Header Ads

Breaking News

Kartini-Kartini Modern di Dalam Gereja

Bagi Indonesia, April adalah bulan yang sangat penting. Tanggal 21 April 1879, RA Kartini –feminis, tokoh emansipasi Indonesia— lahir. Pemikiran-pemikirannya yang tertuang dalam surat-suratnya kepada sahabat-sahabat Belanda-nya, yakni keluarga Abendanon dan  Stella Zeehandelaar, melesat bak meteor melewati zamannya. Tidak hanya soal emansipasi, melainkan juga tentang kemanusiaan, kebangsaan, dan agama.
Kartini menjadi simbol pembaharuan. Bahkan, 139 tahun setelah kelahirannya, pemikiran Kartini tetap saja aktual. Persamaan hak untuk mendapatkan pendidikan,  pekerjaan,  berorganisasi untuk mengekspresikan kepentingan, dan melakukan pelayanan pada masyarakat, bukan lagi hal yang aneh bagi perempuan di zaman sekarang. Sekalipun bukan berarti tak ada masalah sama sekali.
Floriana Ratna Dewijati
Menjadi perempuan, terlebih lagi berlatar belakang Katolik, bagi Floriana Ratna Dewijati, tetaplah terasa sebagai minoritas. Sehingga, harus punya kemampuan di atas rata-rata untuk bisa setara dengan mereka yang berada dalam posisi dominan.
Setidaknya itu yang dirasakan Ratna Dewijati dalam statusnya sebagai pegawai negeri sipil, atau istilah resmi sekarang, aparatur sipil negara. Saat ini dirinya menjabat sebagai Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah.  
Ia mengawali kariernya sebagai staf Bappeda Provinsi Jawa Tengah pada 1993. Sekretaris Bappeda (4,5 tahun) sempat ia emban hingga 2012, sebelum ditugaskan di Biro Bangda (Pembangunan Daerah) Jawa Tengah. Menyusul berikutnya tugas sebagai Kepala Bagian Kerjasama Luar Negeri pada tahun 2016. Dan akhirnya jabatan Sekretaris Dinas Kominfo Jawa Tengah diampu sejak 30 Desember 2016.  Berjuang dan bertanggung jawab adalah kunci yang jadi pegangannya selama menjadi pegawai negeri.
Dalam refleksinya, Ratna semakin menyadari bahwa kepercayaan yang diberikan kepadanya itu karena ia telah berjuang untuk mencapai nilai di atas rata-rata. Jika dirinya biasa-biasa saja seperti orang kebanyakan, maka tanggung jawab atau jabatan yang lebih tinggi tak akan dipercayakan kepadanya.
“Kita itu minoritas baik sebagai perempuan maupun kristiani. Maka hanya satu jalan supaya kita diberi tanggung jawab lebih, yaitu kita harus memiliki nilai plus dibanding yang lainnya,” ucap Ratna.
Itu pula yang pernah dipesankan ibunya.  Merga kowe minoritas, mula nilaimu kudu di atas rata-rata,” ungkapnya menirukan pesan sang bundanya.
Maka sebagai PNS, Ratna memacu diri supaya bekerja di atas rata-rata atau bekerja lebih berkualitas, dengan loyalitas dan integritas yang tinggi. Hal ini juga ia sampaikan kepada kepada sesama PNS seiman.
Hal serupa juga dinasehatkan kepada ketiga puterinya,  “Kalian perempuan. Zaman sekarang itu perempuan sama dengan laki-laki. Maka janganlah manja jadi perempuan, harus mandiri. Perempuan itu harus maju. Terlibatlah dalam kegiatan dan  organisasi untuk mengembangkan diri.”
AKP Bernadetta Dewi
Endah Utami, SH, SIK
Selain harus memiliki kualitas di atas rata-rata, perempuan juga harus optimis  punya cita-cita tinggi, apapun penghalangnya. Itu diungkapkan oleh Kartini Gereja yang berkarya di dunia laki-laki sebagai polisi wanita  (Polwan), AKP Bernadetta Dewi Endah Utami SH, SIK, yang bercita-cita menjadi Kapolri.
Mengabdikan diri kepada negara sebagai polisi telah menjadi cita-citanya sejak belia. “Selain karena dorongan orangtua, sejak muda saya sudah bercita-cita menjadi seorang polisi. Maka sebelum pengumuman lulus SMA saya sudah mendaftarkan di Akpol (Akademi Kepolisian-red.) Semarang,” ujar wanita berdarah Jawa-Ambon yang dibesarkan di tanah Papua ini.
Sejak awal Dewi sangat menyadari, kariernya di instansi kepolisian adalah kehendak Tuhan. Ia pun bercerita, bahwa sejak seleksi di Polda Papua ada sekitar 100 pemudi namun yang lolos untuk menjalani tes di Akpol Semarang hanya dua, termasuk dirinya.
“Dari  dua utusan Polda Papua, hanya saya yang diterima untuk menjalani pendidikan di Akpol. Dan saya percaya ini sebagai kehendak dan anugerah dari Tuhan,” ucap umat Paroki St Athanasius Karangpanas Semarang ini.
Tahun 2004 bersama 29 taruni dan 270 taruna, Dewi menjalani pendidikan di Akpol.  Meski tak mudah, empat tahun pendidikan di Akpol dijalaninya dengan sukacita. Tempaan fisik, mental dan akademis yang tak ringan, tak sedikitpun membuatnya untuk mundur dari Akpol. Akhirnya tahun 2007, Dewi boleh lega ketika dilantik menjadi seorang perwira pertama berpangkat Ipda (Inspektur Dua).
Polda Bali menjadi daerah pertama ia berkarya sebagai polisi di jajaran Ditlantas (Direktorat Lalu Lintas). Dan guna mendukung kariernya, ia menuntut ilmu di Fakultas Hukum dan berhasil meraih gelar Sarjana Hukum. Tak berhenti di situ. Melihat kecemerlangan akademisnya, institusi Polri menugaskannya belajar di PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian) di Jakarta, hingga berhasil menyandang gelar Sarjana Ilmu Kepolisian (SIK).
Kini AKP Dewi ditugaskan di almamaternya Akpol Semarang untuk mendampingi para taruni tingkat IV sebagai pengasuh. Ia bersyukur diberi kesempatan untuk mengabdi pada almamater tercinta untuk membina dan mendidik para taruni/taruni Akpol yang kelak akan memegang tongkat kepemimpinan Polri.
“Saya bersyukur dengan tugas di Akpol saya bisa berkumpul dengan suami dan anak di Semarang; itulah doa saya. Karena biasanya lulusan baru PTIK mendapat tugas di luar pulau Jawa. Rupanya Tuhan menghendaki saya berkumpul dengan keluarga,” ucap isteri dari Bastian Jopi Rian Mandagi.
Sebagai seorang polisi, Dewi menggantungkan cita-citanya setinggi mungkin. Ia pun bercita-cita sebagai Kapolri (Kepala Polisi Republik Indonesia). Apa tidak ketinggian? “Sebagai seorang polisi saya harus memberikan yang terbaik dan memiliki cita-cita tertinggi. Di institusi Polri, menjadi Kapolri lah pangkat yang tertinggi,” ujarnya seraya tersenyum  lebar.

Sikap Gereja terhadap Emansipasi
Dalam peziarahan pelayanan pastoralnya Gereja Keuskupan Agung Semarang memiliki landasan lima tahunan berupa  Arah Dasar  Keuskupan Agung Semarang  (Ardas -KAS).  Pada Ardas-KAS periode  2006 – 2010, terdapat hal yang menarik, yang terungkap dalam alenia berikut:
Untuk mendukung upaya tersebut, umat Allah Keuskupan Agung Semarang mengembangkan pola  penggembalaan yang mencerdaskan umat beriman, melibatkan perempuan dan laki-laki, memberdayakan paguyuban-paguyuban pengharapan, memajukan kerjasama dengan semua yang berkehendak baik, serta melestarikan keutuhan ciptaan” .
Secara khusus kata-kata yang menarik adalah dengan ‘melibatkan perempuan dan laki-laki’. Dan, kata ‘perempuan’ didahulukan daripada ‘laki-laki’. Kebetulan atau sengaja?
Ternyata, ada peristiwa panjang yang melatarbelakangi penempatan kata ‘perempuan’ tersebut dalam diskusi lebih lanjut. Pada  Ardas KAS 2001-2005, keberpihakan Gereja terhadap keterlibatan kaum perempuan belum ditampakkan.  Maka, pada periode berikutnya sungguh disadari perlunya bahwa usaha Gereja untuk secara eksplisit mengajak kaum perempuan untuk terlibat dalam gerak kehidupan Gereja.
Pertama, Gereja KAS mulai semakin peduli dengan keberadaan kaum perempuan.  Gereja mengajak kaum perempuan untuk sungguh-sungguh terlibat dalam gerak pastoral Gereja melalui segala kemampuan yang dimiliki demi semakin berkembangnya reksa pastoral Gereja.
Hal  ini menjadi angin segar bagi kaum perempuan, paling tidak ada pintu yang dibuka semakin lebar bagi kaum perempuan untuk terlibat dalam kehidupan Gereja. Banyak kaum perempuan yang memiliki kemampuan pribadi. Sumbangan kaum perempuan dalam bidang-bidang kehidupan secara khusus dalam kehidupan menggereja harus senantiasa diakui dan dihargai.
Kedua, pada level praksis gerak Gereja -sebut saja ketika ada pertemuan-pertemuan umat misalnya latihan koor, misa atau ibadat di lingkungan, pendalaman APP, Adven, BKSN, doa rosario, ziarah dll.- kaum perempuan banyak terlibat di dalamnya.
Keaktifan kaum perempuan tidak diragukan lagi dalam acara-acara liturgis di lingkungan-lingkungan. Fenomena aktif kaum perempuan ini bisa menjadi titik pijak bagaimana keterlibatan kaum perempuan itu sungguh-sunguh dihargai mulai dari tingkat lingkungan sampai pada wilayah Gereja semesta.
Hal yang perlu dipaparkan lebih lanjut antara lain: Bentuk keterlibatan yang macam apa yang diharapkan oleh Gereja dari kaum perempuan? Tokoh-tokoh teladan  seperti apa yang bisa menginspirasi keterlibatan kaum perempuan dalam Gereja?
Beragam jawabnya. Sebagaimana terungkap dalam lokakarya Ardas 2017, apresiasi terhadap kaum perempuan penginspirasi perlu diberikan pada mereka yang mendapat kepercayaan pada level keuskupan hingga kevikepan, serta tokoh-tokoh dari kelompok kategorial.  Dalam hal ini termasuk para katekis, tokoh yang terlibat dalam sosial kemasyarakatan, pelayanan karitatif, keadilan dan perdamaian.

Kesempatan Pelayanan di Gereja
Dr. MM. D. Hapsari, Sp. AK
Gereja  memang telah membuka kesempatan bagi perempuan untuk terlibat pelayanan.  Dokter MM D Hapsari, Sp.AK telah mengalami keterlibatan ituDokter spesialis anak ini tergolong super sibuk. Di tengah-tengah melayani masyarakat sebagai tenaga medis dan dosen,  ia juga masih memberikan waktu untuk melayani bidang rohani, sebagai Prodiakones (Prodiakon Perempuan).
Selain sebagai dokter anak RS dr Kariadi  dan RS St Elisabeth Semarang, Dokter Hapsari  juga tercatat sebagai pengajar bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. Belum lagi praktek klinik anak yang setiap sore ia buka di rumahnya.
Namun mengapa isteri dari dokter E Nindyawan Waluyo Adi, Sp.B, FINACS (direktur RS St Elisabeth) ini masih memberi waktu bagi Tuhan sebagai pekerja-Nya? “Saya tergugah untuk ambil bagian dalam pelayanan Gereja, ketika saya membaca renungan harian yang tiap hari saya baca. Firman-firman Tuhan tersebut menyadarkan saya, pentingnya melayani bidang kerohanian. Harus ada keseimbangan berkarya untuk kedagingan dan kerohanian,” tutur umat Paroki St Athanaius Agung Karangpanas Semarang ini.
Lalu mengapa menjadi prodiakon? Hapsari mengakui, bahwa dirinya memiliki passion untuk mengajar. Ia paling senang jika berbicara. Pengalaman sebagai pengajar di FH Undip mendorongnya untuk memberanikan diri menjadi prodiakon. Karena menjadi prodiakon itu salah satu tugasnya memberikan renungan dan homili.
Maka, atas usulan umat Lingkungan, ia dipercaya menjadi prodiakon. Bersama prodiakon lainnya ia dilantik menjadi Prodiakon Paroki Karangpanas pada tahun 2014. Dan tahun 2018, merupakan periode II ia sebagai prodiakon.
Dengan keterlibatannya dalam pelayanan Gereja, Hapsari kemudian mulai belajar untuk membagi waktu, antara tuntutan sebagai dokter dan sebagai prodiakon. Ia pun komitmen dalam waktu supaya bisa menjadi prodiakon yang baik.
“Jika tugas prodiakon menuntut waktu saya, seperti gladi bersih untuk Paskah, maka praktek klinik saya akan saya tutup,” tegas Hapsari.
Berbicara tentang pelayanan, Hapsari rindu untuk melayani untuk di bidang keluarga, khususnya kursus perkawinan. Karena ilmu tentang anak, tentunya bisa ia berikan kepada calon-calon orangtua. Selain itu, ia berharap bila sudah pensiun dari dinas ia ingin mengabdikan diri di Lingkungan atau Wilayah dimana ia tinggal.
Apa yang dilakukan oleh Hapsari rupanya didasarkan pada firman Tuhan yang menjadi mottonya:  “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33).
Memang, dalam hal melayani Gereja dibutuhkan kesukarelaan yang tinggi dari umat. Kalau umat tidak mau, lalu siapa yang melakukannya?  Pertanyaan itu selalu menjadi penguat bagi  Lusia Rini Sulistyowati,  satu dari dua orang perempuan yang menjadi Ketua Lingkungan di Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten. Paroki Wedi terdiri dari 34 lingkungan dan 5 wilayah. Saat ini, Rini menjadi Ketua Lingkungan Santo Thomas Kutu.
Lusia Rini Sulistyowati
Sebelum menjadi Ketua lingkungan, ibu dua anak ini pernah menjadi bendahara lingkungan selama empat periode atau sekitar 12 tahun. Dan sekarang, selain menjadi ketua lingkungan, dia juga dipercaya menjadi Seksi Sosial pengurus Ibu Paroki Wedi.
Perempuan kelahiran Klaten, 16 Desember 1977 ini menyatakan, motivasi dia mau menjadi Ketua Lingkungan dan pengurus lainnya itu amat sederhana.  “Kalau semua umat tidak mau menjadi pengurus, semua umat enda (mengelak), lalu siapa yang akan menjadi pengurus? Siapa yang akan menggembalakan umat? Maka, kalau bukan kita, lalu siapa?” tanya istri Yusup Harsanto ini.
Ibu yang memiliki usaha warung kelontong ini bersyukur karena keluarganya, terutama suaminya sangat mendukungnya dalam menjalani tugas pelayanan sebagai ketua lingkungan. Sebuah tugas pelayanan yang tidak mudah dan membutuhkan banyak “pengorbanan”.
Warga Dukuh Kutu, Desa Sumyang, Kecamatan Jogonalan ini mengatakan, hampir semua bidang pelayanan di Gereja bisa digeluti perempuan. “Saya berharap, ke depan, akan semakin banyak perempuan yang terlibat dalam pelayanan di Gereja,” harap pengelola Tabungan Cinta Kasih Paroki Wedi ini.

Pelayanan Katekis   
Berpartisipasi dalam pelayanan di Gereja juga dilakukan oleh  Agustina Sumarsih.  Guru Agama Katolik SD itu  terlibat sebagai katekis di Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi  Kabupaten Klaten sejak tahun 1984.
Agustina Sumarsih
Berbagai tugas pelayanan di bidang katekis pernah dia jalani. Perempuan kelahiran Klaten, 18 Agustus 1960 ini pernah mengajar pelajaran agama untuk calon baptis dewasa, calon penerima Sakramen Penguatan, dan calon penerima Komuni pertama.
Bahkan, Guru Agama Katolik di SD Negeri 1 Ceporan, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten ini pernah menjadi Ketua Bidang (Kabid) Pewartaan dan Evangelisasi Paroki Wedi. Sampai saat ini, Sumarsih masih dipercaya untuk mendampingi para calon penerima Komuni pertama di Paroki Wedi.
Lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Ketapang, Kalimantan Barat ini menyatakan, motivasi yang mendorong dia untuk aktif sebagai katekis itu karena panggilan Tuhan.
Saya ingin mempersembahkan hidup dan penghidupan saya kepada sesama dan Gereja. Caranya, dengan memberikan waktu, tenaga, pikiran, dana, dan sebagainya untuk sesama yang membutuhkan sesuai dengan kemampuan yang saya miliki. Bahkan, hampir setengah dari waktu saya di rumah, saya gunakan untuk mengajar agama,”  kata ibu dua anak ini.
Umat Lingkungan Santo Yusup Kaporan Paroki Wedi itu menyampaikan, selama ini, Gereja memberi kesempatan kepada perempuan untuk terlibat dalam pelayanan. Kesempatan untuk terlibat dalam pelayanan itu dibuka sangat lebar oleh Gereja. Hanya sayangnya, sebagian dari perempuan Katolik  belum menaggapinhya.
Keterlibatan dalam pelayanan Gereja sebagai katekis juga dilakukan oleh Lusia Ekaningsih dari Paroki St Maria Fatima Magelang. Ia terlibat sebagai katekis sejak tahun 2005 ketika masih berada di paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas Semarang.
Lusia Ekaningsih
Kini saya sudah tinggal di kota Magelang sebagai umat paroki St Maria Fatima Magelang. Di paroki juga saya tetap melibatkan diri sebagai katekis, selain bekerja sebagai guru agama Katolik di SMK Negeri 1 Magelang,” kata lulusan Universitas Sanata Dharma jurusan Ilmu Pendidikan Agama Katolik tahun 2004 ini. 
Panggilan sebagai katekis sudah ia rasakan sejak saya SMA. Benih ini terus tumbuh ketika saya kuliah, mengambil jurusan kateketik. Banyak hal yang memotivasinya menjadi seorang guru agama katolik. Yaitu ingin terlibat melayani Tuhan dan sesama lewat peran sebagai katekis.
Saya ingin membalas cinta Tuhan yang begitu besar pada saya melalui karya ini. Mempersiapkan para calon penerima sakramen inisiasi itu  hal yang menyenangkan. Ada tantangan tersendiri, yaitu bagaimana saya meyakinkan pada mereka yang belum mengenal Kristus, siapa Kristus itu. Di situ saya sendiri harus lebih mengenal dan mencintai Kristus terlebih dulu,” tuturnya.
Menurutnya, sangat besar peran Gereja mendorong perempuan terlibat. Banyak katekis wanita yang ikut mengajar, banyak prodiakenes, lektris . artinya Gereja disini memberi peranan bagi kaum perempuan untuk turut terlibat dalam karya pelayanan gereja.
Bidang pelayanan yang bisa digeluti perempuan yaitu bidang kerygma (pengajaran), liturgia (pemimpin ibadat atau pemandu lingkungan), pendamping PIA/PIR. “Perempuan lebih keibuan dalam melayani. Lebih telaten dan sabar,” tutur Lusia.
Fransiska Oktivia Astuti terlibat aktif dalam kegiatan Gereja sejak kuliah di tahun 2008. “ Saya mendampingi anak calon komuni pertama di Stasi Pojok, kadang-kadang juga mendampingi calon baptisan. Setelah itu, saya mulai aktif juga di Paroki St Petrus dan Paulus Klepu,” ujarnya.
Fransiska Oktivia Astuti
Perempuan 27 tahun ini juga aktif dalam beberapa kegiatan di luar paroki. Ia terlibat dalam Komisi Karya Misioner, khususnya mendampingi PIA/PIR. Selain itu, ia juga mewakili guru-guru agama Katolik Sleman di Komisi Pendidikan Kevikepan DIY dan sering mengikuti pertemuan rutin katekis yang diadakan oleh Komisi Kateketik. 
Bagi Via, panggilan Fransiska Oktavia, menjadi katekis merupakan sesuatu yang unik. Ketika SMA tidak ada keinginan untuk menjadi guru agama. Ia mengaku, pada awalnya ada tuntutan dari dosen untuk aktif di paroki. Tetapi berawal dari tuntutan tersebut lama-lama ia menemukan sebuah panggilan untuk terus melayani Tuhan dan sesama.
Saat ini, Via menjadi guru agama di empat sekolah menengah negeri di daerah Sleman. Keinginannya menjadi katekis termotivasi oleh anak-anak. Ia merasa bahwa jumlah katekis hanya sedikit sedangkan anak-anak yang harus didampingi banyak. Ketika dekat dengan anak-anak,ia mengaku merasa bahagia.
“Ketika saya merasa lelah untuk melayani di gereja kemudian melihat anak-anak, rasanya trenyuh dan ingin kembali lagi. Rasanya ada suatu kerinduan pada anak-anak untuk melayani,” ucapnya.
Bagi Via, semua bidang pelayanan di Gereja bisa digeluti oleh perempuan. Tergantung masing-masing perempuan dalam menanggapinya. Yang paling penting  adalah memiliki kemauan  untuk terlibat dalam pelayanan, sehingga Gereja sungguh-sungguh hidup dan makna Gereja sebagai paguyuban dapat terwujud. “Gereja bukan hanya sebagai bangunan tetapi sebagai umat Allah, dari kita, untuk kita, dan oleh kita,” ujarnya.

Jaringan Kodok
Bagi anggota kelompok-kelompok doa yang tergabung dalam Jaringan Persaudaraan Antar Kelompok Doa (Jaringan Kodok / Jarkod) Keuskupan Agung Semarang, nama Margaretha Sri Setiawati Purwita bukanlah hal yang asing. Dialah wakil ketua Jarkod KAS untuk dua periode ini. Tetapi sesungguhnya Rita, panggilannya,  tak pernah mengira dirinya kini bisa turut melayani umat KAS lebih luas.
Margaretha Sri
Setiawati Purwita
“Keluarga besar saya beragama non Katolik. Saya baru dibaptis setelah besar. Kehidupan iman saya datar-datar saja, begitu pula setelah menikah, kami menjadi umat biasa yang tidak aktif,” kenang Rita.
Jalanmu bukanlah jalan-Ku. Begitulah firman Tuhan dalam kitab Yesaya (55:19). Perjalanan Rita pun terpuruk setelah sang suami dipanggil Tuhan, tepat 18 tahun usia berkeluarga. Ekonomi keluarga tergoncang. Apalagi dokter menyarankan ia minum beberapa obat karena kesehatannya kurang bagus.
Ia tak tahu harus berbuat apa. Namun, entah mengapa ia pergi ke Pertapaan Rawaseneng. Oleh rama yang membimbingnya ia diajak untuk menyerahkan semuanya kepada Tuhan. “Percayalah kepada Yesus, karena Ia akan menuntun umat-Nya ke tempat yang indah. Percayalah Ibu akan diselamatkan,” ucap Rita menirukan sang imam.
Tak lama berselang, teman di paroki mengajaknya untuk terlibat sebagai pengurus APP Paroki. Inilah awal ia terlibat melayani Gereja. Dari sinilah Rita semakin terlibat di Gereja dan semakin mencintai firman Tuhan. Ia juga bergabung dengan paguyuban doa St Thomas. Dari sini ia semakin luas melayani.
“Perkenalan saya dengan Jarkod dimulai ketika ia diminta untuk menjadi membantu sebagai sekretaris Jarkod. Dan keterlibatan di Jarkod semakin mendalam ketika Rama Sugiana ketua Komisi Liturgi KAS supaya saya terlibat semakin mendalam di Jarkod, sampai akhirnya saya diminta untuk menjadi wakil ketua Jarkod,” tutur umat Paroki St Paulus Sendangguwo Semarang ini.
Seiring dengan pelayanannya, Tuhan memberikan berkat pekerjaan. Lambat laun situasi ekonominya kian pulih, bahkan berkembang. Rita pun kian bersemangat dalam melayani Tuhan.

Aktivis Organisasi Perempuan
MM Nunung Purwanti
Yang diangankan oleh RA Kartini semasa hidupnya adalah kesetaraan perempuan dalam memperoleh pendidikan dan berorganisasi untuk mengekspresikan diri. Maka tidak berlebihan jika salah satu wujud emansipasi perempuan tercermin pada sosok-sosok aktivis perempuan, yaitu mereka yang menggerakkan roda organisasi. Ketua Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Jawa Tengah MM Nunung Purwanti adalah salah satunya.
Dalam pandangannya, peran perempuan dalam Gereja di Keuskupan Agung Semarang (KAS) boleh dikata belumlah maksimal. Peran perempuan masih di seputar altar, domestis sekali. Misalnya, mengurusi 'dahar romo', menata bunga altar, ataupun kegiatan-kegiatan di paguyuban ibu-ibu di paroki yang terbentuk dalam Gereja-gereja. Meskipun beberapa Gereja sudah tampak memberi ruang yang luas untuk perempuan agar bisa ambil peran yang lebih, tidak domestis.
Namun sepertinya perempuan sendiri juga telah terkungkung pandangan yang sangat tradisional dan patriakh yang membuatnya enggan melangkah lebih jauh. Katekis perempuan misalnya, biasanya karena dilatarbelakangi dia sebagai guru agama di sekolah-sekolah. Di Dewan Paroki pun, biasanya bukan posisi ketua komisi misalnya, apalagi mengambil kebijakan di pengurus inti,” tuturnya.
Persoalan yang lain, tuturnyam, gereja-gereja tidak sama kondisi dan kebijakannya terkait dengan perempuan. Artinya peran perempuan dalam Gereja seringkali masih ditentukan oleh sudut pandang laki-laki.
Contoh sederhana, ternyata banyak Gereja/Paroki yang belum bisa menerima kehadiran Wanita Katolik RI. Sekadar nunut ruang untuk pertemuan saja sering ditolak. Padahal ini tugas Gereja untuk ikut bertanggung jawab akan keberadaan kelompok, ormas, paguyuban dan yang lain yang berlabel katolik. Peran-peran di luar mindstream, belum bisa diterima ternyata. Tapi ini perjuangan,” kata Nunung  Purwanti.
Apa kekhasan peran perempuan dalam Gereja? Dalam katekismus, menurut dia,  kita diajarkan  bahwa laki-laki dan perempuan sama martabatnya dalam ciptaan, sesuai citra Allah. Mempunyai kedudukan yg sama dalam keselamatan.
Artinya dalam konteks pelayanan, punya peran yang sama juga. Bukan berdasar jenis kelamin, tapi kapasitas dan pilihan yang menjadi pertimbangan. Sementara peran khas perempuan dalam gereja selama ini masih sangat tradisional dan domestis. Peran khas perempuan masih merujuk pada peran by design laki-laki.  
Sesunggunya, perempuan bisa memberi sumbangsih pada gereja sama besar peluangnya dengan laki-laki. Paus Fransiskus menekankan pentingnya perempuan dalam gereja. Perempuan sendiri perlu diberi peluang dan ruang agar mampu mengembangkan kapasitasnya. Hal yang juga disadari oleh Paus Yohanes II, bahwa perempuan menuntut peran yang sama seperti babtisan yang lain dan sebagai murid Yesus, bertanggung jawab sebagai nabi,  imam dan raja.
Saya menyadari bahwa tradisi teologis katolik masih tradisional (Yudaisme), memberikan gambaran Allah yang patriakh. Yesus sendiri merombak konsep tentang Allah. Allah yang tidak diskriminatif, Allah yang berwajah 'Bapa dan Ibu'. Harapan kedepan apa yang diajarkan Yesus dapat dimaknai gereja dengan pas. Memberi ruang dan dorongan pada perempuan untuk melaksanakan tugas perutusan yang sama dengan babtisan yang lain,” tutur Ketua WKRI Jateng itu.
Veronica Silvania Susanti
Pendapat lain  dikemukakan oleh Veronica Silvania Susanti, Ketua Bidang Kesra WKRI Jateng, dan anggota Dewan Paroki Keluarga Kudus Paroki Atmodirono Semarang.
Menurutnya,  perlu ada sebuah refleksi atas citra perempuan dalam Gereja Katolik. Kami kaum perempuan menyadari sistem patrilineal yang masih berlaku dan sulit untuk mendobrak tradisi itu. Tidak hanya di lingkup Gereja,  sistem itu juga mempengaruhi tata kehidupan masyarakat di negara ini.”
Tapi kondisinya makin berubah secara evolutif. Di lingkup Gereja, khususnya di lingkungan Gereja KAS, keterlibatan dalam pelayanan Gereja terbuka luas. Banyak perempuan menjadi Prodiakon, Ketua Bidang, Ketua Wilayah,  maupun Ketua Lingkungan. Tidak ada dominasi tertentu, seperti  misalnya  tugas  ini harus dilaksanakan laki-laki, tugas itu oleh perempuan.
“Jadi sepenuhnya tergantung kemauan kita para perempuan untuk terlibat dalam pelayanan Gereja,” tuturnya.
Di Gereja, khususnya di Gereja-Gereja Keuskupan Agung Semarang, wajah Kartini tampak juga. Sebagian masih samar-samar, sebagian lainnya tampak sangat jelas. Selamat mensyukuri emansipasi.  ***marcelinus tanto pr, warih, sukamta, anton, elwin, anto

No comments