Header Ads


Breaking News

Membangun Relasi dengan Umat Islam

Gereja Harus Makin Hadir 
di Tengah Masyarakat

Berdialog dengan umat agama dan kepercayaan lain,  khususnya umat Islam,  bukanlah hal baru bagi Gereja. Itu memang bagian dari perutusan umat Katolik untuk mewartakan dan menciptakan kebaikan bersama. Atau dalam bahasa gerejawi, untuk menjadi garam dan terang dunia. Di tengah fenomena radikalisme dan sikap intoleran yang meningkat, dialog itu justru harus makin ditingkatkan intensitasnya


Setidaknya, ada pijakan dasar untuk melakukan dialog itu. Konsili Vatikan II [1962-1965] menegaskan bahwa ada keselamatan dan kehendak baik pada kepercayaan-kepercayaan lain yang daripadanya terdapat  rahmat [Gaudium et Spes artikel 22]. Dorongan untuk berdialog itu juga ditegaskan dalam Lumen Gentium artikel 16. 
Paus Fransiskus, dan para Paus sebelumnya, juga memberi contoh konkret bagaimana menghargai umat agama lain, dan bekerja sama untuk membangun kebahagiaan bersama, sekalipun tetap bersikap sangat kritis terhadap tindakan-tindakan terorisme yang menenggelamkan nilai-nilai kemanusiaan. “Aku rindu Gereja yang terluka, memar, bau, karena keluar ke jalan-jalan,” tutur Paus Fransiskus.
Menurut Ketua Komisi Hubungan antar-Agama dan Kepercayaan [HAK] Keuskupan Agung Semarang, Rama Aloysius Budi Purnomo, Pr, sejatinya dialog dengan Islam itu sudah dilakukan oleh para pemimpin Gereja Indonesia jauh sebelum Konsili Vatikan II. Misalnya yang dilakukan Mgr Soegijapranata. Beliau sangat intens melakukan dialog dengan para pemimpin Indonesia, yang notebene muslim, untuk mewujudkan cita-cita bersama, yaitu kemerdekaan Indonesia.
“Mgr Soegija menjadi peserta Konsili Vatikan II. Pastilah pengalaman berdialog dengan para pemimpin muslim di negeri ini, turut menjadi sumbangan berarti bagi keputusan-keputusan Konsili,” tuturnya.
Uskup berikutnya, yang meneruskan tugas Mgr Soegija, yaitu Justinus Kardinal Darmojuwono, juga punya semangat yang sama. Demikian juga para Uskup selanjutnya sampai Uskup yang baru ditahbiskan Mgr Robertus Rubiyatmoko.
Bapak Kardinal Darmojuwono membentuk cikal bakal lembaga hubungan antaragama, yang kemudian menjadi Komisi Hubungan antar-Agama dan Kepercayaan. Ditunjuk  tiga  orang untuk mengejawantahkan dialog itu, yaitu Rama YB Mangunwijaya, Rama Kuntara SJ, dan Rama F Suryoprawata MSF, kata Rama Budi. “Selanjutnya, saya yang ditunjuk menggantikan Rama Suryoprawata pada 2008.”
Sebagai Ketua Komisi HAK, dialog itu dilakukannya dengan langkah-langkah konkret. Awalnya silaturahmi ke berbagai pondok pesantren, mengucapkan Selamat Idul Fitri, hingga langkah-langkah yang konkret lain, seperti mengajak orang muda Katolik untuk live-in di pondok-pondok pesantren, menanam pohon bersama untuk melindungi keutuhan alam ciptaan, juga melakukan kegiatan  seni budaya bersama.
“Sejauh ini tak ada prasangka Kristenisasi yang ditujukan pada kami. Buah yang konkret adalah persahabatan yang tulus,” tuturnya. 
Kunci untuk dialog itu, lanjut Rama Aloy Budi, adalah berani hadir di tengah masyarakat. Banyak umat Islam yang menunggu kehadiran kita untuk bekerja sama melakukan hal-hal yang mulia. Bagaimana mungkin kita membuka ruang perjumpaan dengan mereka, kalau tidak hadir dalam situasi kemasyarakatan? 
Rama Agustinus Suryo Nugroho Pr, yang pernah studi Islamologi di Mesir juga punya pengalaman serupa. Dosen-dosennya yang muslim, juga teman-teman kuliahnya, semua memiliki pandangan dan sikap yang terbuka.  Tidak pernah mempersoalkan agama dalam pengajaran maupun pertemanan.  “Bahkan saya banyak dibantu dalam mengatasi persoalan praktis sehari-hari selama setahun di Kairo,” tuturnya.
Baginya, orang-orang Islam bukan orang asing. Mereka menjadi bagian dari kehangatan keluarga dan ketetanggaan. “Hidup saya dibentuk dengan baik dalam relasi dengan mereka. Dalam keseluruhan hidup saya sampai saat ini, secara pribadi saya belum pernah mengalami kesulitan dan konflik karena persoalan agama.”
Bahkan sebagai guru seminari, ada berlimpah perhatian dari para kiai dan komunitas agama lain yang diberikan pada para seminaris setiap kali mereka live in. “Di pesantren, anak-anak didik saya mengalami sendiri perhatian, nasehat, kepedulian, kehangatan persaudaraan, keteladanan dalam kesetiaan dan ketertiban hidup.”
Akhir-akhir ini memang ada gerakan-gerakan yang semakin kelihatan yang membentuk kesan buruk mengenai Islam. Ada banyak kepentingan yang bermain. Namun dia percaya dengan gambaran baik yang didapatkan setiap kali menitipkan anak-anak seminari untuk ngenger/nyantrik pada para kiai. 
“Pengalaman itu dibukukan dalam buku yang akan segera diterbitkan, Neighbor’s Lawn judulnya,”  tutur Rama Suryo, yang menjadi guru di Seminari Menengah Mertoyudan ini.
Mengenai fenomena radikalisme dan intoleran, Rama Suryo berpendapat,  “Saya pikir Gereja Katolik di Indonesia perlu menemani teman-teman di NU yang paling kelihatan dalam gerakan menentang radikalisme dan kelompok intoleran serta paling konsisten untuk menegakkan empat pilar dalam kehidupan berbangsa.”
Gereja Katolik di Indonesia perlu memegang teguh prinsip Mgr A Soegijapranata SJ yang terus bertanya: apakah Gereja Katolik sungguh-sungguh bermanfaat untuk keamanan/keselamatan dan kemakmuran Indonesia?  Yang penting, dalam mengusahakan hal-hal baik jangan dikerjakan sendirian. Ajak sesama yang berbeda latar belakang untuk terlibat.
Seminari Menengah Mertoyudan pernah menerima rombongan sebuah pondok pesantren ‘garis keras’ dari Kudus yang mengadakan studi tour inter-religius. Saya diminta mengajarkan pandangan Gereja Katolik terhadap umat beragama lain pada para santriwan/wati. 
“Mau tahu tempat belajarnya di mana? Di dalam kapel Seminari Mertoyudan. Mereka sendiri yang meminta. Saya melihat, mereka sedang berusaha mencari apa artinya bermanfaat bagi Indonesia. Jika mereka mau memulainya, apakah kita cukup punya keberanian untuk memasuki ‘pekarangan tetangga’?” katanya.


Pandangan Umat Islam

Dari kalangan umat Islam, bagaimanakah selama ini dialog yang terjadi dengan umat Katolik?
Dosen Filsafat Islam UIN Walisongo Semarang  Ubaidillah Ahmad, menyatakan, selama ini dialog Katolik-Muslim sudah berlangsung dengan baik, dan menjadi unsur vital dalam membangun kemanusiaan, peradaban dan ranah kebhinekaan. “Dialog untuk tujuan membangun kemanusiaan  ini sejalan dengan prinsip nilai dan misi masing-masing agama. Jadi tidak ada yang bertentangan.”
Saat ini bangsa Indonesia sedang diuji oleh gerakan komunal yang berusaha merusak kebhinekaan. Motif mereka jelas kekuasaan, dengan memanfaatkan simbol-simbol keagamaan, dalam hal ini Islam. 
Tentu saja, menghadapi gerakan komunal radikal yang bermotif kekuasaan dan menggunakan simbol-simbol agama ini, kerja sama umat Islam dan Katolik, maupun agama lain, harus makin ditingkatkan, baik intensitasnya maupun kualitasnya. Misalnya dalam forum-forum kebangsaan dan kebhinekaan.
“Jika  menghadapi gerakan komunal radikal itu yang bergerak  hanya Islam, khususnya NU dan Anshor, maka akan muncul anggapan ‘sesama umat Islam kok konflik’. Kan repot,” kata Gus Ubaidillah, yang juga  pemimpin padaMajlis Kongkow As Syuffah Sidorejo Pamotan Rembang.
Terus terang, tutur Gus Ubaidillah, fenomena radikal intoleran ini sesungguhnya sangat merugikan Islam. Para pencerah dari kalangan Islam harus bekerja keras untuk, pertama, mengembalikan citra Islam yang dirusak oleh kelompok intoleran dan radikal yang mengatasnamakan Islam. Kedua, mengembalikan semangat umat Islam bahwa Islam benar-benar agama yang membebaskan dan mencerahkan.
Dosen UIN Walisongo lainnya, Dr Abdul Wahib, menegaskan agama-agama, memiliki misi utama yang relatif sama, yakni menjunjung tinggi keyakinan akan adanya hubungan dengan Yang Maha Ada, menanamkan keyakinan akan sikap hidup yang teosentris dan juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan (humanitas).
Umat beriman harus melindungi harkat dan martabat manusia dengan berbagai ajaran/cara. Seperti perintah untuk saling menghormati, menghargai, membantu, bekerja sama dan larangan merugikan sesama, menyakiti sesama, menganiaya apalagi membunuh sesama.
“Relasi ideal antar agama adalah relasi yang bisa menjunjung tinggi dua nilai di atas. Jika ada fenomena yang berkembang menyalahi dua nilai di atas maka semua agama bahu membahu untuk menghadapinya. Sebagai contoh, jika ada bencana alam, atau bencana yang terjadi karena ulah manusia semisal korupsi, perusakan lingkungan, pelanggaran HAM, intoleransi, dan lai-lain, sejauh ini agama-agama (melalui tokoh-tokohnya) bekerja sama,” kata Abdul Wahib, salah satu penggagas Interfaith Community di Semarang ini.

Fenomena Purifikasi Agama

Bagaiamana idealnya menghadapi kecenderungan purifikasi agama, yang menafikkan pandangan berbeda? Menurutnya, dalih purifikasi agama diusung oleh para alumni Saudi yang sangat Wahabi. Mereka maunya membawa muslim set back pada kehidupan Muhammad Rasulullah 14 abad yang silam. Mereka ‘memusuhi’ sesama muslim yang ‘melibatkan unsur budaya lokal’ dengan label Bid’ah dan khurafat. 
Kebanyakan Muslim mainstream  di Indonesia, atau sebut saja kalangan NU, menggunakan mind set kami orang Indonesia (Jawa) yang menerima Islam sebagai agama. Oleh karena itu saya amalkan Islam sesuai dengan kultur saya yakni Indonesia. Dan ini berbeda dengan mind set kaum Wahabi yang hanya memiliki  kata ‘kami muslim’ tanpa peduli di mana dia tinggal.
Sebagai contoh, lanjut Abdul Wahib, selamatan untuk mendoakan seseorang yang baru saja meninggal adalah bid’ah dan itu haram karena tidak dicontohkan oleh Nabi, sementara bagi  Muslim mainstream perbuatan itu boleh-boleh saja, Nabi melakukan doa itu meskipun tidak dengan cara bersama-sama sebagaimana kultur lokal (Nusantara) yang ada. 
Gerakan purifikasi itu akhirnya menjadi masalah bagi internal kalangan Islam. “Jika kepada  sesama muslim saja mereka tidak bisa toleran, bagaimana dengan yang non muslim. Pergulatan mereka memang memprihatinkan,” tuturnya.
Dan NU lah yang mau tidak mau mesti menghadapi gerakan purifikasi ini. Memang butuh waktu yang tidak sedikit untuk pada  akhirnya menetralisasikan semua dampak dari gerakan purifikasi ini. Gerakan kultural dalam agama adalah penyeimbang alami dari gerakan purifikasi di manapun dan kapan pun juga.

Dialog Karya

Dialog antar umat beragama, khususnya umat Katolik dengan Islam, memang harus diwujudkan dalam segala lini kehidupan. Di dalam kerja nyata, pengembangan masyarakat miskin untuk lebih mandiri, adalah salah satunya. 
Lembaga Pengembangan Usaha Buruh Tani dan Nelayan [LPUBTN], yang didirikan oleh Mgr Soegijapranata dan Rama John Dijkstra SJ di tahun 50-an, punya banyak pengalaman. Yang jelas, mayoritas yang dilayani adalah umat muslim. Lembaga ini tidak memakai ‘bendera Katolik’ dalam melayani dan tidak memandang aspek agama dalam memberikan pelayanan.
Namun dalam kiprahnya, tak jarang terjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga Islam. Misalnya, tutur Petrus Puji Sarwono, pengurus LPUBTN. Kini, tengah berlangsung, untuk pengembangan wilayah Kemijen Semarang Timur, pihaknya bekerja sama dengan Unisula. “Mereka menangani aspek lingkungan, kami di pengembangan masyarakatnya,” tutur Puji Sarwono.
Lukas Awi Tristanto, dari Komisi HAK, bersama-sama dengan sahabat muda lain yang berlatar belakang Islam dan Kristen, mewujudkan dialog itu melakukan  eksperimen untuk membangun pemahaman antara agama dan kepercayaan, yang dinamai Pondok Damai.  [Baca: Eksperiman Tolerasi Bernama “Pondok Damai”]
Kegiatan itu diinisiasi pertama kali tahun 2007 dan berlangsung hingga tahun 2017 ini. “Buahnya adalah sikap saling memahami dan menghargai penganut agama lain,” tutur Awi. 
“Gereja yang ke jalan-jalan”, sebagaimana dirindukan Paus Fransiskus, tampaknya mewujud melalui langkah-langkah itu.***gunawan, pr, elwin, anto


No comments