Header Ads


Breaking News

Bahagia Menyambut Perayaan Imlek


Bahagia Menyambut 

Perayaan Imlek


Jo Sioe Tjoen (Venard Edhie Handojo), umat Paroki Keluarga Kudus Atmodirono Semarang, bahagia sekali menyambut perayaan tahun baru Imlek tahun ini.  Sebagai warga negeri Indonesia yang lahir dan dibesarkan di Pontianak, dan sebagai umat Katolik, ia punya banyak alasan untuk bahagia. Di negeri ini, tidak ada larangan lagi merayakan Imlek. Dan, Gereja pun makin terbuka untuk menerimanya, karena banyak nilai mulia di dalamnya.



Hakikat perayaan Imlek, bagi Sioe Tjoen, adalah perayaan cinta kasih antara orang tua kepada anak atau mereka yang lebih muda atau belum bekerja. “Hal itu disimbolkan dengan pemberian angpao dan buah jeruk. Harapannya orang tua lebih mencintai anak, dan anak menghormati orang tua,” ucap mantan aktivis Komisi Liturgi Kevikepan Semarang ini.
Maka itu, menurutnya, perayaan Imlek relevan dengan ajaran Kristiani. “Dalam ajaran-Nya, kan Yesus sering berpesan supaya umatnya saling membantu dan berbagi kasih,” pesan engkong yang telah berusia 78 tahun. 
Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek pada tahun 2000,  ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967. Kemudian Gus Dur menindaklanjutinya dengan Keppres No 19/2001 tertanggal 9 April 2001, yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Pada 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri mulai 2003.
Memang, selama tahun 1968-1999, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, pemerintahan Presiden Soeharto melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya Imlek.




Sekilas tentang Imlek
  Tahun Baru Imlek merupakan perayaan sangat penting bagi orang Tionghoa. Perayaan dimulai di hari pertama bulan pertama [(Tionghoa); pinyin: zhēng yuè] di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal kelima belas (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chúxī yang berarti ‘malam pergantian tahun’.
  Menurut sejarahnya, sebelum Dinasti Qin, tanggal perayaan permulaan sesuatu tahun masih belum jelas. Ada kemungkinan bahwa awal tahun bermula pada bulan 1 semasa Dinasti Xia, bulan 12 semasa Dinasti Shang, dan bulan 11 semasa Dinasti Zhou di China. Bulan kabisat yang dipakai untuk memastikan kalendar Tionghoa sejalan dengan edaran mengelilingi matahari, selalu ditambah setelah bulan 12 sejak Dinasti Shang (menurut catatan tulang ramalan) dan Zhou (menurut Sima Qian). 
  Kaisar pertama China Qin Shi Huang menukar dan menetapkan bahwa tahun tionghoa berawal di bulan 10 pada 221 SM. Pada 104 SM, Kaisar Wu yang memerintah sewaktu Dinasti Han menetapkan bulan 1 sebagai awal tahun sampai sekarang. Tahun pertama Tahun Baru Imlek/ Yinli dihitung berdasarkan tahun pertama kelahiran Kongfuzi (Confucius), hal ini dilakukan oleh Kaisar Han Wudi sebagai penghormatan kepada Kongfuzi yang telah mencanangkan agar menggunakan sistem penanggalan Dinasti Xia dimana Tahun Baru dimulai pada tanggal 1 bulan kesatu. Oleh sebab itu sistem penanggalan ini dikenal pula dengan Kongzili. 
  Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Imlek sangat beragam. Namun, suasana umum diwarnai perjamuan makan malam pada malam Tahun Baru, serta penyulutan kembang api. 
  Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk orang Tionghoa dan memiliki pengaruh pada perayaan tahun baru di tetangga geografis Tiongkok, serta budaya yang dengannya orang Tionghoa berinteraksi meluas. Ini termasuk  Korea,  Mongolia,  Nepal,  Bhutan,  Vietnam, dan Jepang. Di daratan Tiongkok, Hong Kong, Makau, Taiwan, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Indonesia, perayaan tahun baru Imlek juga dirayakan.
  Imlek ini pun dirayakan oleh umat Katolik Tionghoa di Indonesia, termasuk Keuskupan Agung Semarang. Ada Misa Imlek di paroki-paroki. Ada beberapa paroki yang merayakannya setiap tahun, seperti Paroki Tanah Mas, Weleri, Kebondalem, Solo Baru, Kidul Loji, Kumetiran, dan lainnya.  


Pandangan Gereja
    Konsili Vatikan II telah memberikan angin segar dalam hidup beriman bagi Gereja Katolik. Inkulturasi budaya menjadi semacam kran bagi umat beriman untuk mengungkapkan imannya melalui budaya setempat. Salah satu inkulturasi budaya tersebut, tampak dalam perayaan Imlek di dalam Gereja. 
    Perayaan Imlek di berbagai Gereja Katolik mencerminkan toleransi dengan keanekaragaman budaya yang menjadi kekayaan dalam Umat Allah yang disatukan oleh Iman akan Yesus Kristus. Suka cita yang dirayakan oleh umat keturunan Tionghoa atau China juga dirayakan penuh kegembiraan bersama dengan umat yang berbeda suku dan budaya. 
    Misa Imlek merupakan sebuah ungkapan kerinduan umat yang merayakan Imlek untuk merayakan iman dalam keharmonisan dengan budaya. Iman selalu membutuhkan budaya, baik dalam penghayatan maupun dalam pewartaan. Iman tak pernah melayang di udara tanpa bungkus budaya (Gaudium et Spes - GS 53). Iman kristiani tidak terikat pada satu budaya tertentu, tetapi bisa diungkapkan dalam semua budaya. Dalam arti itulah, iman kristiani bersifat katolik (Yunani: catholicos berarti umum). 
    Agar penghayatan iman bisa sungguh mendalam dan pewartaan iman dapat sungguh menarik dan dimengerti, maka iman perlu dibungkus dengan budaya yang sesuai (GS 58). Dasar teologis hubungan antara iman dan budaya yang sedemikian itu ialah peristiwa Inkarnasi Sang Sabda. Sang Sabda menjadi manusia dalam budaya Yahudi dan mengungkapkan penghayatan iman-Nya melalui kemasan budaya Yahudi. Inilah ajaran resmi Magisterium Gereja.  
    Namun, tidak semua unsur budaya dapat dijadikan bagian dari perayaan liturgi resmi gereja. Dalam hal ini dibutuhkan pengkajian yang lebih mendalam mengenai unsur-unsur budaya tersebut untuk mendalami makna setiap simbol yang ingin digunakan, apakah sesuai dengan pemahaman iman dalam gereja Katolik. 
    Contohnya, pertunjukan Barongsai dalam gereja kiranya tidak cocok dengan ajaran iman Gereja, karena Barongsai dimaksudkan untuk mengusir kekuatan jahat, atau iblis. Pertunjukan Barongsai di dalam Gereja pada Misa Imlek akan sangat bertentangan dengan iman Gereja.  


Merayakan  ‘New Hope’
    Perayaan Tahun Baru Imlek tahun 2018 ini jatuh pada tanggal 16 Februari. Pakar kebudayaan Cina, Rama Paulus Agung Wijayanto SJ, menyatakan bahwa perayaan imlek itu pertama-tama merupakan perayaan perubahan dari musim dingin menjadi musim panas. Itu perayaan petani untuk merayakan musim semi, datangnya musim yang baru. Maka perayaan seperti ini dimana-mana ada. 
“Tidak hanya di Cina, di Vietnam juga dirayakan, di Korea juga dirayakan, di Jepang. Di banyak tempat merayakan hari imlek. Jadi itu sebuah perayaan pertanian. Dan yang dirayakan adalah new hope,” tegas Rama Agung. Dalam perjalanan waktu, perayaan ini menjadi perayaan keluarga. Keluarga berkumpul bersama, mensyukuri tahun yang telah lewat dan mengharapkan rezeki-rahmat di tahun mendatang. Itulah inti dari perayaan imlek. Memang dalam perjalanan waktu, kelompok-kelompok agama-agama tertentu menjadikannya perayaan keagamaan. “Tetapi sekali lagi, itu sebetulnya ini perayaan rakyat,” tandas Pastor Kepala Paroki Santo Isidorus Sukorejo. 
Jika Gereja katolik merayakan imlek, ini pada dasarnya hanya perayaan syukur saja, ini seperti merayakan tahun baru lainnya. “Saya selalu mengingatkan, setiap orang beriman temasuk Gereja Katolik, merayakan tahun baru entah tahun baru suku ini suku itu, atau perayaan tahun baru apapun ada tiga hal yang selalu saya sampaikan,” ucapnya.
Ketiga hal tersebut adalah, pertama, perayaan syukur, terimakasih atas segala rahmat berkat yang telah diterima. Kedua, dengan rendah hati kita mengakui segala kesalahan dan harus meminta maaf. Dan ketiga, dengan jujur mengakui bahwa hidup kita masih tergantung pada pemilik kehidupan. 
Jadi, tiga unsur ini harus ada dalam setiap perayaan tahun baru apapun. Dan ini juga merupakan perayaan rahmat karunia kehidupan. Oleh karena itu, oleh orang Cina tahun baru ini dirayakan dengan ‘merah’, karena ini adalah rahmat, berkat hidup, kegembiraan, darah baru, darah segar.
    Merah menandakan warna kegembiraan, darah, semangat. Lalu makanan-makanan yang disajikan. Makan sebagai simbol saat berkumpul bersama pada saat perayaan imlek. Keluarga-keluarga selalu berkumpul. Jika ada yang tidak berkumpul pasti ditanyakan mengapa tidak berkumpul. Atau kalau umat Katolik, ini merupakan perayaan Ekaristi di dalam keluarga. 
    Lalu makanan juga memakai simbol. Ada ikan yang menandakan setiap tahun ada kelimpahan berkat. Ada juga saat untuk bermurah hati dengan membagi angpao. Itu juga ungkapan bermurah hati. Karena kita telah mendapat kemurahan hati, hendaknya kita juga bermurah hati kepada yang lain. Jadi ada macam-macam hal yang menarik. 
    Perayaan yang ingin dirayakan oleh Gereja Katolik adalah suasana syukur, suasana kekeluargaan, suasana saling mendukung, dan suasana rendah hati.  Yang dihindari dalam perayaan imlek dalam Gereja Katolik adalah ungkapan-ungkapan yang berasal dari agama-agama tertentu. “Maka selalu saya ingatkan supaya hiasan dan suasana, lebih baik tidak ke arah ke agama tertentu, misalnya klenteng. Pusat perayaannya bukan di tempat ibadah tertentu tetapi perayaan syukur keluarga, perayaan cinta keluarga. Itu jauh lebih baik. 
    Lalu bagaimana dengan perbedaan makna warna? Rama Agung mengatakan, kalau simbol orang Eropa, warna kegembiraan adalah putih. Kalau orang Cina, warna merah. Hal ini serupa dengan orang yang berjalan di sebelah kiri, ada yang di sebelah kanan juga. Jangan yang dibenarkan adalah sebelah kanan atau kiri tetapi yang penting selamat. Saling sepakat bahwa saling menjaga keselamatan bersama. 
    “Itu sebenarnya tidak perlu dipersoalkan. Simbol orang berduka di Eropa adalah ungu atau hitam, sedangkan untuk orang Cina adalah putih. Tetapi baik orang Eropa maupun orang Cina, saat kematian saudara atau keluarganya, mereka sama-sama berduka. Bahwa putih atau hitam itu hanya sebuah ungkapan saja. Gereja sudah tidak mempersoalkan soal warna lagi sejak tahun 1700,” tegas Rama Agung.  
 
   
Banyak Tradisi dalam Imlek
    Pakar kebudayaan Cina dari Keuskupan Purwokerto Rama Martinus Maryoto Pr, mengemukakan,  yang khas dari Imlek adalah perayaan ini berlangsung selama 15 hari. Dalam kurun waktu itu, ada banyak tradisi masyarakat tradisional yang sebagian sampai sekarang masih dipertahankan dan terus dipelihara.  “Tradisi yang masih dipelihara sampai sekarang adalah tradisi yang mengandung nilai-nilai falsafah kebidupan yang bersifat universal dan tetap relevan pada zaman sekarang,” tutur Vikaris Paroki St Petrus Pekalongan ini.
 Tradisi tersebut antara lain, tradisi bersih-bersih rumah yang dilaksanakan kurang lebih satu minggu sebelum hari raya Imlek. Tradisi ini memiliki makna sebuah harapan bahwa manusi memulai kehidupan yang baru dengan segala sesuatu yang serba bersih dan baru, kotoran dosa dan kesalahan dibuang jauh-jauh. Tradisi lainnya, memasang hiasan-hiasan tahun baru imlek seperti lampion tulisan-tulisan yang mengungkapkan sebuah harapan agar di tahun yang baru mengalami banyak berkat dan kebaikan.  Salah satu hiasan yamg khas dipasang adalah huruf Fu 福,yang berarti sejahtera. Huruf mandarin yang disebut hanzi itu merupakan huruf piktograph atau bahasa gambar. Dari bentuknya ada dua unsur, unsur pertama menunjukkan makna dan unsur kedua menunjukkan bunyi. Huruf Fu bagian unsur pertama itu merupakan gambar benda sesaji di atas meja, gambar kedua ada unsur satu mulut sepetak sawah.
    Maka bisa dipahami, sejahtera yang dimaksudkan dalam masyarakat tradisional Tiongkok yang mata pencahariannya sebagai petani sejahtera berarti berkat bantuan dewa-dewi lewat doa dan sesaji satu orang memiliki sepetak sawah. Satu petak sawah untuk menjamin hidup satu orang tentu sangat cukup bahkan berlebih, dan ada kelebihan yang bisa ditabung.
    Tradisi berikutnya ada makan bersama pada malam hari menjelang tahun baru imlek. Saat ini semua anggota keluarga anak-anak menantu cucu berkumpul di rumah orang tua. Makna dari tradisi ini sangat jelas bahwa pada hari-hari biasa masing-masing anggota keluarga disibukkan dngan urusan sendiri-sendiri. Bahkan bisa jadi mereka tidak saling peduli sehingga relasi persaudaraan menjadi renggang.
“Maka makan bersama menjadi kesempatan untuk mempererat tali persaudaraan seluruh anggota kelurga, bila ada yang bermusuhan lalu berdamai dan saling memaafkan. Karena menjadi hal yang membahagiakan orang tua bila melihat anak-anak mereka bisa hidup bersama dengan rukun dan saling menolong,” urai alumni Universitas Xiamen China.
    Masih ada tradisi yang lain, seperti memberi hormat dan mengucapkan selamat tahun baru. Pertama-tama adalah anak memberi hormat dan mengucapkan selamat kepada orang tua. Hal ini menjadi salah satu wujud nyata dari bakti seorang anak kepada orang tua. Dalam masyarakat tradisional ada semacam keyakinan bahwa anak yang berbakti kepada orang tua di mana pun berada maka akan hidup bahagia dan sejahtera demikian pula sebaliknya.
    Terkait dengan makanan, saat tahun baru imlek semuanya mengungkapkan simbol harapan akan hal yang baik-baik. Ada kue keranjang yang disebut Nian Gao yang  berarti harapan, semoga setiap tahun semakin tinggi, ada peningkatan. Kue-kue bulat dan rasanya manis yang juga menjadi simbol harapan semoga menjadi semakin sempurna dan mengalami hal-hal yang manis dalam hidup
    Memberi Hongbao/Angpao yang biasa dilakukan orang tua memberi angpao kepada anak yang belum berpenghasilan atau anak yang sudah berpenghasilan kepada orang tua atau saudara yang belum berpenghasilan. Apa yang mau diwariskan dengan tradisi ini adalah nilai dan semangat solidaritas dalam kehidupan yang kuat membantu yg lemah.
Peerayaan Imlek adalah perayaan berbagi

Menurut Iman Katolik
    Bagaimana merayakan imlek seturut iman Katolik? Gereja Katolik mengakui dan menghargai bahwa di luar Gereja terkandung nilai-nilai luhur kemanusiaan yang sejalan dengan iman dan keyakinan Gereja Katolik. Nilai-nilai tersebut perlu dimurnikan agar iman umat semakin mendalam dan mengakar.
    Maka merayakan tahun baru imlek menjadi sebuah kesempatan dan proses katekese umat untuk memurnikan dan mengakarkan iman dalam tradisi yang masih dihidupi (inkulturasi).
    Realitanya di tengah umat khususnya umat Katolik Tionghoa mereka sudah dibaptis Katolik tapi mereka juga menerima warisan tradisi dari orang tua yang harus dipelihara. Kadang mereka mengalami kebingungan mana yang harus dipilih antara iman Katolik dan tradisi nenek moyang yang mereka warisi dari orang tua.
    Kadang ada yang merasa bahwa sudah baptis Katolik maka semua tradisi warisan  orang tua lalu secara ekstrem ditinggalkan sama sekali. Namun ada juga yang lalu mengambil sikap mendua sebagai orang Katolik dan sekaligus menghidupi tradisi.
    Menurut Rama Maryoto, antara iman Katolik dan tradisi budaya Tionghoa tidak perlu dipertentangkan. Namun justru bagaimana iman dan tradisi itu dipertemukan agar iman itu mendapatkan dasar dalam hidup sehari-hari. Sehingga iman tidak lagi mengawang-awang, melainkan mewujud dalam tindakan-tindakan moral yang termuat dalam tradisi tahun baru imlek.
    Dalam tradisi tahun baru imlek ada banyak nilai-nilai moral yang sejalan dengan iman Katolik. Maka seyogyanya tahun baru imlek dirayakan dengan mengangkat tradisi budaya Tionghoa yang mengandung nilai moral sejalan dengan nilai iman Katolik. Beberapa tradisi budya Tionghoa yang berbau takhayul harus dihindari.
    Ada beberapa simbol yang berbeda antara tradisi imlek dan Tradisi Gereja. Misalnya, simbol warna merah yang bermakna kegembiraan. Sementara itu dalan tradisi iman Katolik warna merah berarti kemartiran dan pengorbanan. Hal tersebut menunjukkan pemaknaan yang berbeda. “Namun menurut pendapat saya, simbol itu saling melengkapi. Bahwa kebahagiaan itu bisa diraih melalui semangat kemartiran dan pengorbanan. Tiada salib tanpa kebahagiaan dan tiada kebahagiaan tanpa salib,” ucapnya.
    Dalam hal penggunaan warna, Venard Edhie Handoyo alias Jo Sioe Tjoen,  berpendapat Imlek identik dengan warna merah. Karena bagi masyarakat Tionghoa, warna merah melambangkan kegembiraan. “Bagi saya, perayaan imlek di Gereja atau Misa Imlek hendaknya tetap bernuansa merah, seperti warna asli dari kebudayaan Cina dulu. Warna itu soal kebudayaan bukan soal iman. Yang terpenting adalah bahwa Misa Imlek itu merupakan perayaan syukur yang diwujudkan dengan berbagi,” tegasnya.
   Selamat Tahun Baru Imlek. Gong Xi Fa Cai. *** tanto pr, elwin, anto

No comments