Header Ads


Breaking News

Sejam Bersama Monsinyur Jelang Satu Tahun Tahbisan Uskup




Menjelang Satu Tahun Usia Tahbisan Uskup Mgr Robertus Rubiyatmoko (19 Mei 2018), Salam Damai berkesempatan mewawancarai beliau selama satu jam di Rumah Uskup. Dalam suasana santai, Monsinyur menjawab setiap pertanyaan yang disampaikan. Berikut wawancaranya:

Bagaimana kesan terhadap HUT ke-1 Tahbisan Uskup?
Rasanya cepat sekali ya. Tanpa terasa tahbisan uskup yang saya terima ini sudah satu tahun. Rasa-rasanya baru kemarin dan belum saya belum berbuat apa-apa.  



Bagaimana pengalaman awal sebagai seorang uskup?
Peristiwa penunjukan kepada saya oleh Bapa Paus, itu sesuatu yang mengejutkan dan menimbulkan pertanyaan ‘koq isa?’ (koq bisa?) atau koq saya?  Inilah pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul. Bahkan ketika sudah menjadi uskup pun, keheranan itu berulang kali muncul, saat saya sedang sendiri dan merenung. Kadang saya percaya dan tidak percaya bertanya, ‘koq Gusti isa milih aku, alasane apa’ (mengapa Tuhan memilih saya, alasannya apa). Ini pertanyaan yang sampai saat ini menimbulkan misteri.

Namun yang saya yakini adalah bahwa Tuhan pasti punya rencana. Maka saya mencoba untuk menghidupi, menjalani dan menerimanya. Awal-awal memang tidak mudah untuk menerima hal tersebut. Ada berbagai macam gejolak. Namun lama-lama saya memang harus menyesuaikan, ketika tidak ada pilihan lagi dan ketika Tuhan telah menahbiskan saya. Ini berarti, saya harus menjalani sebuah pola kehidupan yang sangat lain dari sebelumnya.

Dulu sebagai dosen dan staf seminari tinggi saya bisa leluasa mengatur waktu saya; masih ada kelonggaran dan kebebasan waktu untuk mengatur sendiri, meski sibuk mengajar dan membimbing para frater. Waktu itu saya mengatakan bahwa waktu saya begitu padat. Namun jika dibandingkan waktu sekarang setelah menjadi uskup, ternyata waktu sebagai dosen dan staf seminari tinggi jauh lebih longgar. Karena sebagai uskup, jadwal harian itu telah terpampang selama satu tahun. Dan saya mencoba untuk menikmati dan sungguh-sungguh menghayatinya sebagai salah satu kesempatan saya untuk melayani Tuhan. Dalam refleksi saya muncul kesadaran, ternyata tidak gampang menjadi uskup.

Fisik jelas lelah. Namun lebih dari itu, saya itu tidak bisa tidak untuk berpikir tentang keuskupan ini. Selalu ada saja sesuatu yang muncul di pikiran. Maka karena begitu banyak yang dipikirkan dan banyaknya aktivitas, rasanya hari-hari itu begitu cepat. Setahun begitu cepat dan rasanya saya belum bekerja apa-apa yang berarti.



Bagaimana pengalaman rohani sebagai uskup?
Kalau dilihat dari sisi pengalaman rohani, saya semakin diteguhkan dalam penghayatan imamat saya. Saya semakin merasakan seperti inilah panggilan sebagai seorang gembala. Dari hari ke hari, tidak pernah lepas dari ingatan dan perasaan saya kesatuan saya dengan umat keuskupan. Maka saya selalu akan membawanya dalam doa-doa saya, termasuk mereka yang meminta ujub khusus. Kesadaran sebagai seorang gembala yang mempunyai tanggung jawab yang besar, itu begitu kuat daripada ketika saya belum ditahbiskan sebagai uskup.    

Berhadapan dengan tugas yang tidak sedikit itu, mau tidak mau harus saya imbangi kedekatan saya dengan Tuhan. Maka doa itu menjadi kekuatan bagi saya. Saya itu senang bila ada kesempatan Ekaristi harian. Bahkan ketika misa sendirian atau doa harian sendiri saya jalani dengan sukacita. Karenanya apa yang saya pikirkan dan saya putuskan selalu saya bawa dalam doa terlebih dulu. Itulah pengalaman rohani saya.

Perjumpaan-perjumpaan dalam berbagai peristiwa secara fisik memang melelahkan. Namun secara rohani atau mental atau spiritual, bagi saya sungguh meneguhkan. Terkadang saya itu bergumam, …eh ternyata nyenengke wong ki ya ora angel (ternyata menyenangkan orang itu tidak sulit). Contohnya, ketika saya mau datang saja dalam berbagai acara yang mereka adakan, atau ketika saya mau diajak untuk foto dan tersenyum saja, itu membuat orang lain gembira. Maka saya mencoba untuk menikmati itu dan memberikan yang terbaik, meski sesederhana dan sekecil apapun. Karena bagi orang yang diperlukan bukan nasehat yang muluk-muluk, melainkan cukup dengan senyuman.



Kebersamaan bersama para Rama seperti apa?
Kebersamaan dengan rama-rama lain bagi saya selalu sangat meneguhkan. Kedekatan dengan para rama yang selama ini saya bangun tidak hilang setelah saya jadi uskup. Sedikit banyak, ada yang sungkan dengan saya. Apalagi bagi mereka yang sebelumnya sering bercanda atau nyek’nyek’an. Lebih dari semuanya itu kedekatan personal itu masih saya rasakan dan menyenangkan.

Apalagi ketika saya harus mengemban tugas untuk mendampingi para rama, khususnya ketika harus ada mutasi para rama. Kebanyakan mereka tidak keberatan. Dan bahkan menyatakan ‘siap!’.  Ini bagi saya sebagai seorang uskup sungguh sangat menggembirakan. Ini merupakan dukungan yang sangat besar sekali dari para rama dalam pelaksanaan reksa pastoral. Karena para imam di Keuskupan Agung Semarang ini sungguh komitmen, sungguh punya hati, dan sungguh punya jiwa sebagai seorang pastor.  Saya sangat mengapresiasi kesediaan dan keterbukaan para rama untuk tugas perutusan. Ini bagi saya sebagai sebuah penghiburan.

Kebersamaan dengan teman-teman di Kuria Keuskupan: Vikjen, Ekonom, dan Sekretaris serta para Vikep, sungguh meneguhkan. Bagi saya, mereka menjadi teman kerja yang sangat bisa diandalkan. Sungguh-sungguh saya belajar dari para rama Kuria. Karena sebagai uskup yang baru, ada banyak hal yang saya belum tahu dan tidak paham. Namun para rama ini memberi bantuan seoptimal mungkin. Itulah yang membuat saya tidak merasa sendirian dan tidak kabotan (berat) karena harus bekerja sendiri. Semua kita kerjakan bersama-sama.

Selain itu, adanya dukungan suasana kebersamaan di Rumah Uskup ini yang bagi saya sangat menggembirakan. Tidak ada kecanggungan, tidak ada perasaan takut atau sungkan. Bisa bercengkerama, bisa guyon bareng. Ini bagi saya menjadi kekuatan yang luar biasa. Rumah Uskup bagi saya menjadi rumah yang ngrasanke.

Dukungan umat juga luar biasa. Jika keuskupan punya gawe mereka langsung bergerak dan memberikan apa yang mereka miliki. Bukan soal harta atau bantuan finansial saja, namun lebih-lebih kesiapsediaan dan kesigapan umat untuk ikut terlibat dan berpartisipasi. Bagi saya ini sungguh-sungguh patut untuk diacungi jempol.  

Apakah pernah sambat?
Beberapa kali saya sambat (curhat) dengan Gusti dalam doa malam. Lebih-lebih jika melakukan kunjungan pastoral untuk penguatan selama tiga hari berturut-turut. Dari pagi sampai larut malam. Sehingga kalau pulang badan sudah loyo. Maka pada malam puncak kelelahan itu, dalam doa beberapa kali saya mengatakan, ‘Gusti, jebule dadi Uskup ki kesel ya’ (Tuhan, ternyata jadi uskup itu capek ya). Itu saya ungkapkan penuh kesadaran dalam doa. Saya disadarkan: ‘Yo kuwi, dadi Uskup ki yo kayak kuwi. Kesel pancen’ (Ya itu, jadi Uskup itu ya seperti itu. Capek memang). Inilah yang saya sadari ketika pertama kali saya mengiyakan penunjukan sebagai Uskup itu. Namun ketika saya bisa mengungkapkan itu dalam doa, justru saya dikuatkan.


Berapa kali berolah raga?
Dalam kelelahan apapun saya ingin memberikan yang terbaik. Memang secara manusiawi memang tidak bisa terlepaskan dari keterbatasan fisik, pusing, dll. Namun saya telah sedia obat-obatan yang bisa membantu saya untuk relaksasi. Saya berusaha untuk istirahat cukup, meski cukupnya itu ya tidak cukup sekali. Selain itu berusaha makan makanan yang sehat. Meski disediakan makanan yang lezat-lezat saya mencoba untuk memilih yang sehat.

Satu hal yang sangat saya sayangkan adalah kesempatan berolah raga yang sangat kurang. Hampir setahun jadi uskup ini baru tiga kali saya olah raga sepeda statik. Dan itu bagi saya sangat kurang.  Namun menurut saya, salah satu yang mendukung fisik adalah suasana hati. Kalau hatinya senang, maka badan itu juga terasa ringan. Dan hati saya selalu senang dan bersukacita.

Uskup yang medsos?
Terkait dengan media sosial (medsos) saya memang sengaja untuk memanfaatkan media itu secara terbatas. Menyadari bahwa sekarang ini apa-apa serba medsos, maka itu akan kita gunakan sebaik mungkin untuk berbagai macam kepentingan, salah satunya untuk pewartaan. Dan dampaknya lebih hebat daripada tulisan. Saya senang Komsos KAS cukup kreatif dengan berbagai macam terobosan untuk membuat pastoral secara lebih istimewa melalui komunikasi media sosial. Dan saya rasa itu sangat bagus.

Harapan untuk umat KAS?
Dalam doa saya selalu meminta kesejahteraan bagi umat KAS seluruhnya, jasmani dan rohani. Di balik itu ada impian agar umat KAS sungguh-sungguh bertekun dalam iman. Artinya, sungguh-sungguh militan, tidak mudah tergoncangkan oleh berbagai macam situasi kehidupan dan bujukan macam-macam. Ini yang saya harapkan. Umat KAS inilah yang nantinya menjadi aktor-aktor perubahan di tengah masyarakat. Khususnya untuk mewujudkan kerahiman Allah dengan kata dan perbuatan, secara riil dan kongkrit. # Elwin

No comments