Header Ads

Breaking News

Anakku Suka Membantah, Gimana Nih?



Elizabeth Wahyu Margareth Indira, M.Pd.,Psi.
Psikolog dan Praktisi Pendidikan Anak
Psikolog Pelangi Kasih-Yayasan Pangudi Luhur


Pertanyaan:
Ibu Indira terkasih, saya memiliki satu anak perempuan, usia 8 tahun dan duduk di kelas 3 SD. Setahun ini saya baru menyadari, anak saya itu suka ngeyelan atau suka membantah bila dinasehati. Ia selalu menjawab: “Biar to…” Saya sudah mencoba pelan-pelan menasehatinya, namun si anak tetap membantah. Mohon masukan ide dari Bu Indira, bagi perkembangan anak saya. Terimakasih.

Virginia Dyah  Surakarta



Jawaban:
Bu Dyah yang baik, menjadi orangtua di setiap usia anak pasti timbul persoalan yang harus kita hadapi. Termasuk bila anak kita berada di rentang usia 7-11 tahun, masa dimana anak sedang mengembangkan kemampuan berpikir operasional konkret. Putri Bu Dyah yang saat ini berusia 8 tahun pun sedang mengalami perkembangan kognitif  yang ditunjukkan dengan kemampuan menalar permasalahan yang sedang dihadapi meski masih terbatas. Maka tak mengherankan bila ia menjadi suka membantah, menjawab bila dinasehati dan kadang berani melawan.
Respon Bu Dyah saat ananda ngeyel sudah tepat. Kita memang harus menanggapi dengan kesabaran dan pelan-pelan menasihati. Tak jarang  emosi negatif  kita bisa terpancing dengan membentak atau memarahi anak. Namun hal ini kurang efektif diterapkan karena semakin kita keras maka anak pasti akan lebih memberontak dan melawan lagi.
Saran saya agar ananda dapat lebih taat dan tidak membantah adalah, pertama, Anda perlu menjadi panutan yang baik bagi anak. Sebab anak pada masa ini sedang mengembangkan kemampuan imitasi atau meniru orang yang ada di sekitarnya terutama orangtuanya. Oleh karena itu Anda juga harus mampu menahan diri untuk tidak membalas sikap anak dengan kekerasan namun sebaliknya dengan kelemahlembutan.
Kedua, kadang memang anak membangkang pada hal-hal sederhana seperti saat disuruh mandi, merapikan mainan, belajar, dll. Cara mengatasinya adalah dengan memberikan pilihan pada anak. Misal, “Adek mau mandi sekarang atau setelah selesai membereskan mainan?” Tentu saja kita harus konsisten dengan aturan yang telah disepakati bersama.
Ketiga, siapapun pasti senang bila dihargai. Jadi berikanlah pujian bila anak taat dan menunjukkan perilaku yang sesuai. Penguatan positif ini akan membentuk perilaku yang diharapkan dan menghilangkan perilaku yang tidak sesuai. Pujian harus tulus dan tidak terus menerus mengungkit kesalahan atau perilaku ngeyel anak sebelumnya.
Keempat, jalin komunikasi antara anak dan orangtua. Coba dengarkan pendapat dan perasaan anak. Saat situasi sedang tenang, tidak diliputi kemarahan tentu akan mudah bagi anak untuk menerima nasehat orangtua. Ajarkan pada anak tentang kesopanan, termasuk etika saat sedang berbicara dengan orangtua. Tentu saja anak juga diberitahu bahwa menentang saat menjawab pertanyaan orangtua bukanlah perilaku terpuji. Oleh karenanya komunikasi efektif harus diajarkan pada anak. 
Tidak kalah penting yang kelima adalah sebagai orangtua kita perlu intropeksi diri mengapa anak terus menerus ngeyel. Apakah sebagai orangtua kita cenderung memaksakan kehendak, tidak mau menerima pendapat anak, mudah marah dan melampiaskan emosi? Ingatlah bahwa anak adalah peniru ulung. Jadi bijaklah dalam memberi keteladanan perilaku pada anak. Semoga bermanfaat. Berkah Dalem. #

No comments