Header Ads


Breaking News

Days In Diocese di Paroki Sumber



Sebanyak 84 peserta Asian Youth Day ke-7 dari negara Korea Selatan, Pakistan, Bangladesh, Nepal, Laos dan Indonesia mengikuti program live in Days in Diocese (DID) di paroki St Maria Lourdes Sumber, Minggu-Rabu, 30 Juli – 2 Agustus 2017. Paroki Sumber merupakan salah satu dari 3 lokasi DID di Keuskupan Agung Semarang, selain Paroki St Thomas Rasul Bedono dan Paroki Roh Kudus, Kebonarum.

Selama 3 hari di paroki Sumber, peserta DID AYD belajar bersama umat dan warga masyarakat Sumber dan sekitarnya tentang penghayatan iman Kristiani dalam masyarakat multikultur, dengan kegiatan antara lain mengikuti dinamika bersama keluarga angkat, saresehan bersama tokoh umat di wilayah, kunjungan multikultur, doa bersama umat di lingkungan tempat tinggal mereka dan belajar kesenian tradisional untuk dipentaskan dalam Gelar Budaya pada malam penutupan DID.

Mengawali Misa pembukaan diadakan di Gereja St Maria Lourdes Sumber, peserta DID menerima caping petani sebagai simbol persaudaraan dengan umat dan warga lereng Merapi. Misa yang dihadiri umat paroki dan ratusan kaum muda Rayon Selatan Kedu dengan iringan gendhing Jawa dari OMK Gereja Emanuel Ngawen Muntilan dipimpin oleh Rama Antonius Abas Kurnia Andrianto Pr. 

Dalam kunjungan multikultur pada hari kedua DID, peserta diajak untuk belajar metode pembentukan karakter bagi siswa-siswa SD Kanisius Prontakan lewat media Sekolah Sawah, melihat realitas spiritualitas masyarakat desa Sumber dan sekitarnya melalui tokoh aliran kepercayaan Mbah Gini di dusun Ngentak desa Sumber, penggunaan media kesenian sebagai ruang srawung kaum muda di Sanggar Bangun Budaya Sumber serta silaturahim dengan Kyai Irfan di TPA Miftakul Hidayah dan kunjungan ke situs Candi Asu dan Candi Pendem di desa Sengi.

Memasuki hari ketiga, peserta DID Sumber diajak untuk mengenal dan mempelajari kesenian tradisi yang ada di wilayah Paroki Sumber. Selama 4-5 jam, peserta yang terbagi dalam 5 kelompok, belajar kesenian Dayak Grasak di Sanggar Bangun Budaya, Tari Meditatif Kebebasan Gerak di Padepokan Cipta Budaya Tutup Ngisor, Soreng Jombong di Lor Senowo, Jathilan Tangkil serta Kubro Siswo di Kwayuhan Duwur. Malam harinya, kesenian tersebut dipentaskan dalam Gelar Budaya di lapangan desa Sumber. 

Peserta AYD dari Bangladesh Matthew Francis Gomez terkesan dengan kegiatan DID di paroki Sumber. Sebagai sesama pemeluk agama minoritas, yakni Katolik, Matthew terkesan dengan kerukunan umat dan warga masyarakat yang ada di paroki Sumber. Hal senada juga diungkapkan peserta AYD Solomon Tamang dari Nepal, selain kerukunan, Salomon juga terkesan dengan sambutan hangat dari keluarga live in yang ditinggali. Meskipun baru pertama kali bertemu, namun sudah dianggap seperti anak sendiri.

Hari ke-4, usai acara seremoni pelepasan dan berkat penutup dari Rama Kurnia, peserta DID melanjutkan proses dinamika AYD bersama ribuan kaum muda lain di Jogja Expo Center (JEC) hingga penutupan tanggal 6 Agustus 2017 di lapangan Akademi Angkatan Udara Yogyakarta. # Anton Wijayanto

No comments