Header Ads

Breaking News

Menjaga Iman Katolik
Para Penjaga 
Kedaulatan Negara

Di bulan ini, Agustus 2017, negeri tercinta kita akan berusia 72 tahun. Kalangan TNI dan Polri, harus diakui, adalah salah satu pihak yang dengan setia menjaga negeri ini  tetap eksisten mengarungi waktu demi waktu, menggapai kemajuan demi kemajuan. Gereja punya perhatian khusus terhadap mereka dari kalangan TNI dan Polri yang beragama Katolik, yang diwujudkan dalam apa yang disebut sebagai pastoral militer. Apakah keunikannya?


Gereja hadir dalam sumpah prajurit

Pada prinsipnya, pastoral militer adalah pelayanan rohani untuk penguatan iman Katolik bagi kalangan militer dan kepolisian, beserta keluarganya. Sesungguhnya, pastoral militer tidak hanya khusus ada di Indonesia, tetapi juga ada di banyak negara lain. Awalnya,  pada saat Perang Dunia I dan PD II, para tentara diutus berangkat ke medan perang. Saat itu  para pastor diutus untuk mendampingi mereka. 
“Ketika masa damai, fungsinya berubah menjadi pelayanan pastoral bagi mereka yang hidup di dunia militer, termasuk juga bagi keluarganya,” kata Mgr Ignasius Suharyo, Uskup Militer Indonesia.
Keuskupan Militer Indonesia berdiri pada 25 Desember 1949, dengan nama Vikariat Militer Indonesia. Lalu ditingkatkan menjadi  Ordinariat  Militaris Indonesia pada 21 Juli 1986. Lembaga ini langsung tunduk pada Tahta Suci Vatikan. 
Adalah Mgr Albertus Soegijapranata SJ yang menjadi Vikaris Militer pertama kali  (25 Desember 1949 – 22 Juli 1963), lalu Justinus Kardinal Darmojuwono (8 Juli 1964 – 31 Desember 1983) dan Julius Kardinal Riyadi Darmaatmadja SJ  (28 April 1984 – 21 Juli 1986). Selanjutnya  Ordinaris militer dijabat oleh Julius Kardinal Riyadi Darmaatmadja SJ (21 Juli 1986 – 2 Januari 2006), lalu Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo (2 Januari 2006 – kini). 
Menurut Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr Robertus Rubiyatmoko, Pastoral TNI-Polri itu suatu pastoral yang strategis. Mengingat TNI dan Polri itu adalah orang-orang yang mengemban amanat negara, yang natural, netral, dan nasionalis. 
“Selain itu ke depannya ada di antara mereka yang menjadi sosok pengambil kebijakan. Maka, pastoral kepada mereka menjadi sangat penting untuk membekali orang-orang Katolik anggota TNI dan Polri, sehingga mereka tetap memegang teguh prinsip-prinsip keimanan,” tutur Mgr Rubi. 
Paling tidak, menurutnya, ketika terjadi tantangan dalam masyarakat yang menggiurkan, mereka tetap tidak tergoyahkan, sehingga dapat mengemban tugas kenegaraan dengan jernih dan bijaksana. “Maka saya sangat mendukung pastoral TNI dan Polri ini. Karena mereka orang-orang kunci yang mengemban stabilitas negara kita.” 
Keuskupan Agung Semarang telah cukup lama, bahkan bertahun-tahun mengirim imam-imamnya untuk bekerja di lingkungan TNI-Polri. Baik itu ikut di jalur struktural seperti Rama Yos Bintoro Pr, maupun di jalur sipil seperti Rama Jayasasmita di TNI AU, Rama Hendaryono di TNI AL, dan Rama Notowardoyo di TNI AD. 
Selain itu pastoral TNI-Polri juga telah dilakukan oleh Rama-rama Paroki terhadap umat yang merupakan anggota TNI-Polri di paroki masing-masing, kata Uskup Mgr Rubi. 
Di lingkungan Kodam IV Diponegoro, menurut Kepala Seksi Kerohanian Katolik Kodam IV Diponegoro Mayor Robertus Hendro Prapto Mukti, SST, jumlah prajurit Katolik di lingkungan Kodam Diponegoro sebanyak 515 orang. Mereka menerima bentuk pelayanan rohani Katolik bagi prajurit TNI dari para Pastor, khususnya yang terkait dengan pelayanan sakramen-sakramen. 
“Namun demikian, kami dari Kodam IV dan Mabes TNI setiap tahunnya memiliki program rohani tersendiri. Program tersebut dibuat dari Mabes TNI melalui bidang Dinas Bimbingan Mental (Disbintal). Disbintal ini terdiri dari bimbingan rohani masing-masing agama. Untuk agama Katolik, diatur oleh Kasi Rohkat,” tuturnya. 
Salah satu bentuk pembinaan rohani itu diwujudkan dalam bentuk misa, khususnya Misa Jumat Pertama, yang selalu diadakan tiap bulan. Selain itu, ada pula pembinaan melalui rekoleksi, retret, dan ziarah serta pendalaman kitab suci. “Setiap tahun kami mempunyai agenda penyegaran iman sebanyak empat kali, narasumbernya selalu dari pastor,” kata Mayor Robertus Hendro. 
Menurutnya, tidak ada panduan khusus untuk para pastor yang melayani di lingkungan Kodam. Namun tema-tema yang diberikan selalu sesuai dengan tema dari pusat seperti dari Mabes TNI. Misalnya, jika Mabes TNI melalui Disbintal telah mengagendakan tema perihal keluarga, maka kami di Kodam juga harus menyesuaikan temanya tentang keluarga. 
Pastoral TNI Polri
'Paroki Militer'

Pastoral militer, selain secara khusus dilakukan oleh Keuskupan Militer Indonesia, juga dilakukan oleh ‘paroki militer’, yaitu paroki yang berada dalam lingkungan atau kawasan militer. Seperti Paroki St Mikael Panca Arga yang berlokasi di kawasan TNI dan Akademi Militer. Paroki yang berada dalam reksa pastoral Kevikepan Kedu ini berlokasi di Jalan Musi 10, Kompleks Panca Arga I, Magelang. 
Model pastoral militer seperti apakah yang khas di Paroki Panca Arga? Rama Bernardinus Saryanto Wiryaputra Pr, Kepala Paroki Panca Arga, menjelaskan tentang hal ini. “Sebagai Rama Paroki yang berada di lingkungan TNI dan Akademi Militer, ada beberapa tugas khas yakni menyemangati, menggerakkan anggota TNI dan taruna Akmil yang beragama Katolik untuk membangun Gereja yang dinamis, dan juga ikut ambil bagian dalam formatio iman berjenjang untuk anggota TNI (umat dewasa) dan siswa SMA Taruna Nusantara (kaum muda),” ucapnya. 
Masih menurut Rama Saryanto, Rama Paroki secara rutin pada setiap hari Minggu II dan IV (pukul 05.00) memberikan pelayanan Misa di Akademi TNI. Kemudian Paroki juga memfasilitasi pertemuan Taruna Akmil untuk kegiatan bina mental, yakni semacam katekese, yang dilaksanakan seusai misa. Pembimbing bina mental ini bergantian dari seksi Rohani Katolik (Rohkat) dan Paroki. 
Berbeda dari paroki pada umumnya, Paroki Panca Arga tentu lebih banyak berbicara dengan kalangan TNI dan Akmil. Umat paroki cukup lama terpengaruh prinsip-prinsip militer, antara lain ketegasan, loyalitas, kedisiplinan, dan juga hirarki militer, namun saat ini sudah mulai menyesuaikan dengan paroki-paroki lain. Misalnya, terkait kepengurusan Dewan Paroki. 
“Dulu kepengurusan dipegang oleh anggota TNI dengan pangkat paling tinggi dan ketua-ketua bidang dengan pangkat di bawahnya, sehingga jika ada anggota TNI meski mumpuni di dalam soal kegerejaan tapi pangkatnya rendah maka ada semacam kendala hirarki,” tandas Rama Saryanto. 
Tambahnya, sekarang mulai perubahan, Ketua II Dewan Paroki diambil dari sipil, ketua III dari anggota TNI. Kalau dulu ditunjuk dari pihak TNI, sekarang ada kerjasama, orang awam atau sipil boleh masuk dalam struktur dewan dan memberikan warna dalam karya pastoral, termasuk dari TNI yang pangkatnya tidak tinggi. Hierarki militer ini dijembatani oleh Rama Paroki sebagai mediator untuk mengkomunikasikan program-program kerja.
Dalam pembinaan iman anggota TNI dan Taruna Akmil terkadang mengalami kendala. Misalnya paroki mempunyai program pembinaan semacam retret taruna, namun dari lembaga sudah ada program lain terkait latihan-latihan ketrampilan. Maka hal ini harus dikomunikasikan bersama agar ada keputusan yang baik untuk pembinaan ini.


Setia Kepada Iman

Apakah pernah terjadi ‘beda kepentingan’ militer dan Gereja? “Berkaitan dengan cara bersikap, kami mengambil titik temu sebagai berikut: Pada dasarnya seluruh warga Gereja adalah pejuang kesejahteraan dan keselamatan dengan cara dan potensinya masing-masing. Anggota TNI yang memiliki panggilan sebagai abdi negara  mempunyai tujuan yang sama pula untuk memperjuangkan kesejahteraan dan keselamatan ini sekaligus mempunyai cara yang berbeda untuk sampai pada keselamatan dan melindungi masyarakat, negara dan komponen-komponen di dalamnya, termasuk Gereja,” tuturnya. 
Cara yang diutamakan adalah pendekatan dengan dialog, namun jika memang ada sesuatu yang sulit untuk dipertahankan dengan pendekatan dialog tadi maka dapat menggunakan kesempatan untuk kekuatan, namun tidak dengan model membunuh. Sebaliknya, dengan cara menekan secara terkendali supaya emosi tidak meledak. Memang loyalitas tentara adalah loyalitas pasti yang kemudian mengarah pada sikap keras, maka Gereja kemudian membangun loyalitas dinamis, ada kesetiaan tapi juga ada penghargaan pada ekspresi-ekspresi warga. 
Rama Saryanto berharap, para prajurit muda Katolik mempunyai kesetiaan iman. Lewat Kasi Rohkat, prajurit muda sungguh diberi perhatian dan diajak  untuk dapat menerima katekese dengan gembira, antara lain lewat rekoleksi, ziarah juga kegiatan bakti sosial yang melibatkan taruna dan gereja. “Hal ini sangat penting karena untuk prajurit muda dan juga perwira yang baru dilantik biasanya ditempatkan di kesatuan-kesatuan yang terletak di pelosok. Kalau mereka tidak dibekali mental dan iman yang kuat, maka akan mudah hancur, misalnya dengan iming-iming naik pangkat atau jabatan tapi harus melepaskan iman Katolik. Maka di sini prajurit lebih-lebih taruna  disiapkan agar punya mental yang kuat untuk menghadapi situasi-situasi ini,” harapnya.
Gereja Katolik sebagai Gereja universal melayani umat siapapun dan dimanapun, termasuk mereka yang terpanggil sebagai abdi negara di dunia militer dan kepolisian. Kiranya pelayanan dan pendampingan Gereja kepada abdi negara ini semakin dialami dan dirasakan oleh anggota tentara dan polisi Katolik. *** tanta pr, anton, elwin, anto  
   
Letkol Yos Bintoro
Pastor Militer TNI AU 

Meski mengenakan pakaian dinas militer, Rama Letkol (Sus) Yos Bintoro Pr disapa para karbol (calon perwira AU) dengan ucapan, ”Selamat pagi, Rama”. Bukan layaknya militer, ”Selamat pagi, Letkol”. Hal itu dialami Rama Yos, sapaan akrabnya, setiap kali ia memasuki Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta untuk mengajar. Terhitung sejak 1 Oktober 2015, kepangkatan Rama Yos telah naik satu tingkat, dari mayor menjadi letnan kolonel (letkol). 
Mendapat sapaan demikian, Rama Yos bersyukur kepada Tuhan. Ternyata, para karbol melihat dirinya bukan lantaran pangkatnya. Namun, mereka melihat dirinya sebagai Gereja melalui karya pendidikan yang dijalankannya di lingkungan AAU.
”Hal-hal indah seperti itulah yang meneguhkan saya dalam pelayanan rohani di lingkungan AAU,” ucap pembina calon perwira karier AAU Yogyakarta ini.
Dikenal akrab Rama Yos tidak saja dikenal akrab oleh mereka yang Katolik. ”Saya juga dipercaya oleh mereka yang bukan Katolik,” tutur perwira rohani Katolik ini.
Sejak 1997, ia bertugas sebagai pastor militer di AAU Yogyakarta. Uskup Agung Jakarta waktu itu Julius Kardinal Darmaatmadja SJ menugaskannya pertama kali sebagai pastor militer. Saat itu, teman-temannya mengingatkannya agar bersiap-siap frustrasi menjadi pastor militer.
Ia mengakui, diawal berkarya sebagai pastor militer, ia sempat frustrasi selama empat tahun. ”Saya menjadi tentara kok begini, sia-sia,” kenangnya.
Dalam perkembangannya, imam kelahiran Jakarta, 30 November l967 ini sadar bahwa tugas di TNI AU tidak cukup hanya memberikan pembinaan rohani atau sekadar pelayanan pastoral saja. Namun, saatnya berbuat sesuatu untuk menyiapkan apa yang dibutuhkan TNI AU ke depan.

Sempat Frustasi

Di saat putus asa, ia berdoa dengan linangan air mata. ”Apa benar Engkau mengutus aku di tempat ini? Kalau benar Engkau mengutus aku, aku minta tanda adanya gereja dan pastoran,” pintanya.
Tuhan pun menjawab. Tahun 2001, ia mampu merenovasi gudang di kawasan Pangkalan TNI AU untuk dijadikan bangunan gereja beserta pastoran. Dua tahun berselang, TNI AU menghibahkan bangunan gereja itu kepada Gereja Katolik. ”Jadi, bangunan Gereja St Mikael ini sekarang milik Gereja Katolik,” jelasnya.
Yos tidak pernah main-main dengan panggilannya sebagai pastor militer. Apalagi, sebagai tentara, ia menghadapi godaan yang luar biasa, mengingat jenjang karier militer cenderung naik. Sementara sebagai imam, ia melihat kebalikannya: jalannya ke bawah. Jika tidak dihayati secara tepat, panggilan sebagai imam akan kehilangan orientasi. ”Di seminari, kami diajarkan jika ada dua pilihan: yang enak dan tidak enak, kami harus memilih yang tidak enak. Itu menjadi prinsip hidup saya,” tuturnya.
Kini, ia merasa takut jika ada yang mengatakan bahwa bertugas sebagai pastor militer itu enak. Bisa jadi, mereka menganggap demikian karena karya Rama Yos di lingkungan TNI AU mulai tampak dan bisa dirasakan buahnya, baik oleh anggota TNI AU maupun masyarakat di sekitar Pangkalan Adisutjipto. ***


No comments