Header Ads

Breaking News

Bolehkah Menikah Sesama Marga?



Rama Yeremias terhormat, saya seorang wanita Katolik yang berencana menikah. Calon suami saya seorang Protestan. Kami berdua saling mencintai, tetapi orangtua saya dan segenap keluarga tidak mengizinkan saya menikah dengan dia. Alasannya, bukan soal nikah beda Gereja, namun lebih karena kami berdua itu satu marga (dalam adat Batak Toba) dan antara keluarga saya dan keluarga dia itu keluarga dekat. Bagaimana saya harus bertindak dan menyikapi hal tersebut? Apa yang dikatakan KHK atau ajaran Katolik tentang hal itu? Mohon penjelasan Rama.



Yosefine – Yogyakarta
 
Yosefine yang baik, terima kasih atas pertanyaan yang dikirim berkenaan dengan kegalauan yang dihadapi dalam keluargamu. Menjawab pertanyaan Yosefine, saya akan menguraikan lagi apa kata Gereja Katolik atau Kitab Hukum Kanonik (KHK) mengenai sah tidaknya sebuah perkawinan Katolik dan terkhusus tentang hubungan darah/consanguinitas.
Untuk sahnya sebuah perkawinan Katolik dituntut syarat-syarat pokok, yakni kesepakatan nikah, status bebas dan tata peneguhan kanonik. Tiga hal pokok ini yang perlu dipakai untuk mendeteksi sedini mungkin apakah perkawinan yang akan ataupun perkawinan yang sudah dilaksanakan itu sah menurut hukum Gereja Katolik.
Kesepakatan nikah adalah tindakan kehendak dan kemauan yang dengannya seorang laki-laki dan seorang perempuan saling menyerahkan diri dan saling menerima untuk membentuk perkawinan dengan perjanjian yang tidak dapat ditarik kembali. Inilah inti perkawinan. Tanpa kesepakatan nikah maka tidak ada perkawinan. Oleh karena itu dari pihak calon suami maupun pihak calon  istri yang hendak menikah dituntut pengetahuan dan kemauan yang memadai untuk berani mengambil keputusan membentuk perkawinan yang ditandai dengan saling menyerahkan diri dan menerima. Dengan kesepakatan itulah terjadi dan terciptalah perkawinan.
Status bebas bagi seseorang yang hendak menikah haruslah diselidiki dan dipastikan. Seseorang yang hendak menikah benar-benar berstatus bebas, bila dia tidak memiliki sesuatu yang dapat menghalangi peneguhan perkawinannya.
Kitab Hukum Kanonik memberikan beberapa halangan yang membuat perkawinan tidak sah. Misalnya halangan nikah karena umur, impotensi, ikatan perkawinan, hubungan darah, hubungan semenda, kelayakan publik dan halangan pertalian hukum karena adopsi. Status bebas ini dapat diselidiki, diketahui dan dipastikan melalui data surat baptis terbaru (6 bulan terakhir), penyelidikan kanonik dan pengumuman 3 kali berturut-turut pada hari Minggu.
Sedangkan yang menyangkut tata peneguhan kanonik menunjuk pada pelaksanaan peneguhan perkawinan secara Katolik. Untuk sahnya perkawinan secara Katolik, pernikahan tersebut harus dihadiri kedua pengantin itu sendiri, 2 orang saksi dan pejabat resmi Gereja Katolik.
Persoalan yang ditanyakan ibu Yosefine berkaitan langsung dengan halangan-halangan perkawinan menurut KHK. KHK mengatakan bahwa seorang laki-laki dan seorang perempuan tidak bisa menikah secara sah bila mereka memang berhubungan darah garis lurus dalam semua tingkat, ke atas atau ke bawah, baik yang legitim/sah maupun yang natural/alami. Sedangkan dalam garis samping perkawinan tidaklah sah sampai pada tingkat ke-4 inkusif.
Gereja Katolik tidak pernah memberikan dispensasi dari halangan nikah hubungan darah dalam garis lurus dan dalam garis menyimpang sampai tingkat kedua. Bahkan perkawinan tidak pernah akan dilangsungkan jika terdapat keragu-raguan apakah pihak-pihak yang hendak menikah itu masih berhubungan darah garis lurus  atau garis menyamping tingkat kedua. Hal tersebut secara ketat diatur oleh Gereja Katolik dalam KHK pertama-tama untuk melindungi kemurnian relasi cinta kasih persaudaraan antar anggota keluarga sendiri, dan untuk menghindarkan perkawinan incest yang cenderung berakibat buruk terhadap kesehatan fisik, psikologis, mental serta intelektual bagi anak-anak yang akan dilahirkan.
Demikian uraian yang saya ambil dari KHK tentang halangan-halangan nikah, teristimewanya halangan nikah karena hubungan darah (consanguinitas). Semoga bisa membantu mencerahkan pemahaman ibu Yosefine Saya pribadi kurang mengetahui secara persis bagaimana tata laksana perkawinan dalam adat Batak Toba (perkawinan dalam satu marga), sehingga saya juga tidak bisa menjawab dengan lebih terperinci. Mohon maaf dan Berkah Dalem! #

No comments