Header Ads


Breaking News

Sinopsis Majalah SALAM DAMAI Edisi 92 Vol 09 (JUNI 2017)


Eksperiman Toleransi
Bernama Pondok Damai

Di Jawa Tengah ada sekelompok orang muda yang melakukan eksperimen kegiatan untuk saling memahami penganut agama lain. Eksperimen ini dinamai Pondok DamaiPondok  [kata benda] dekat dengan kata mondok [kata kerja], yang dalam kultur Islam berarti mencari pengetahuan. Sedangkan Damai menjadi cita-cita bersama kelompok ini dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
            Pondok Damai digagas oleh Pendeta Rony Chandra Kristantoro di Semarang tahun 2007. Tahun selanjutnya, Tedy Choliludin –tokoh lintas-agama dari Lembaga Sosial dan Agama [eLSA]-- dan Lukas Awi Tristanto dari Hubungan Antar-agama dan Kepercayaan [HAK] Keuskupan Agung Semarang, turut bergabung dan mengawal aktivitas kelompok ini dari tahun ke tahun.
            Yang menarik, Pondok Damai bukanlah lembaga baku yang memiliki ketua, sekretaris, bendahara. Sifatnya ad hoc. Kepanitiaan dibentuk dari mereka yang pernah ikut Pondok Damai pada periode sebelumnya.
Sedangkan dana kegiatan dari iuran peserta. Tahun 2006, misalnya, tiap peserta menyumbang Rp 50.000. Tempat kegiatan biasanya didapat secara cuma–cuma dari lobi-lobi yang dilakukan panitia. Ada dana tambahan dari sponsor, tapi jumlahnya tidak banyak dan tidak mengikat.
            “Saya peserta Pondok Damai angkatan ke-3 tahun 2009, selanjutnya menjadi fasilitator sukarela untuk angkatan-angkatan berikutnya,” kata Lukas Awi Tristanto, yang juga anggota Dewan Redaksi majalah Inspirasi.
            Program Pondok Damai, Awi menggambarkan, adalah live in peserta lintas agama selama 3 hari 2 malam, dari Jumat hingga Minggu. Selama acara ini pesesta diajak untuk: [1] sharing tentang persepsinya terhadap agama lain, [2]  sharing “mengapa aku beragama seperti yang dianut sekarang”, [3]  sharing pengalaman yang tidak menyenangkan terkait relasi antarumat beragama yang dialami sendiri, dan [4]  sharing pengalaman yang menyenangkan terkait relasi antar umat beragama yang dialami sendiri.
Ada game, ada pemutaran film, tapi intinya ada sharing. Saat seorang peserta melakukan sharing, peserta lain tidak boleh menghakimi, kata Awi.
Di hari terakhir, Minggu,  peserta diajak untuk mengunjungi tempat-tempat ibadah dan komunitas-komunitas beragam agama supaya bisa mengenal secara lebih dalam mengenai tradisi keagamaan.
Pola live in mendorong peserta untuk berinteraksi dan memahami pengalaman iman satu sama lain. “Proses tersebut ternyata dapat memupus prasangka yang muncul karena sebelumnya tidak pernah terjadi interaksi dan perjumpaan konkret,” kata Lukas Awi.
.Ninik Jumoenita, aktivis LSM Seruni Semarang juga punya cerita serupa. Ia turut bergabung sebagai peserta pada  2010 dan menjadi relawan panitia pada tiga tahun berikutnya.
Menurutnya, peserta dari tiap angkatan tidak lebih dari 35 orang, dari berbagai unsur agama, kepercayaan, bahkan ada juga yang agnostik [percaya adanya Tuhan, tetapi tidak menjalani ritual agama]. “Rentang usia pesertanya 18-35 tahun. Tetapi pernah ada yang 16 tahun dan 45 tahun,” tuturnya.
Kegitannya setiap tahun berlangsung di tempat berbeda-beda, yaitu Semarang, Jepara, Kudus, Salatiga. “Saat sebagai peserta, 2010, kegiatannya berlangsung di Wisma Nasaret belakang Gereja Karangpanas. Saat sebagai pantia, kegiatannya dipusatkan di Percik Salatiga,” tutur Ninik.
Banyak peserta yang baru pertama kali bertemu dengan mereka yang beragama Hindu dan Budha. Banyak juga yang punya pengalaman baru pertama kali masuk masjid, gereja, klentheng, pura, dan vihara.
Selain itu, lanjut Ninik, banyak juga yang tersadar dan memberikan testimoni bahwa apa yang mereka lakukan ternyata menyakitkan saudara-saudara yang beragama lain, khususnya kelompok minoritas.
Ending-nya, semua bersaudara. Punya grup WA dan facebook, serta rela menjadi panitia untuk Pondok Damai tahun-tahun selanjutnya,” kata Ninik, yang juga relawan di Inter-faith Community [IFC] itu. *** Anto Prabowo

Para peserta Pondok Damai 2013 di Salatiga

No comments