Header Ads

Breaking News

Kakek Anakku Ingin Menikah Lagi



Yth Rama Yeremias, hampir enam bulan ini saya berselisih dengan ayah, karena ayah ingin menikah lagi dengan seorang janda (53 tahun) katolik. Perlu diketahui, ayah (56 tahun) duda setelah ibu meninggal 2,5 tahun lalu. Dan ayah sudah dipanggil kakek oleh anak saya. Saya sendiri anak tunggal. Saya tidak setuju karena ayah sudah tua dan dipanggil kakek. Sedangkan alasan ayah karena merasa kesepian dan tidak mau merepotkan keluarga saya serta tidak ada halangan hukum Gereja karena janda tersebut suaminya juga meninggal. Mohon petunjuk Rama. Berkah Dalem! 

Albertus – Yogyakarta

Albertus terkasih, terima kasih atas keterbukaanmu menceritakan persoalanmu dengan ayah. Ada dua hal yang membutuhkan klarifikasi, yakni apakah seorang yang sudah melampaui usia 50 tahun boleh atau tidak boleh menikah; seorang ‘kakek’ atau ‘nenek’ boleh atau tidak boleh menikah. Hal kedua adalah apakah kesepian dan tidak mau merepotkan keluarga dapat menjadi alasan dan mendasar bagi seorang kakek untuk menikah. 

Dalam hal usia seseorang, Kitab Hukum Kanonik  (KHK) 1083 menentukan batas awal umur menikah adalah 16 tahun untuk pria dan 14 tahun. KHK memberikan keleluasaan kepada Konferensi Waligereja setempat untuk menetapkan batasan usia nikah sesuai budaya setempat. Konferensi Waligereja Indonesia setelah menimbang bahwa ketentuan KHK terlalu rendah, maka KWI menetapkan batas usia menikah 20 tahun untuk pria dan 18 tahun untuk wanita. Yang menarik adalah baik KHK maupun KWI hanya menetapkan batas usia mininal orang boleh menikah, tetapi tidak menetapkan batasan usia maksimal seseorang tidak boleh lagi menikah. 

Maka Albertus tidak berhak melarang ayahnya untuk menikah meski sudah 56 tahun dan seorang kakek pula; asal memenuhi persyaratan-persyaratan menurut hukum Gereja Katolik. 

Lalu klarifikasi lain adalah alasan dasar atau motivasi utama untuk menikah. Alasan sang ayah adalah merasa kesepian seorang diri. Bila ayah ingin menikah hanya karena kesepian, kelak justru akan merepotkan pasangannya yang selalu dituntut untuk hadir mengisi hari-harinya dengan perhatian dan kehadiran. Maka menurut saya kesepian bukanlah alasan kuat untuk menikah. 

Alasan lain untuk menikah lagi adalah karena tidak mau merepotkan anak tunggalnya yang sudah berumah tangga. Hal ini perlu ditanyakan kepada ayah, apakah selama ini kehadirannya merepotkan keluarga Albert? Ataukah masih wajar-wajar saja. Hemat saya, sangatlah wajar seorang anak memperhatikan orangtuanya yang sudah semakin sepuh. 

Menikah adalah hak setiap orang dan wajar, sebagaimana wajar pula untuk sang ayah! Tetapi alasan yang dikemukakan ayah untuk menikah lagi, baik alasan kesepian maupun alasan tidak mau merepotkan keluarga anaknya, kiranya Albertus perlu menerus membangun dan mengusahakan relasi dan komunikasi yang baik agar keputusan menikah atau tidak menikah mendapatkan kesepakatan dan dukungan seluruh keluarga. Dengan komunikasi yang baik, saya yakin ayah tidak merasa kesepian dan perselisihan dapat terhindarkan. Berkah Dalem! # 

No comments