Header Ads

Breaking News

Kitab Suci Katolik dan Prostestan, Koq Berbeda?




Rama AG Luhur Prihadi terhormat. Meski tampaknya Kitab Suci Gereja Katolik dan Gereja Protestan sama namun ada beberapa bagian yang berbeda. Gereja Katolik mengatakan bahwa Gereja Protestan membuang kitab-kitab Deuterokanonika. Namun saya juga mendengar bahwa Gereja Katolik membuang beberapa kitab, termasuk dalam Septuaginta, seperti kitab 3 dan 4 Makabe, 3 dan 4 Esdras, dan Mazmur 151. Pertanyaannya, mengapa Gereja Katolik membuang kitab-kitab itu? Dan mengapa Protestan membuang kitab-kitab Deuterokanonika? Mohon penjelasan Rama? Berkah Dalem.

Timotius
Semarang


Sdr Timotius dan para Pembaca Salam Damai, Berkah Dalem.
Alkitab Gereja Katolik terdiri dari 73 kitab, yaitu Perjanjian Lama terdiri dari 46 kitab sedangkan Perjanjian Baru terdiri dari 27 kitab. Bagaimanakah sejarahnya sehingga Alkitab terdiri dari 73 kitab, tidak lebih dan tidak kurang? 

Pertama, kita akan mengupas kitab-kitab Perjanjian Lama yang dibagi dalam tiga bagian utama: Hukum-hukum Taurat, Kitab nabi-nabi dan Naskah-naskah. Lima buku pertama: Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Imamat dan Kitab Bilangan dan Kitab Ulangan adalah intisari dan cikal-bakal seluruh kitab-kitab Perjanjian Lama. Pada suatu ketika dalam sejarah, ini adalah Kitab Suci yang dikenal oleh orang-orang Yahudi dan disebut Kitab Taurat atau Pentateuch .

Sebelum sampai pada proses pengkanonan, terlebih dulu didahului proses penulisan (composing) yang berkisar dari sekitar tahun 50 sampai sekitar 100. Kemudian dilanjutkan dengan proses pengumpulan (collecting) yang berkisar dari tahun 100 sampai 200. Proses pengumpulan ini adalah proses dimana orang-orang percaya mengumpulkan surat-surat atau tulisan rasul-rasul untuk kebutuhan jemaat maupun kebutuhan pribadi. 

Sesudah masa pengumpulan kemudian diikuti masa pembandingan (comparing), yang berkisar dari tahun 200 sampai 300. Proses pembandingan ini ialah proses dimana tiap-tiap jemaat lokal berusaha membanding-bandingkan hasil koleksi mereka. Sesudah itu kemudian diikuti dengan masa pelengkapan (completing) , yang berkisar dari tahun 300 sampai 400.

Pada konsili di Hippo tahun 393 Masehi dan konsili Kartago tahun 397 Masehi, Gereja Katolik secara resmi menetapkan 46 kitab hasil dari kanon Alexandria sebagai kanon bagi Kitab-kitab Perjanjian Lama. Selama enam belas abad, kanon Alexandria diterima secara bulat oleh Gereja. Tujuh kitab berikut dua tambahan kitab dikenal oleh Gereja Katolik sebagai Deuterokanonika ( = second-listed ).

Kitab-kitab Perjanjian Baru juga tidak ditulis oleh satu orang, tetapi adalah hasil karya setidaknya delapan orang. Kitab Perjanjian Baru terdiri dari 4 kitab Injil, 14 surat Rasul Paulus, 2 surat Rasul Petrus, 1 surat Rasul Yakobus, 1 surat Rasul Yudas, 3 surat Rasul Yohanes dan Wahyu Rasul Yohanes serta Kisah Para Rasul yang ditulis oleh Santo Lukas, yang juga menulis Kitab Injil yang ketiga. Sejak kitab Injil yang pertama yang ditulis oleh Santo Matius sampai kitab Wahyu Yohanes, kira-kira memakan waktu 50 tahun.

Pada tahun 382 Masehi, didahului oleh Konsili Roma, Paus Damasus menulis dekrit yang mencantumkan daftar kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terdiri dari 73 kitab. Konsili Hippo di Afrika Utara pada tahun 393 menetapkan ke 73 kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Konsili Kartago di Afrika Utara pada tahun 397 menetapkan kanon yang sama untuk Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Catatan: Ini adalah konsili yang dianggap oleh banyak kaum Protestan dan Evangelis Protestan sebagai otoritatif bagi kanonisasi kitab-kitab dalam Perjanjian Baru. 

Paus Santo Innocentius I (401-417) pada tahun 405 Masehi menyetujui kanonisasi ke 73 kitab-kitab dalam Alkitab dan menutup kanonisasi Alkitab. Jadi kanonisasi Alkitab secara resmi diputuskan di abad ke empat oleh konsili-konsili Gereja Katolik dan para Paus.
Pada tahun 1529, Martin Luther mengajukan kanon Palestina yang menetapkan 39 kitab dalam bahasa Ibrani sebagai kanon Perjanjian Lama. Luther mencari pembenaran dari keputusan konsili Jamnia (yang adalah konsili imam Yahudi, jadi bukan sebuah konsili Gereja Kristen!) bahwa tujuh kitab yang dikeluarkan dari Perjanjian Lama tidak memiliki kitab-kitab aslinya dalam bahasa Ibrani. Luther melakukan hal tersebut sebenarnya karena sejumlah ayat-ayat yang terdapat pada kitab-kitab tersebut justru mengokohkan doktrin-doktrin Gereja Katolik dan bertentangan dengan doktrin-doktrin baru yang dikembangkan oleh Martin Luther sendiri. # 

No comments