Header Ads

Breaking News

Adikku Berpacaran via Medsos



Rama Yeremias terkasih, beberapa bulan ini saya mencemaskan adik perempuan saya, Agatha (29). Beberapa bulan ini ia sering bercerita tentang pacar barunya yang  dikenalnya lewat media sosial. Menurutnya pacarnya itu baik, bahkan belakangan ini mengirimi sejumlah uang untuk keperluan adik saya. Namun saya cemas, karena hingga kini keduanya belum saling bertemu. Saya khawatir adik saya di-PHP (Pemberi Harapan Palsu) saja. Saya khawatir adik saya patah hati lagi. Karena beberapa tahun sebelumnya pernah patah hati ketika diputus pacarnya. Saya sudah beberapa kali mengingatkan adik saya, tetapi dia tidak meng-gubris-nya. Mohon sarannya, Rama. Berkah Dalem.

Felisitas – Magelang

Felisitas yang baik, terima kasih untuk kesediaanmu membagikan kisah tentang adikmu Agatha yang berpacaran jarak jauh lewat media sosial. Dengan kecanggihan sarana berkomunikasi dewasa ini, seseorang bisa berkenalan dengan seseorang di belahan dunia lain. Yang nun jauh di sana bisa menjadi sangat dekat, dan akhirnya orang bisa menyatakan saling mencintai dan ingin menikah. Marilah kita membahas dulu untuk apakah orang berpacaran.
Mendengar kata ‘pacaran’ atau ‘berpacaran’ bagi sebagian besar remaja dan orang muda serta merta menimbulkan asosiasi khusus yakni suatu perasaan wauuu… indah, asyik dan luarbiasa. Banyak orang memaknai pacaran sebagai saat asyik berduaan, berjalan-jalan ke mana saja selalu bergandengan tangan, dsb. Tapi apakah itu yang diharapkan dalam pacaran?
Sesungguhnya pacaran adalah sesuatu proses atau kesempatan bagi seorang pria dan seorang wanita untuk saling mengenal satu sama lain secara lebih mendalam. Melalui perjumpaan dan pertemuan bersama, mereka akan saling mengenal karakter, sifat serta  perilaku masing-masing.
Di sinilah mereka ditantang untuk beradaptasi dengan kekurangan atau kelemahan masing-masing. Bila kelemahan dan kekurangan tersebut mengganggu hubungan mereka, maka mereka bisa memerlukan waktu lebih lama untuk beradaptasi atau mereka berani mengambil keputusan untuk berpisah secara baik-baik.
Demikian masa pacaran menjadi kesempatan yang luas dan terbuka untuk membiarkan diri dikenal dan mengenal satu sama lain.  Untuk itu diperlukan waktu yang cukup untuk mengenal dari dekat, melalui pertemuan dan kehadiran bersama. Selanjutnya mereka dapat menjajaki kemungkinan berpacaran meningkat ke jenjang lebih serius, yakni tunangan dan pernikahan.
Lalu bagaimana dengan pacaran jarak jauh alias pacaran via media sosial?  Kiranya sah-sah saja kalau orang mau pacaran dengan memafaatkan sarana teknologi komunikasi modern saat ini. Orang dapat dengan mudah berkenalan, ngobrol dan berbagi cerita apa saja dengan seseorang di sudut dunia manapun. Lewat percakapan, chatting, video call, ada kemungkinan timbul rasa ketertarikan dan jatuh cinta sehingga bisa dilanjutkan dengan pacaran lewat medsos.
Akan tetapi karena tujuan utama pacaran untuk saling mengenal secara mendalam kelebihan dan kekurangan masing-masing, maka pacaran via medsos ini harus dilengkapi dengan pertemuan langsung, tanpa ada yang disembunyikan dan ditutup-tutupi sehingga terhindar dari sindrom ‘PHP’ alias pemberi harapan palsuatau ‘membeli kucing dalam karung’. 
Karena itu, saya sarankan agar adikmu Agatha sebelum memutuskan untuk bertunangan atau menikah, mereka berdua harus bertemu secara langsung. Dengan demikian segala kebimbangan dan kecurigaan bisa di’clear’kan dan bisa mantap mengambil keputusan: lanjut ke pernikahan atau menunda dulu atau putus total. Terima kasih dan  Berkah Dalem! #

No comments