Header Ads

Breaking News

Memaknai Abu dalam Pertobatan

Abu itu kotor, hitam dan ringan. Begitu ditiup, abu bisa langsung terbang dan menghilang. Barangnya tidak berarti, ora mingsra. Tetapi kenapa Gereja memakai abu sebagai tanda pertobatan di awal masa Prapaskah? Masa pertobatan diawali dengan penandaan atau pengolesan abu pada dahi umat. Khusus para imam, abu ditaburkan di kepala. Perayaannya dinamakan Rabu Abu. Mengapa pada Hari Rabu Abu kita menerima abu di kening atau dahi kita? Sejak lama, bahkan berabad-abad sebelum Kristus, abu telah menjadi tanda pertobatan. Misalnya, dalam Kitab Yunus dan Kitab Ester. 

Ketika Raja Niniwe mendengar nubuat Yunus bahwa Niniwe akan ditunggangbalikkan, maka turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu (Yun 3:6). Demikian juga ketika Ester menerima kabar dari Mordekhai, anak dari saudara ayahnya, bahwa ia harus menghadap raja untuk menyelamatkan bangsanya, Ester menaburi kepalanya dengan abu (Est 4C:13).

Bapa Pius Parsch, dalam bukunya “The Church's Year of Grace” menyatakan bahwa “Rabu Abu Pertama” terjadi di Taman Eden setelah Adam dan Hawa berbuat dosa. Tuhan mengingatkan mereka bahwa mereka berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu. Oleh karena itu, imam atau diakon membubuhkan abu pada dahi kita sambil berkata: “Ingatlah, kita ini abu dan akan kembali menjadi abu” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”. 

Abu adalah sisa-sisa pembakaran yang berwarna hitam. Menurut Kitab Suci, abu mengungkapkan beberapa makna, antara lain: (a). yang tanpa harga; (b). yang memuakkan (bdk. Ayb 30:19); (c). kesengsaraan; (d). malu; (e). kerendahan diri di hadapan Allah (bdk. Kej 18:27); dan (f). perasaan sedih karena berdosa. Dengan demikian, abu memang memberi gambaran kelabu mengenai kelemahan dan dosa manusia.

Abu yang digunakan pada Hari Rabu Abu berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telah dibakar. Setelah Pembacaan Injil dan Homili, abu diberkati. Abu yang telah diberkati oleh gereja menjadi benda sakramentali.

Dalam upacara kuno, orang-orang Kristen yang melakukan dosa berat diwajibkan untuk menyatakan tobat mereka di hadapan umum. Pada Hari Rabu Abu, Uskup memberi kain kabung yang harus mereka kenakan selama empat puluh hari serta menaburi mereka dengan abu. Sementara umat mendaraskan Tujuh Mazmur Tobat, orang-orang yang berdosa berat itu diusir dari gereja, sama seperti Adam yang diusir dari Taman Eden karena ketidaktaatannya.

Mereka tidak diperkenankan masuk gereja sampai Hari Kamis Putih setelah mereka memperoleh rekonsiliasi dengan bertobat sungguh-sungguh selama empat puluh hari dan menerima Sakramen Pengakuan Dosa. Sesudah itu semua umat, baik umum maupun mereka yang baru saja memperoleh rekonsiliasi, bersama-sama mengikuti Misa untuk menerima abu.

Selamat melakukan olah rohani selama masa Prapaskah ini. Mari kita berekonsiliasi dengan Allah, sesama, keluarga, dan diri sendiri. Semoga yang jauh menjadi dekat, dan yang sudah dekat menjadi makin akrab. # Y. Gunawan, Pr

1 comment: