Header Ads

Breaking News

Benarkah Arwah Masih di Sekitar Rumah sampai 40 Hari?



Rama AG Luhur Prihadi, beberapa waktu lalu saya menghadiri Misa Requiem di Lingkungan. Imam dalam homili mengatakan, seseorang yang baik jika meninggal akan langsung masuk surga. Dalam hati saya bertanya: apakah orang tersebut seketika itu masuk surga? Adat Jawa mengenal mendoakan arwah pada hari ketiga, ketujuh, keempat puluh, dst. Ada yang mengatakan bahwa arwah sebelum 40 hari masih ada di sekitar rumahnya. Arwah Yesus sendiri masih menjumpai orang-orang dekatnya hingga hari ke-40, sebelum Ia naik ke surga (bdk. Kisah 1:3). Jadi, benarkah arwah seseorang langsung masuk surga atau masih di sekitar rumah sampai 40 hari? Mohon penjelasan Rama. Terima kasih.

Petrus - Semarang


Sdr Petrus dan para Pembaca Salam Damai yang berbahagia, Selamat Natal 2017 dan Selamat Tahun Baru 2018.
Yesus yang bangkit dari wafat-Nya adalah Yesus yang mulia. Jika Tuhan Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya dan kepada orang banyak hingga kenaikan-Nya ke Surga, itu tidak berarti bahwa Yesus tidak masuk surga atau masih mengembara. Tetapi penampakan Yesus itu menunjukkan betapa besar kasih-Nya kepada para murid-Nya dan kepada kita semua. Yesus itu sempurna jiwa-badannya; Ia Kudus tanpa dosa.
Paus Benediktus XII mewakili pendapat Gereja Katolik menyatakan: ”Kami mendefinisikan, berkat wewenang apostolik, bahwa menurut penetapan Allah yang umum, jiwa-jiwa semua orang kudus … dan umat beriman yang lain, yang mati sesudah menerima Pembaptisan suci Kristus, kalau mereka memang tidak memerlukan suatu penyucian ketika mereka mati, … atau, kalaupun ada sesuatu yang harus disucikan atau akan disucikan, ketika mereka disucikan setelah mati, … sudah sebelum mereka mengenakan kembali tubuhnya dan sebelum pengadilan umum sesudah Kenaikan Tuhan, dan Penyelamat kita Yesus Kristus ke surga sudah berada dan akan berada di surga, dalam Kerajaan surga dan firdaus surgawi bersama Kristus, sudah bergabung pada persekutuan para malaikat yang kudus, dan sesudah penderitaan dan kematian Tuhan kita Yesus Kristus, jiwa-jiwa ini sudah melihat dan sungguh melihat hakikat ilahi dengan suatu pandangan langsung, dan bahkan dari muka ke muka, tanpa perantaraan makhluk apa pun” (Benediktus XII: OS 1000; bdk. LG 49).
Dalam KGK 1030 dikatakan bahwa ‘Api Penyucian’ adalah keadaan yang harus dialami oleh orang yang mati dalam rahmat dan persahabatan dengan Allah namun belum secara sepenuhnya disucikan. Keselamatan abadi sudah jelas baginya, namun dia harus menjalani penyucian untuk memperoleh kekudusan yang perlu agar diperkenankan masuk ke dalam kebahagiaan surgawi. Dengan demikian Api penyucian bukanlah tempat antara surga dan neraka, tetapi lebih tepat dikatakan sebagai proses untuk masuk surga. Yesus yang telah bangkit dari wafatNya tentu berbeda dengan jiwa-jiwa manusia yang meninggal dunia.
Yang harus masuk api penyucian adalah mereka yang belum siap masuk surga karena masih mempunyai banyak cacat-cela dan akibat-akibat dosanya masih melekat. Mereka adalah orang yang mati dalam rahmat dan persahabatan dengan Allah namun belum secara sepenuhnya disucikan. Mereka bukanlah calon penghuni neraka, karena mereka yang sudah positif dan definitif masuk neraka tidak perlu mengalami api penyucian.
Jadi jiwa mereka bukannya ‘nglambrang’ (pergi kemana-mana tanpa arah dan tujuan yang jelas), melainkan memasuki masa pemurnian rohani, agar sempurnalah perjalanan rohani mereka menuju surga.
Yang boleh masuk surga adalah orang yang mati dalam rahmat dan persahabatan dengan Allah dan disucikan sepenuhnya. Mereka akan hidup bersama dengan Kristus selama-lamanya dan diperkenankan memandang Allah dalam keadaan yang sebenarnya (1Yoh 3:2) dari muka ke muka (KGK 1023). Berkah Dalem. #



No comments