Header Ads

Breaking News

Kejamkah Allah dalam Penyaliban Yesus?

Rama Luhur terkasih, sejak Februari kemarin saya mengikuti latihan visualisasi kisah sengsara Yesus. Saat latihan muncul pertanyaan: mengapa Yesus harus menderita, sengsara dan wafat di kayu salib? Seorang pelatih visualisasi menjawab: karena sengsara dan wafat Yesus itu merupakan pusat rencana penyelamatan Ilahi. Lalu spontan saya berkata, “Betapa kejam Allah dengan rencana tersebut. Apakah Allah tidak bisa membuat rencana lain untuk menyelamatkan manusia?” Pertanyaan itu pula yang ingin saya tanyakan kepada Rama: apakah Allah tidak  mau menggunakan cara-cara yang tidak kejam. Terima kasih.

Stefanie
Semarang


Sdr Stefani dan pembaca SALAM DAMAI yang terkasih, dalam Injil Yohanes 3:16,  “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Kalau kita mencermati ayat ini, maka hal yang bisa disimpulkan adalah bahwa Allah sangat mengasihi manusia.  Dari Allah yang diberikan kepada manusia adalah kasih, bukan kekerasan atau kekejaman. Namun kasih Allah itu ditanggapi oleh manusia dengan penolakan yang memuncak pada tindakan yang kejam dan keji. 

Kita baca Injil Matius 20:18 yang mengatakan, "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.” 
Kalau demikian yang terjadi, siapakah sebenarnya yang kejam? Anak manusia diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang akan menjatuhi Dia hukuman mati. Padahal Anak manusia menawarkan kasih dan kelembutan. Hal itu bisa kita temukan dalam Injil  Matius 11:29,  “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Yang ditawarkan adalah kelemahlembutan dan kerendahan hati, tetapi dibalas dengan kekerasan dan kekejaman.

Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur juga semakin mempertegas siapa sebenarnya yang kejam, dalam Matius 12: 6-8,   “Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu.”
Semoga kita semakin mampu memahami misteri kasih Allah yang begitu besar dari penderitaan dan kematianNya. Semoga kitapun ikut dalam kebangkitanNya. Selamat menjalani masa pra-paskah, menuju perayaan Paskah. # 

No comments