Header Ads

Breaking News

Rama YR Edy Purwanto Pr: Tugase Rama Niku Rak Mung Mbantu Uskup

* VIKARIS JENDERAL KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG


Tepat satu tahun menggembalakan umat Keuskupan Agung Semarang, Mgr Robertus Rubiyatmoko menggelorakan penggembalaannya dengan membarui personil Kuria, termasuk Vikaris Jenderal KAS. Dan Rama Yohanes Rasul Edy Purwanto Pr terpilih untuk memangku jabatan Vikjen per 1 Juni 2018. Seminggu usai pelantikan, di Rumah Uskup, Salam Damai berkesempatan berbincang seputar pengangkatan beliau. 



Bagaimana proses Bapa Uskup memilih Rama menjadi Vikjen KAS?
Kalau saya bercerita tentang Bapa Uskup mendekati saya untuk pada akhirnya memastikan kehendak beliau untuk meminta saya menjadi vikjen di KAS, ini menarik. Mengapa? Karena pada bulan Oktober 2017, Bapa Uskup mendekati saya dan hanya berbicara: ‘Kula njing dibantu nggih’ (Saya besok dibantu ya). Hanya itu saja yang diucapkan Bapa Uskup. Jadi tidak pernah ada kata-kata, bahwa beliau ingin menjadikan saya vikep atau vikjen. Lalu saya ya menjawab: ‘Siap! Tugase Rama niku rak mung mbantu Uskup’ (Tugasnya Rama itu kan hanya membantu Uskup). Itu jawaban saya.

Terus yang lebih menarik lagi, pada tanggal 22 Desember 2017. Waktu itu Bapa Uskup baru menyelesaikan triduum pribadi (retret) di Rumah Retret Gedang Anak Ungaran. Tiba-tiba beliau menelpon, mau mampir. Bapa Uskup pun saya terima di ruang kerja saya di Paroki Banyumanik. Waktu itu, Bapa Uskup menanyakan banyak hal, seperti tentang personalia imam-imam KAS, pastoral apa yang perlu diperhatikan, dll. Dan saya pun menjawab yang bisa saya tahu dan pahami. 

Lalu pada akhir pembicaraan siang itu Bapa Uskup mengatakan: “Estu loh nggih, kula dibantu” (Benar loh ya, saya dibantu). Dan saya pun spontan menjawab: “Saya siap membantu Bapak Uskup, karena saya ditahbiskan dengan pertanyaan ‘apakah rama mau taat kepada saya dan kepada pengganti-pengganti saya’. Inilah yang saya ucapkan pada tanggal 8 September 1993 ketika saya ditahbiskan oleh Uskup Agung Semarang Kardinal Julius Darmaatmaja SJ. Maka saya pun taat kepada Bapa Uskup.

Mgr Rubiyatmoko pun berkata, “Nggih pun. Kula sampun ngertos semangate jenengan. Mau jadi vikep atau vikjen itu saya belum menentukan.” (Ya sudah. Saya sudah tahu semangat anda…).
Sontak saya kaget, “Waduh… nek soal jabatan niku kula kudu mikir. Wong kula karepe pengen ngaso sek.” (Waduh, kalau soal jabatan itu, saya harus berpikir. Saya kan ingin istirahat dulu).

Sejak saat itu, Bapa Uskup kalau ketemu ya biasa-biasa saja. Paling-paling berkata, “Siap mbantu kula nggih?” Lalu bulan 31 Januari - 1 Februari 2018, ketika kami rekreasi imam-imam medior di KledungWonosobo, Bapa Uskup mendekati saya lagi dan berkata, “Jenengan siap belajar nggih, hal-hal yang perlu diamati, diperhatikan di keuskupan ini, dsb.” Saya langsung bisa mengerti artinya. 

Lalu saya berkata, bahwa mau mempelajari apapun yang saya rasa bisa saya ketahui dan mengerti mengenai hal-hal tentang keuskupan ini. Karena selama ini kurang intensif mengamati tentang keuskupan ini karena tugas 12 tahun di Jakarta.

Awal bulan Maret Bapa Uskup mengatakan, besok kalau pembaruan janji imamat itu akan diumumkan vikep-vikep baru dan vikjen. Kata Bapa Uskup, “Lha jenengan saya minta jadi Vikjen loh.” Dan waktu rekoleksi pembaruan janji imamat di Bandungan (26 Maret 2018), Bapa Uskup sekali lagi menegaskan, “Estu loh, jenengan dados Vikjen kula loh nggih!” (Benar loh, Anda jadi Vikjen saya loh). Jawab saya, “Derek kersa dalem mawon.” (Ikut kehendak Bapa Uskup saja). Itu yang terjadi sampai pada waktu rekoleksi imam beliau mengumumkan personil baru vikep dan vikjen. Lalu menyampaikan pesan kepada para imam, agar jangan ada yang mengumumkan hal ini terlebih dulu, sebelum beliau resmi mengumumkannya dalam perayaan Ekaristi Krisma di Gereja Katedral.


Kapan Jawaban Definitif Diberikan? 
Soal jawaban definitif, sebenarnya kalau soal bantu membantu dalam arti tugas saya sebagai imam terhadap uskup sudah sejak awal beliau mengatakan ‘aku dibantu nggih’, ya sejak saat itu saya menyatakan jawaban definitif. Jawaban definitif ini saya maknai sebagai ‘kesiapsediaan saya untuk tugas apapun yang akan diberi oleh Bapa Uskup kepada saya sebagai imamnya’.

Lha kalau jawaban definitif sebagai vikjen, ya praktis, baik resmi maupun tidak resmi, formal maupun tidak formal, yaitu ketika kami pertemuan imam medior di Kledong Wonosobo. Dan ini saya maknainya sebagai tugas perutusan.


Apakah Pernah Menolak?
Ketika saya ditawari untuk membantu sebagai vikep atau vikjen, saya sempat minta waktu minimal tiga minggu untuk merenungkannya. Dalam permenungan itu yang saya alami, selama ini saya memang tidak pernah menolak dan juga tidak mau berdiskusi panjang tentang perutusan yang harus saya terima. Saya selalu mengatakan ‘siap!’. Maka dalam tiga minggu itu saya lebih mempunyai kesempatan untuk menata diri. Dalam arti, seandainya saya menjadi vikep atau vikjen lalu seperti apakah yang harus saya kerjakan dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Kalau tentang keraguan tentang kemampuan saya, saya juga pernah mengatakan kepada Bapa Uskup. Saya mengatakan, Bapa Uskup, saya tidak punya keahlian tertentu, saya tidak punya banyak pengalaman, saya tidak punya kompetensi yang mungkin Bapa Uskup harapkan. Maka bila memang, dalam perjalanan nanti, apa yang saya lakukan tidak sesuai dengan harapan Bapa Uskup, Bapa Uskup ngendika (berkata) saja. Jawab Bapa Uskup, ah nggeh pun sing penting mlaku ngga (ah ya sudah, yang penting jalan ya).




Kapan awal ingin imam?
Saya menjadi rama karena sebuah ketertarikan terhadap cara hidup atau cara berpastoral seorang rama, yaitu Rama Michael Soegito Pr. Sekarang ini beliau tinggal di Puren Yogyakarta, sebagai imam yang sudah purnabakti. Waktu itu beliau menjadi pastor paroki di Promasan. Dan saya menjadi misdinar.

Rama Michael Soegito itu dekat dengan umat. Beliau sangat memperhatikan Putra Altar. BElwin
eliau sangat menikmati kesederhanaan sebagai seorang figur imam. Dalam hal-hal seperti itu saya menjadi sangat terkesan. Dan pada akhirnya saya tertarik untuk menjadi imam. #
Elwin




No comments