Header Ads

Breaking News

Terlambat Bicara



Elizabeth Wahyu Margareth Indira, M.Pd.,Psi.
Psikolog dan Praktisi Pendidikan Anak
Psikolog Pelangi Kasih-Yayasan Pangudi Luhur

Pertanyaan:
Ibu Indira terkasih, sebagai seorang ibu muda yang baru memiliki satu anak, saya merasa kuatir dengan perkembangan wicara anak saya, Gisela. Saat ini Gisela akan berusia 2 tahun besok April 2018. Menurut saya, ia anak yang aktif. Namun saya gelisah karena ia jarang berbicara, kalaupun berbicara hanya sepotong-sepotong. Yang saya tanyakan, lumrahkah anak seusia itu jarang atau sedikit bicara? Kalau hal itu tidak lumrah, lalu bagaimana sebaiknya saya bersikap? Terima kasih. Berkah Dalem. 

Agatha Kinasih - Yogyakarta



Jawaban:
Bu Agatha, pada umumnya perkembangan bicara anak tidak sama cepat namun biasanya hampir sama. Kemampuan bicara merupakan hal penting agar anak dapat berkomunikasi dengan orang lain.
Kemampuan berbicara terdiri dari dua aspek: kemampuan reseptif dan kemampuan ekspresif. Kemampuan reseptif merupakan kemampuan untuk memproses dan memahami pesan dari bahasa. Misalnya, bila anak Anda tahu saat diminta untuk menutup pintu. Sedangkan kemampuan ekspresif yaitu kemampuan untuk menyampaikan bahasa kepada orang lain, misalnya saat anak haus ia akan berkata "mau minum".
Secara umum kemampuan anak seusia Gisela (2 tahun) telah menguasai minimal 50 perbendaharaan kata, menggabungkan 2 kata sekaligus, dapat menyebut anggota tubuhnya dan memahami serta menjalankan perintah dari kalimat sederhana seperti: "tolong kembalikan boneka ini ke rak."
Bu Agata perlu mewaspadai bila di usia 2 tahun Gisela belum memiliki kemampuan bicara. Ada kemungkinan perbendaharaan katanya terbatas, kurang memahami bahasa reseptif dan ekspresif, atau mengalami gangguan perkembangan bicara dan bahasa.
Sebaiknya Gisela dikonsultasikan kepada ahli terapi wicara, psikolog atau dokter tumbuh kembang anak. Tentu dengan adanya asesmen dari ahli secara langsung akan dapat diketahui dengan pasti apakah Gisela terlambat bicara.
Saran saya, pertama, rajilah berbicara dan berkomunikasi dengan anak. Usahakan ada kontak mata saat berinteraksi dengan anak. Stimulasi dengan menceritakan kejadian yang dialami, menyebutkan berbagai benda yang ada di sekitarnya dan menyebutkan anggota tubuh.
Kedua, rajinlah membacakan cerita untuk anak. Gunakan buku cerita anak dengan banyak gambar berwarna-warni agar anak tertarik. Lagu-lagu juga dapat membantu anak untuk meniru dan memperbanyak kosakata. Kenalkan pada satu bahasa dulu yaitu bahasa Indonesia.
Ketiga, usahakan anak berbicara sebelum meminta sesuatu. Misalnya saat Gisela minta minum dengan menarik-narik tangan kita sambil menunjuk botol susu maka Ibu dapat menanyakan, "mau apa? susu?" lalu minta anak untuk mengucapkan kata ‘susu’. Keluarga hendaknya dapat semakin sering berinteraksi dengan menggunakan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh Gisela. Bila Gisela mulai meniru meskipun belum tepat misal ‘susu’ ia sebut ‘cucu’ maka orang dewasa jangan malah meniru mengatakan cucu karena dianggap lucu. 
Segeralah berkonsultasi dengan ahlinya. Semakin dini orangtua menyadari dan dapat diberikan intervensi dini misal dengan terapi maka diprediksi kemajuan perkembangan anak akan lebih baik. Semoga jawaban saya dapat memberi pencerahan. Berkah Dalem.#

No comments