Header Ads

Breaking News

Maria Veronica Liana KS Segala Sesuatu Ada Waktunya



Kitab Pengkotbah mengatakan: ‘Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam’ (bab 3). Setelah mengalami jatuh bangun  dan tantangan kehidupan, firman inilah yang kini menjadi ‘rhema’ bagi Maria Veronica Liana Kurniawati Santoso dalam menapaki kehidupan bersama keluarga. Cinta sang suami dan doa lah yang menjadi kekuatannya.

Masih segar dalam ingatan Liana, kala ovarium (indung telur) kanan-nya harus diangkat akibat kista (tumor jinak di reproduksi perempuan) sudah pecah. Ia pun harus dua minggu terbaring lemah di rumah sakit. Kala itu ia tengah menimba ilmu di Fakultas Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. 

“Benak saya pun diliputi kecemasan luar biasa, mengingat ovarium saya tinggal satu, sehingga kemungkinan punya anak itu kecil,” kenangnya. 
Ia pun menyampaikan kegundahan hati kepada calon pendampingnya, Timoteus Setyawan, yang kala itu masih kuliah di Universitas Indonesia, Jakarta. Syukur kepada Allah, Setyawan bisa menerimanya. Dan pada 20 Juni 1993, mereka berdua mengucapkan janji setia di hadapan imam di Gereja Katedral, Semarang. 

Benar! Segala sesuatu ada waktunya. Kecemasan Liana tak terbukti. Tak lama meninkah, ia mengandung dan diberi buah hati seorang putra yang diberi nama Lucas Michael Setyawan. Ia bersyukur. Namun tak lama syukur itu ia ucap. Rupanya Michael mengalami keterlambatan bicara. Sontak saja Liana protes: “Tuhan, apa salah saya? Cobaan apa lagi ini?”

Lewat ikhitiar dan usaha yang tiada henti ke berbagai tempat terapi, perlahan tapi pasti Michael mengalami kemajuan pesat. Ia bergembira dan bersyukur. Apalagi Tuhan memberinya momong kedua dengan kelahiran putra kedua Matthew Albert Setyawan. Kini keduanya telah dewasa dan mandiri. Segala sesuatu adalah waktu.

Tetap Percaya
Ujian kembali menimpa pasangan Setyawan dan Liana. Gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta tahun 2006 ikut pula mengguncang usahanya. Barang dagangannya yang berupa kristal hancur berkeping-keping. Ia pun merugi ratusan juta rupiah. 

Liana dan Setyawan mempunyai tiga toko yang menjual Bohemian Kristal. Dua di Mall dan satunya lagi di rumah.  Dari lantai dua rumahnya mereka bisa melihat kristal-kristal itu meluncur keluar dari lemari-lemari pajangan. 

“Kerugian yang sangat besar membuat saya tidak berani menghitung berapa rupiahnya. Saya lemas, pikiran mendadak buntu. Saya tak tahu harus berbuat apa. Saya lalu berpikir bagaimana melunasi hutang-hutang saya,” ungkap pasutri yang aktif di komunitas anak muda Catholic Youth Fellowship (CYF).

Untunglah Liana dan Setyawan saling menguatkan. Ia mulai sujud bersyukur karena di tengah musibah yang demikian hebat, mereka sekeluarga boleh diselamatkan. “Harta masih bisa dicari, tapi keluarga tidak ada gantinya,” ungkapnya. 

Liana dan suami kemudian mendapat ide untuk merintis usaha air minum dalam kemasan (AMDK). “Perlahan kami melangkah lagi.  Dengan berkat Tuhan, usaha kami makin berkembang,” ungkapnya. Pasutri umat Paroki St Maria Tak Bercela, Kumetiran, Yogyakarta ini pun semakin mengamini firman dalam Kitab Pengkotbah 3. # Ivonne Suryanto 

No comments