Header Ads

Breaking News

Ayo Dukung Sekolah Katolik!!!

Sekolah-sekolah Katolik di lingkungan Keuskupan Agung Semarang mengalami tantangan serius. Sebagian terseok-seok hidupnya, karena berbagai hal: guru-guru makin menurun kualitasnya –atau setidaknya stagnan-, gedung sekolah dan fasilitas lain makin keropos termakan usia, tak mampu bersaing dengan sekolah negeri dan swasta lain, jumlah murid makin berkurang, dan lainnya. Konsekuensinya, sejumlah sekolah Katolik harus ditutup. Di luar kondisi muram itu, muncul kreativitas yang menumbuhkan secercah harapan. 


      PENDIDIKAN Katolik, melalui sekolah-sekolah Katolik, memiliki posisi yang khas dalam perkembangan Gereja di Indonesia. Melalui sekolah-sekolah, disemai nilai-nilai kasih, kedisiplinan, kejujuran, komitmen, serta pemihakan kepada yang terpinggirkan. 
        Tak dapat dipungkiri, karena penyemaian nilai-nilai itu, sekolah-sekolah Katolik memiliki posisi yang terhormat dalam ranah pendidikan di Indonesia. Banyak anak-anak dari keluarga-keluarga non-Katolik direlakan untuk menempuh pendidikan di sekolah Katolik. Banyak pemimpin dan orang penting negeri ini juga merasakan nilai-nilai itu ketika mereka bersekolah di sekolah Katolik. 
      Dalam perkembangan selanjutnya, sebagian sekolah Katolik mampu tumbuh dan berkembang menjadi sekolah elit, sementara sebagian lain harus terpuruk dan terlunta-lunta dalam kontestasi antara lembaga pendidikan. 
         Menurut Direktur Direktorat Yayasan Sanjaya Yogyakarta, Rama Yuventius Deny Sulistiawan Pr, kalau mau diamati dengan teliti sekolah sekolah Katolik dikategorikan menjadi dua, yaitu yang bertahan dan yang dipaksakan bertahan. 
Rama Yuventius Deny Sulistiawan Pr
       Sekolah-sekolah elit dan favorit termasuk dalam kategori pertama, yang bertahan. “Sekalipun tergolong elit, saya melihat mereka relatif jalan di tempat, sehingga dibutuhkan upaya-upaya pembaharuan terus menerus untuk mempertahankan posisinya. Tak boleh terlena.” 
     Sementara sekolah-sekolah yang dipaksakan bertahan, lanjut Rama Deny, akan terancam untuk ditutup. “Kalau masih dibutuhkan di wilayah tertentu maka sekolah-sekolah yang memang secara finansial tidak bisa bertahan akan diterapi. Memperbarui butuh waktu sekaligus evaluasi apakah benar-benar misi Gereja masih dibutuhkan oleh masyarakat setempat.” Kendala utama memperbaiki sekolah adalah kemampuan dari komunitas sekolah untuk berani out of the box dalam pemikiran maupun praksis. Intinya keluar dari rutinitas. “Memang tantangan kita adalah upaya membangun SDM yang mau maju, mau berpikir alternatif, dan selalu memikirkan apakah misi pendidikan Katolik bisa hidup, dihidupin, dan menghidupi sekolah-sekolah Katolik.” 
       Kendala kedua adalah soal finansial. Menghadirkan sekolah berkualitas memerlukan biaya tinggi. Kendala ketiga adalah semakin sedikitnya jumlah murid, sementara jumlah sekolah semakin banyuak. 
         Menurut Rama Deny, usaha yang dilakukan oleh Direktorat Sanjaya adalah mengembangkan pemikiran alternatif. Salah satu bentuknya adalah bahwa tidak mungkin sekolah dibiayai murni orang tua, ataupun para donatur. Lalu, apa alternatifnya. 
         “Maka kita mencoba membangun unit bisnis yang tujuannya untuk mendukung pendidikan. Kita mulai berpikir alternatif, tidak hanya membuka tangan terus. Di sekolah-sekolah Yayasan Sanjaya ada, utamanya SMK, melcosh, roastery, bengkel, camping, serta peternakan. Kalau mau bekerja keras di situ pasti dapat uang,” ucap Rama Deny. 
         Selain itu, upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dilakukan dengan membentuk tim dan leadership yang kuat dari institusi direktorat. “Karena, kalau lembaga dikelola asal-asalan, dalam arti ya wis lah wong kita ki ming melayani kok, saktekane le ngladeni sekolah (ya sudah karena ini hanya untuk pelayanan, seadanya saja pelayanannya), itu sama saja bunuh diri,” ujar Rama Deny. 

Pendidikan Berdaya Ubah 
Rama Deny menambahkan, pendidikan sesungguhnya bukan soal kuantitas bahwa yang sekolah berkualitas, bukan karena jumlah siswanya berlimpah, melainkan karena ada inspiring education di dalamnya, yang mencerahkan semua pihak yang saling berinteraksi. 
        Direktorat Sanjaya, menurutnya, mengembangkan sekolah-sekolah alternatif misalnya SD PL Kalirejo dan SD Sanjaya Tritis dengan sekolah pertanian, SMK Sanjaya Pakem mulai mengembangkan bisnis. 
         “Contoh lain, di SD Sanjaya Giring Wonosari hanya ada 16 siswa dari kelas 1 sampai 6. Tapi lulusan SD tersebut menjadi tutor sebaya untuk bahasa Inggris dan komputer ketika di SMP Negeri. Kita pertahankan itu, sedikit-sedikit kita bantu untuk tambahan kesejahteraan. Pemerintah dan masyarakat minta tetap dipertahankan, karena lulusannya berkualitas baik, punya daya ubah,” tutur Rama Deny. 
          Menurutnya, masyarakat sudah semakin cerdas dalam menyekolahkan anaknya. Justru sekolah-sekolah Katolik seharusnya lebih pintar membaca kebutuhan itu. “Kita ini seperti orang jualan. Kalau isinya bagus, kemasannya bagus, apalagi dapat ‘diskon’ ya pasti dicari. Yang perlu dilakukan adalah terus menerus berbenah diri, agar sekolah Katolik makin berkualitas dan memiliki daya ubah.” 

SD Kanisius Pekunden Semarang

Peluang Tetap Berperan 
            Terkait penutupan sekolah Katolik menurut Rama Agustinus Mintara SJ Direktur Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta, mengemukakan, di satu pihak merupakan keprihatinan. Karena dengan demikian potensi untuk mewartakan Injil, mewartakan kabar sukacita, dan ikut mencerdaskan bangsa melalui sekolah sedikit berkurang. Tetapi di lain pihak, tuturnya, penutupan sekolah tersebut pasti berdasarkan pertimbangan, melalui penglihatan terhadap data-data yang ada, dan berdasarkan realitas yang ada. 
Rama Agustinus Mintara SJ
           “Penutupan ini menurut saya ya niscaya dalam artian kalau tidak ditutup itu merepotkan karena sekolah-sekolah inikan ada di bawah naungan yayasan, yayasan itu kan memiliki sekolah tidak hanya satu. Kalau tidak ditutup, tidak hanya soal finansial tapi soal kualitas pendidikan kadang-kadang menjadi dipertanyakan,” ujar Rama Mintara SJ. 
         Menurut Rama Mintara, masih ada harapan besar bahwa misi Katolik, misi penyebaran Kerajaan Allah tidak semata-mata melalui sekolah atau bidang pendidikan. Sedikit flashback, ketika warga negeri Indonesia masih banyak yang buta huruf, kurang berpendidikan, belum pintar, dan mudah dibodohi, peran sekolah sebagai lembaga pendidikan yang mencerdaskan rakyat, membuat rakyat kritis sangat dibutuhkan. Namun, saat ini peran tersebut sudah banyak diambil oleh negara yaitu salah satunya melalui sekolah negeri yang berkualitas. 
         “Saya sih selalu optimis saja. Ditutupnya sekolah Katolik tidak mematikan misi tetapi itu pilihan yang niscaya. Menjadi sebuah pilihan ketika sarana sekolah itu sudah tidak efektif lagi untuk mewartakan Kerajaan Allah atau nilai-nilai yang akan ditanamkan karena sudah semakin banyak yang mengambil peran itu,” ujar Rama Mintara. 

Kendala Eksternal dan Internal 
         Rama Mintara melihat kendala secara eksternal dan internal. Kendala eksternal itu adalah bertumbuhnya sekolah-sekolah di luar sekolah Katolik yang juga berkualitas dan semakin kompetitif, semakin bisa memenuhi kebutuhan mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun karakter anak, dan dari segi finansial lebih murah bahkan gratis. 
         Contohnya adalah sekolah-sekolah dari yayasan yang bernaung dari agama atau iman lain, misalnya Muhammadiyah dan al-Azhar dari Islam, sekolah Budha, sekolah Kristen, kemudian sekolah-sekolah yang didirikan oleh yayasan pribadi atau privat. Menurut Rama Mintara, semua sekolah tersebut berkembang bagus. 
         Sedangkan kendala internal terutama dari segi murid yang memilih berbagai sekolah. Dulu sekolah katolik menjadi sekolah favorit, menjadi tujuan karena bisa memberikan karakter disiplin, suasana kasih, guru-gurunya memiliki komitmen kuat. Tetapi yang seperti itu sekarang dimiliki sekolah-sekolah yang lain sehingga masyarakat memiliki banyak pilihan. 
         “Hal tersebut membuat sekolah Katolik kalau tidak memiliki keunggulan tertentu, nilai plus yang bisa mengangkat manusia menjadi pribadi-pribadi yang bangga dan bermakna, yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, akan tergulung oleh waktu dan mengalami kendala,” ucap Rama Mintara. 
           Menurutnya, sekolah-sekolah Katolik pada tahun 70-90-an sebagian besar murid berasal dari muslim.Tetapi saat ini murid-murid muslim banyak yang sekolah di sekolah-sekolah muslim atau sekolah negeri. Saat ini sebagian besar sekolah Katolik diisi oleh orang-orang Katolik sendiri, ada juga orang Kristen dan dari agama lain tetapi sangat berkurang jauh. 
       Menurut Rama Mintara, solusi lain selain ditutup adalah dengan melakukan merger atau penggabungan. “Kalau cukup kuat bisa melibatkan alumni untuk ikut masuk di dalamnya, atau kalau itu tarekat ya tarekat memikirkan sungguh-sungguh bagaimana sekolah itu bisa memberikan daya tarik, keunggulan, nilai-nilai plus. Kemudian kalau itu milik Keuskupan ya Keuskupan ikut serta berpikir, membiayai, bersama dengan alumni dan para pemerhatinya,” ucap Rama Mintara. 
            Pengembangan sekolah bisa dimulai dengan mengembangkan kualitas pengajarnya, kemudian kualitas komunitas guru, dan terakhir sarana-prasarana. Kualitas sekolah sebagai komunitas, sebagai tempat belajar nilai-nilai kehidupan: kasih, disiplin, hormat pada orang lain, nilai penghargaan terhadap prestasi secara jujur, kejujuran, iman, pluralisme, kalau itu semua dikembangkan bisa mengangkat kembali sekolah tersebut. 

Tiga Upaya 
         Terdapat tiga upaya yang dilakukan oleh Yayasan Kanisius, yaitu melakukan subsidi silang, menumbuhkan kesadaran umat, dan meningkatkan mutu pelayanan. “Pertama kita menerapkan subsidi silang. Jadi sekolah-sekolah, orang tua yang memiliki kemampuan lebih akan membantu yang kurang. Subsidi itu tidak hanya di satu unit tetapi antar unit sekolah Kanisius. Misalnya, seluruh Kanisius di Gunung Kidul itu defisit, siapa yang membiayai, ya dari sekolah-sekolah Kanisius yang ada di Kota dan Sleman bagian Timur. Dari 77 sekolah Kanisius di Yogya (TK 29, SD 42, dan SMP 6) itu sebenarnya 60-70% defisit dan ditanggung oleh sekolah-sekolah yang lain,” ucap Rama Mintara.
        Menurut Rama Mintara, penerapan subsidi silang ini bisa membantu menghidupi sekolah-sekolah kecil, tetapi di lain pihak akibatnya adalah sekolah-sekolah yang potensial menjadi tersendat perkembangannya karena harus menanggung subsidi kepada sekolah kecil yang selalu defisit. 
          “Kedua adalah menyampaikan kepada seluruh umat KAS, bahwa sekolah-sekolah Kanisius, yayasan Kanisius ini adalah milik KAS. Maka hidup dan matinya merupakan tanggung jawab dan kepedulian dari Keuskupan, entah itu sebagai hirarki maupun sebagai umat kristiani di KAS,” ucap Rama Mintara. 
SD Kanisius Brintik
   Sedangkan upaya ketiga adalah meningkatkan mutu pelayanan dari kepada sekolah dan guru-gurunya dengan mengadakan pelatihan. Kepala sekolah yang baik, efektif, tahu mengenai leadership dan managerial , sehingga bisa mengembangkan sekolah mulai dari komunitasnya, guru-gurunya, sapaan-sapaan sederhana, pembiasaan-pembiasaan setiap hari sehingga akan menjadi daya tarik. 
    Daya tarik tersebut muncul karena komunitas akan menjadi komunitas kasih, komunitas yang memberikan kesaksian seperti komunitas para rasul melalui tindakan dan sikap.
       Rama Mintara mengatakan bahwa sekolah-sekolah Kanisius di Yogyakarta pernah satu kali menerima bantuan dari Tim Peduli Pendidikan (TPP) Yogyakarta.Tetapi setelah itu tidak pernah menerima lagi. 
        “Kami mendapatkan bantuan justru dari donasi, mereka yang peduli. Tetapi kami sungguh berharap, kalau kami boleh mendapat bantuan dari TPP atau dari badan atau kelompok milik Keuskupan yang terkait pendanaan seperti ini tentu kami sangat senang dan terbantu. Karena itu menjadi salah satu problem yang kami hadapi,” ucap Rama Mintara. 
          Untuk memilih sekolah, Rama Mintara mengajak para orang tua untuk melihat apakah suatu sekolah unggul dalam hal olah pikir, olah rasa, dan olah raga. Olah pikir adalah unggul dalam hal intelektualitas, guru-gurunya jelas dalam menyampaikan pelajaran, tidak hanya menyampaikan hafalan tetapi juga konsep-konsep dasar kepada anak. Olah rasa itu soal kepekaan-kepekaan, misalnya sosial anak, membantu, sopan santun, berterimakasih, minta maaf. Hal ini terkait dengan olah rohani dan oleh jiwa juga. Kemudian olah raga, sekolah itu cukup memiliki halaman luas untuk anak-anak bergerak, berlari-lari, dan berinteraksi dengan temannya, ucap Rama Mintara. 

Kondisi Sekolah Kanisius 
       Stephanus Karyanto, Kepala SD Kanisius Murukan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten. Karyanto bersyukur, kondisi sekolahnya lumayan baik. Saat ini, SDK Murukan memiliki 396 murid dengan 2 kelas paralel di setiap kelasnya. Dilihat dari sisi jumlah murid, SDK Murukan termasuk sekolah ‘gemuk’. Bahkan nomor 2 se Yayasan Kanisius Cabang Surakarta, setelah SD Kanisius Keprabon 2 Kota Surakarta. Bagaimanakah kondisi sekolah-sekolah Kanisius? Testimoni soal itu dikemukakan oleh
Stephanus Karyanto
      “Hanya saja, sampai sekarang, ada sebagian gedung sekolah (gedung timur) yang masih ‘menumpang’ di sekolah milik Yayasan Suster Abdi Kristus (AK) Wedi. Sarana dan prasarana yang berupa meja dan kursi murid juga masih kurang. Maka secara intern, sekolah melakukan pengadaan meubel (meja dan kursi murid) secara bertahap. Sebab, rata-rata murid yang bersekolah di sini dari kalangan (ekonomi) menengah ke bawah,” katanya. 
      Kepala SDK Murukan sejak Desember 2013 ini menyampaikan, sekolah yang telah ‘melahirkan’ puluhan imam, bruder dan suster itu juga belum ‘mandiri’. Setiap bulan masih minus (kekurangan) sekitar Rp 2 juta untuk menggaji para guru dan karyawannya. 
       SDK Murukan diampu oleh kepala sekolah, 12 guru kelas, satu guru komputer, satu guru bahasa Inggris (paruh sekolah), dan dua tenaga kependidikan, yaitu satu staf tata usaha dan satu penjaga sekolah,” ujarnya. 
      Kepala Sekolah itu mengakui, peran Tim Peduli Pendidikan (TPP) Kevikepan Surakarta dalam mengembangkan sekolah Katolik sudah baik. TPP pernah membantu SDK Murukan saat dua ruang kelas sekolah ini roboh. TPP juga mengadakan rekoleksi bagi Guru Tidak Tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) sekolah ini. 
      Umat Lingkungan Santo Ignasius Nglarang Paroki Roh Kudus Kebonarum itu mengatakan, selama ini, animo umat Katolik untuk menyekolahkan anaknya di SDK Murukan sangat baik. Buktinya, jumlah murid SDK Murukan ini terus meningkat. Dari 329 murid, menjadi 342 murid, dan terakhir 396 murid. 
      Guru yang mulai mengajar sejak 15 Januari 1990 itu menyatakan, berdasarkan data, banyak keluarga Katolik di Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi yang menyekolahkan anaknya di SDK Murukan ini. Hanya sebagian kecil yang menyekolahkan anaknya ke luar Wedi. Bahkan, banyak dari keluarga Kristen yang menyekolahkan anaknya di sini. Juga banyak murid yang berasal dari luar Kecamatan Wedi, seperti dari Kecamatan Gantiwarno, Jogonalan, Klaten Selatan, dan bahkan dari Karangnongko (yang jaraknya lebih dari 10 Km). 
        “Ini menandakan bahwa SDK Murukan mendapat kepercayaan dari masyarakat. Para orangtua menyekolahkan anaknya di sini karena gethok tular (informasi dari mulut ke mulut) dari para alumni, dan para senior-senior. Dan juga karena familinya lulusan dari sini,” tuturnya. 

Sekolah-sekolah Theresiana 
        Menceritakan sekolah-sekolah di lingkup Direktorat Theresiana, Rama Marcellinus Roselawanto Pr, Direktur Direktorat Sekolah Theresiana, mengemukakan, banyak sekolah Theresiana semakin sulit untuk berkembang dan dengan sangat terpaksa ditutup. Tentu banyak faktornya, seperti: jumlah siswa menurun, beban finansial tinggi, mutu SDM (pedagogik, loyalitas, ego sectoral yang tinggi, kedisiplinan, dll) makin merosot, serta persaingan antar sekolah yang semakin ketat. 
Rama Marcellinus Roselawanto Pr,
           Selain itu, sekolah-sekolah Theresiana merasakan regulasi pemerintah juga tidak mendukung. Regulasi menutup kesempatan lulusan SMK Kesehatan untuk dapat bekerja di instansi pemerintah, karena persyaratannya minimal D3, tutur Rama Rose. 
          Tentu saja, sekolah-sekolah Theresiana tidak berpangku tangan menghadapi situasi itu. Upaya yang dilakukan meliputi, peningkatan kualitas pendidikan, membentuk dan menerapkan kurikulum yang berwawasan budaya, kesehatan dan pertanian, pendampingan sekolah-sekolah defisit, pendampingan sekolah-sekolah unggulan, kerja sama dengan lembaga pendidikan luar negeri (Taiwan, Filipina, dll), kerja sama dengan dunia usaha, dan sejumlah langkah lain. “Kami pasti memperkuat karakter pendidikan kristiani,” tutur Rama Marcel. 
          Mengenai sekolah yang terseok-seok, Rama Marcel mengemukakan, dibutuhkan evaluasi lebih detail dan berbagai kemungkinan yang masih ada untuk dikembangkan lebih lanjut. “Ada sekolah-sekolah yang memang sudah sangat sulit untuk dipertahankan karena memang sulit untuk. Ada sekolah Katolik yang memang dipertahankan demi keberlangsungan visi-misi Gereja setempat. Tetapi ada sekolah-sekolah yang masih dapat dikembangkan dengan melihat berbagai ancaman/hambatan karena arus globalisasi.” 
        Sumbangsih Tim Peduli Pendidikan (TPP) untuk sekolah swasta Katolik khususnya sekolah-sekolah Theresiana sudah banyak dan terus berproses melalui pendampingan dan pemberdayaan sekolah. Sumbangsih itu antara lain pengembangan SMP Theresiana Bandungan berupa: program beasiswa bagi semua siswa SMK, pengembangan unit usaha, pendampingan pengembangan kurikulum pertanian hidroponik, pendidikan softskill dan karakter bagi siswa, serta pengembangan prodi baru. 
Pembukaan usaha hidroponik SMK Theresiana Bandungan dengan ibadat pemberkatan 
oleh Rama Materius Kristiyanto Pr (Direktur Yayasan Bernardus).
    Rama Marcellinus menegaskan, untuk survive dan berkembang, sekolah-sekolah Katolik seharusnya saling bekerjasama untuk saling mengembangkan. Bukan malah sebaliknya, saling menjatuhkan. 
        “Kevikepan atau Keuskupan hendaknya juga dapat menjadi mediator dalam hal ini agar sekolah-sekolah Katolik dapat bekerjasama dan saling bersinergi dalam mewujudkan wajah Gereja di tengah dunia,” tutur Rama Marcel. 
        Selain itu, dalam kondisi saat ini, sekolah-sekolah Katolik sangat membutuhkan pengembangan yang disesuaikan dengan perubahan dan kebutuhan zaman. “Untuk itu, sekolah-sekolah Katolik tetap mengedepankan prinsip utama pendidikan yaitu non scholae sed vitae discimus, artinya belajar bukan hanya untuk ilmu tetapi untuk kehidupan,” kata Rama Marcellinus Roselawanto Pr.***marcellinus tanto pr, warih, elwin, sukamta, anto.



==================================================================================

Peran Tim Penduli Pendidikan

TPP Hanya Pemicu, Bukan Segalanya

KEPRIHATINAN terhadap kondisi  sekolah-sekolah Katolik yang harus ditutup  di wilayah Keuskupan Agung Semarang (KAS) mulai banyak diungkapkan pada medio tahun 2000-an. Dari keprihatinan itu, , maka pada Kongres Ekaristi Keuskupan (KEK) I tahun 2008 di Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA), KAS membentuk Tim Peduli Pendidikan (TPP). Selanjutnya, TPP dikembangkan di masing-masing Kevikepan, dengan disemangati tema  “Lima Roti Dua Ikan”.
TPP bergerak cepat menyelematkan sekolah-sekolah Katolik yang sakit, antara lain melalui penghimpunan dana umat dan donatur, yang kemudian disalurkan ke sekolah-sekolah yang membutuhkan. Meningkatkan kapasitas finansial sekolah memang satu sisi dari peran TPP, tetapi kenyataannya perannya jauh lebih luas dari itu.
Ketua TPP Kevikepan Surakarta Rama Richardus Heru Subyakto Pr menyampaikan, sejak tahun 2008 TPP Kevikepan Surakarta mulai menerapkan pesan Rama Kardinal Justinus Darmojuwono, yaitu sithik ora ditampik, akeh samsaya pikoleh (sedikit tidak ditolak, banyak semakin diharapkan). TPP rutin menghimpun dana, melalui Gerakan Rp 1.000, lalu ketika nilai itu dirasa terlalu kecil, ditingkatkan menjadi Gerakan Rp 2.000. Gerakan itu terus berkembang hingga saat ini
Rama Heru Subyakto Pr
“Awalnya, bantuan yang diberikan berupa barang atau sarana penunjang pendidikan, seperti alat peraga, komputer, sound system, dan lain-lain. Namun seiring waktu berjalan, sekarang bantuan diwujudkan dalam bentuk uang (cash). Silahkan sekolah yang membelanjakan,” kata Rama Heru.
Rama Heru Subyakto mengatakan, TPP hanya bisa memberikan sebagian bantuan. Bantuan diberikan secara langsung saat tim berkunjung ke sekolah.  “Pada tahun 2018, TPP sudah mengunjungi 18 sekolah, dari PAUD (KB, TK) sampai SD. Kriteria sekolah yang diberi bantuan adalah sekolah yang sudah ditinggalkan induknya (seperti yayasan) dan sekolah yang dikelola oleh paroki atau kelompok masyarakat,” ucapnya.
Hanya Pemicu
Sementara itu, di Kevikepan Semarang, beberapa sekolah Katolik yang berjalan terseok-seok, kini sudah bisa mulai berjalan seperti layaknya sekolah lain.  Staf TPP Kevikepan Semarang Yohanes Doddy Harsanto mengemukakan,  dengan bantuan itu, diharapkan sekolah-sekolah tersebut bisa mandiri untuk menghidupi dirinya sendiri. Jadi tidak tergantung kepada jumlah murid dan tetap survive,” kata Doddy Harsanto.   
Yohanes Doddy Harsanto
Menurutnya, lingkup pelayanan TPP Semarang baru di kota dan Kabupaten Semarang.TPP belum bisa menjangkau daerah luar Semarang, seperti Jepara, Pati, dan  Purwodadi.
Bantuan yang sudah dilakukan TPP selama ini meliputi beberapa hal. Pertama, beasiswa untuk sekolah yang mengalami kekurangan. Ada satu sekolah yang tiap tahun dibantu oleh TPP berupa uang gedung, misalnya SMK St Ignasius dan SMP St Belarminus. Kedua, beaguru. Beaguru ini berupa pelatihan kepada guru. Dalam hal ini kami tidak memberikan uang,” katanya.
Ketiga, infrastukur. Contohnya adalah SD Kanisius Pekunden Semarang, kami bantu untuk renovasi gedung. Caranya kami mengadakan kegiatan lari untuk menghimpun dana. Dari kegiatan lari TPP mendapatkan dana sebesar Rp 400 juta. Dana inilah yang digunakan untuk merenovasi gedung SD Kanisius Pekunden.
Keempat, manajemen. Bantuan manajemen ini hanya untuk sekolah-sekolah yang mau terbuka secara manajemen dan secara keuangan.
Bantuan yang diberikan tergantung kebutuhan sekolah. Di SMK Theresiana Bandungan, misalnya, TPP masuk ke sana karena keluhan pihak direktorat sekolah mengalami defisit Rp 600 juta per tahun.  Lalu sekolah disurvei untuk melihat potensi-potensinya. Dan ternyata SMK Theresiana memiliki potentsi besar, lahannya luas dan jurusannya pertanian dan peternakan. Harusnya bisa dibuat bisnis pertanian.
“Dan memang betul. Kami membuat bisnis hidroponik untuk membantu minusnya dana SMK. Kini SMK Theresiana bisa menghidupi dirinya sendiri, bahkan membebaskan uang gedung dan uang sekolah bagi para siswanya,” ungkap Doddy.
Bermula dari pengalaman SMK Theresiana ini, TPP mengajak SMK-SMK lain untuk memiliki unit bisnis untuk membantu SMK-SMK tersebut. Harapannya 13 SMK Katolik di Kota Semarang ini memiliki unit bisnis yang dapat menunjang operasional SMK yang bersangkutan.
Pada prinsipnya, lanjut Doddy, tugas TPP itu sebagai pemicu saja, bukan segalanya. Semuanya berbalik kepada pihak sekolah, kepala sekolah dan guru-gurunya. Mungkin kami bisa memberikan ide-ide, namun dalam pelaksanaannya tetap tergantung guru dan kepala sekolah,” tuturnya. 
Dengan demikian dari pihak TPP sendiri tidak bisa berkata bahwa kesuksesan sekolah itu karya TPP,  atau sebaliknya,  kegagalan sekolah itu tanggung jawab tim.***sukamta, elwin

1 comment: