Header Ads

Breaking News

Kupu-Kupu Malam yang Ingin Bertobat



Selamat jumpa Rama Yeremias. Rama, beberapa bulan lalu saya dicurhati seorang sahabat, sebut saja Mawar. Ia seorang mahasiswi semester 3 di Jakarta. Ia termasuk mahasiswi mandiri karena sejak semester satu menanggung biaya kuliah sendiri. Bahkan ia bisa membantu uang sekolah adiknya. Hanya saja itu ia peroleh dari kegiatannya sebagai ‘kupu-kupu malam’. Keluarga tidak tahu dengan apa yang ia lakukan. Namun, jika sendirian ia merasa jijik dengan dirinya. Ia ingin meninggalkan semua itu, namun tak ada daya karena ia masih membutuhkan keuangan yang besar. “Kecuali kalau saya sudah bisa dapat pekerjaan sebagai gantinya,” ujar Mawar. Sebagai teman, tak tahu nasehat apa yang bisa saya berikan supaya ia bisa meninggalkan apa yang dijalaninya sekarang. Mohon advise dari Rama. Berkah Dalem.

Petra – Yogyakarta
 
Petra yang ikut prihatin, limpah terima kasih untuk kesediaanmu membagikan pengalaman yang sedang dihadapi oleh sahabat Mawar.
Setiap orang pasti menginginkan kebahagiaan pribadi dan juga bersama keluarga. Salah satu tandanya adalah kecukupan secara materi. Meski harus diakui bahwa kecukupan apalagi kelimpahan materi tidak menjamin kebahagiaan 100%. Tapi itulah yang dikejar orang. Konsekuensinya orang mau bekerja apapun demi hidup yang cukup atau pun bisa membantu sanak keluarga lain yang berkekurangan.
Persoalannya sekarang bukan pada mencari pekerjaan, tetapi pada jenis pekerjaan yang sedang digeluti oleh sahabatmu sebagai ‘kupu-kupu malam’. Kupu-kupu malam adalah sebuah perumpamaan yang menunjuk pada pekerjaan seseorang sebagai pekerja seks komersial atau dulu sering disebut dengan label ‘wanita tuna susila’ atau pelacur. Selain sebagai pekerjaan yang merendahkan martabat manusia, kebiasaan gonta-ganti pasangan sangatlah potensial untuk mendatangkan penyakit berbahaya dan dapat menghancurkan seluruh hidup.
Sahabatmu mengatakan, ketika sendirian dia justru merasa jijik dengan dirinya. Ternyata di hatinya masih ada perasaan dirinya kotor, bersalah bahkan berdosa. Ini pertanda bahwa suara hatinya masih berfungsi baik. Bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Maka pantaslah bersyukur bahwa berfungsinya suara hati menjadi warning  atau peringatan untuk segera berhenti sebagai kupu-kupu malam. Karena bila panggilan suara hati terus menerus tidaklah diindahkan, maka dapat dipastikan bahwa peringatan suara hatinya semakin melemah dan akhirnya menghilang. Lalu menganggap pekerjaan tersebut sebagai hal biasa dan wajar dilakukan. Dan pada akhirnya sahabatmu semakin tenggelam dalam pekerjaan hina tersebut.
Jalan keluar yang dapat diupayakan dalam kondisi dilematis seperti ini yakni bersikap tegas, terutama tegas terhadap diri sendiri. Pertama, usahakan untuk segera meninggalkan pekerjaan tersebut. Kedua, bersikaplah realistis dengan kondisi ekonomi keluarga dan kebutuhan dirinya. Tidaklah harus hidup mewah tetapi cukup dan bersyukurlah. Ketiga, tetaplah membina suara hati yang baik dan benar agar setiap keputusan dan tindakanmu mendatangkan kebahagiaan bagimu dan orang-orang terdekatmu. Berkah Dalem! #

No comments