Header Ads


Breaking News

“Sejahterakan Masyarakat” Agenda Gereja Selanjutnya


Tak terasa kita telah memasuki pintu gerbang tahun 2018. Menengok ke belakang, ada jejak-jejak yang telah dihasilkan oleh Gereja Keuskupan Agung Semarang, dikaitkan dengan Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS) 2016-2035 yang dibuatnya. Pada tahun ini dan seterusnya, sejumlah tantangan menanti.

Salah satu bedah rumah di Paroki Wedi Klaten. (Foto: Sukamta)

“Terlibat lebih dalam upaya menyejahterakan masyarakat” menjadi agenda khusus Gereja di tahun 2018. Bagaimanapun, menyejahterakan masyarakat merupakan pilar penting dalam mewujudkan peradaban kasih.
Ada sejumlah pertanyaan berkait dengan hal itu: Seberapa jauh upaya yang sudah dilakukan Gereja dalam menyejahterakan masyarakat? Dengan cara bagaimana Gereja melakukannya? Dan, kesejahteraan macam apa yang diangankan Gereja pada tahap selanjutnya?
Rama Sukendar, Pr
Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Semarang, Rama FX Sukendar Wignyosumarta Pr menjelaskan upaya ambil bagian dalam mewujudkan kesejahteraan di tengah masyarakat ditempatkan dalam kerangka Rencana Induk KAS menuju tahun 2035, yang visinya “Mewujudkan Peradaban Kasih dalam masyarakat Indonesia yang Sejahtera, Bermartabat dan Beriman”.
Enam hal yang menjadi kebutuhan pokok sebagai tanda sejahtera adalah: kecukupan sandang, papan dan pangan, kemudian ketersediaan akses kesehatan, pendidikan dan kesempatan kerja. Tiga hal pertama menjadi kebutuhan primer.
Masih ada sanak saudara kita yang belum berkecukupan gizi maupun jenis makanan sehat, masih cukup banyak keluarga-keluarga yang belum mempunyai rumah yang sehat dan layak huni,” katanya.
Menurut Rama Stephanus Suratman Gitowiratmo Pr dosen di Seminari Tinggi St Paulus Kentungan, latar belakang Keuskupan Agung Semarang (KAS) memperjuangkan peradaban kasih ini adalah bagian pewartaan Injil.
Rama Gitowiratmo, Pr
“Injil harus menjadi semangat yang mendasari semua pekerjaan, pelayanan, serta tujuan kita. Injil sebagai kabar gembira memberi sumbangan kasih. Semangat Injil adalah semangat kasih. Peradaban kasih itu adalah peradaban yang dirintis dan diperjuangkan oleh Injil,” ujar Rama Gitowiratmo.
Rama Gitowiratmo juga menjelaskan bahwa dalam konteks Indonesia, yang disebut kasih itu mau tidak mau mutlak perlu. Menurutnya, untuk dapat membangun Indonesia harus ada budaya kasih, bukan budaya kebencian, budaya balas dendam, ataupun budaya mengkotak-kotakkan. Peradaban kasih yang akan dicapai adalah budaya yang menghidupkan dan bisa membangun.

Pintu Kesejahteraan
Peradaban kasih harus tampak di dalam tiga pintu utama, yaitu pintu kesejahteraan, pintu kemartabatan, dan pintu keberimanan. Menurut Rama Gitowiratmo, pintu kesejahteraan merupakan pintu pertama yang harus dirintis. Karena Indonesia, atau KAS pada khususnya, termasuk bagian dari negara atau Gereja Asia yang sebagian besar penduduknya hidup dalam alam kemiskinan, kesejahteraannya tidak merata, bahkan belum sejahtera.
Rama Gitowiratmo mengatakan bahwa kesejahteraan memiliki beberapa indikator. Indikator itu berupa tersedianya kebutuhan primer pertama dan kedua. Kebutuhan primer pertama meliputi kecukupan pangan, kecukupan sandang, dan kecukupan papan. Sedangkan kebutuhan primer kedua adalah kesehatan dan pendidikan.
“Sehingga indikator kesejahteraan itu meliputi, kecukupan pangan, ketersediaan papan, kecukupan sandang, hidup sehat, dan bisa menyekolahkan atau bisa mengakses pendidikan. Lima ini yang menjadi indikator hidup sejahtera yang dibayangkan oleh RIKAS,” ujar Rama Gitowiratmo.
Sumbangsih yang pertama bukan berupa harta. Sumbangsih yang pertama berpangkal dari kepedulian Gereja. Semangat yang ingin dikembangkan di Semarang ini bahwa Gereja di KAS adalah Gereja yang memiliki kepedulian terhadap orang yang tidak sejahtera. Bukan karena Gereja kaya, tetapi karena Gereja merasa bahwa hidup sejahtera itu juga merupakan kebutuhan semua orang, terutama mereka yang kecil, lemah, miskin, dan tersingkir.
Rama Gitowiratmo menjelaskan bahwa kepedulian itu diwujudkan dengan berbagai macam cara. Ia memberikan contoh, kepedulian dapat diwujudkan melalui komisi-komisi keuskupan, karya-karya sosial, karya-karya karitatif, lewat kepedulian-kepedulian saat ada bencana, dan kepedulian terhadap mereka yang kurang beruntung, misalnya orang yang sedang sakit. Selain itu, kepedulian juga dapat diwujudkan melalui lembaga-lembaga pendidikan, lembaga-lembaga kesehatan yang dimiliki Gereja, dan melalui aksi-aksi pribadi atau kelompok.
“Misalnya, di paroki-paroki ada dana untuk orang miskin, 15% dari kolekte disisihkan untuk orang yang kurang beruntung. Mereka diberi sesuatu supaya bisa makan, atau kalau misalnya butuh biaya pendidikan sekedar untuk membantu sedikit beasiswa,” tambah Rama Gitowiratmo.
               
Karina KAS
Rama Sutomo, Pr
Di tengah berbagai bencana alam yang melanda negeri ini, kita terus teringat bahwa ada lembaga Gereja di wilayah Keuskupan Agung Semarang yang mengurusi korban bencana alam. Dialah Karina KAS.  “Kami menetapkan masa tanggap darurat atau emergency respond,” ujar wakil direktur Karina KAS, Rama Martinus Sutomo Pr.
Masa tanggap darurat itu dilaksanakan dengan membentuk panitia dadakan. Kemudian menghimpun informasi dan data-data. Informasi dan data-data daerah terdampak bencana didapat dari pusdalop BPBD, relawan Karina di lapangan, informasi dari paroki terdampak, dan dari kelompok awam di daerah yang pernah menjadi binaan Karina KAS.
Setelah mendapatkan informasi dan data jumlah kebutuhan di daerah bencana, Karina KAS berkoordinasi dengan paroki, membuat jadwal kegiatan per hari selama masa tanggap bencana, serta membelanjakan barang kebutuhan dan mendistribusikannya.
“Berdasarkan informasi dari lapangan, kita tanya kebutuhannya apa, dari informasi mereka memang kebutuhan pertama adalah makanan. Tapi itu sudah tercukupi dari paroki, maka kita lebih fokus ke kebutuhan non makanan, karena kalau bencana alam itu kan mereka tidak memiliki apapun, alat mandi, pakaian, dan segala macam lainnya,” terang Rama Sutomo ketika menjelaskan pemberian bantuan saat bencana banjir dan tanah longsor di Yogyakarta-Jawa Tengah.
Karina KAS juga memberikan bantuan berupa sembako dan makanan siap santap. Dalam pemberian bantuan tersebut, Karina mencari daerah yang benar-benar membutuhkan makanan siap santap dan sembako sehingga bantuan tepat sasaran dan tidak hanya menumpuk di posko.
Pemberian bantuan dilakukan dengan prinsip by name, langsung diberikan kepada penerima, tidak lewat posko. Semua warga diundang, sehingga jelas kepada masyarakat yang membutuhkan. Jika pemberian bantuan dilakukan melalui posko, maka akan diberikan di posko yang dikoordinir oleh relawan Karina KAS. Karina KAS akan meminta bukti nama penerima. Bukti itu untuk mengetahui bahwa bantuan benar-benar sudah diterima oleh masyarakat yang membutuhkan.
Tidak berhenti pada saat terjadi bencana, pada masa pemulihan kondisi dan masyarakat sudah mulai bersih-bersih rumah, Karina KAS juga menyediakan cleaningkit. Ada juga masa recovery yang dijadwalkan oleh Karina KAS.
Pada masa recovery, Karina KAS melakukan pengkajian kebutuhan selanjutnya dari masyarakat terdampak bencana. Masa recovery ini bekerja sama dengan paroki setempat untuk mengetahui program apa yang akan dilakukan oleh paroki setelah terjadi bencana. Menurut Rama Sutomo, bantuan yang diberikan oleh Karina KAS pada masa recovery ini berupa pemberdayaan masyarakat.
“Kalau sudah selesai masa emergency, maka strategi kami berbeda. Misalnya pas masa emergency itu kami kasih ikan, nah selanjutnya ada pancing dan ada kail. Sistem pemberdayaannya seperti itu,” terang Rama Sutomo ketika ditemui di kantor Karina KAS bersama dengan beberapa pengurus lain.
Karina KAS memiliki dana emergency respond. Dana itu akan selalu ada dan digunakan ketika terjadi keadaan darurat. Menurut Rama Sutomo, pada awal masa tanggap darurat, Karina KAS akan mengambil dana tersebut sekian ratus juta dan dibelanjakan kebutuhan mendesak bagi korban bencana. Sembari membelanjakan, Karina KAS juga mengunggah kebutuhan bantuan di UNIO dan tenyata banyak orang tergerak. Bantuan datang dari berbagai pihak seperti dana dari APP KAS, seminari tinggi Kentungan dengan mengirim dana dan fraternya untuk membantu, Karina KWI, dari paroki-paroki yang mengirim barang dan dana, juga dari perorangan/umat.

Tanda Kehadiran Gereja
Rama Sutomo mengatakan bahwa Gereja hadir dengan kapasitasnya di tengah-tengah masyarakat yang terkena bencana. Kehadiran Gereja tersebut sungguh-sungguh nyata melalui bantuan-bantuan yang diberikan. Kehadiran Karina menjadi tanda representatif Gereja yang menyejahterakan masyarakat. Karina KAS tidak memandang agama dalam memberikan bantuan. Karina berusaha mengkoordinasi bantuan-bantuan dari paroki maupun dari berbagai pihak untuk disalurkan kepada masyarakat terdampak bencana.
Tidak semua masyarakat penerima bantuan tahu bahwa Karina KAS merupakan kepanjangan tangan Gereja yang menyejahterakan masyarakat. Menurut Suster M Huberta, FSGM, koordinator program pengembangan masyarakat di Karina KAS, masyarakat yang tahu tentang Karina KAS adalah wilayah dampingan Karina KAS, seperti daerah Wedi dan Bantul. Di daerah tersebut, Karina pernah melakukan kegiatan sesuai dengan program-programnya yaitu program inklusi sosial bagi mereka yang berkebutuhan khusus, program pengurangan risiko bencana di daerah rawan bencana, dan program pengembangan masyarakat.
Rama Sutomo menyerahkan bantuan bagi korban banjir di Kuwon, Semanu, Gunungkidul. (Foto: doc Karina)
“Ada yang tanya dari mana. Kemudian kami jawab dari Karina KAS, Lembaga Sosial Keuskupan Agung Semarang. Kemudian setelah dijawab seperti itu ya sudah tidak ada pertanyaan lagi, bantuan langsung diterima. Mobil kami ada tulisannya “Bantuan Logistik”. Kami juga menggunakan seragam yang ada logonya Karina KAS,” tambah Rama Sutomo.
Masyarakat memberikan respon positif pada Karina KAS. Tak sedikit umat yang peduli pada korban bencana alam menyalurkan bantuannya melalui Karina KAS. Mereka percaya bahwa Karina KAS mampu mengelola bantuan tersebut sehingga sampai kepada tangan-tangan yang membutuhkan.    
Selain itu, semua bantuan dari Karina KAS diterima dengan baik oleh masyarakat. Menurut Suster Huberta, dulu Karina KAS pernah ditolak ketika mengirim bantuan bagi korban bencana gempa dan Gunung Merapi. Karina KAS ditolak karena dikira kristenisasi. Namun, beberapa waktu setelah mengadakan kegiatan pengurangan risiko bencana di daerah tersebut, Karina KAS dapat diterima dengan baik.

Bedah Rumah
Program Bedah Rumah di Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Klaten mulai dirintis pada bulan November 2014. Dan sampai sekarang, sudah 45 rumah umat dan warga non Katolik yang telah dibangun atau diperbaiki. Bedah rumah menjadi upaya yang baik lagi konkret untuk menghadirkan wajah sosial Gereja di tengah umat dan masyarakat.
Rama Maradiyo, Pr
Pastor Kepala Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Rama Adrianus Maradiyo Pr menyampaikan, program bedah rumah berawal dari sebuah keprihatinan. Pada bulan September 2014, saat Rama Maradiyo mengadakan kunjungan ke lingkungan, ada salah satu umat yang tidak mau dikunjungi karena malu.
Mereka malu, karena kondisi rumahnya yang tidak layak huni. Padahal, kunjungan ke lingkungan ini bukan untuk menilai rumah umat, tetapi sungguh merupakan sapaan untuk mengenal umat yang akan rama layani di Paroki Wedi ini.
“Berawal dari keprihatinan itulah, maka saya nekat untuk mengunjungi rumah keluarga itu secara pribadi. Dan ternyata, kondisi rumah itu memang sangat memprihatinkan. Seorang ibu yang hidup sendirian, yang usianya yang sudah tua, di atas 75 tahun. Ibu ini seorang janda. Saat hujan, atap rumah ini bocor,” katanya.
Kunjungan ke rumah umat ini menjadi permenungan tersendiri bagi Rama yang sudah berkarya di Paroki Wedi hampir empat tahun ini. Ia tidak bisa tidur. Ia membayangkan bagaimana kehidupan ibu ini di usianya yang sudah lanjut, sementara rumah yang ditinggalinya sungguh tidak layak. Bagaimana ibu ini dapat menemukan kegembiraan di usia tuanya.
“Malam itu, dalam permenungan, saya merencanakan ingin memperbaiki rumah ibu itu bersama Dewan Paroki Wedi. Saya ingin agar ibu ini bisa merasakan tinggal di rumah yang sehat, rumah yang layak, di usia tuanya . Ini adalah awal dari program bedah rumah di Paroki Wedi,” ujarnya.
Rama asal Paroki Girisonta Semarang ini menjelaskan, bedah rumah dilaksanakan dengan melibatkan Dewan Harian Paroki, khususnya Bidang Sarana dan Prasarana serta Bidang Pelayanan Kemasyarakatan, tim relawan, dan pengurus lingkungan. Mereka diajak berembug untuk melaksanakan bedah rumah.
“Proses bedah rumah diawali melalui survey ke rumah yang akan dibedah. Setelah melihat langsung dan minta izin keluarga, maka tim bedah rumah berembug untuk menentukan bahan-bahan material apa saja yang dibutuhkan. Setelah anggarannya dikalkulasi, dan waktu pelaksanaannya disepakati, tim bedah rumah lalu menghubungi pengurus lingkungan. Tujuannya agar umat lingkungan ikut terlibat dalam bedah rumah ini,” terangnya.
Saat bedah rumah, tim mengajak paguyuban umat yang ada (di Paroki Wedi) dan umat lingkungan setempat. Bedah rumah diawali dengan gotong royong. Dalam gotong royong ini, lingkungan menyediakan tenaga untuk kerja bakti, dan ibu-ibu menyiapkan konsumsi. Sedang bahan-bahan untuk konsumsi dari kemurahan hati umat. Ternyata, umat sangat peduli dan mendukung bedah rumah ini.
“Awalnya, dana bedah rumah ini diambilkan dari dana papa miskin (danpamis). Dan dalam perjalanan selanjutnya, umat sangat bermurah hati. Umat membantu dalam wujud dana, bahan material, konsumsi, tenaga, dan sebagainya,” tandasnya.
Dalam perkembangan waktu, bedah rumah dirasakan menjadi gerakan bersama untuk menghadirkan wajah sosial gereja di Paroki Wedi. Umat lingkungan dan masyarakat non Katolik sangat mendukung bedah rumah ini. Masyarakat dengan penuh kesadaran mau terlibat, bergotong royong secara sukarela. Dalam gotong royong bedah rumah ini, sungguh tidak ada “pengkotak-kotakan” masyarakat. Saat bedah rumah nampak  kehidupan masyarakat yang saling menghargai, menghormati, dan mendukung.
“Sungguh, kehadiran Gereja dapat dirasakan (oleh umat dan masyarakat). Gereja yang memasyarakat. Gereja yang sungguh ajur ajer bersama masyarakat,” tegasnya.
Ternyata, tidak hanya rumah yang dibedah atau diperbaiki. Gereja juga membantu pembuatan MCK (mandi, cuci, kakus). Dan tidak hanya untuk keluarga, tetapi juga untuk warga RT atau RW. Seperti warga Dukuh Pencar (sekitar Gereja Wedi) yang minta supaya dibuatkan MCK. Permintaan warga Pencar ini ditanggapi secara positif dan dipenuhi Gereja Wedi. Sejak November 2014 sampai Desember 2017 ini, Paroki Wedi telah melakukan bedah rumah sebanyak 45 rumah.
Rama anggota Tribunal Keuskupan Agung Semarang (KAS) ini mengatakan, dalam kaitannya dengan RIKAS, melalui aksi bedah bedah rumah ini, setidaknya Gereja bisa mewujudkan peradaban kasih melalui dua pintu, yaitu sejahtera dan bermartabat.
“Kita sadari, bedah rumah bukan hanya mensejahterakan keluarga penerima, tetapi juga membuat mereka lebih bermartabat. Setidaknya bermartabat dalam bidang kesehatan. Mereka menjadi keluarga yang sehat, karena rumahnya sudah layak huni,” paparnya.
Selama ini, tanggapan dari umat dan masyarakat atas bedah rumah itu sangat baik. Hal ini nampak dari hasil penelitian yang dilakukan Rama Martinus Sutomo Pr (saat masih frater) untuk tesis S2-nya. Dari penelitian itu terungkap, umat dan masyarakat sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Gereja (Wedi) yang telah menyapa mereka.
“Sapaan Gereja ini yang penting. Karena wujud sapaan Gereja itu bisa bermacam-macam. Yang penting, umat merasa senang, masyarakat yang tidak (beragama) Katolik pun juga merasa senang ketika rumahnya diperbaiki,” ucapnya.

Sejahtera Lewat Bank Sampah
Ada banyak cara seorang Katolik terlibat dalam masyarakat, khususnya turut menyejahterakan kehidupan warganya. Salah satunya dengan cara mendirikan Bank Sampah, seperti yang dilakukan oleh Paulus Widyawan Widhiasta, warga Jalan Mlinjo 3 Talang Abang RT 05 RW 11, Sanggrahan, Grogol, Sukoharjo ini.
Dhias
Menurut Dhias -sapaan akrabnya-, semua berawal dari rencana didirikannya TPS (Tempat Pembuangan Sampah) di dekat kompleks tempat tinggalnya. Ia bersama rekan tetangganya memandang positif hal tersebut. “Yang menjadi pemikiran saat itu adalah bagaimana kami bisa mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPS tersebut,” ujar umat Paroki Santo Petrus Purwosari, Surakarta ini.
Dan tercetuslah ide membuat bank sampah. Sejak Mei 2016 dibentuklah bank sampah dengan nama ‘Mlinjo Bersih’. Nama ini diambil dari nama jalan di wilayah kampungnya, seperti Mlinjo Raya, Mlinjo 1, dst.
“Nah, Mlinjo Bersih itu mengandung cita-cita dan ajakan kepada seluruh warga jalan Mlinjo untuk semakin bersemangat menciptakan lingkungan bersih, sehat, nyaman, rapi, dan lestari,” tutur guru Agama Katolik di SMK Negeri 3 Surakarta ini. 
Bank sampah ini memiliki cara kerja yang berbeda dari bank-bank pada umumnya. Langkah pertama yang dilakukan warga masyarakat anggota bank ini adalah memilah sampah, antara sampah organik dan anorganik. Sampah anorganik kemudian dipilah sesuai kategori dalam daftar harga sampah yang diedarkan sebelum operasional. Setelah itu, pada hari H operasional, warga menyetorkan sampah anorganik ke lokasi operasional yang sudah ditentukan.
“Di sana, sampah ditimbang sesuai kategori dan diberi harga sesuai dalam daftar harga saat itu. Setelah sampah dihargai secara ekonomis melalui konversi timbangan sampai ke harga rupiah, lalu dilakukan bagi hasil antara bank sampah dan nasabah. Bagi hasil yang berlaku: 85% untuk nasabah dan 15% untuk bank sampah. Nominal tabungan nasabah dan bagi hasil untuk bank sampah kemudian dituliskan pada buku tabungan setiap nasabah dan pada buku besar bank sampah. Tabungan baru bisa diambil setelah 3 kali setoran,” ucap suami Fransisca Roosiana Kurniawati itu.
Di awal operasional, pengurus bank sampah memberi bantuan tempat sampah pada setiap rumah di masing-masing RT.  Bank Sampah Mlinjo Bersih setiap tahun memberikan pembagian kesejahteraan anggota. Pada tahun 2017 lalu, sebelum lebaran pengurus telah membagikan bingkisan berupa sabun, cairan pencuci piring, dsb. Harapannya, ke depan pembagian kesejahteraan bisa semakin besar.
Bank sampat yang saat ini beranggotakan 47 nasabah ini menamakan diri sebagai Komunitas Basis Manusiawi, dengan pengurus yang mayoritas Muslim. “Jadi kami bersama-sama pertama-tama untuk membantu mengatasi persoalan kemanusiaan yaitu lingkungan hidup, tetapi kemudian berbuah pada soal kesejahteraan,” tandas Dhias.
Dhias mengaku, bahwa apa yang ia lakukan dengan bank sampah ini dilandasi dengan iman Katolik. Kebetulan ia seorang guru agama Katolik. Dan salah satu pelajaran yang ia ajarkan adalah kepada siswa-siswi adalah nilai keutuhan alam ciptaan. Ia yakin, bank sampah ini telah menjadi salah satu cara baiknya untuk memberi contoh kepada para siswa dalam menerapkan  nilai-nilai keutuhan alam ciptaan.
Bank sampah Mlinjo Bersih. (Foto: Dhias)
Ternyata ada banyak rupa upaya menyejahterakan masyarakat yang telah dilakukan Gereja, baik sebagai hirarki di lingkup paroki, sebagai lembaga di dalam Keuskupan Agung Semarang, maupun individu umat Katolik yang peduli.
Di tahun 2018, ada tantangan untuk melakukan upaya menyejahterakan masyarakat secara lebih dalam. Berbagai model atau pola yang dilaporkan Salam Damai ini bisa direplikasi ataupun diadopsi untuk diterapkan pada komunitas lain, baik Katolik maupun non-Katolik. Di luar itu, tentu ada banyak model menyejahterakan masyarakat lain yang bisa dikreasi.
Ada hal yang harus kita percaya, bahwa upaya menyejahterakan masyarakat merupakan pilar penting untuk  mewujudkan peradaban kasih. ***marcelinus tanto pr, monica warih, laurent sukamta, elwin, anto.

No comments