Header Ads


Breaking News

Wagito Pastor Wurung

Antonius Wagito dikenal di kalangan masyarakatnya sebagai sosok religius. Banyak orang tahu, Wagito memiliki komitmen tinggi dalam menjalani ritual agamanya dan juga pada implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang menjuluki Wagito “Pastor Awam”.
Sejak lulus SMP Santo Yusup Klepu, ia sudah memantapkan dirinya masuk seminari menengah. Namun, cita-citanya menjadi pastor kandas oleh keinginan orangtuanya. “Kamu itu diturunkan, maka kamu harus punya keturunan (dibaca=anak)” demikian pinta ayahnya. Wagito yang lahir pada tanggal 25 Desember 1945 nekat tetap mau menjadi pastor. Sebaliknya ayahnya lebih ngotot. Akhirnya Wagito menikahi gadis bernama Anastasia Sarji Rahayu dan dikaruniai dua anak laki-laki.


Kegagalan Kedua

    Anak sulungnya Nurhandono merealisasikan cita-cita ayahnya menjadi pastor. Masuklah Nurhandono ke seminari Mertoyudan. Memasuki masa novisiat, ia menjatuhkan pilihannya kepada tarekat Jesuit. Sebagai seorang novis calon pastor Jesuit  di Ungaran, Jawa tengah, Nurhandono tekun menjalankan tugasnya dengan baik.

    Wagito yang waktu itu sedang menjalani  tugas khusus atas permintaan Bapa Uskup Purwakerto, menjadi katekis di sebuah stasi, mendapat kabar bahwa Frater Nurhandono meninggal dunia mendadak. Wagito syok berat. Harapannya memiliki anak seorang pastor gagal.  “Ini kegagalan yang kali kedua setelah dirinya,” katanya. Akhirnya, Jenasah Fr. Nurhandono oleh tarekat disarankan dikebumikan di makam para pastor Jesuit di Ungaran.

Ujian Belum Berakhir

    Anak  kedua, seusai lulus SMA Debritto, Yogyakarta, Theodotus Dwi Hantoro mendaftarkan diri ke seminari. Namun, tidak diterima di seminari Dwi memutuskan belajar di Pusat Musik Liturgi (PML) Kotabaru, Yogyakarta. Kemudian Dwi memutuskan merantau ke Jakarta Utara, menjadi guru musik di sebuah institusi pendidikan. Dwi Nurhantoro juga seorang supranatural. Pintar menerawang hal-hal yang belum terjadi. Tetapi dalam waktu relatif singkat, penglihatan mata Dwi turun drastis. Tidak bisa lagi melihat sebagaimana mata normal alias mengalami kebutaan.

Wagito geleng kepala sambil bergumam, “Kapan ujian ini akan berakhir?” tanyanya dalam hati. “Begitu bencikah Tuhan kepadaku?” lanjutnya. Bukan Wagito kalau menyerah. Justru dengan salib yang begitu berat di pundaknya ia semakin bersemangat memuliakan nama-Nya. Tidak mau protes kepada Tuhan. Semua penderitaan dan ujian diterima dengan penuh syukur. Bahwa hidup pada prinsipnya adalah: “mung sadermo nglakoni” katanya. Wagito meyakini bahwa, hidup adalah semata-mata anugerah. #Herman JP

No comments