Header Ads

Breaking News

Menciptakan ‘Mukjizat’ Lewat Gerakan APP

“Itu semua berawal dari dana APP (Aksi Puasa Pembangunan) Tahun 2014,” tutur Heribertus Amanto, umat Katolik dari Lingkungan Santo Agustinus Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten. Ia menunjuk puluhan babi ginuk-ginuk  yang diternaknya. Empat tahun lalu, bapak dua anak ini menerima dana APP dari Kevikepan Surakarta sebesar Rp 1,5 juta. Dana APP itu membuat “mukjizat” yang penting bagi hidup keluarganya.

Peserta Carier Center Boga mendapat pengarahan dari Ketua PSE Kedu sebelum penilaian hasil kursus boga. (doc: Teresiana)
 Heribertus Amanto  menerawang ke masa lalu dengan senyuman. Awalnya, dia bercerita, bantuan dana APP Rp 1,5 juta itu digunakan untuk beternak cacing, yang nilai jualnya memang tinggi empat tahun lalu. Di awal, usaha ternak cacingnya itu berjalan baik. Tetapi kemudian, harga cacing anjlok. Akibatnya, dia harus memutar otak untuk ‘menyelamatkan’ usaha dan dana APP itu.

Akhirnya, dana APP yang masih ada, sekitar Rp 1,6 juta, dialihkan untuk membeli  empat ekor anak babi (genjik), yang berusia  sekitar 40 hari. Saat ini, dari 4 anakan babi itu sudah menjadi 41 ekor, terdiri dari 6 indukan, 12 dara (paruh baya), dan 23 anakan. Bahkan Amanto sudah pernah menjual 7 ekor babi dewasa.

“Usaha ternak babi sudah saya lakoni 2,5 tahun. Puji Tuhan, usaha ini terus berkembang,” tutur Amanto, warga Dukuh Pundung, Desa Towangsan, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten.

Ia merasakan mendapatkan mukjizat ketika menjalankan usaha ini. Ada campur tangan Tuhan. Dalam perjalanan waktu, dia mendapat kenalan orang yang mempunyai usaha membuat stik (makanan ringan) dari sukun. Nah, limbah sukun itu lalu dikumpulkan untuk pakan babi setiap hari.

“Saya sangat terbantu dengan limbah sukun ini. Kalau dihitung, bisa mengurangi biaya pakan sampai 50%. Selama ini, pakan babi itu berupa katul, konsentrat, gembus, dan limbah sukun. Limbah sukun itu perlu dimasak lebih dulu,” katanya.

Prodiakon Paroki Wedi ini mengaku, dana APP yang diterimanya itu sangat membantu mengembangkan usaha ternak babinya. Bahkan sekarang, dia dan keluarganya menggantungkan hidupnya dari usaha ternak babi ini.

Lelaki berusia 68 tahun ini berharap, dana APP dikumpulkan dari umat saat Prapaskah dapat tersalurkan kepada yang membutuhkan. “Jangan sampai ngendon di kas.”


Ch Wiji Lestari bersama keluarga.
Ch Wiji Lestari Trisnawati punya cerita lain lagi. Ibu rumah tangga 29 tahun ini pernah memiliki usaha sayur keliling. Namun sejak terkena vertigo, usahanya terhenti. Pada tahun 2017, istri dari Yunarto, pegawai sekretariat Paroki St Petrus dan  Paulus Klepu ini ditawari oleh Rama Jonathan Bilie Cahyo Adi Pr -Ketua Komisi PSE Kevikepan DIY- untuk mengajukan bantuan dana APP sebagai modal  memulai usaha jualan sayur keliling lagi.

“Mengajukan bulan September 2017, langsung di-acc oleh Rama Bili, terus dananya turun awal November 2017,” ujar Tari ketika ditemui di rumahnya di desa Banaran, Sendangmulyo, MInggir, Sleman, pada 16/2 lalu.

Menurutnya, dana APP tersebut sangat membantu menghidupkan usahanya kembali yang sempat macet. Ia akhirnya bisa menjual kembali sayur-sayuran, bahan sembako, bumbu masak dan makanan kecil yang dijajakan secara berkeliling.

“Puji Tuhan, tiga bulan sudah bisa balik modal. Sekarang keuntungan yang didapat terus untuk mengembangkan modal usaha,” tutur Tari.

Hendri (36) sedang meladeni pembeli gorengan di angkringannya ketika ditemui sore hari (14/2). Sekitar 1-2 tahun yang lalu ia menerima bantuan uang sebesar Rp 200.000 dari dana APP untuk membantu mengembangkan usahanya. Berawal dari seorang umat yang memberitahunya bahwa Gereja membuka peluang bagi siapa saja untuk mengajukan permohonan dana untuk mengembangkan usaha, Hendri pun mengajukan permohonan dana tersebut.

“Bantuan dua ratus ribu itu untuk modal usaha,” ujar pria yang tinggal di dusun Setran, Sumberarum, Moyudan, Sleman ini. Ia mengaku gerobak angkringan yang digunakan tersebut masih sewa.

Pria ini berharap, bisa memiliki gerobak angkringan sendiri, serta tempat produksi bagi usaha istrinya yang membuat bolu kukus gula jawa yang dipasarkan di warung-warung. “Harapannya masih ada pendampingan berkelanjutan untuk UKM-UKM yang sudah diberi dana,” ujar Hendri menutup pembicaraan sore itu.

Selayang Pandang Gerakan APP
Aksi Puasa merupakan gerakan tobat bersama umat Katolik sedunia selama masa Prapaskah dalam rangka pembaruan diri sebagai orang kristiani. Aksi Puasa Pembangunan bersumber pada pemurnian makna dan jiwa puasa yang sesuai dengan kehendak Allah:

“Berpuasa yang Kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya, supaya engkau memecah-mecahkan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tidak punya rumah …” (Yes 58).

Program APP dikembangkan sejak tahun 1950-an. APP menjadi kekhasan Gereja di Indonesia. Sekitar tahun 1969, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang (Vikjen KAS), Rama C Carry SJ menggulirkan gagasan Aksi Puasa di KAS.

Gagasan ini sebenarnya juga sudah diusulkan oleh Kardinal Justinus Darmojuwono (1914-1994), yang kala itu menjabat sebagai Uskup Agung Semarang sekaligus Ketua Panitia Waligereja Indonesia (PWI) Sosial - Majelis Waligereja Indonesia (MAWI). PWI Sosial MAWI tersebut kini bernama Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Konferensi Waligereja Indonesia (Komisi PSE KWI).

Tahun 1970, gagasan yang dicetuskan Rama C Carry SJ itu  ditangkap oleh Rama Gregorius Utomo Pr selaku Delegatus Sosial (Delsos) KAS kala itu. Hal tersebut menjadi perhatian para pelayan pastoral bidang sosial ekonomi, yang pada saat itu sedang hangat membicarakan tentang Ensiklik Populorum Progressio (PP).

Sebenarnya, gagasan Aksi Puasa sudah sempat muncul dua dekake sebelumnya, sekitar tahun 1950. Pada waktu itu, Sekretaris PWI Sosial MAWI, Rama Johanes Baptista Dijkstra SJ (1911-2003) telah menanggapi Ajaran Sosial Gereja dalam karya kerasulannya.

Rama Dijkstra dengan pelbagai upaya telah berusaha memberi warna tersendiri terhadap gerakan pemberdayaan ekonomi masyarakat Indonesia. Misionaris Jesuit kelahiran Amsterdam, Belanda ini telah berkiprah dengan ikut membidani lahirnya kelompok Pilot Project Aksi Puasa Pembangunan (APP). Aksi kelompok umat Katolik ini sangat sederhana. Mereka dengan sukarela menyisihkan sebagian uangnya untuk solidaritas bagi sesama yang membutuhkan pada Masa Prapaskah.

Wujud nyata kegiatan Masa Prapaskah tersebut akhirnya membuahkan Aksi Puasa, yang dimulai pertama kali pada Masa Prapaskah tahun 1970. Aksi Puasa ini ditetap menjadi kegiatan selama Masa Prapaskah dalam Sidang Pleno PWI Sosial MAWI di Purworejo, Jawa Tengah, pada 1970.

Seiring waktu bergulir, dalam Sidang Pleno PWI Sosial MAWI di Pacet, Jawa Timur pada September 1972, istilah Aksi Puasa dibakukan menjadi Aksi Puasa Pembangunan (APP), seperti yang kita kenal sekarang.

Pembangunan Pribadi
Menurut Ketua Komisi PSE Keuskupan Agung Semarang, Rama Yohanes Krismanto Pr,  gerakan APP itu adalah gerakan pembangunan pribadi dalam olah keutamaan hidup kristiani terutama mewujudkan solidaritas kristiani kepada mereka yang menderita. Bagaimana masing-masing pribadi tumbuh dari hari ke hari supaya perayaan paskah sungguh bisa dirayakan dalam pertumbuhan pribadi yang disyukuri oleh masing-masing.



Rama Yohanes Krismanto Pr
Bagi saya, ini sangat subjektif sekali. Seperti hidup dinamis, di mana pasti ada naik turun, menguat-melemah. Tetapi yang penting adalah bagaimana kesadaran pribadi  itu tumbuh dengan kedewasaan dan kebijaksanaannya, dengan kemerdekaannya,” tutur Rama Kris.

Mungkin dalam dinamika pertumbuhan pribadi itu, ada yang bisa berjalan dua langkah bahkan sepuluh langkah tetapi ada juga yang baru satu langkah. Itu hal yang wajar, karena memang APP sangat subjektif.

Pemahaman tentang APP pun berbeda-beda, ada yang bisa memahami cita-cita APP, tetapi ada yang sekedar mengisi kotak APP. Kadangkala, banyak yang mengisi persis sebelum kotak itu dikumpulkan. Banyak umat yang belum mengerti tentang dana APP yang dikelola oleh siapa, diperuntukkan untuk apa saja, dan siapa yang berhak.

Begitu juga soal kepedulian untuk gerakan ini, sangat beragam sekali. Tidak bisa disamaratakan. “Saya merasa masih banyak umat yang masih perlu untuk disadarkan tentang gerakan APP. Maka pada tahun ini, kami selaku panitia APP sengaja memberikan kotak APP kepada masing-masing keluarga secara gratis dan juga leaflet yang berisi tentang informasi-informasi terkait gerakan,” lanjut Rama Krismanto.

Menurut Rama Kris, dari tingkat perolehan dana APP bisa diukur, bagaimana  umat memanfaatkan masa Prapaskah selama 40 hari itu, dengan olah kesalehan hidup, olah keutamaan hidup, olah rohani, juga olah solidaritas lewat gerakan APP. Perolehan dana berkorelasi positif dengan pencapaian kesadaran lewat proses olah pribadi saat masa Prapaskah.

Dalam masa Prapaskah ini, ada dua kegiatan sosialisasi. Yang pertama, sosialisasi kotak APP dan leaflet itu terkait dengan gerakan dan cita-citanya. Kemudian, yang kedua, sosialisasi bahan refleksi  APP untuk  pertemuan mingguan, mulai dengan membaca gagasan dasarnya supaya mengerti cita-citanya.

Satu hal yang ingin saya sampaikan pada paroki-paroki saat pertemuan-pertemuan, yaitu semangat kepising. Artinya saat orang kebelet, orang akan mau tidak mau harus bergerak, harus berani meninggalkan suasana nyaman, tidak bisa hanya duduk saja, tapi harus bergerak. Ada banyak hal yang harus digarap, banyak hal yang harus dibuka. Mengulurkan tangan itu tidak hanya sekedar gagasan tetapi ada perwujudan hidup. Gereja itu kita, saya, anda, kita semua,”  kata Rama Krismanto.

Tentang pemanfaatan dana APP di tingkat paroki, Rama Kris menjelaskan, sebesar 32,73 % untuk membantu pemberdayaan ekonomi yang membantu usaha-usaha kecil. Lalu, 15,07% untuk membantu orang sakit, untuk kegiatan motivasi sebesar  5,02%. Untuk  karitatif, saat terjadi musibah bencana alam, sebanyak 8,74%. Ada pula motivasi kaum muda kategorial, yang paling sedikit adalah motivasi kaum muda teritorial atau parokial karena mereka bisa mengajukan ke keuskupan lewat ekonomat, memanfaatkan dana KPG kaderisasi.

Kami menekankan kepada panitia APP di kevikepan-kevikepan, dana APP harus siap habis dan tidak boleh didepositokan. Konsekuensinya, perlu perencanaan matang. Selain itu, pengelolaan yang transparan akan memudahkan pertanggungjawaban,” tuturnya.

Membangun Solidaritas
Gerakan APP selalu berkaitan dengan membangun perhatian, membangun solidaritas kepada semua pihak yang berada dalam kondisi, situasi sangat membutuhkan, terlebih jika mereka benar-benar dalam ketimpangan hidup sosial.

Rama Jonathan Bilie Pr
Selain itu gerakan APP juga mendukung komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) untuk meningkatkan taraf ekonomi, taraf kehidupan, taraf kesejahteraan orang-orang yang mau membangun hidup menjadi lebih baik, ujar Rama Jonathan Bilie Cahyo Adi Pr, Ketua Komisi PSE Kevikepan DIY.

Ada aneka macam gerakan yang dilakukan Komisi PSE karena APP merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Komisi PSE. Gerakan-gerakan tersebut berupa aneka macam seminar, pengembangan motivasi, pengembangan usaha yang sungguh-sungguh menjadi wahana bagi banyak orang untuk membangkitkan semangat hidupnya, semangat usahanya, untuk membangun hidup yang lebih baik. Selain itu, ada juga gerakan untuk mendukung orang-orang, siswa, yang dalam batas-batas tertentu membutuhkan dukungan dana untuk menyelesaikan tugas pendidikannya.

“Ada permohonan untuk mendukung suatu keluarga yang ingin mengusahakan angkringan, maka kami menyediakan gerobaknya dan aneka macam kebutuhan pelengkapnya. Selain itu ada juga yang ingin meningkatkan usaha menjahit maka kami mengusahakan mesin jahitnya. Selain itu juga kami mengadakan semacam sarasehan tentang UMKM dimana kemudian orang-orang yang memiliki usaha kecil, sederhana kita bantu,” terang Rama Bilie.

Rama Bilie mengatakan bahwa ada paroki-paroki yang begitu antusias tetapi ada juga beberapa gerakan APP yang mungkin tidak diketahui oleh paroki sehingga kadang-kadang keterlibatan dalam bidang tersebut tidak begitu besar.

“Kurang lebih dari 34 paroki di Kevikepan DIY ada sekitar 26-28 paroki yang aktif meminta dana untuk meningkatkan taraf hidup umat atau masyarakat umum,” ucap Rama Bilie.

Menurut Rama Bilie, pengelolaan dana APP di paroki menjadi tanggung jawab masing-masing paroki dengan tim kerja PSE-APP-nya.

“Hingga tahun 2017 kemarin kami belum mengadakan pantauan terkait gerakan itu, apakah berjalan, atau dana itu tersimpan, atau hanya ditabung. Tetapi tanggal 18 Februari ini dimulai analisa pergerakan dana APP mulai dari rayon Gunungkidul,” terang Rama Bilie. Dalam pantauan tersebut, panitia APP-PSE akan mengajak tim PSE paroki untuk mengetahui bagaimana mengelola dana APP di tingkat kevikepan dan juga di tingkat paroki.

Rama Bilie menjelaskan bahwa pemanfaatan dana APP di Kevikepan DIY paling besar digunakan untuk kegiatan karitatif seperti kesehatan, pendidikan, dan pembenahan rumah. Namun, ada juga yang dimanfaatkan untuk pengembangan dan pemberdayaan usaha mandiri umat.

“Prioritas saat ini masih di tingkat karitatif. Lebih lagi kebijakan yang diambil dari para moderator PSE kevikepan dan juga di tingkat keuskupan, memutuskan bahwa untuk pemberdayaan dan juga untuk rehap atau benah rumah diambilkan dari dana APP Keuksupan. Jadi fokus dana APP di tingkat kevikepan itu pertama untuk aneka macam motivasi seperti motivasi untuk Orang Muda Katolik (OMK), motivasi untuk pendidikan atau tokoh tertentu, kesejahteraan, kesehatan, sandang-pangan-papan, dan juga untuk aneka macam kebutuhan emergency yang sifatnya accidental,” terang Rama Bilie.

Sejalan dengan RIKAS dan apa yang diteguhkan Bapa Uskup, Rama Bilie mengatakan bahwa ada satu hal yang akan menjadi gerakan bersama yaitu memantau dana sosial paroki sehingga pengelolaan dan pemanfaatan dana semakin ditingkatkan dan umat sungguh-sungguh semakin banyak memanfaatkan dana tersebut.
               
Dana Tersalur Baru 68%
Basilius Jarot Tri Wibowo
Di  Kevikepan Surakarta, gerakan APP berjalan baik, sekalipun dari sisi serapannya kurang . Umat di setiap paroki menanggapinya dengan baik. Rama dan Dewan Paroki juga mendukung secara penuh, kata anggota Tim Aksi Puasa Pembangunan Pengembangan Sosial Ekonomi (APP PSE) Kevikepan Surakarta, Basilius Jarot Tri Wibowo.

Kuncinya, lanjut Jarot, adalah pada komunikasi. Ada pengurus harian Komisi PSE Kevikepan, yang terdiri dari rama moderator, ketua, sekretaris, bendahara, dan perwakilan rayon atau beberapa paroki. Pengurus harian dan kasir mengadakan pertemuan rutin setiap bulan untuk membahas proposal pengajuan dana. Prinsip keterwakilan paroki atau rayon ini disusun demi efektivitas komunikasi pelayanan. Sedangkan pengurus pleno akan mengadakan pertemuan menurut kebutuhan. 

Sesuai dengan Pedoman Pengelolaan Dana APP PSE Kevikepan Surakarta, ada beberapa prinsip dan semangat yang dihayati dalam pengelolaan dana APP.

Pertama,  spiritualitas belarasa murid-murid Yesus yang bersemangat gembala yang baik dan menampilkan wajah Allah yang murah hati dan berbelarasa.
Kedua, pemanfaatannya berdasar azas keadilan dan cinta kasih kristiani, berprinsip transparansi dan akuntabel, sesuai intensio dantis dan azas manfaat.
Dan ketiga, pemanfaatannya untuk karya kerasulan yang karitatif dan pemberdayaan dengan tetap mengindahkan kelayakan, kewajaran dan efisiensi.

Mengenai pemanfaatan riil dana APP Kevikepan itu, Basilius Jarot Tri Wibowo menjelaskan, dana digunakan untuk keperluan sesuai format dari Panitia APP KAS yang mempertimbangkan tiga kata kunci di Rencana Induk KAS (RIKAS), yaitu sejahtera, beriman, dan bermartabat.

Pada 2017, ujar Jarot, dari 100% dana APP yang diterima Panitia APP PSE Kevikepan Surakarta, dana yang tersalurkan baru 68%. Sedangkan dana yang belum tersalurkan ada sekitar 32%. Sebagian besar dari dana APP tersebut disalurkan untuk karya (atau di) bidang pengembangan kesejahteraan.

“Selama ini, serapan dana APP untuk meningkatkan kesejahteraan dan pemberdayaan masih kurang maksimal. Karenanya, Tim APP Kevikepan bekerjasama dengan Tim APP Paroki melakukan upaya jemput bola di akar rumput (lingkungan), agar dana APP itu bisa terserap 100%,” ujar Jarot Tri Wibowo.

Dia menengarai,  nampaknya, ada sebagian umat paroki yang belum tahu mengenai pemanfaatan (untuk apa) dana APP itu, bagaimana cara mengajukan untuk mendapatkan dana APP itu, dan sebagainya. Maka, sosialiasi mengenai dana dan gerakan APP ini wajib terus dilakukan.

Untuk Rehabilitasi Perumahan Umat
Di Kevikepan Kedu, gerakan APP relatif berjalan baik dalam enam tahun terakhir; setelah kepengurusan panitianya tidak lagi mengalami bongkar pasang ketua L Joko Wahyono, sekretaris Ag Budiarto dan bendahara FL Natalia AP. Anggota Panitia APP Kevikepan Kedu juga sebagai  anggota Tim Kerja Komisi PSE Kevikepan Kedu.

Agustinus Budiarto
Agustinus Budiarto,  sekretaris Panitia APP Kevikepan Kedu dan sekretaris Komisi PSE Kevikepan Kedu, menjelaskan, Panitia APP sangat diuntungkan karena personalianya dari perwakilan paroki-paroki dari Rayon Tengah dan Rayon Selatan. Sedang Rayon Utara (Parakan dan Temanggung) dapat dipantau lewat Timja PSE-nya lewat komunikasi HP atau telepon.

“Kemajuan teknologi komunikasi sangat membantu memperlancar kerja panitia APP,” tutur Agustinus Budiarto.

Dua tahun terakhir, tahun 2016 dan 2017 pemanfaatan dana APP lebih terserap untuk bidang kesejehateraan (sandang, papan, pangan, kesehatan, dan pendidikan). Namun prosentasenya lebih besar untuk kesejehtaraan papan. Urutan kedua kesejahtaraan kesehatan dan ketiga kesejahtaraan pendidikan.

Khusus di tahun 2017, lanjut Budiarto, dana APP Kedu dimanfaatkan untuk bidang Sejahtera (75%), Martabat (21%) dan Beriman (4%). Untuk bidang Sejahtera, prosentasi terbesar untuk pengembangan kesejahteraan papan, menyusul kesehatan dan pendidikan.

Mengingat biaya untuk rumah cukup besar maka dana yang dicairkan pun cukup besar’ yakni maksimal Rp 2.500.000 per proposal. Dana untuk papan memang lebih banyak menggunakan platform yang maksimal,” tuturnya.

Bagaiamana rencana pemanfaatan untuk tahun 2018 ini? Agustinus Budiarto menjelaskan, panitia mencanangkan untuk kesejahteraan bersama. Dana APP Kevikepan Kedu tahun 2018 tersedia Rp 316.620.285. Dana tersebut berasal dari Saldo Dana APP 2017 sebesar Rp 31.264.685 dan jatah dana APP Kevikepan Kedu  dari Dana APP 2017 untuk tahun 2018 sebesar Rp 285.355.600.

Dana sebesar Rp 316 juta lebih itu, direncanakan 76%-nya untuk membiayai proposal-proposal yang masuk. Selebihnya, untuk ‘jaga-jaga’. Misalnya kalau ada emergency, juga jaga-jaga bencana, dan lainnya,” kata dia.

Dana APP yang 76% (senilai Rp 240.631.285) itu, peruntukkan adalah untuk program kesejahteraan 65%  (Rp 156.410.335) dan selebihnya untuk program pegembangan keberimanan dan motivasi.

Sebagai gerakan membangun kesejehtaraan bersama, Panitia APP Kevikepan Kedu bersinergi dengan program Komisi PSE Kevikepan Kedu dalam gerakan Peringatan Hari Orang Miskin Sedunia pada tanggal 18 November 2018. Gerakan ini berharap paroki-paroki di Kevikepan Kedu serentak  mengadakan bantuan Paket Sembako minimal 100 paket per paroki. Dan Dana APP Kevikepan Kedu akan memberikan subsidi dana Rp 2.000.000 per paroki (dengan membuat proposal).

Diakuinya, cukup banyak umat yang  belum paham peruntukan dana APP baik dana di paroki, kevikepan maupun keuskupan. Untuk itu masih menjadi pekerjaan rumah untuk mensosialisasikan ini agar dapat dipahami oleh umat secara lebih luas. 

Mengenai dana APP untuk pemberdayaan, Agustinus Budiarto menjelaskan, lebih dari  satu  tahun terakhir, Panitia APP Kedu tidak memberikan bantuan modal kepada individu. Pengalaman yang terjadi, para penerima bantuan subsidi tidak berkembang usahanya, sehingga macet  atau tidak mengangsur.
Peserta Carier Center Boga PSE Kedu mengikuti ujian praktik di akhir kursus. (doc: Teresiana)
Untuk kategori pemberdayaan saat ini, penyaluran bantuan cenderung berbentuk subsidi untuk pelatihan kelompok, antara lain Carier Center Boga & Busana (kerja sama dengan SMK Pius X Magelang) dan Stir Mobil dan Montir (kerja sama dengan SMK Pangudi Luhur Muntilan), pelatihan membuat jamu herbal untuk ayam,  dan sebagainya,” jelas sekretaris Panitia Dana APP Kevikepan Kedu, Agustinus Budiarto.

Gerakan aksi puasa pembangunan adalah gerakan moral umat Katolik yang dilandasi kasih. Di masa Prapaskah, umat Katolik melakukan refleksi dan tobat, yang manifestasinya antara lain menyisihkan dana. Dana-dana itu dikumpulkan, diadministrasi, lalu disalurkan kepada umat Katolik lain yang membutuhkannya, sebagai wujud dari gerakan aksi puasa pembangunan. Dana yang tersalurkan itu, mampu menciptakan kesejahteraan, menaikkan martabat, dan memberdayakan ekonomi. Mukjizat-mukjizat baru terus tumbuh, dan menghidupkan harapan-harapan. ***marcelinus tanto pr, warih, sukamta,  anto, elwin

PENERIMA DANA AKSI PUASA PEMBANGUNAN


Prioritas Penerima Bantuan
Dana Aksi Puasa Pembangunan, baik yang dikelola oleh Panitia APP Kevikepan maupun Panitia APP KAS diperuntukkan bagi:
1)    Mereka yang berkekurangan.
2)    Mereka yang dalam kekurangannya ingin membangun kemandirian hidup.
3)  Mereka ingin mencukupkan sisi kebutuhan dasar tahap 1 (satu) seperti: sandang, pangan, papan
4)    Mereka ingin mencukupkan sisi kebutuhan dasar tahap 2 (dua) seperti: pendidikan, kesehatan, lapangan kerja.)

Beberapa Jenis Bantuan
1)   Proposal Yang Ditujukan Kepada Panitia App Kevikepan
a.   Kesejahteraan terkait dengan kebutuhan PANGAN: bantuan untuk dapur umum emergency respons atas bencana dalam kasus khusus (aksidental – non kontinyu) kekurangan pangan. Pagu maksimal:  menyesuaikan
b.   Kesejahteraan terkait dengan kebutuhan SANDANG: bantuan sandang emergency respons atas bencana. Pagu maksimal:  menyesuaikan
c.  Kesejahteraan terkait dengan kebutuhan KESEHATAN: bantuan pengobatan (aksidental, kontrol kesehatan, dll) – dukungan operasional ketika tulang punggung keluarga sakit di Rumah Sakit. Pagu maksimal:  Rp. 3.000.000,-
d.  Kesejahteraan terkait dengan kebutuhan PENDIDIKAN: bantuan pendidikan untuk anak kelas VI, IX, XII – Penyelesaian TA / Skripsi. Pagu maksimal: Rp. 1.500.000,-
e.  Motivasi kaum muda parokial: bantuan untuk rekoleksi / retret / pelatihan kaum muda di paroki. Pagu maksimal:  Rp. 1.500.000,-
f.   Motivasi kaum muda kategorial: bantuan untuk rekoleksi / retret / pelatihan kaum muda non-paroki. Pagu maksimal:  Rp. 2.500.000,-
g.  Motivasi siswa: bantuan untuk rekoleksi / retret / pelatihan siswa SD/SMP/SMU. Pagu maksimal:  Rp. 2.000.000,-
h. Motivasi mahasiswa: bantuan untuk rekoleksi / retret / pelatihan mahasiswa. Pagu maksimal: Rp. 1.500.000,-
i.   Motivasi tokoh: bantuan untuk rekoleksi / retret / pelatihan kelompok kategorial non-kaum muda Pagu maksimal: Rp. 1.500.000,-
j.  Motivasi lainnya: Bantuan untuk kegiatan motivasi yang tidak termasuk kategori di atas. Pagu maksimal:  Rp. 2.000.000,-

2)   Proposal Yang Ditujukan Kepada Panitia App Kas
a.  Kesejahteraan terkait dengan kebutuhan PAPAN: bantuan untuk rehap / renovasi rumah, lantai-isasi, MCK / kakus-isasi, Emergency Respons: tenda. Pagu maksimal: Rp. 5.000.000,-
b.  Kesejahteraan lainnya: bantuan sarana prasarana masyarakat umum. pagu maksimal: Rp. 5.000.000,-
c.  Pemberdayaan pertanian / peternakan / perikanan / usaha kecil /  ketrampilan-jasa / lainnya: bantuan untuk pelatihan kewirausahaan, modal usaha,  sarana – prasarana. Pagu maksimal:  Rp. 3.000.000,- (perorangan) / Rp. 6.000.000,- (kelompok)

3) Bantuan Emergency Respons: Panitia APP KAS maupun Panitia APP Kevikepan menyediakan 10% dari total dana APP yang dikelola sebagai dana sosial bencana (Emergency Respons)

Alamat Panitia App
1)   Panitia APP Keuskupan Agung Semarang. Kantor Pelayanan Pastoral KAS,  Jl. Imam Bonjol 172 Semarang 550131
2)   Panitia APP Kevikepan Semarang. Gereja Katedral St. Perawan Maria Ratu Rosario Suci, Jl. Pandanaran 9 Semarang 50244
3)   Panitia APP Kevikepan Kedu. Gereja St. Ignatius Magelang. Jl. Yos Sudarso 6 Magelang 56117
4)   Panitia APP Kevikepan DIY. Gereja St. Fransiskus Xaverius Kidul Loji, Jl. P. Senopati 22 Yogyakarta 55121
5)   Panitia APP Kevikepan Surakarta. Gereja St. Maria Regina Purbowardayan, Jl. Jend. A. Yani 10 Surakarta 57128

Syarat dan Ketentuan Permohonan
1) Siapapun yang tergerak oleh belas kasihan kepada sesama yang membutuhkan dapat mengajukan proposal kepada Panitia APP Paroki / Kevikepan / Panitia APP KAS.
2) Proposal tersebut mencakup: Nama pemohon, Alamat pemohon,  Nama kegiatanAlasan permohonan, Jumlah nominal yang dimohon
3)  Proposal yang diajukan disertai dengan lampiran yang dibutuhkan sebagai dasar pertimbangan (misal tagihan rumah sakit, tagihan dari sekolah, analisa usaha, dsb)
4)    Proposal ditandatangani oleh Timja PSE Paroki dan Pastor Paroki.
5)    Proposal disertai rekomendasi layak atau tidak dibantu dari pastor paroki.

No comments