Header Ads

Breaking News

Debat Soal Asisten Rumah Tangga



Rama Yeremias yang terkasih, kami baru dikaruniai seorang anak. Saya dan suami sempat berdebat soal perlu atau tidak memakai jasa Asisten Rumah Tangga (ART). Saya menyarankan, perlunya menggunakan jasa ART, demi menghemat tenaga antara mengurus anak dengan rumah. Namun suami menolak. Menurutnya, hal tersebut untuk melatih kemandirian kami. Suami mencontohkan pengalaman keluarganya, orangtua suami sejak dulu hingga kini tak memakai jasa ART. Mohon masukan, Rama Yere. Terima kasih.

Agustine– Semarang

Agustine yang baik, terima kasih atas kesediaanmu menuliskan persoalan keluargamu. Topik ini cukup aktual dewasa ini. Para suami maupun isteri memiliki atau melakukan pekerjaan baik di rumah dan lebih-lebih di luar rumah demi memenuhi tuntutan kebutuhan yang semakin banyak. Salah satu dampaknya adalah manakah yang harus dinomor-satukan? Urusan rumah ataukah urusan pekerjaan? Mari kita lihat bersama kondisi ini untuk mencarikan solusi atas topik perdebatan yang tengah dihadapi.
Pertama-tama perlu disadari bahwa suami dan istri yang hendak memasuki hidup berkeluarga kiranya tidak berangkat dari nol! Mereka pasti telah membuat banyak persiapan dan perencanaan, baik menurut peraturan gereja, kesiapan pribadi maupun dalam hal perencanaan bersama-sama. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan dan direncanakan jauh sebelum pernikahan, dan perlu dibicarakan secara terbuka dan dicarikan kesepakatan-kesepakatan diantara mereka.  Misalnya, hal mengenai keuangan, anak, tempat tinggal, mertua, keterlibatan dalam lingkungan masyarakat dan Gereja, dll.
Satu hal lagi yang perlu dirembug adalah soal pekerjaan: apakah berdua akan terus melanjutkan pekerjaannya masing-masing? Ataukah menyepakati hanya seorang saja yang bekerja? Bagaimana dengan urusan di rumah, apakah akan menjadi tanggungjawab bersama atau hanya akan menjadi tugas dan tanggungjawab bagi yang tinggal di rumah dan tidak bekerja diluar rumah? Selanjutnya, kalau sudah mempunyai anak lalu bagaimana menyikapinya? Apakah ibu harus berhenti bekerja? Apakah harus membayar tenaga asisten rumah tangga atau hanya membutuhkan baby sitter?
Andaikata hal-hal tersebut sudah sejak sebelum menikah dibicarakan, dirembug dan disepakati bersama, maka perdebatan yang terjadi antara Agustine dan suami tidak akan terjadi atau paling tidak telah diantisipasi dan diminimalisir.
Sekarang, marilah kita mencermati keluarga Agustine. Tidak banyak informasi yang diberikan maka saya mengandaikan saja bahwa ini keluarga kecil (Agustine, suami dan 1 anak kecil), suami bekerja atau mungkin suami istri bekerja dan memiliki rumah yang tidak besar.  Dengan kondisi keluarga seperti itu, apakah sudah sangat diperlukan kehadiran seorang asisten rumah tangga (ART) yang bertugas untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan seperti menyapu, mengepel, mencuci, menyeterika, memasak dan membersihkan halaman rumah. Ataukah yang lebih dibutuhkan adalah seorang baby sitter yang tugasnya adalah menjaga dan merawat anak ketika ibu dan ayahnya tidak ada di rumah karena kesibukan bekerja? Ataukah baby sitter merangkap tugas sebagai asisten rumah tangga. Saya menyarankan untuk pengasuhan anak tetaplah dipegang sang ibu karena pengasuhan dari sang ibu memberi dampak positif bagi terbangunnya kepercayaan (trust) dan ikatan emosional (emotional bonding) yang kuat dalam diri anak. 
Sedangkan untuk pekerjaan seputar rumah, sejauh masih ada waktu dan tenaga kiranya bisa di-handle bersama. Tetapi ketika Anda berdua atau salah satu sudah merasa sangat berat, sekali lagi hal ini, perlu dibicarakan bersama-sama. Berkah Dalem!

No comments