Header Ads

Breaking News

Menyikapi Hamil Di Luar Nikah

Rama Yeremias MSF yth. Saya sempat ‘pusing’ dengan peristiwa yang dialami saudara saya beberapa tahun lalu. Sebut saja keluarga A. Anak gadisnya yang masih kuliah kedapatan hamil di luar nikah dengan teman kuliahnya. Untuk menutupi aib ini, sang Bapak meminta teman lelaki anaknya untuk menikahi anaknya sebelum perutnya makin membesar. Awalnya si anak lelaki tidak mau. Namun karena ‘paksaan’, si anak lelaki tsb bersedia menikah di Gereja. Namun setelah setahun pernikahan tsb atau setelah anaknya lahir, si lelaki itu meninggalkan isterinya begitu saja. 

Pertanyaan saya: bagaimana menyikapi jika ada anak hamil di luar nikah? Haruskah dengan pernikahan (jika terpaksa)? Ataukah membiarkan si bayi lahir tanpa bapak? Mohon pencerahan Rama. Terima kasih. 

Agusto – Yogyakarta


Agusto yang lagi ‘pusing’, saya juga ikut prihatin. Dalam lingkup pergaulan modern yang cenderung semakin bebas, peristiwa atau kejadian hamil sebelum menikah sangat mungkin terjadi. Dalam kondisi tersebut, baik si gadis juga calon pasangannya serta seluruh keluarga dan pastor paroki atau Gereja ikut terlibat dan kena dampaknya untuk memikirkan jalan keluar terbaik.
Menikah dan berkeluarga adalah sebuah pilihan hidup yang mulia. Oleh karena itu membutuhkan persiapan yang matang, bertanggung jawab dan membahagiakan. Pertama, muda-mudi membutuhkan waktu cukup untuk saling mengenal sewaktu berpacaran. Namun pacaran yang sehat butuh batasan-batasan yang ‘clear’ agar tidak menyimpang dari tujuan. Meski demikian selalu ada yang melanggar batasan tersebut dengan akibat kehamilan di luar nikah.
Kedua, perlu diakui bahwa anak yang sedang dikandung adalah makhluk yang tidak berdosa, sedangkan kedua insan yang melakukan hubungan seks di luar nikah itulah yang berdosa. Maka baiklah untuk tidak menambah dosa dengan memikirkan atau merencanakan apalagi melakukan tindakan menghilangkan anak tersebut dari dalam kandungan dengan cara-cara abortif.
Ketiga, dalam kondisi dimana si gadis sudah hamil, apakah bijaksana dan tepat untuk mengantar mereka ke jenjang pernikahan bahkan dengan memaksa menikah? Adakah ini solusi terbaik? Kiranya perlu mempertimbangkan dengan kepala dingin dan memperhatikan dampak jauh ke depan.
Para orangtua cenderung memikirkan hal-hal praktis jangka pendek, untuk segera menutupi aib keluarga secepat dengan menikahkan anaknya. Padahal anaknya masih sangat muda, belum cukup dewasa untuk melaksanakan peran sebagai suami-istri sekaligus sebagai ayah dan ibu. Ditambah lagi, perkawinan yang diawali dan didasari dengan keterpaksaan berpotensi untuk menimbulkan pemasalahan dalam keluarga.
Secara singkat dapat saya simpulkan bahwa apabila terjadi kehamilan di luar nikah, apalagi ketika masih muda, sebaiknya tidak segera dinikahkan. Lebih tidak baik lagi kalau terpaksa menikah karena akan menimbulkan ketidakharmonisan dalam relasi dan komunikasi keluarga. Terakhir, bila sang bayi telah lahir, maka bisa diasuh dan dirawat sendiri oleh ibunya, atau oleh opa omanya atau bisa diadopsi oleh pasutri atau pihak lain yang menghendaki, tentunya dengan persetujuan dari ibu kandungnya. Demikian jawaban saya dan Berkah Dalem! # 

No comments