Header Ads

Breaking News

Keponakanku Autiskah?



Elizabeth Wahyu Margareth Indira, M.Pd.,Psi.
Psikolog dan Praktisi Pendidikan Anak
Psikolog Pelangi Kasih-Yayasan Pangudi Luhur



Pertanyaan:
Bu Indira saya memiliki keponakan yang saat ini berusia 3 tahun dan tinggal serumah dengan saya. Sejak bayi ia jarang sekali menangis, kontak matanya terbatas. Bahkan saat bayi kalau dililing atau diajak main cilukba tidak tertarik. Saat ini kemampuan bicaranya sangat terbatas, sering mengulang-ulang kata yang kadang tidak ada artinya. Saat sedang bermain pun ia seperti lebih asyik bermain sendiri daripada dengan anak lain. Mainannya sering disusun dengan pola tertentu, kalau bermain sepeda ada mobil-mobilan malah sibuk dengan memutar-mutar rodanya. Keponakan saya cenderung sangat aktif dan sering berputar-putar. Kadang mengepak-ngepakkan tangannya seperti burung dan tertawa-tawa sendiri. Dia tenang kalau sudah di depan TV atau nonton youtube dari HP.
Mencermati perilaku tersebut saya merasa keponakan saya seperti anak autis ya? Saya sudah bilang ke orangtuanya. Tapi mereka menganggap hal itu wajar. Menurut Ibu apakah keponakan saya autis? Lalu apa yang harus saya lakukan supaya orangtuanya? Karena mereka bekerja di Jakarta dan keponakan saya ini sejak usia 1 tahun dititipkan di rumah orangtua saya. Lalu apakah yang harus dilakukan untuk menolong keponakan saya?
 Gabriella Belinda – Semarang

Jawaban:
Mbak Gabriella yang terkasih, anda rupanya sangat peduli dengan tumbuh kembang keponakan yang tinggal serumah dengan anda. Mencermati ciri-ciri yang Mbak Gabriella sampaikan memang menunjukkan ciri-ciri penyandang autis. Namun alangkah baiknya bila dikonsultasikan dengan dokter tumbuh kembang anak, psikiater anak atau ke psikolog agar dapat diasesmen lebih lanjut.
Autisme memang tergolong gangguan neurobiologis yang sangat kompleks yang biasanya ditandai dengan gangguan pada aspek perilaku, komunikasi dan sosialisasi. Gangguan perkembangan ini mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif. 
Langkah pertama adalah memberi kesadaran pada kedua orangtua kandung untuk memahami kondisi anak, terbuka dan menerima serta bertindak untuk memberi penanganan yang tepat. Kedua, segera konsultasikan dengan ahlinya, seperti dokter tumbuh kembang anak, psikiater dan psikolog yang dapat membantu memberikan asesmen dan diagnosa.
Ketiga, jaga pola makan anak karena bila memang benar keponakan merupakan penyandang autisme maka ada tidak boleh mengkonsumsi susu sapi dan turunannya misal keju, yougart, ice cream. Terigu dan gula juga harus dihindari. Alangkah baik bila dilakukan tes alergi untuk mengetahui boleh atau tidaknya  makanan dikonsumsi. Keempat, terapi akan sangat diperlukan. Biasanya terapi yang diberikan bagi anak autis adalah terapi wicara, okupasi, sensori integrasi, perilaku.
Percayalah bahwa ketika Tuhan memberikan kepada kita anak yang istimewa, pasti Tuhan sudah tahu bahwa kita sanggup untuk menjadi orangtua yang istimewa pula. Bahkan Tuhan sendiri yang akan memperlengkapi kita dengan segala yang kita butuhkan untuk mendidik dan mengasuh anak. Keterlibatan semua anggota keluarga untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi penanganan anak autis, merupakan salah satu faktor pendukung sukses tidaknya penanganan autis.
Latihan yang dapat dilakukan di rumah yang dapat mendukung keberhasilan penanganan anak misalnya melatih kontak mata, mengajarkan kemandirian, mengurangi menonton TV atau HP namun berbanyak untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Lebih jelasnya orangtua dan keluarga yang terlibat dalam pengasuhkan mendapatkan “home training” yang diberikan oleh ahli. Memiliki anggota keluarga yang berkebutuhan khusus bukan merupakan musibah namun inilah anugerah yang diberikan Tuhan yang patut kita syukuri. #

No comments