Header Ads


Breaking News

Tiga Kali, Kusangkal Panggilanku

Sr Marie Louis AK
Tiga Kali, Kusangkal Panggilanku

Ibarat Rasul Petrus yang pernah menyangkal Yesus sampai tiga kali, biarawati tarekat Abdi Kristus (AK) pun pernah ‘menyangkal’ panggilan Tuhan sampai tiga kali. Namun berkat penyelenggaraan Ilahi, kini ia mantap meniti jalan hidup membiara. Sr Marie Louis AK (37), demikian namanya.

 “Awalnya sederhana sekali. Waktu saya SD, setiap hari pasti diberi cerita tokoh-tokoh dari Kitab Suci. Saat itulah tumbuh pertama kali keinginan untuk menjadi suster. Saat itu ada temu keluarga besar di rumah simbah, tiba-tiba saya ditanya soal cita-cita kalau besar. Sontak saya nyeletuk pengin jadi suster. Lalu dijawab oleh om saya, apa itu suster. Karena tidak bisa menjelaskan, maka keinginan itu saya matikan dan saya buang jauh-jauh dari pikiran,” tutur Sr Louis AK, kelahiran Semarang, 1 November 1980. Inilah kali pertama ia menyangkal panggilan Tuhan, aku anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Dieter Yohanes Sumardi dan Barbara Maria Sutrimah. 
Saat menempuh pendidikan di SMA Virgo Fidelis-Bawen, Louis-remaja sangat terkesan dengan kebaikan dan kesederhanaan Suster Kepala Sekolah. Kesan mendalam ini kemudian menumbuhkan kembali panggilan yang sudah lama terpendam. Baru setelah lulus SMA, keinginan itu Sr Louis utarakan kepada sang ayah. Dan dijawab dengan tegas, “Tidak boleh!” 
Saat kuliah D2 jurusan Guru Sekolah Dasar Universitas Katolik Soegijapranata, panggilan itu muncul lagi dan bahkan semakin berkobar-kobar. Karena, saat itu Sr Louis berjumpa dan berinteraksi langsung dengan suster-suster pendamping. Kembali keinginan itu ia utarakan kepada sang ayah. Dan jawaban ayah tetap sama: tidak boleh.
Lulus kuliah, Sr Louis sempat bekerja di Kudus dan Semarang. Kemudian bekerja di Jakarta 2 Tahun di TK Bunda Hati Kudus Kota Wisata-Cibubur. Saat di Jakarta itulah penghobi membaca, menulis dan menyanyi ini, bertemu dengan para Frater dan Rama Jesuit. Panggilan itu semakin berkembang dengan baik. Itulah yang dirasakan Sr Louis. 
Pembimbing Sr Louis seorang imam Jesuit pun menyarankan ia untuk mencoba di komunitas AK. “Di AK masih banyak membutuhkan suster-suster untuk berkarya terutama di bidang pendidikan waktu itu. Dan karena basic saya di pendidikan, maka saya merasa benar-benar dapat melayani sesama di bidang pendidikan,” kenangnya. “Lantas saya mendatangi komunitas Susteran AK di Kramat II Jakarta (Komunitas AK yang terdekat dengan saya bekerja) atas saran dari Rama J Darminto SJ, dan memantapkan diri untuk memilih Tarekat AK sebagai panggilan hidup saya” lanjutnya.
Setelah mantap memilih jalan hidup membiara, restu dari orang tua -khususnya ayah- nyatanya belum juga didapat. Setelah berkali-kali mencoba, puncaknya saat setelah perayaan Natal tahun 2014, restu sang ayah akhirnya turun. “Waktu itu setelah merayakan Natal bersama, saya kembali ke Jakarta. Dan setelah sampai di Jakarta, saya menelpon Bapak. Barangkali Bapak melihat kegigihan saya, akhirnya luluh dan memberi izin,” ucap Suster asli Stasi Glodogan-Paroki Girisonta ini tersenyum.
Suster murah senyum ini, mengucap kaul kekal pada 1 Oktober 2016. Ia berharap, semoga semakin banyak pemudi menjadi Suster dan pemuda menjadi Imam dan Bruder. # JokoPit

No comments