Header Ads

Breaking News

Gereja Sahabat Kaum Buruh

Lapisan pekerja atau buruh di perkotaan semakin tinggi jumlahnya seiring dengan makin maraknya industrialisasi dan urbanisasi. Gereja berusaha menjadi bagian penting dari kehidupan kaum pekerja. Apa yang bisa dilakukan Gereja untuk umatnya yang buruh ini?
Dunia industri di Indonesia mulai tumbuh di era awal 70-an. Saat itu pemerintahan orde baru membuka kran bagi masuknya investasi asing. Modal asing masuk. Industri-industri pun bertumbuhan. Angkatan kerja banyak terserap ke lapangan-lapangan kerja yang tersedia.
Masalah utama yang dihadapi kaum buruh ini adalah soal pengupahan, yang selalu dirasakan kurang. Ketidakpuasan itu diekspresikan dalam berbagai bentuk demo dari waktu ke waktu, yang menuntut kenaikan upah.
Di masa pemerintahan orde baru, di bawah kepemimpinan Jenderal Soeharto, aktivitas demo, apapun latar belakangnya, dinilai negatif, dan hampir pasti akan dilibas, karena dianggap mengganggu terwujudnya stabilitas sosial.
Ketika pemerintahan berganti, dan kontrol pemerintah tak lagi kuat seperti sebelumnya, demo kaum buruh untuk menuntut kenaikan upah menjadi pemandangan yang sering terjadi. Standar kelayakan upah terus dinaikkan, tapi harga-harga kebutuhan sehari-hari terus melambung tinggi.
Selain soal upah, kekerasan terhadap pekerja, PHK, pemaksaan kerja yang melebihi waktu yang ditentukan, uang lembur yang tidak dibayar, jatah cuti yang tidak digenapi, undang-undang buruh yang tidak memberikan jaminan kerja, dan lainnya,  merupakan permasalahan yang biasanya dihadapi oleh kaum buruh.
Masalah buruh, atau dalam lingkup luas menyangkut ketenagakerjaan, merupakan salah satu sumber keprihatinan Gereja. Bahkan, soal itu  menjadi tema utama ensiklik Rerum Novarum dan beberapa ensiklik lain yang diterbitkan oleh Paus selanjutnya seperti, Gaudium et Spes, Laborem Excercens, Solicitudo Rei Socialis, dan lainnya. Artinya, sejak awal mula keterlibatan sosial Gereja, masalah ini telah digeluti oleh Gereja terutama yang menyangkut urusan kesejahteraan kaum pekerja dan upah yang adil.
Keterlibatan Gereja dalam masalah-masalah sosial ini pertama-tama karena Gereja peduli dengan kehidupan mereka yang lemah, maka tujuan keterlibatan ini adalah demi kesejahteraan bersama (bonum commune). Kesejahteraan bersama adalah suatu kondisi kehidupan sosial yang memungkinkan semua kelompok sosial manapun masing-masing anggotanya mencapai kesempurnaannya sendiri secara lebih penuh dan lebih mudah.
Permasalahan mengenai kerja dan buruh dalam wacana umum masuk dalam kajian etika bisnis. Prinsip-prinsip etika sangat diperlukan oleh sebuah perusahaan dan pekerjanya supaya terwujud suatu kesejahteraan bersama atau paling tidak atau sekurang-kurangnya tidak terjadi ketidakadilan dalam hal kerja.
Karyawan sebuah pabrik sepatu. (foto: istimewa)
Diakui oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang [Vikjen KAS] Rama FX Sukendar Pr, sampai sekarang pastoral kaum buruh di wilayah KAS belum maksimal. Rama AG Hantara Pr telah mengawali di sekitar Ungaran, almarhum Rama Vincentius Sugondo SJ punya perhatian di sekitar Girisonta. Rama Yacobus Toto Yulianto SJ ketika bertugas di Paroki Ambarawa dimohon secara khusus oleh Kevikepan Semarang agar mengawal pastoral kaum buruh.
Rama FX Sukendar Pr
Selain pendampingan pastoral oleh para biarawan, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) KAS, menampilkan wajah sosial Gereja  Yayasan KARINAKAS, YSS (Yayasan Sosial Soegijapranata) dan  LPUBTN (Lembaga Pendampingan Buruh, Tani dan Nelayan). Perhatian bagi keberadaan  kaum buruh di sekitar Demak dan Banjardowo-Semarang, dibuat dengan pertemuan serta pembinaan rohani di Gereja Stasi Banjardowo Paroki Gedangan Semarang, jelas Rama Kendar.
Apa makna dan buahnya? Belum ada penelitian dan pengawalan lebih lanjut berkenaan dengan perhatian pastoral ini,” kata Vikjen KAS itu.
Usulan yang muncul dari pertemuan paskahan para Bruder dan Rama Adi Yuswa di Klaten tanggal 17 April lalu: agar Gereja menjadi jembatan penghubung antara kepentingan buruh dengan para majikan (pemilik modal), sehingga suasana konflik kepentingan dapat diminimalkan karena ada kepedulian yang nyata dari para pemilik modal sekaligus ada keterbukaan dari para buruh.

Pendamping Khusus Para Buruh
Rama FA Sugiarta SJ
Menurut Ketua LPUBTN, Rama FA Sugiarta SJ, Keuskupan harus punya pendamping khusus bagi kaum buruh. LPUBTN berusaha menjerjemahkan hal itu dengan menginisiasi berdirinya Rumah Inspirasi Buruh (RIB) sebagai ruang dialog dan belajar bagi buruh di lingkungan industri Banjardowo-Semarang. Kegiatan pendampingan ini merupakan bentuk pastoral buruh.
Di RIB tersebut, Rama Sugiarta dan tim nya dari LPUBTN mendampingi buruh salah satu pabrik garmen di daerah Semarang Utara dengan melakukan aktivitas seperti program pertanian, perternakan, pelatihan membuat kue, menjahit baju utuh, membuat sabun, dan lain-lain. 
"Kami meminjam sebuah lahan dari Stasi Ignasius Banjardowo, Paroki St Yusuf Gedangan, Semarang. Kebetulan Stasi ini memiliki lahan yang cukup luas," tutur Rama Sugiarta yang pernah menjabat sebagai Ekonom Keuskupan.
Selain itu, saat ini LPUBTN juga mengembangkan sebuah central training untuk pengembangan usaha las dengan memberikan pelatihan dan praktek secara langsung bagi peserta didik.
"Kami berikan aneka pelatihan, agar buruh dan keluarga punya ketrampilan yang dipakai untuk sumber hidup agar buruh tidak hanya tergantung dari statusnya sebagai karyawan, sehingga saat ada program efisiensi dari perusahaan yang berimbas pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) buruh tetap tenang karena mereka sudah punya ketrampilan yang tinggal dikembangkan," kata Rama Sugiarta.
Guna meningkatkan pengetahuan buruh, LPUBTN juga menggandeng Unika Soegijapranata Semarang dengan menyelenggarakan pelatihan tentang simulasi pengadilan dan pendidikan UU Perburuhan. Dan untuk meningkatkan kesejahteraan buruh, juga telah diluncurkan koperasi buruh (lintas pabrik) yang diberi nama Koperasi Buruh Mitra Sejahtera dengan tujuan memenuhi kebutuhan primer para buruh.
Mengapa dirasa perlu mendampingi para buruh? Menurut imam Jesuit ini, buruh merupakan bagian dari kaum KLMTD, khususnya buruh pabrik. Kaum buruh seringkali dihadapkan pada pelbagai peraturan tentang ketenagakerjaan, seperti sistem outsourcing, sistem kerja kontrak, aturan pengupahan, jaminan kesehatan, pensiun, dan lain-lain. 
"Seringkali buruh melakukan demo menuntut kenaikan upah. Pemerintah memang berulangkali menaikkan standar upah untuk pekerja. Namun saat yang sama harga-harga kebutuhan hidup sehari-hari juga terus melambung. Sehingga upah buruh yang dinaikkan pun termakan oleh inflasi," sambung Rama Sugiarta.
Menurut Rama yang saat ini bertugas di KPTT (Kursus Pertanian Taman Tani) Salatiga itu, dalam RIKAS (Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang) menyebutkan Gereja peduli pada kaum KLMTD (Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, Difabel). Sehingga sungguh peran Gereja dibutuhkan untuk kaum buruh.
Seringkali ada anggapan bahwa buruh dengan pengusaha adalah musuh bebuyutan, padahal sebenarnya mereka (buruh dan pengusaha) adalah mitra kerja yang saling membutuhkan. Nah, Gereja diharapkan menjadi penghubung antar dua belah pihak untuk menyamakan persepsi dan kepentingan agar kesejahteraan bersama dapat terwujud," sambungnya.
Maka dari itu,  baik jika dari KAS menunjuk seseorang, tidak harus rama, bisa bruder, suster atau bahkan awam yang punya hati untuk mendampingi buruh. Tugas pendamping bukan untuk melawan pengusaha tetapi bisa sebagai mediator untuk mempertemukan kepentingan pengusaha dengan buruh,“  kata Rama Sugiarta.
Saat ini pelatihan buruh yang diselenggarakan LPUBTB bisa dilaksanakan di kantor LPUBTB di Jalan Srigunting 10 Semarang atau di RIB Stasi Banjardowo Semarang. Selain itu, LPUBTN juga tengah mendampingi buruh di daerah Bergas, Karangjati, yang fokus membuat kerajinan dari bonggol-bonggol kayu.

Tujuan Pastoral Kaum Buruh
Pastor Kepala Paroki Kristus Raja Ungaran, Rama Heribertus Natawardaya Pr, menilai pastoral untuk kaum buruh sangat penting. Gereja Katolik mengemban tugas untuk menghadirkan karya penggembalaan Yesus Kristus, Sang Gembala Utama.
Rama Heribertus
Natawardaya Pr
Dalam bahasa metaforik, Rama Natawardaya menerangkan, tujuan dari karya penggembalaan adalah mendampingi, menjaga, memelihara kawanan domba agar tetap bersatu sebagai kawanan. Menjaga agar tetap utuh tidak ada yang tersesat atau hilang.
Kawanan domba dijamin memperoleh makan dan minum yang cukup demi kelangsungan dan kesejahteraan hidup mereka.Kawanan domba itu terdiri dari berbagai macam kategori, berdasarkan  kondisi dan kebutuhan. Salah satu kawanan domba dalam Gereja Katolik adalah kaum buruh,” tuturnya.
Gereja perlu memberi perhatian berupa pendampingan khusus kepada para buruh, karena mereka mempunyai kebutuhan khusus berkaitan dengan kondisi kehidupan mereka, khususnya di bidang ekonomi. Secara ekonomis kaum buruh sering kali menjadi pihak yang tidak beruntung.
Masalah yang sering kali muncul adalah menyangkut upah yang dirasa tidak atau kurang adil. Di samping itu juga adanya pandangan yang menempatkan para buruh semata-mata sebagai elemen produksi yang dinilai dengan uang. Dengan demikian harkat dan martabat luhur mereka sebagai manusia kurang diperhatikan,” lanjutnya.
Gereja Katolik sebagai pewarta kabar suka cita Injil semestinya memberikan perhatian khusus kepada mereka. Sesuai sebutan Gereja di Keuskupan Agung Semarang sebagai Pengurus Gereja Papa Miskin (PGPM), Gereja seharusnya memihak mereka yang miskin, yaitu mereka yang tidak berkecukupan dalam kehidupan ekonomi, termasuk para buruh.
Terhadap kaum buruh Gereja memberikan pendampingan dan bantuan agar mereka mengalami keselamatan di dunia, yang terwujud dalam kehidupan yang sejahtera dalam segala aspek, termasuk kesejahteraan ekonomi.
Siapa yang termasuk kategori kaum buruh? Dalam masyarakat Indonesia yang disebut sebagai kaum buruh pada umumnya adalah mereka yang bekerja pada orang atau badan perusahaan, dan memperoleh upah dari orang atau badan yang mempekerjakan mereka. Secara umum yang masuk dalam kategori kaum buruh adalah pekerja yang mengandalkan kemampuan fisik atau kekuatan otot. Misalnya, pekerja di pabrik-pabrik, bengkel, buruh tani, kuli angkutan, dan sebagainya. Biasanya yang termasuk kaum buruh adalah pekerja kasar.
Pekerja di belakang meja di kantor, pegawai negeri, para pedagang, dan sebagainya, meskipun sama-sama berjuang mencari nafkah, mereka tidak dikategorikan sebagai kaum buruh,” tuturnya.

Dokumen Gereja
Dokumen Gereja yang terkait dengan kaum buruh terutama adalah dokumen-dokumen yang disebut sebagai Ajaran Sosial Gereja. Yang pertama adalah Rerum Novarum, ensiklik yang diterbitkan oleh Paus Pius XIII, pada 15 Mei 1891.
Rerum Novarum memusatkan perhatian pada kondisi kerja dan kaum buruh pada waktu itu. Kaum buruh tidak memperoleh upah dan perlakuan yang adil. Membela kaum buruh ensiklik ini mengajarkan tentang hak-hak kaum buruh, antara lain hak atas hasil karya, hak atas milik, hak memperolah upah yang adil, dan hak berserikat.
Kedua, ensiklik Quadragesimo Anno, diterbitkan pada 1931 oleh Paus Pius XI, dalam rangka  memperingati 40 tahun Rerum Novarum. Ensiklik ini mengajarkan kembali tentang kepemilikan pribadi dan sistem upah, prinsip-prinsip bagi hasil yang adil dan merata dalam masyarakat, langkah-langkah Gereja dalam turut mengatasi kemiskinan struktural.
Ketiga, Mater et Magistra.  Dikeluarkan pada 1961 oleh Paus Yohanes XXIII. Ensiklik ini berbicara tentang masalah sosial, yaitu adanya jurang antara negara yang kaya dan miskin, sebagai produk tata dunia yang tidak adil.
Melalui Mater et Magistra, Gereja didesak untuk berpartisipasi secara altif dalam memajukan tata dunia yang adil. Disadari isu-isu baru di bidang sosial, politik dan ekonomi, peran negara dalam memajukan ekonomi; partisipasi kaum buruh; soal kaum petani; bagaimana ekonomi ditata dengan seimbang.
Keempat, berkaitan denga kerja manusia, Paus Yohanes Paulus II, menerbitkan ensiklik Laborem Excercens pada tahun 1979. Dalam ensiklik ini diajarkan bahwa manusia berhak bekerja untuk kelangsungan hidupnya, agar hidup keluarga bahagia dan berkecukupan.
Ensiklik ini mengkritik komunisme dan kapitalisme yang memperlakukan manusia sebagai alat produktivitas. Manusia mempunyai hak untuk bekerja dan memperoleh upah yang adil dan wajar; berhak atas pencarian kerja yang baik dan jaminan keselamatan kerja.
Lalu, kelima, dalam rangka memperingati 100 tahun Rerum Novarum pada tahun 1991, Paus Yohanes Paulus II menerbitkan ensiklik Centesimus Annus. Ensiklik ini menegaskan prinsip keadilan bahwa harta benda dunia diperuntukkan bagi semua orang.

Perencanaan Ulang
Wilayah Kabupaten Semarang terdapat banyak pabrik beserta para buruhnya. Dulu, Rama Hantara dari Paroki Ungaran, pernah menjadi pastor pendamping para buruh dan membuat tim dari kalangan pekerja muda dengan nama Young Christian Worker. Karya pastoral pendampingan ini kemudian tidak berlanjut.
Sebagai pastor yang baru saja mulai berkarya di Paroki Ungaran, setelah lama berkarya di luar Keuskupan Agung Semarang, saya belum sempat melihat kondisi para buruh saat ini. Belum terdata kebutuhan pastoral kongkrit apa yang ada dan bentuk pastoral seperti apa yang perlu disiapkan,” kata Rama Heribertus Natawardaya Pr.
Rama Natawardaya mengemukakan rencananya untuk merancang pastoral kaum buruh bersama pengurus dewan paroki dan umat paroki, bekerja sama dengan paroki-paroki lain di kawasan  Kabupaten Semarang. “Perencanaan dan pelaksanaan pastoral kaum buruh, sangat penting,” tuturnya.
Bagaimana praksis pastoral kaum buruh yang dirasakan para pekerja? Alowisius Joko Pitoyo, Pengurus Serikat Pekerja seksi Kerohanian Kristiani dari Serikat Pekerja Apacinti (SPA) di Kabupaten Semarang ini, mengemukakan pengalamannya dari sisi kerohanian.
Al. Joko Pitoyo
Aktivitas kerohanian yang dilakukan para buruh SPA, menurutnya, sesuai harapan. Misalnya, ada misa setiap Jumat Pertama di perusahaan, pelayanan  liturgi di Paroki Girisonta dan sekitarnya, aktivitas koor misa di  Paroki Girisonta, Taman Doa Bukit Kendalisodo, Gua Maria Rosa Mistika Tuntang, serta koor Misa Ujub di salah satu lingkungan Paroki St Yusuf Ambarawa.
“Selain itu, ada ziarah bersama pengurus dan anggota K3A, ibadah Oikumen bersama Persekutuan Doa (PD), K3 Sosial Care, peduli kasih pada anggota & keluarga K3 yang sakit, program pendampingan anak (PPA) berupa beasiswa, usaha bersama, dan perayaan natal bersama setiap tahun,” katanya.
Aktivitas kerohanian yang bisa dilakukan saat ini, tuturnya, bukanlah tanpa perjuangan. Pada 1993, ada kerinduan dari beberapa orang untuk mengadakan misa di perusahaan, tetapi tidak diperbolehkan oleh pihak manajemen karena sudah ada persekutuan doa.
Diprakarsai Yohanes Suparjiman, Suripto, St Jatmiko Wilopo dan Petrus Deni Kuncoro, akhirnya misa bisa terlaksana di rumah Suripto (lingkungan Harjosari). Awal tahun 1995, terjadi pergantian manajemen dari PT Kanindotex ke Gabungan Pengusaha Batik Indonesia (GKBI).  Kemudian Yohanes Suparjiman (saat itu Manager HRD) mengajukan kembali ke manajemen baru untuk diperbolehkan mengadakan Misa kudus bagi karyawan Katolik dan disetujui.
Berawal dari kegiatan misa perdana di perusahaan yang diikuti lebih dari 100 umat  itulah, akhirnya komunitas karyawan Katolik membentuk organisasi dengan nama Keluarga Karyawan Katolik (K3) St Martinus Apac Inti Corpora,” kata Joko Pitoyo.
Nama pelindung St Martinus diberikan oleh (alm) Rama Vincentius Sugondo SJ, selaku pendamping buruh saat itu, karena PT Apac Inti Corpora merupakan pabrik tekstil yang menghasilkan produk benang dan kain. St Martinus sendiri diceritakan seorang perwira yang memberikan jubah kain-nya kepada seorang pengemis yang kedinginan.
Dari data personalia, per Februari 2018 jumlah karyawan Katolik ada 266 orang, sedangkan Karyawan Kristen ada 219 orang. Total karyawan PT AIC = 6.455 orang.
Misa karyawan menjadi salah satu bentuk kehadiran Gereja 
di tengah kaum buruh. (foto: jokopit)
Secara pelayanan rohani sudah cukup, sebab K3A secara rutin bisa melakukan berbagai aktivitas kerohanian. Di perusahaan sendiri juga disediakan Ruang Doa untuk kegiatan K3 & PD, baik untuk pendalaman iman, pertemuan-pertemuan dan doa bersama, tuturnya.
Apa kebutuhan lain selain pelayanan rohani? Menjawab hal itu, Joko Pitoyo yang juga prodiakon Lingkungan Mateus Buliksari Paroki Girisonta, mengemukakan, selain pelayanan rohani, Gereja juga perlu mendampingi para buruh untuk pemberdayaan.
Bisa melalui bidang PSE Paroki dengan menyelenggarakan pelatihan-pelatihan kewirausahaan. Sehingga bisa meningkatkan kompetensi dan daya saing dari buruh itu sendiri, sehingga jika terjadi sesuatu pada perusahaan, buruh bisa mengembangkan keahlian tersebut,” katanya.
Selain itu juga perlu dibangun jejaring antar buruh antar perusahaan. Sebabnya banyak dari anggota K3 yang selain tetap bekerja juga ‘nyambi’ di luar. Ada yang menerima pesanan katering, ada yang usaha kuliner, servis jam, dan lainnya.
Dia berharap, sebagai umat Katolik terlayani bukan saja dalam hal kerohanian, tetapi juga terlayani dalam pengembangan diri. Kemandirian adalah muaranya.
Kemandirian adalah kunci keberhasilan pendampingan. Kemandirian bukan sesuatu yang berhenti pada satu titik. Tetapi untuk bertahan dan berlanjut. Maka, kemandirian itu harus diperjuangkan terus menerus, hingga bisa beradaptasi dengan  perubahan zaman. 
Seperti kata Khalil Gibran dalam salah satu syairnya, “Kau bekerja supaya langkahmu seiring dengan irama bumi, serta perjalanan roh jagad ini. Berpangku tangan menjadikanmu asing bagi musim, serta keluar dari barisan kehidupan sendiri, yang menderap perkasa, megah dalam ketaatannya menuju keabadian massa”. *** marcelinus tanto pr, elwin, jokopit, anto.


LPUBTN Menghadirkan
Gereja Papa Miskin
  
GEREJA Papa Miskin! Inilah jatidiri Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang. Sepanjang sejarah, keberpihakan Gereja KAS terhadap kaum papa miskin senantiasa mewarnai pelayanan karya pastoralnya. Lembaga Pendampingan Usaha Buruh Tani dan Nelayan [LPUBTN] merupakan salah satunya, yang berkarya hingga sekarang.
Menurut Ketua LPUBTN  Rama FA Sugiarta SJ, cikal bakal lembagai itu berawal dari program sosial dari KWI (dulu MAWI) pada tahun 1950-an. Mgr Albertus Soegijapranata SJ dan Rama John Dijkstra SJ merupakan pemrakarsanya.  Pada 19 September 1960 aktivitas sosial itu diwadahi dalam lembaga Yayasan Pembimbing Usaha Buruh Tani (YPUBT). Inilah cikal bakal LPUBTN.
Dalam perkembangannya, pelayanan YPUBT pun merambah kepada para nelayan. Maka, tahun 1997 berubah nama menjadi Yayasan Pendamping Usaha Buruh, Tani dan Nelayan (YPUBTN), sebelum akhirnya menjadi LPUBTN. Sebagai lembaga gerak Keuskupan Agung Semarang [KAS], sejak tahun 2005 LPUBTN menyesuaikan pelayanannya dengan Arah Dasar (Ardas) Keuskupan Agung Semarang, khususnya untuk menghadirkan keterlibatan Gereja bagi buruh, tani, dan nelayan serta mendukung perwujudan cita-cita Gereja melalui Ardas tersebut.
Pada  2013, Bapak Uskup Mgr Pujasumarta membuat surat keputusan yang berisi mensinergikan LPUBTN, YSS, dan Karina dalam  koordinasi karya komisi PSE KAS. LPUBTN menempati rumah di kawasan Kota Lama, di Jalan Sri Gunting No.10, Semarang, Telp (024) 3586817. Bangunan tiga lantai  tempat LPUBTN bersekratariat ini, termasuk di antara bangunan kuno lainnya yang cukup terpelihara.
 Pengurus LPUBTN saat ini diketuai oleh Rama FA Sugiarta SJ, dengan sekretaris Sr Maria Faustina AK dan bendahara C Isti Sumiwi SH serta keanggotaan dari kalangan perguruan tinggi serta professional lainnya dan perwakilan dari  empat kevikepan KAS.

Program Wira Beasiswa
Menurut Rama Sugiarta, salah satu fokus kegiatan LPUBTN adalah pendampingan kelompok tani dengan penekanan kaderisasi melalui program Wira Beasiswa. Program ini diperuntukkan untuk anak-anak SD dan SMP. Bentuknya memang beasiswa, tetapi dengan cara memelihara/ternak kambing.
Wira Beasiswa mengarahkan anak mendapatkan biaya sekolah dan anak pedesaan kembali ke pola agraris dengan cara  anak-anak itu berlatih beternak dan bersinggungan lagi dengan dunia pertanian dan hasilnya bisa untuk membiayai pendidikan mereka sendiri,  
Saat ini Wira Beasiswa telah tersebar pada sembilan wilayah di enam Paroki dengan 309 penerima manfaat. Dari 309 anak ini, hampir 20-an anak diantaranya dapat menikmati bangku kuliah dan yang menunggu untuk mendapat guliran ada lebih dari 50 anak.
Program lain dari LPUBTN adalah memilih satu pedesaan untuk dijadikan prototype pembangunan pedesaan. Contohnya adalah Desa Penadaran Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan dan Moro Demak  Kecamatan Bonang Kabupaten Demak sebagai desa pesisir di wilayah pantura sejak akhir tahun 2006.
Saat ini Desa Penadaran berubah secara signifikan.  Jika dulu penduduk di sana banyak yang mblandong kayu jati, sekarang tidak lagi. Tingkat sosial ekonomi, pendidikan dan kesehatan semakin baik, lanjut biarawan Jesuit itu.
“Warga desa sekarang sudah mampu bertani dan beternak secara lebih maksimal,  membuat home industry, seperti batik, olah pangan,  handycraft,   juga reforestry. Mereka juga hendak menjadikan desanya sebagai desa wisata,” lanjut Rama Sugiarta SJ.

Pendampingan terhadap Buruh
Bagaimana dengan buruh? Sama halnya dengan pendekatan terhadap petani, yang dilakukan LPUBTN adalah menciptakan prototype pendampingan. Dalam hal ini dilakukan terhadap komunitas buruh di dua perusahaan PT Rodeo di perbatasan Semarang-Demak, dan buruh PT Perindustrian Bapak Jenggot di Kabupaten Semarang.
Muara dari setiap pendampingan adalah kemandirian. Proses pendampingan telah  memunculkan kesadaran bahwa dalam sistem politik yang mengedepankan upah murah, buruh ibarat barang dagangan yang sangat rentan posisinya. Ketika dianggap tidak lagi produktif, mereka akan terdepak.
Para buruh itu mendapatkan pelatihan usaha, baik usaha yang hendak mereka kembangkan maupun persoalan legal yang berkait dengan usaha itu. Mereka didorong juga untuk mengorganisasi diri dalam koperasi. *** Elwin, anto.

No comments