Header Ads

Breaking News

Merawat “Tamu Ilahi” di Rumah Sakit



“Terkadang saya melihat ‘wajah’ Yesus dalam diri pasien yang saya layani,” kata Maria Goreti Nugrahadina Rossanti. Perawat RS St Elisabeth Semarang ini memahami benar, bahwa yang ia layani adalah ‘tamu Illahi’. Karenanya, ia tak hanya merawat tubuh pasien, namun juga melayani kebutuhan rohani mereka. 

Beruntunglah, banyak narasi di Kitab Suci Perjanjian Baru yang menceritakan perhatian penuh cinta kasih pada orang-orang yang tengah menderita sakit. Junjungan kita, Yesus Kristus, yang menjadi teladan utamanya. Dia menyembuhkan orang lumpuh dan orang berpenyakit kusta, membuat orang buta melihat kembali, serta orang tuli bisa mendengar kembali. Bahkan, Yesus membuat orang mati hidup kembali.

“Imanmu telah menyelamatkan kamu,” begitu kata-Nya selalu, usai membuat mukjizat penyembuhan. Yesus ingin mengajarkan bahwa kesembuhan pun terjadi karena campur tangan kuasa Illahi yang dipercaya oleh si sakit. 

Dengan spirit seperti itu, rumah sakit – rumah sakit Katolik bertumbuh di seluruh dunia. Soal kesembuhan dari sakit, bukan hanya semata-mata karena obat yang dimasukkan ke tubuh, melainkan bagaimana mempercayai Kuasa Ilahi bekerja, antara lain lewat perhatian penuh kasih kepada mereka yang menderita sakit. 

Dina, sapaan akrab perawat RS St Elisabeth itu, juga meyakini hal tersebut. Pada prinsipnya, pelayanannya bersama rekan-rekannya adalah menghadirkan sekaligus menjadi tanda kuasa cinta Allah. 

“Pasien dan keluarga pasien selalu mengharapkan pelayanan medis seoptimal mungkin untuk kesembuhannya. Selain itu, sesungguhnya, pasien juga membutuhkan pelayanan lain yang membuatnya nyaman,” tuturnya. 
Pelayanan nonmedis itu merupakan bagian dari pastoral care atau pelayanan pastoral bagi orang sakit. Pendampingan pastoral care ini akan membantu kenyamanan dan kesembuhan pasien. Inti dari pelayanan pastoral ini adalah empati pada si sakit.

Sebagai seorang perawat Katolik, Dina memandang perawat harus melayani pasien tanpa membeda-bedakan yang dirawat.  “Merawat harus juga dengan hati.  Kita harus mendoakan mereka. Kita juga selalu memberikan senyuman. Inilah salah satu bentuk konkret pelayanan pastoral kami kepada si sakit,” ucap Dina. 

Hari Orang Sakit Sedunia
Pelayanan pastoral selalu diingatkan dan dikuatkan kembali setiap Gereja memeringati Hari Orang Sakit Sedunia (World Day of the Sick) setiap tanggal 11 Februari. Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia [HOSS] ditetapkan Paus Yohanes Paulus II pada 13 Mei 1992, setahun setelah beliau didiagnosa menderita parkinson,  dan mulai dirayakan pada 11 Februari 1993. Hari itu dibaktikan khusus sebagai “hari khusus untuk doa dan berbagi, untuk mempersembahkan penderitaan kita”.

Pesta Bunda Maria dari Lourdes dipilih menjadi tanggal HOSS karena banyak peziarah dan pengunjung ke Lourdes yang telah disembuhkan melalui doa-doa Bunda Perawan. Pemilihan tanggal 11 Februari juga punya makna mengikutsertakan Bunda Maria dalam permohonan akan kesembuhan.

Ada tiga alasan Bapa Suci Yohanes Paulus II dalam menetapkan HOSS, yaitu: (1) mengingatkan umat beriman untuk berdoa secara khusuk dan tulus untuk mereka yang sakit; (2) mengundang semua orang Kristiani untuk merefleksikan dan menanggapi penderitaan manusia; (3) mengakui dan menghormati semua orang yang bekerja dan melayani dalam bidang kesehatan.

Maka, dalam rangka HOSS, seluruh Gereja diundang untuk berdoa secara khusus bagi orang sakit, di samping juga untuk merenungkan makna penderitaan dalam peziarahan manusia menuju rumah Bapa. Paroki-paroki diundang untuk merayakan HOSS secara konkret dengan mengadakan misa untuk orang sakit di setiap paroki. 

Setiap tahun Bapa Suci menerbitkan pesan khusus untuk HOSS. Pada tahun 2012 Paus Benediktus XVI memilihkan tema  “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Luk 17:19).

Ia menyatakan bahwa “masa penderitaan bisa diubah menjadi masa rahmat”. Seringkali dalam penderitaan orang digoda untuk menjadi putus asa dan kehilangan harapan, tetapi dengan menyadari penyertaan Tuhan, masa ini bisa diubah menjadi masa rahmat untuk “mawas diri”, untuk “mengevaluasi kembali hidup seseorang, mengakui kegagalan dan kesalahan, membangkitkan kerinduan akan Bapa dan mengikuti jalan menuju rumah-Nya”.

Paus Benediktus XVI menekankan secara khusus tugas Gereja untuk memberikan ‘sakramen-sakramen penyembuhan’, yaitu sakramen Rekonsiliasi dan Pengurapan Orang Sakit, yang umumnya ‘mendapatkan penutupan alamiahnya dalam Ekaristi’. Dimensi penyembuhan dari sakramen-sakramen inilah yang perlu ditekankan kembali. 

Untuk menekankan dimensi penyembuhan dari sakramen Rekonsiliasi, Bapa Suci menyebutnya ‘obat pengakuan’ (medicine of confession) yang akan mengangkat seseorang dari kegelapan pengalaman akan penderitaan dan dosa dengan memberi pengharapan serta hidup kekal. Pengalaman dosa itu bertemu dengan Kasih yang mengampuni dan mentransformasi (Reconciliatio et Paenitentia, 31).

Lalu, dalam sambutan HOSS 2016, Paus Fransiskus mengatakan, penyakit, di atas semua penyakit yang berat, selalu menempatkan keberadaan manusia dalam krisis dan membawa serta pertanyaan yang begitu dalam. 

“Tanggapan pertama kita bisa jadi merupakan satu pemberontakan: Mengapa ini terjadi padaku? Kita dapat merasa putus asa, berpikir bahwa semuanya telah hilang, bahwa semua hal dalam hidup ini  tidak mempunyai arti lagi,” kata Bapa Suci.

Dalam situasi-situasi ini, lanjut Paus Fransiskus, iman kepada Allah pada satu sisi diuji, namun pada waktu yang sama dapat menyatakan semua sumber daya positifnya. “Bukan karena iman menyebabkan penyakit, rasa sakit, atau pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan, menghilang, tetapi karena iman menawarkan kunci yang membantu kita dapat menemukan makna terdalam dari apa yang sedang kita alami.” 

“Sebuah kunci yang membantu kita melihat bagaimana penyakit dapat menjadi jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada Yesus yang berjalan di sisi kita dengan beban salib di   pundaknya. Dan kunci ini diberikan kepada kita oleh Maria, Bunda kita, yang telah lebih dulu mengenal jalan ini,” kata Paus asal Argentina itu.

Pentingnya Pastoral Care
Baik Paus Benediktus XVI maupun Paus Fransiskus ingin menegaskan bahwa peristiwa sakit bukan hanya persoalan fisik semata. Ada dimensi spiritual di dalamnya. Di satu sisi, sakit cenderung membawa penderitanya berada dalam situasi krisis dan putus asa. Namun di sisi lain, peristiwa penderitaan itu juga menjadi sarana untuk mendapatkan makna terdalam dari apa yang tengah dialami. Sakit bisa mengasah iman kita untuk lebih dekat dengan Tuhan, yang selalu berjalan di sisi kita dengan salib di pundaknya.

Di sinilah terasa pentingnya pendampingan pastoral. Rama Bernardus Hary Asmara MSF, pastor untuk pastoral care RS St Elisabeth Semarang, memandang bahwa pendampingan pastoral menjadi bagian penting untuk mendukung kesembuhan pasien.

Tubuh manusia, menurutnya, memiliki dua dimensi, yaitu jasmani dan rohani, fisik dan jiwa (psikis). Keduanya saling mempengaruhi, termasuk ketika sakit. Kita mengenal peribahasa latin mens sana in corpore sano  (jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat). Maka, ketika badan sakit, jiwa pun ikut terganggu. Bisa juga sebaliknya, ketika psikis sakit, badan pun terganggu.

Imam MSF ini menambahkan, pastoral care ini lebih memberikan pelayanan kasih kepada mereka yang sakit di rumah sakit. Inti pastoral care adalah care atau empati terhadap mereka yang sakit. Kita turut mendampingi dan mendoakan mereka, supaya mereka dapat menghayati apa yang dialaminya. 

“Banyak dari mereka yang dirawat di rumah sakit, awalnya memberontak ‘mengapa saya koq diberi sakit, salahku apa’, akhirnya bisa menerima kondisinya dan menjadi lebih tabah menghadapinya,” ucap Rama Hary.

Apakah pastoral care hanya dilakukan di rumah sakit? Sebetulnya pastoral care bisa juga dilakukan di paroki-paroki, sebagai bentuk kepedulian imam atau umat kepada si sakit. Pastoral care sebetulnya bisa dilakukan di paroki-paroki dengan kunjungan, sapaan, pelayanan Sakramen Perminyakan. Dengan kunjungan dan sapaan, si sakit akan memperoleh penghiburan dan kekuatan untuk menerima sakit yang dialaminya, kata Rama Hary. 

Pelayanan Legio Maria dan kelompok-kelompok kategorial yang mengunjungi orang sakit itu juga merupakan bagian dari pastoral care, meski tidak menyeluruh. Karena mereka hanya datang, mendoakan, menguatkan hati, yang sifatnya sesaat saja. Pastoral care bersifat lebih menyeluruh: datang, menyapa, mendengarkan, mendoakan, dan sampai kepada menawarkan solusi. 

Pelayanan pastoral care kepada pasien bersifat menawarkan, bukan paksaan. Kadang ada pasien yang tidak mau dilayani. Sebaliknya, kadang ada secara sadar meminta pelayanan dari pastoral care. 

Pastoral care juga bekerja sama dengan para perawat. Para perawat dimohon menyampaikan kepada pastoral care bila ada pasien yang membutuhkan pelayanan rohani atau menderita luka batin. Pastoral care nantinya akan mencarikan pemuka agama yang sesuai dengan iman si pasien. Pihak RS St Elisabeth juga telah mengadakan kontrak dengan pemuka agama seperti Kristen, Hindu, Budha, Islam, Konghucu. 

Untuk meningkat kualitas pelayanan, tahun 2017 ini ada 450 perawat dibekali dengan pastoral care supaya bisa memahami kondisi pasien apakah membutuhkan pelayanan pastoral care atau tidak.  

Senada dengan Rama Hary,  Drs Anselmus Joko Prayitno MHum, dosen Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPKat) St Fransiskus Assisi Semarang. Ia mengatakan, para penderita sakit di rumah sakit sesungguhnya tidak hanya sakit fisik, melainkan juga psikisnya.

Tugas utama pastoral care atau pendampingan pastoral, menurut dia, tetaplah membantu orang sakit untuk mencapai kesembuhannya melalui aspek-aspek non-medis. Karena sakit yang dideritanya, kadang si pasien mengalami kesedihan, kekecewaan, putus harapan, bahkan tidak bisa menerima diri yang sedang sakit. “Di sinilah pendampingan pastoral bagi orang sakit diperlukan. Kehadirannya, tentu diharapkan akan meneguhkan, menghibur, dan menyemangati si sakit.”

Selain hadir dan mendengarkan, seorang pasien baik pula bila didoakan sesuai dengan iman dan agamanya. “Maka baik juga dalam kunjungan itu, si pasien didoakan,” ucap ketua Prodiakon Paroki Keluarga Kudus Atmodirono Semarang ini. 

Menurut Ansel, pastoral orang sakit itu pertama-tama merupakan tugas dari seorang imam atau rama. Namun, setiap umat pun bisa melakukannya. Kalau hanya mengharapkan tenaga imam, maka pelayanan pastoral orang sakit itu tidak akan berjalan. Di sinilah peran umat sangat diharapkan. 

“Umat, baik secara pribadi maupun kelompok, bisa menjalankan pelayanan pastoral itu.  Ketika mengunjungi orang sakit, ada interaksi dengan si sakit. Kita bisa mendengarkan penderitaannya dan memberikan solusi baginya, yang sifatnya non-medis. Termasuk juga mengajak berdoa. Jadi tidak hanya sekadar berkunjung saja,” tutur Anselmus Joko Prayitno.

Selama ini, lanjut dia,  banyak paroki yang belum melaksanakan pastoral orang sakit. “Secara struktur organisasi di paroki, pastoral orang sakit belum tertangani. Tim kerja (Timja) untuk orang sakit malah kadang belum ada,” tutur Ansel. 

Lalu kendalanya apa? Kendala pastoral orang sakit ada dua, yaitu di paroki dan di rumah sakit. Di paroki karena memang belum terbentuk timja orang sakit. Ini harus segera diusahakan. “Sedangkan untuk di rumah sakit, perlu adanya tenaga khusus untuk melayani orang sakit. Atau, setidaknya ada pendidikan dasar perihal pastoral care bagi perawat,” katanya.

Praksis Pastoral Care
Bagaimanakah praksis pastoral care di rumah sakit? Direktur Eksekutif RS St Elisabeth Semarang, Sr Victorine OSF, mengemukakan, “Para pendahulu kami, telah lama menerapkan apa yang disebut pastoral orang sakit. Tentu modelnya berbeda dari pastoral orang sakit zaman sekarang.” 

Menurutnya, secara eksplisit pastoral orang sakit ini tampak dalam pastoral care. Sebagai salah satu bagian dari pelayanan rumah sakit, pastoral care kami dilandasi oleh visi-misi RS St Elisabeth. Visinya adalah ‘Menjadi Rumah Sakit yang mengutamakan keselamatan dan terpercaya serta menjadi sarana kehadiran cinta dan kuasa Allah’.

“Dengan visi tersebut, kami keluarga besar RS St Elisabeth adalah instrumen atau sarana bagi Tuhan yang menyembuhkan. Kami semata-mata hanyalah alat-Nya, sebagai tangan-tangan Tuhan,” ucap Sr Victorine. 

Pastoral care RS St Elisabeth tidak hanya diperuntukkan bagi pasien Katolik. Setiap pasien yang dirawat di rumah sakit ini tentunya akan memperoleh perlakukan sama dari tenaga pastoral care. 

“60% pasien yang dirawat di sini merupakan pasien non-Katolik. Oleh karena itu, kami juga menyediakan tenaga pastoral care dari berbagai agama pula. RS St Elisabeth selalu menyiapkan tenaga rohani dari masing-masing agama, seperti Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, dan tentunya Katolik juga,” ucap Sr Victorine.

Pelayanan pastoral care bukanlah sebuah paksaan, melainkan suatu tawaran kepada si sakit dan keluarganya. Semua tenaga kesehatan itu juga perlu mempelajari tugas-tugas pastoral care. Harapannya, manakala ada pasien yang membutuhkan bantuan rohani, mereka siap melayani. 

Selain pendampingan kepada si sakit, tugas pastoral care juga mengirim komuni setiap hari kepada pasien yang membutuhkan dan tidak ada halangan menerima. Pelayanan yang lain, memperdengarkan renungan penyejuk iman dan bacaan kitab suci melalui loudspeaker ruangan, kata dia. 

Bentuk lain dari pelayanan pastoral care, yaitu perayaan Ekaristi dalam rangka Hari Orang Sakit Sedunia (HOSS). “Kami maknai diri sebagai pelayan kehidupan dan kami menyebut pasien itu bukan sebagai orang sakit, melainkan sebagai tamu ilahi,” tuturnya. 

HOSS diperingati RS St Elisabeth setiap tahun, namun tidak selalu tetap di tanggal 11 Februari. Peringatan HOSS biasanya dijatuhkan pada hari Minggu dan bertempat di kapel atau poli spesialis. Animo pasien untuk mengikuti misa orang sakit ini begitu besar. Bahkan yang tidak sakit pun ingin mengikutinya. Yang mengikuti misa ini pun tidak harus orang Katolik.***gunawan pr, elwin, anto

No comments