Header Ads


Breaking News

Antonius Ariyanto Rumahku Tersambar Petir, Tuhan Melindungi

“Musim hujan 2017 ini sejenak mengingatkanku akan suatu peristiwa yang seharusnya telah melenyapkanku sekeluarga dari muka bumi ini di tahun 2015. Dan sungguh benar firman Tuhan dalam kitab Yesaya, ‘Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku (Yes 55:8). Senyatanya, aku sekeluarga masih tetap bisa menghirup udara segar hingga saat ini,” tutur Antonius Ariyanto mengenang kebaikan Tuhan kepada ia sekeluarga. 

Awal 2015, seperti tahun ini, curah hujan tiada henti membasahi bumi. Kala itu, Anton -demikian akrab disapa- pulang ke rumah untuk menengok keluarga di Dusun Kalisanten, Desa Ngemplak, Temanggung, atau sekitar 1 km dari Pertapaan Rawaseneng. Lebatnya hujan, membuat Anton bersama orangtua dan adiknya menghabiskan hari Minggu dengan berkumpul di rumah sambil menonton televisi. Meski cuaca begitu dingin, namun kehangatan keluarganya begitu terasa. 

Siang itu, langit seakan geram dan meluapkan amarahnya dengan petir yang sambar menyambar.  Sekali lagi, amarah langit ini tak mengurangi kemesraan keluarga Katolik ini. 

“Namun, keakraban kami serta merta terkoyak oleh satu suara petir yang begitu keras yang disertai getaran rumah kami. Beberapa kaca jendela kami pecah. Kami begitu kaget dan takut,” ucap suami Veronika Veni Anastasia Wantania ini. 
Lanjutnya, “Akibat suara petir yang keras dan kaca-kaca yang pecah, Bapakku Ignatius Ngatemo yang sempat berada di ruang depan, tiba-tiba jatuh pingsan. Terdengar suara ‘gedhebug’! Aku segera ke ruang depan dan mendapati ayah sudah tergeletak dengan beberapa luka akibat serpihan kaca.”

Belum habis rasa takut menghantui, tiba-tiba Anton sekelurga dikejutkan dengan teriakan-teriakan tetangga di luar rumah. Mereka memanggil-manggil nama orangtua Anton: “Pak Ngatemo…Pak Ngatemo… omahmu kobongan (rumahmu terbakar)!”

”Rupanya sesaat ketika petir menyambar rumah kami, para tetangga melihat bahwa rumah kami terbakar. Makanya mereka mengkhawatirkan keselamatan kami sekeluarga,” ucap Guru Komputer SMK PL St Tarcisius Semarang ini. 

Yang dikhawatirkan para tetangga memang ada benarnya, karena beberapa peralatan elektronik seperti televisi, ricecooker, terbakar. Para tetangga saat petir menyambar, memang melihat nyala api di balik rumah Anton. 

Puji Tuhan! Itulah kata pertama yang terucap Anton di hadapan tetangganya, untuk menggambarkan bahwa kondisi mereka baik-baik saja. Tiada henti mulut Anton mengucapkan syukur sambil memberesi rumahnya yang berantakan akibat petir tersebut. 

“Semua karena berkat dan perlindungan Tuhan,” ucap pria kelahiran 2 April 1986 ini kepada orangtua, adik, dan para tetangga yang menengok. Ia sungguh mengimani bahwa keselamatan yang dialami keluarganya semata-mata karena kebaikan-Nya saja. 

Dalam refleksinya, Anton percaya hanya belas kasih Allah sajalah yang melindunginya bersama keluarga. Ini merupakan sapaan dari Tuhan, bahwa Ia tak pernah meninggalkannya, bahwa Ia sangat mencintainya. “Lalu apa balasan saya kepada Tuhan?” Pertanyaan refleksi ini ia tanyakan kepada dirinya. 
Di dalam hati, Anton berjanji tidak akan menyia-nyiakan hidup yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya dan keluarga. “Saya berjanji, akan melayani Tuhan dengan sepenuh hati dan dimana Tuhan tempatkan,” ucap anggota Komisi Liturgi Kevikepan Semarang ini. # Elwin

No comments