita tergerak untuk membantunya.

“Sudah sewajarnya gerakan bedah rumah atau benah rumah, makin ditingkatkan kualitasnya, baik di tingkat paroki, lingkungan, ataupun wilayah,” tuturnya.

Kurang Termanfaatkan
Sementara itu, untuk wilayah Kevikepan Kedu, Moderator PSE Kevikepan Kedu Rama Vincentius Suparman Pr, menceritakan ihwal pemanfaatan dana APP di wilayahnya. “Tidak merata,” katanya. “Ada paroki-paroki yang baik dalam berbagi, tetapi ada juga yang dana APP nya kurang dimanfaatkan secara baik.”

Aktvitas Prapaskah di wilayah Kevikepan Kedu, berjalan baik sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Komisi PSE bersama dengan panitia APP Kevikepan Kedu menyelenggrakan sosialisasi tema APP dan gerakan APP. “Kami mengajak paroki-paroki untuk memanfaatkan dana sosial paroki dengan baik dan benar. Memantapkan jejaring komunikasi antar paroki di Kevikepan Kedu melalui pertemuan koordinatif sebulan sekali di demplot PPSM guna memutuskan, melaksanakan dan merealisasikan proposal yang diajukan oleh masing-masing paroki dalam hal permohonan bantuan-bantuan yang ditujukan kepada PSE maupun kepada Panitia APP.”

Secara umum, semangat dasar APP masih terjaga. Partisipasi umat Kedu dalam pengumpulan dana APP selama beberapa tahun terakhir ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Umat dilibatkan melalui sosialisasi tema APP dengan membuat gerakan yang konkrit dan yang cukup aplikatif menjadikan umat semakin memahami maksud dilaksanakan kegiatan APP; semangat dasar berbagi adalah ciri khas ketika kita ber APP.

“Kevikepan Kedu baru memulai konsientisasi dana sosial paroki. Beberapa paroki sudah menjalankan dengan baik, tetapi masih ada paroki yang masih perlu didorong untuk mengoptimalkan penggunaan dana sosial paroki tersebut agar semakin menjadi berkat,” tutur Rama Suparman. 

Ditambahkannya, gerakan karitatif diharapkan tidak hanya berlaku semusim saja saja tetapi terus menerus semangat berbagi menjadi landasan untuk berbuat baik kepada sesama dilakukan agar ‘Gereja tidak menjadi menara gading’ bagi umat sederhana, maka untuk menjamin itu perlu pedoman yang jelas di paroki tersebut dalam mengelola dana sosial parokinya.

“Kita menyadari tantangan Gereja dalam arus global sangat cepat. Tak terkecuali umat kita banyak yang akan terdampak dengan percepatan perubahan zaman itu. Menjadi pertanyaan adalah bagaimana para aktivis Gereja mampu memetakan persoalan-persoalan dan bersama-sama mencari solusi,” tuturnya.

Gerakan APP mengajak umat ikut memberikan informasi dan data verifikatif apabila ada kelompok maupun individu yang ingin memanfaatkan program-progran yang dikembangkan oleh PSE maupun Gerakan APP. Terlebih terlebih bagi mereka yang KLMTD agar pemanfaatan dana APP maupun social lainnya tepat sasaran. Diakuinya, di Kevikepan Kedu tidak semua paroki memiliki kemamuan yang sama baik dalam mengelola dana APP. Paroki Mikhael Panca Arga, misalnya, sudah dengan baik memanfaatkan dan mengelola APP tersebut.

Sementara Paroki Maria Fatima Magelang yang selama ini kurang greget dalam pemanfaat dana sosial parokinya mulai melangkah untuk mengadakan bedah rumah untuk 25 KK @ Rp 10.000.000,00. Saat ini sedang memasuki tahap verifikasi data. “Gerakan ini akan menjadi gerakan yang hebat karena menjawab kebutuhan umat perkotaan tetapi dalam kategori KLMTD. Kita doakan semoga sukses.” Kemudian Paroki St Antonius Muntilan dalam rangka HUT ke-125 Paroki ada berbagai kegiatan yang melibatkan PSE APP, diantaranya renovasi rumah sejumlah 13 rumah, masing-masing mendapat stimulan Rp 5 juta.

Berbuatlah, Jangan Takut
Semangat dasar seperti apa yang hendak dibangun dari APP? Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung Semarang Rama Yohanes Krismanto Pr menjelaskan, gerakan APP ditempatkan dalam konteks masa prapaskah. Maka semangat yang hendak dibangun adalah pertobatan. Pertobatan seperti apa? Yaitu pertobatan yang dibangun secara konkret dalam tindakan-tindakan yang nyata. Pembangunan dalam kata APP tidaklah diartikan sebagai pembangunan fisik, seperti bangunan, jembatan, dan lainnya. Namun lebih dalam dari semua itu, yaitu pembangunan pribadi sebagai murid-murid Kristus yang diutus. Dan itu mengandaikan seseorang bertumbuh dalam keutamaan-keutamaan hidup kristiani.

Keutamaan hidup kristiani yang mana? Keutamaan yang hendak dibangun adalah keutamaan kasih. Keutamaan kasih ini meliputi belarasa, solidaritas, subsidiaritas, kepedulian kepada orang-orang kecil. Itulah yang penting. “Dan tahun 2019 ini, proses rekatekese tentang semangat APP ini kembali didengungkan kepada umat. APP tidak hanya sekedar mengumpulkan kotak APP beserta uang yang ada di dalamnya. Atau bukan sekedar mengikuti kegiatan renungan APP?

Hal-hal ini hanyalah sesuatu yang rutin. Kegiatan APP lebih dari itu, yaitu untuk membangun keutamaan,” tandas Rama Krismanto. Gerakan APP ini berlangsung selama 40 hari masa prapaskah; tidak hanya dilakukan menjelang Jumat Agung saja, tetapi berlangsung selama 40 hari. Hal yang perlu diperhatikan lagi adalah pelaku gerakan APP. APP bukan hanya untuk orang yang dewasa saja atau mereka yang ikut kegiatan lingkungan, tetapi APP untuk semua orang. Pertanyaan lainnya, apakah semua orang itu gerakannya sama? Tentu saja tidak. Masing-masing orang berbeda-beda sesuai dengan kapasitasnya, dan sesuai dengan niat masing-masing yang mau diwujudkan dalam masa pertobatan ini.

Realisasi bantuan PSE kepada anak sekolah di SMK ST Dominikus Wonosari.


Pergeseran Makna?
Gerakan APP dimulai dari tahun 1971. Dan kini telah 38 tahun menjadi gerakan pertobatan dalam masa prapaskah. Hal yang perlu direfleksikan adalah apakah gerakan APP ini tetap memiliki makna yang sama atau telah mengalami pergeseran makna. Pertanyaan tersebut perlu direfleksikan bersama, karena gerakan APP telah menjadi kegiatan rutin sepanjang masa prapaskah setiap tahunnya. Dan hal ini berpotensi umat terjebak pada rutinitas belaka. Dan akibatnya adalah makna APP kurang mengakar dalam diri umat. Dan bila ini berlangsung lama akan mengakibatnya pergeseran makna gerakan APP ini. “Umat hanya menangkap apa yang lahiriah belaka: biasanya begini, biasanya begitu. Umat beranggapan, APP sama dengan gerakan mengumpulkan kotak APP. APP sama dengan mengikuti pertemuan-pertemuan setiap minggunya. APP sama dengan setiap Jumat ikut Jalan Salib. APP berarti setiap masa prapaskah harus mengaku dosa. Hanya sekedar itu,” ucap Rama Krismanto. Lanjutnya, “Lebih dalam daripada itu, semangat yang mau dibangun terutama yang harus diingat, mengapa gerakan APP diletakkan dalam masa prapaskah, adalah adanya semangat pertobatan.”

Maka persisnya seperti apa pergeseran makna APP itu sangat sulit untuk dideteksi. Tetapi kecenderungan pergeseran makna itu ada. Karenanya, dalam dua tahun terakhir ini umat ingin disadarkan kembali akan rekatekese terkait dengan semangat dasar APP, supaya umat itu sadar. Walaupun nanti ada pertanyaan: apakah APP itu identik dengan hasil kotak APP? Jawabnya: tidak! “Karena gerakan APP itu bukan sebatas dengan berapa uang yang bisa dikumpulkan. Tetapi bagaimana umat bertumbuh secara pribadi dalam keutamaan hidup selama masa prapaskah. Sebagai contoh, ada orang yang sadar bahwa dirinya itu hobi ngrasani, dan berusaha bertobat. Tetapi tidak bisa diukur dari berapa uang yang dimasukkan dalam kotak APP. Tetapi sebaliknya bagaimana dia bertumbuh selama masa prapaskah ini, mengubah diri menjadi lebih positif. Yang dulu ngrasani, menjadi bisa berkurang kecenderungan itu. Dengan kesadaran itu orang bisa menjadi lebih baik,” ucap Rama Krismanto.

Dalam dua tahun terakhir ini ada usaha untuk kembali ke semangat awal APP. Ada beberapa cara dan sarana yang dipergunakan. Minimal dengan informasi-informasi yang penting terkait dengan gerakan APP itu sampai kepada umat. Tahun lalu, mulai dari kotak APP, leaflet-leaflet yang dibagikan kepada umat supaya dibaca dan dimengerti serta diresapkan. Yang meresap inilah yang sebetulnya menggerakkan orang setiap harinya untuk hidup, untuk berjumpa dengan orang-orang lain.

Korelasi APP - Prapaskah
Apa korelasi APP dan masa prapaskah sebagai retret agung? Retret agung hendak dipahami sebagai “kesempatan orang untuk berbalik kembali kepada Tuhan”. Menjalani pengolahan pribadi dan bersama-sama dengan yang lain, untuk bertumbuh dalam keutamaan-keutamaan hidup. Dan akan nampak, umat di paroki atau lingkungan itu grengseng-nya seperti apa dalam menjalani retret agung. Dan tahun ini dalam leaflet juga dicantumkan kalender selama 40 hari. Di dalam kalender itu ada kutipan-kutipan ayat kitab suci tertentu yang ditawarkan kepada umat untuk membantu mereka. Mulai dari apa?

“Mulai dari hal yang kecil dan sederhana. Misalnya, Sabda itu sungguh hidup dan bermakna bagi dirinya dalam hidup konkret setiap hari. Contohnya, sabda ‘jadilah murah hati seperti Bapa murah hati’. Ini bisa menjadi refleksi orang pada hari itu, bagaimana aku selama ini punya sikap murah hati. Orang bisa bertanya pada dirinya sendiri dalam kejujuran,” tutur Rama Krismanto. Kalender itu bukan untuk menilai secara umum, melainkan menjadi sarana bagi masing-masing pribadi untuk menilai. Maka di situ ada kesempatan untuk nyenthang (). Nyenthang itu mengandalkan konsistensi dan kejujuran. Pada prinsipnya untuk membantu setiap orang dalam kemerdekaan masing-masing bagaimana memanfaatkan momentum masa prapaskah 40 hari ini sebagai kesempatan untuk melakukan pertobatan secara pribadi.

Yang Mau Dicapai
Tema APP 2019: Makin Tergerak untuk Berbagi Berkat. Tema ini merupakan kelanjutan dari tema sebelumnya. Yang mau dicapai dari tema ini adalah sebuah kesadaran. Kesadaran akan apa? Pertama, kesadaran orang untuk bersyukur atas apapun yang telah terjadi. Termasuk atas segala upaya yang telah dibuat, atas segala wujud pertobatan yang akhirnya bisa disyukuri oleh banyak orang. Kedua, dari rasa syukur ini menggerakkan untuk bagaimana kita bisa meningkatkan intensitas kualitas dari apa yang dapat kita lakukan. Bukan dari hal-hal besar atau muluk-muluk, tapi mulai dari hal sederhana. Maka kata ‘semakin’ itu untuk mengapresiasi apa yang sudah terjadi.

Maka jika mengacu pada ensiklik Gaudete et Exultate tentang panggilan kekudusan, pertama-tama menjadi diri sendiri, bukan menjadi orang lain atau seperti orang lain, dan bukan mengejar impian muluk yang sulit tercapai. Tetapi mulai dari hal yang kecil atau sederhana dan dilakukan dengan ketulusan dan kesungguhan. Di situlah buah-buah kekudusan juga akan dirasakan. Adakah yang bisa direkomendasikan kepada paroki atau kategorial dalam mendukung gerak langkah KAS dalam gerakan APP? “Pertama, prinsip subsidiaritas, yang bisa diartikan sebagai I believe in you. Saya percaya kamu bisa, dalam kelebihanmu, dalam kekuranganmu pula. Dan dari kepercayaan itu, akhirnya menumbuhkan orang supaya merdeka dengan apa yang mereka bisa. Dan melakukan sungguh-sungguh apa yang mereka bisa,” ucap Rama Krismanto.

Kedua, Lukas 17:10 (Apabila kamu sudah melakukan semua yang diperintahkan kepadamu, hendaklah kamu berkata, 'Kami adalah hamba yang tidak berharga. Kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan). Lakukanlah apa yang seharusnya dilakukan. Mengoptimalkan apa yang bisa kita lakukan. Maka, saya pun percaya kepada paroki-paroki atau siapapun. Persoalannya cuma satu, gelem tumandhang apa ora (mau bertindak apa tidak). Berbuatlah sesuatu, jangan takut salah, jangan takut dikritik. Berbuatlah sesuatu, sesederhana apapun, tidak sebaik apapun, kesungguhan dan kerendahan hati tentunya. Pada kesempatan ini, Rama Yohanes Krismanto berpesan 2 hal. “Pertama, saya percaya umat bisa bertumbuh sebagai orang Katolik yang berkeutamaan. Dan yang kedua, jangan takut, bergeraklah. Buatlah sesuatu!” harapnya.***marcelinus tanto pr, warih, anton, elwin, anto

Tidak ada komentar