Header Ads

Breaking News

Anakku Pacaran dengan Frater?



Rama Yeremias terhormat, saya mempunyai anak gadis (20 tahun) yang berkuliah di Jakarta. Ia sangat dekat dengan saya, dan segala sesuatu diceritakan kepada saya. Salah satu yang ia ceritakan adalah saat ini ia berpacaran dengan seorang frater. Ia mengenal frater ini saat kegiatan Gereja dan sudah berjalan 1 tahun. Saya sudah menasehati anak saya supaya jangan ‘mengganggu’ frater itu, tapi ia bilang bahwa frater itu yang sering mengajaknya ketemuan. Saya khawatir, anak saya nanti yang malah menyebabkan frater itu tidak sampai menjadi imam. Mohon saran Romo. Terima kasih. Berkah Dalem. 

Fransiska
Surakarta


Fransiska yang baik, saya ucapkan terima kasih atas kerelaan Anda berbagi dalam rubrik ini. Persoalan kali ini mengenai kisah perpacaran antara seorang gadis dengan seorang frater. Sebagai ibu yang bijak, Anda telah menasehati bahkan melarang anak gadis ibu berpacaran dengan frater. Ibu juga merasa bersalah kalau sampai si frater tidak sampai ke jenjang imamat karena ‘diganggu’ oleh anak Ibu. 

Bicara soal pengalaman cinta (dicintai atau mencintai) dapat terjadi oleh siapapun, kapanpun dan di manapun. Suatu pengalaman yang sangat normal dan manusiawi. Bisa dirasakan orang  muda, tengah umur bahkan di senja usiapun. Pengalaman dicintai atau mencintai bisa mendatangi dan menimpa siapapun. 

Sebaliknya pengalaman ditolak atau dilarang mencintai dan dicintai seseorang bisa sangat menyakitkan dan menyedihkan sekali, bahkan ada orang yang sampai bunuh diri. Begitu dahsyatnya cinta, bisa menimbulkan rasa bahagia melambung tinggi, tetapi bisa juga menyebabkan orang sakit hati dan tak punya gairah hidup lagi.

Yang menarik dalam kasus ini, bahwa kisah cinta ini terjadi antara seorang gadis dan seorang frater. Sebagaimana kita ketahui bahwa frater adalah seorang calon imam. Sebagai seorang frater, ia berada dalam tahap studi filsafat dan teologi sekurang-kurangnya selama 7 tahun dan bila lulus serta beres akan ditahbiskan menjadi imam.

Sampai saat ini Gereja Katolik menetapkan peraturan bahwa menjadi seorang imam berarti orang tersebut tidak boleh menikah. Karena kelak menjadi imam, maka seorang frater selama masa pendidikan seharusnya mempersiapkan diri ke arah cara hidup selibat atau tidak menikah. 

Akan tetapi seorang frater belumlah imam. Dia sedang menuju ke arah sana. Maka dia bisa berhasil mencapai cita-citanya atau gagal. Ada banyak hal yang harus dilaluinya, seperti studi yang panjang dan bimbingan untuk menjernihkan motivasinya. Bisa terjadi frater tertarik bahkan jatuh cinta dengan seorang gadis. 

Pengalaman tersebut bisa menjadi salah satu sarana untuk mengadakan ‘discernment’ atau proses yang menuntun frater untuk sampai pada pemilihan atau pengampilan keputusan dalam hidupnya: apakah memang menjadi imam adalah pilihan hidupnya atau malah harus memilih jalan lain, misalnya menikah dan membangun keluarga. 

Berdasarkan penjelasan di atas, saya berpendapat bahwa ibu Fransiska tidak perlu merasa bersalah atau khawatir bila frater tersebut pada akhirnya tidak mencapai imamat. Putri Ibu memang punya andil juga tetapi tanggung jawab seluruhnya justru ada di tangan frater sendiri. Sang waktu akan membuktikan apakah komitmen dan motivasinya benar-benar murni atau tidak. 

Frater sendiri pasti juga melalui bimbingan dan refleksi pribadi saya yakin akan sampai pada ketegasan sikap dan keputusan untuk terus meraih cita imamat atau tidak. Maka melarang anak ibu untuk tidak bertemu dengan si frater bukan jalan keluar yang baik, karna di masa kini komunikasi dan relasi bisa terjalin melalui pelbagai macam cara dan sarana. Pertemuan yang diam-diam atau tersembunyi justru bisa menimbulkan hal-hal yang buruk. Sebaliknya lewat perjumpaan dan pertemuan yang jelas, mereka berdua dapat saling terbuka, mengenal isi hati masing-masing, mempertimbangkan secara jernih dan tak lupa pula memohon bantuan Tuhan, moga-moga pada saatnya keduanya dan terutama sang frater tersebut dapat mengambil keputusan yang terbaik dan bertanggung jawab! Berkah Dalem! # 

1 comment: