Header Ads

Breaking News

Apakah Mati Suri Diakui Gereja?



Rama AG Luhur Prihadi terkasih. Beberapa waktu lalu, saya membaca buku ‘Hidup Setelah Mati’. Buku ini berkisah tentang orang-orang yang sempat mengalami mati suri. Saat mati suri tersebut mereka mengalami aneka peristiwa seperti dalam alam roh. Pertanyaan saya, apakah Gereja Katolik mengakui peristiwa ‘mati suri’? Apakah ada ajaran Gereja tentang mati suri? Jika tidak ada, bolehkah kita mempercayai peristiwa mati suri?

Dominikus
Semarang
Sdr Dominikus dan para pembaca Salam Damai yang terkasih, peristiwa yang disebut mati suri merupakan pengalaman yang penuh misteri, sebab memang tidak mudah diterima oleh akal budi manusia. Tentang kematian Gereja Katolik mengajarkan antara lain: sebagai akhir dari kehidupan atau peziarahan manusia di dunia (Katekismus Gereja Katolik no. 1007); dan bagi mereka yang mati dalam rahmat Kristus, kematian adalah ‘keikutsertaan’ dalam kematian Kristus, supaya dapat juga mengambil bagian dalam kebangkitan-Nya (KGK, 1006; bdk. Roma 6:3-9). Dalam hubungan dengan Allah sebagai asal dan tujuan hidup, kematian juga merupakan peristiwa dimana Allah memanggil manusia kepada diri-Nya (KGK 1011).
Secara medis, untuk menentukan kematian perlu menilai dari denyut jantung dan pembuluh darah, serta fungsi otak (batang otak) yang terdeteksi dari fungsi pupil. Pada kasus mati suri, seorang dokter dari Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr Manfaluthy Hakim SpS mengatakan bahwa mati suri adalah kondisi seseorang yang disebut Near Death Experience. Secara medis orang tersebut belum mati otak, tetapi berhentinya jantung, peredaran darah berhenti, tetapi otaknya masih berfungsi. Peristiwa mati suri ini juga disebut kematian secara klinis, tetapi belum mati secara biologis.
Secara psikologis, psikolog Efine Indrianie MPsi, dosen psikologi klinis Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung, menjelaskan bahwa mati suri itu adalah kondisi dimana memori psikologis seseorang diseret total menjadi nol lagi sehingga mengalami rekonstruksi ulang dari kepribadian seseorang, dan biasanya ke arah yang lebih baik. 
Gereja Katolik tidak mengajarkan secara khusus tentang mati suri. Namun Gereja Katolik tidak menolak adanya mati suri, sebab Gereja Katolik mengakui adanya peristiwa medis  yang disebut kematian klinis dimana seseorang mengalami dekat dengan kematian. Kita tetap boleh percaya adanya kematian klinis atau mati suri. Semoga peristiwa seperti itu semakin meneguhkan iman kita akan kuasa Allah atas kehidupan manusia. Dialah asal dan tujuan kehidupan manusia. Melalui Yesus Kristus yang telah wafat dan bangkit, Allah menyelamatkan kehidupan kita dari kematian atau kebinasaan akibat dosa. Yesus bersabda, “Akulan jalan, kebenaran, dan kehidupan; tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Berkah Dalem. # (disarikan dari berbagai sumber)

No comments