Header Ads

Breaking News

Merawat Rahmat Kebhinnekaan RI




Tahun ini usia Indonesia mencapai 73 tahun. Tidak banyak negeri-negeri di dunia yang memiliki pengalaman memerdekakan diri dari kolonialisme dengan berdarah darah. Kita punya pengalaman itu.  Kita juga bisa mengatasi berbagai cobaan yang mengancam negeri ini terbelah berkeping-keping. Tetapi, pertanyaan besar yang masih menganga adalah: bisakah kita mempertahankannya dari cobaan perpecahan yang terus terjadi hingga saat ini? Bisakah kemerdekaan ini menjadi bekal untuk mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan bersama (bonum commune) seluruh warga negeri?


Kebhinnekaan menjadi fondasi sangat penting negara bangsa Indonesia. Baik dalam hal suku, agama, etnis, pendidikan, kelas sosial, budaya, maupun politik-ideologi. Semua disatukan oleh pengalaman menderita (dalam kolonialisme) dan harapan (untuk merdeka) yang sama.
Ketika flash-back sejenak, kita bisa melihat kekuatan kebhinekaan itu. Di awal abad ke-20 lapisan terdidik boemi poetera (kelas sosial ekonomi atas) menjadi pelopor untuk membangun rasa kebangsaan rakyat, melalui organisasi maupun media. Berbagai etnis di nusantara terlibat di dalamnya, termasuk China dan Arab. Mereka dari beragam latar belakang agama maupun tidak mementingkan agama (kaum agnostik dan atheis).
Soempah Pemoeda 1928 adalah contoh konkretnya. Peristiwa itu dilakukan di tiga tempat, yakni Gedung Katholike Jongenlingen Bond,  Oost Java Bioscoop, dan Gedung Indonesische Clubgebow --rumah milik Sie Kong Liong, yang sering jadi markas pergerakan pemuda--. Semua yang terlibat di sana adalah anak-anak muda dengan berbagai latar belakang etnis,k agama, organisasi dan tingkat pendidikan.
            Pada tahap selanjutnya –yang banyak diwarnai pertempuran fisik dan diplomasi internasional untuk mempertahankan negeri yang baru seumur jagung dari perebutan kembali oleh pihak kolonial dan sekutu, serta dari perpecahan— warna bhineka terasa sangat menonjol. Kebhinekaan adalah rahmat maha besar dari Tuhan bagi negeri ini.
            Sekalipun demikian,  merawat kebhinekaan serta menjadikannya sebagai kekuatan riil bangsa ini untuk mencapai tahap-tahap peradaban yang lebih tinggi, sangat membutuhkan usaha keras dan cerdas.
Indonesia menghadapi berbagai gejala disintegrasi, karena merebaknya primordialisme, yang anti kebhinekaan. Ini paradoks globalisasi. Dari sisi real politik primordialisme itu antara lain ditampakkan dengan munculnya perda-perda yang didasarkan pada nilai-nilai agama tertentu, yang bila diteruskan akan menjadikan bangsa Indonesia terpecah belah. Terorisme adalah wajah lain dari primordialisme itu.

Srawung untuk Kebhinekaan
Gereja Keuskupan Agung Semarang (KAS)  mempunyai kekuatan yang besar untuk turut merawat kebhinekaan itu.  Cita-cita umat Katolik KAS “mewujudkan peradaban kasih” bisa menjadi landasan yang kuatnya. Wujudnya adalah gerakan-gerakan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan pelestarian lingkungan dengan semangat pembelajaran, kejujuran dan kerja sama.
Vikaris Jenderal (Vikjen) KAS Rama Yohanes Rasul Edy Purwanto Pr, menegaskan bahwa Gereja KAS adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia. Maka Gereja KAS mempunyai panggilan dan tugas yang sama dengan warga masyarakat lain, dengan kelompok-kelompok lain,  untuk mewujudkan kesatuan Indonesia.
Kita tidak cukup hanya mengatakan ‘bhineka’. Tetap harus mengatakan ‘bhineka tunggal ika’: bermacam-macam tetapi tetap satu. Syukur kalau dengan lengkap diungkapkan ‘bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa’. Artinya, tidak ada kebenaran yang mendua. Kebenaran itu satu. Dan yang satu itu apa? Indonesia!” tegas  Rama Edy Purwanto. 
Kebhinekaan Indonesia, menurut alumni Program Pendidikan Reguler Lemhanas angkatan 44 tahun 2010 ini,  adalah sebuah fakta sosial, fakta budaya, fakta antropologis, yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun.  
Banyak hal yang bisa dilakukan untuk merawat kebhinekaan itu. Salah satunya, yang menjadi bagian budaya masyarakat Jawa dan banyak suku bangsa Indonesia lainnya,  adalah srawung. Ini yang dicoba dibangkitkan kembali oleh Gereja KAS.
Srawung adalah kata yang magis, punya kekuatan untuk menggerakkan. Artinya kurang lebih hadir, merangkul sebagai saudara. Dalam srawung, ada kesiapan untuk berdialog dan menerima perbedaan pihak-pihak yang disrawungi
 Maka srawung sebagai pintu masuk bagi terwujudnya peradaban kasih itu harus terus menerus dilakukan dan terus menerus dihidupi, baik oleh umat KAS maupun seluruh warga masyarakat, dimana Gereja ini berada dan dimana Indonesia ini menjadi diri kita,” tutur Vikjen KAS itu.

Tantangan Terbesar
Tantangan terbesar Gereja KAS, secara internal, adalah stamina. Dalam arti, daya yang diperlukan untuk setia pada apa yang sedang dikerjakan. Saya berharap, para  penggerak, baik para imam, tokoh awam, atau siapapun, harus benar-benar memiliki stamina yang tetap prima menuju kepada terwujudnya cita-cita besar Gereja yakni peradaban kasih, maupun cita-cita Indonesia,” tuturnya.
Dari sisi eksternal Gereja, tantangannya adalah intoleransi, yang mewujud dalam sikap-sikap hidup praktek beragama yang cenderung menghayati nilai-nilai itu secara fundamentalistik, yang kemudian bisa menyebabkan tindakan radikal-intoleran, karena kurang adanya keterbukaan atau inklusivitas, papar Rama Edy.
Gereja harus ada bersama dengan siapapun yang ingin mewujudkan inklusivitas atau keterbukaan masyarakat.  “Saya rasa, umat Katolik sendiri harus sadar, bahwa gerakan inklusif (dari bahasa Latin: in cludere, yang berarti merangkul, membawa masuk, atau mengandeng) itu berarti menjadikan liyan atau the other, sebagai saudara dalam kehidupan bersama.
Hal itu berlawanan dengan sikap eksklusif (bahasa Latin: ex cludere, yang berarti membuang atau menjauhkan atau mengeksklusikan orang lain). “Sikap eksklusif  menegasi semangat persaudaraan,” urai Rama Edy.
Dengan demikian, tindakan kongkret apa yang bisa dilakukan umat? Rama Edy menegaskan, “Pegang kata kuncinya, srawung! Hadir di tengah masyarakat, terlibat di dalam gerakan hidup masyarakat, bersama dengan masyarakat, dan untuk masyarakat,” tegas Rama Vikjen Edy Purwanto.
Senada dengan Rama Edy Purwanto, Wakil Ketua II Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Semarang Yoseph Edy Riyanto mengatakan, kebhinekaan itu adalah sesuatu yang sudah disepakati bersama, yang harus terus diperjuangkan dan dirawat. Indonesia negeri yang multi ras, multi agama, multi golongan dan multi agama.
Dengan cara apa? “Terus menumbuhkan sikap toleran. Di dalam sikap toleran, pasti ada saling menghormati, saling menghargai, saling memberikan kesempatan yang sama, di sana ada kesetaraan. Namun dalam hal kebenaran iman, kembali pada keyakinan masing-masing. Kita tidak bisa memaksakan kebenaran agama kita dengan kebhinekaan itu.
Pada hakekatnya kebinekaan itu harus ditopang dengan kerukunan, tutur Yoseph Edy Riyanto. Hal itulah yang dicoba diwujudkan dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Dalam FKUB, program untuk mendukung kebhinekaan itu adalah dialog, antara lain, dialog antaragama.
Program Dialog antaragama dilakukan setiap bulan oleh FKUB. Tempatnya berpindah-pindah. Kami mengundang tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat. Bagi yang kerukunan internal umat beragama itu ada program dari FKUB dan dibiayai oleh FKUB, dilakukan di gereja, di masjid, di pura, di vihara, di klenteng, sesuai agamanya.
 Program lainnya untuk anak-anak muda. Setiap tahun FKUB menyelenggarakan sekolah kerukunan, sebanhyak dua angkatan, masing-masing 70 orang. Kita ambilkan dari tingkat SLTA, yang kita nilai pada rentang usia yang rentan dengan pikiran pikiran radikal-fundamental,” urai Edy Riyanto.

Pelita
Di Semarang ada organisasi Persaudaraan Lintas Agama (Pelita), yang berusaha merawat spirit kebhinekaan. Pendiri Pelita Setiawan Budi menceritakan,  Pelita terbentuk pada pertengahan Juni 2016, pada saat bulan puasa ketika Rama Aloysius Budi Purnomo Pr mengadakan acara buka puasa bersama Ibu Sinta Nuria Wahid di halaman Gereja Katolik  Kristus Raja Ungaran.
Saat itu Rama Budi menghadapi beberapa ormas yang menolak acara tersebut diadakan di gereja. Hingga akhirnya acara tetap diadakan tetapi di balai kelurahan.  Bagi teman-teman jaringan lintas agama di Kota Semarang hal itu merupakan suatu tamparan keras. Selama ini Kota Semarang selalu ayem tentrem, hubungan antar agama maupun umat kepercayaan harmonis, bahkan akulturasi budaya juga nampak di mana-mana, tetapi dinodai oleh peristiwa tersebut. Dan kami juga merasa kecolongan karena kok sampai ada peristiwa seperti itu,” tuturnya.
Oleh karena itu aktivis lintas agama di Kota Semarang sepakat untuk membentuk semacam jaringan, yang menghubungkan berbagai organisasi, lembaga, maupun komunitas yang bergerak di bidang sosial keagamaan maupun yang lain-lain. Mereka berkumpul di LBH Semarang pada tanggal 20 Juni 2016.
Perwakilan dari semua agama hadir. Ada sejumlah jurnalis yang meliput peristiwa itu. “Kami sepakat untuk membentuk wadah yang awalnya dulu bernama persaudaraan lintas iman.  Kemudian atas saran dari Rama Aloysius Budi Purnomo, namanya diubah menjadi Persaudaraan Lintas Agama (Pelita). Sampai dengan hari ini kami menggunakan nama pelita,” tutur Setiawan Budi.
Menurutnya,  kebhinekaan Indonesia dengan berbagai macam unsurnya wajib didukung. Itu tugas semua warga negeri Indonesia tanpa terkecuali, baik yang memiliki posisi strategis, maupun masyarakat biasa. 
Untuk kondisi saat ini, ada beberapa kelompok yang mempertanyakan kebhinekaan. Ini terasa aneh, karena mereka notabene adalah warga negara Indonesia yang hidup di negara Indonesia, menikmati fasilitas dari negara Indonesia, dan lain sebagainya.
“Apakah mereka tidak sadar, bahwasannya mereka dilahirkan di tengah-tengah negara yang multikultur, yang terdiri dari berbagai macam suku, bahasa, agama tentunya, dan ratusan aliran kepercayaanya.  Jadi ketika mereka mempertanyakan, mempersoalkan tentang kebhinekaan ini kan menurut saya lucu sekali,” kata Setiawan Budi.
 Lalu apa upaya yang Pelita lakukan untuk merawat kebhinekaan? Pada intinya adalah mengkomunikasikan semangat kebhinekaan itu. “Kami sowan kepada para petinggi di Semarang dan Jawa Tengah, seperti walikota dan para petinggi kepolisian seperti Kapolrestabes dan Kapolda. Lalu, ke masyarakat, kami juga melakukan kampanye-kampanye terkait kebhinekaan dalam bentuk pertunjukan seni.
Tidak hanya itu, mereka juga menyikapi isu-isu yang terjadi seperti peristiwa pengeboman di Surabaya kami mengadakan doa bersama lintas agama, aksi seribu lilin, dan sebagainya. Kemudian diskusi-diskusi yang intinya kami hendak menanamkan kebhinekaan anak-anak muda khususnya yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa.
Kami juga mengadvokasi teman-teman lintas agama seperti Islam Ahmadiah, Islam Syah. Ada kristen Unitarian yang mereka memang tidak terlalu nampak di permukaan, tetapi sering mengalami persekusi-persekusi. Kami mendampingi mereka setiap mereka mengadakan acara, setiap mereka mengalami penolakan selalu kami dampingi, kami advokasi mereka,” tutur Setiawan Budi.
Di Pelita, lanjut dia, ada aktivis dari  berbagai macam organisasi, lembaga, maupun komunitas. Dari Hindu ada Pradah (Perhimpunan Pemuda Hindu) Kota Semarang. Kemudian dari Budha ada Hikmah Budhi (Himpunan Mahasiswa Budhist Indonesia) Kota Semarang, ada dari Majelis Tinggi Agama Budhist Indonesia.
Kemudian dari Katolik juga ada dari Komisi HAK KAS ada Rama Budi. Dan dari Kristen, ada Kristen Unitarian, para pendeta GKI, PGKS (Persekutuan Gereja-gereja Kristen kota Semarang). Kemudian dari Konghucu ada dari Matakin (Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia) Kota Semarang, dari penghayat ada dari Sapto Dharmo, Trijaya, termasuk teman-teman dari LSSA (Lembaga Seni Sosial dan Agama), termasuk mahasiswa UIN, STT Abdiel, banyak sekali.
“Saat ini ada 160-an anggota Pelita, masing-masing mewakili organisasi, lembaga maupun komunitas yang berbeda. Jadi banyak sekali di Pelita ini sangat majemuk, dan kami adalah kumpulan dari berbagai macam organ, seperti itu,” tuturnya.

Taati Hukum
Beralih ke Yogyakarta. Di mata Ketua FKUB DIY, KH Drs Thoha Abdurrahman, kondisi kebhinekaan Indonesia saat ini sudah baik.  “Bangsa Indonesia itu bangsa yang beragama, ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Kalau tidak beragama itu tidak menaati aturan negara karena Pancasila itu kan Ketuhanan Yang Maha Esa,” ujar Thoha.
Menurut pria yang juga menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) cabang DIY ini, untuk menjaga kebhinekaan unsur-unsur yang diperlukan adalah aturan negara dan aturan agama masing-masing.  “Kalau seluruh umat sudah mengamalkan aturan negara dan aturan agama masing-masing secara benar akan aman usia Indonesia, tidak akan terjadi perselisihan,” ujar Thoha.
Peran FKUB dalam mewujudkan kebhinekaan adalah dengan berusaha dengan melaksanakan dialog antar umat beragama, antar tokoh-tokoh agama, dan menyampaikan hasil dialog tersebut kepada masyarakat dan pemerintah.
Thoha menyampaikan pesan dalam menjaga kebhinekaan Indonesia. “Pertama, amalkan aturan negara baik dari pusat sampai ke daerah. Kedua, amalkan aturan agama masing-masing secara benar. Kalau itu semua dijalankan masyarakat dan negara Indonesia akan selamat.
Di mata pengurus Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Jawa Tengah Valentinus Bambang Setyawan, kebhinekaan merupakan anugerah terbesar yang diberikan Tuhan pada negeri ini. “Tuhan tidak pernah memberikan anugerah yang membuat manusia sengsara. Karena itu, kebhinekaan yang anugerah itu harus kita syukuri, kita pelihara, kita dukung, dan kita perkuat dengan berbagai usaha,” katanya.
Menurut Valentinus Bambang, yang juga Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Klaten ini, kondisi kebhinekaan di Indonesia saat ini cukup menggembirakan. “Tetapi, masih perlu secara intensif dijaga secara terus menerus. Ini yang menjadi tantangan kita,” ujarnya.
FKUB sebagai wadah umat lintas agama harus terus-menerus turut menjaga roh kebhinekaan dan kebersamaan tersebut melalui berbagai macam cara. “Sumbangsih FKUB terus-menerus melakukan dialog, membangun event kebersamaan antar umat beragama agar tidak ada sedikitpun celah untuk munculnya konflik. Sejauh mungkin menghindari aksi, tingkah laku, dan ungkapan kebencian yang memungkinkan timbulnya friksi,” harapnya.
Bambang Setyawan yang Pensiunan Guru SMA Negeri 1 Klaten ini mengungkapkan, tantangan terbesar merawat kebhinekaan ini adalah kemajuan  teknologi komunikasi informasi.Sebagian besar masyarakat belum siap untuk memanfaatkannya untuk kepentingan yang positif, menjaga roh kebersamaan.  Jika tidak berhati-hati, perkembagan lewat media sosial akan bisa memicu rasa kebencian,” tegasnya.
            Sisi itulah yang harus diperbaiki, katanya. Perkembangan teknologi komunikasi harus dimanfaatkan untuk membangun kebersamaan dan mengembangkan dialog antar umat beragama.

Pintu Budaya
Kebhinekaan tidak hanya dibangun melalui ranah politik dan gerakan-gerakan sosial. Tetapi juga bisa diwujudkan melalui pintu seni budaya. Hal itu tampak dalam aktivitas kesenian yang diselenggarakan oleh Komunitas Lima Gunung (KLG).
Komunitas Lima Gunung (KLG) merupakan komunitas seniman kesenian tradisional yang rata-rata adalah petani yang ada di lima  gunung di seputar Magelang, yakni Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Andong dan pegunungan Menoreh.
Para petani ini saat menunggu masa antara tanam dan panen melakukan aktifitas kesenian sebagai sarana mengisi waktu, menghibur diri dan media perjumpaan untuk membangun kehidupan bersama,” ujar Riyadi, pegiat  sekaligus  juru bicara Komunitas Lima Gunung Magelang
Secara resmi bisa dikatakan KLG berdiri sejak diadakan Festival Lima Gunung yang pertama tahun 2002. Festival ini digelar rutin tiap tahun secara mandiri, swadaya dan tanpa sponsor dari luar. Festival ini  sebagai salah satu media silaturahmi antar seniman Lima Gunung, meskipun dalam perjalanannya ada banyak partisipasi dari komunitas seniman kota, bahkan manca negara.
Saat itu, Riyadi mengenang, kesenian rakyat dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Untuk menunjukkan bahwa orang gunung juga punya nilai tinggi dalam kesenian, mereka berkumpul dan mengekspresikan diri dalam wujud pementasan bersama di Festival. Festival ini juga sebagai sarana menjaga nilai-nilai kearifan masyarakat desa dan melestarikan tradisi budaya
Sebagai pengisi tetap dalam Festival Lima Gunung dari tahun 2002 – 2017 ada komunitas Tjipta Boedaja Tutup Ngisor, Gadung Melati Ngampel, Sanggar Saujana Keron dari Gunung Merapi. Dari Merbabu ada komunitas Wargo Budoyo Gejayan, Lumaras Budoyo Petung dan Warangan. Dari gunung Andong ada komunitas Andong Jinawi. Dari Sumbing komunitas Cahyo Budoyo Krandegan dan sanggar Wonoseni Bandongan.
Dari Menoreh ada Studio Mendut, Rumah Buku Dunia Tera serta komunitas Lereng Prau, selain komunitas seni dari sekolah-sekolah dan kampus dari Magelang, Solo, Yogya dan lain-lain yang tidak mengisi acara secara tetap.
            Menurut Riyadi, aktivitas KLG merupakan etalase konkret kebhinekaan, yang menjadi kekayaan negeri ini. “Di dalam festival, semua orang dari berbagai latar belakang status sosial, suku, agama dan aliran politik bisa melebur tanpa sekat menjadi satu menikmati festival.
Dari sisi tampilan juga ada beragam kesenian mulai dari musik, tari, tembang, properti baik tradisi maupun kontemporer. Ini menggambarkan keberagaman yang bisa dipersatukan dalam media kesenian dengan visi dan misi yang sama untuk melestarikan nilai-nilai kehidupan. 
Dalam KLG sebetulnya para aktivisnya tidak hanya bicara tentang teori mengenai kebhinekaan tetapi sudah sampai pada tataran praksis seperti yang disampaikan di atas, dalam komunitas ini semua sekat melebur, semua perbedaan bukan menjadi halangan tapi menjadi unsur yang memperkaya komunitas. Latar belakang tokoh-tokoh dan anggota KLG terdiri dari berbagai macam agama dan kepercayaan.
Selain mengisi festival tahunan, KLG juga mengisi acara-acara besar misal peringatan 100 tahun Seminari Menengah Mertoyudan, 150 tahun Rama Van Lith di Muntilan, mengisi acara pengajian Maiyahan milik Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), Suran Pondok Pesantren Tegalrejo.
Menariknya, dalam acara pengajian dan suran di pondok pesantren, yang mendalang adalah personil yang kebetulan beragama Kristen. Lalu acara-acara KLG juga sering dihadiri oleh Pastor seperti Rama Budi Subanar SJ, Rama GP Sindhunata SJ , Rama Mudji Sutrisno SJ, juga para bhiksu Vihara Mendut.
Selain itu juga ada seniman dan sastrawan Thionghoa yang berpartisipasi. Pendek kata, dalam komunitas kami tidak melihat latar belakang agama maupun etnis tapi secara bersama merespon situasi sosial politik kemasyarakatan  dalam wujud pementasan .
Kami banyak belajar dari lingkungan kami di gunung dengan ragam hayati yang sangat kaya yang menjadi ciri khas daerah tropis. Ibaratnya sebuah kebun atau taman, keindahan terletak pada keberagamannya. Keragaman dan perbedaan ini tidak dipandang sebagai persoalan tapi sebagai kekayaan. Kuncinya pada saling mengerti dan menghargai. Untuk sementara ini kami tidak melihat ada tantangan yang besar,” tutur Riyadi.
Menurut dia, munculnya konflik itu karena ada ada pribadi yang terlalu fanatik dengan keyakinan maupun kelompoknya. Fanatisme ini menjadi sekat yang menghalangi memandang orang yang berbeda sebagai sebuah keberagaman dan kekayaan semesta.
 Untuk itu perlu membuka cara pandang sehingga perbedaan tadi menjadi bagian dari keindahan. Ibaratnya dalam kesenian, perbedaan nada dalam musik, gerak dalam tari, bentuk dan warna dalam pakaian menjadi unsur yang harmonis dan memperindah sebuah pertunjukan.
Kalau semuanya monoton tentu tidak menarik. Demikian hendaknya masyarakat memandang perbedaan dan keberagaman sebagai unsur yang saling melengkapi dan memperkaya menuju pada keindahan,” kata Riyadi.

FKT vs Radikalisme
Di Kulon Progo DIY ada aktivitas kesenian, yaitu Festival Kesenian Tradisional (FKT) sudah sembilan  kali dilaksanakan.  Berangkat dari adanya kabar bahwa di Kulon Progo akan didirikan bandara baru, maka beberapa orang muda Katolik (OMK)  di Rayon Kulon Progo berinisaitif untuk menjaga dan melestarikan tradisi.
“Waktu itu para penggagas membayangkan kondisi 10-20 tahun ke depan. Bahwa nanti pada saatnya akan ada pergeseran budaya, pertarungan budaya, radikalisme, terorisme. Semua itu juga didukung berkembangnya teknologi. Itu yang menjadi semangat untuk mendirikan FKT. Jadi sudah sejak dari dulu OMK menempatkan diri melawan radikalisme dan kapitalisme dengan cara yang berbeda,” ujar Yohanes Sigit Dwi Saputra, koordinator penyelenggara FKT ke-10 tahun 2018.
FKT sudah dimulai sejak tahun 2009 dan dilaksanakan setiap tahun. Tahun 2018 ini FKT akan diselenggarakan pada 2 September 2018 di lapangan Wijimulyo, Nanggulan, Kulon Progo. Kepanitiaan yang tergabung dalam FKT adalah OMK Rayon Kulon Progo plus. Plusnya adalah OMK Sentolo dan OMK Brosot, karena Sentolo sebenarnya masuk di Paroki Sedayu Bantul dan Brosot masuk di paroki Klodran Bantul.
Selain OMK, menurut laki-laki berusia 27 tahun ini, kepanitiaan FKT juga sering menggandeng Banser (Barisan Ansor Serbaguna NU) dan RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia) untuk bantuan keamanan dan komunikasi. OMK juga menggandeng karang taruna di desa tempat penyelenggaraan FKT. Karang taruna ini biasanya bertugas untuk membantu parkir.
Menurut Sigit, para peserta dan penampil dalam FKT tidak hanya dari orang-orang beragama Katolik, tetapi juga dari mereka yang beragama Islam, Hindu, dan Budha. “Untuk penampil kadang di wilayah itu yang menguasai seni tradisi adalah orang luar Gereja. Untuk membantu berproses sebagai pelatih, pemain musik, nggenepi penarinya kadang-kadang dari saudara-saudara muslim. Contohnya, yang di Girimulyo itu juga ngajak saudara-saudara dari Hindu dan Budha,” ujar Sigit.
Sigit mengatakan bahwa kondisi kebhinekaan Indonesia saat ini mulai tergerus. Masyarakat mudah terpancing isu dan terpecah belah. Untuk menjaga kebhinekaan, FKT bergerak dari sisi budaya.
Menurut Sigit, setiap penyelenggaraan FKT selalu ada tema yang dihidupi, diimani, dan diamini. “FKT ke-10 tahunb ini bertema ‘Srawung, Nyawiji, lan Mawutuh’. Selain memang karena dari Keuskupan memiliki event srawung, srawung ini juga menjadi sesuatu yang dihidupi oleh OMK Rayon Kulon Progo. Kalau rapat kita datang ke rumah-rumah OMK secara bergilir, sehingga lebih muncul obrolan-obrolan kedekatan,” ujar Sigit.
Setiap anak muda, pesan Sigit, harus cerdas membaca situasi dan mencerna informasi. Keputusan yang diambil tergantung dari kecerdasan itu.  ***marcelinus tanto pr, sukamta, monica warih, anton, elwin, anto.


No comments