Header Ads


Breaking News

Dokter Yohanes Mario Vianney Perpanjangan Tangan Tuhan


“Dokter, tolong, pasien A jantungnya berhenti….” Dokter Mario segera bergerak cepat. Berbagai usaha dilakukan, termasuk resusitasi jantung pasien. Setelah berbagai usaha, jantung si A kembali mau berdenyut. Dokter Mario dan para perawat pun bisa menghela nafas lega. Itulah suasana di ruang ICU Rumah Sakit St Elisabeth Semarang manakala kegawatan terjadi. 

“Saya bersyukur, selama bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Elisabeth (RSE) Semarang ini, saya  melihat langsung kuasa Tuhan bekerja menyembuhkan pasien,” ujar dokter Yohanes Mario Vianney (31) haru.

Dokter Mario merasa bahagia apabila dapat menolong menyelamatkan nyawa pasien. Ia bercerita, pernah merawat seorang ibu yang menderita keracunan kehamilan (eklampsia) yang mengandung anak kembar. Syukurlah ibu dan kedua bayinya sehat dan selamat. 

“Dalam banyak peristiwa di rumah sakit ini, Tuhan menyatakan kuasa dan kasih-Nya. Tuhan punya cara tersendiri untuk menyatakan kasih-Nya kepada pasien dan keluarganya. Dan kadang cara itu kurang dirasakan dan ditangkap oleh banyak orang,” ujar umat Paroki St Athanasius Karangpanas Semarang ini.
Tugas sebagai Kepala ICU RSE, mengharuskan alumni Fakultas Kedokteran Umum Universitas Diponegoro Semarang ini, berhadapan dengan pasien kritis  setiap hari. Kritis artinya kondisi yang dalam waktu singkat maupun lama dapat berpotensi mengancam nyawa atau mengakibatkan kematian dan atau kecacatan. 

“Kondisi ini kadang membuat saya mengalami konflik batin terutama apabila berhadapan dengan pasien dalam kondisi terminal (incurable),” ucap suami dokter Susy Ariyanie Yusuf. Kondisi terminal diartikan secara medis sebagai suatu kondisi pasien dimana penyakit yang mengakibatkan pasien mengalami penurunan kondisi sehingga tidak dapat diobati secara sempurna dengan teknologi kedokteran saat ini.

Secara moral Katolik, kata dokter Mario, pasien dengan kondisi terminal ini sebaiknya dikelola secara paliatif (tidak disembuhkan namun diberikan rasa nyaman di akhir hidupnya). Sehingga pasien dengan kondisi ini tidak disarankan masuk ke ruang ICU dan mendapatkan perawatan dengan alat bantu nafas (ventilator) dan obat-obatan untuk menyokong (atau apabila boleh dikatakan memaksakan) jantung dan otak agar tetap berfungsi, “Saya terkadang mengalami pergumulan apabila menemui pasien dengan kondisi seperti ini.  

Saya ingin menolong orang tersebut. Namun di sisi lain saya berhadapan dengan konflik moral ini,” ungkap dokter kelahiran Semarang, 3 Agustus 1985 ini.

Sebagai dokter Katolik, dokter Mario memiliki dua buah panduan utama dalam melakukan pekerjaannya, yaitu kode etik dokter dan panduan moral Katolik. Namun ia mengaku kerap menghadapi hal yang dilematis dengan dua prinsip yang dipegangnya itu. 

Kesibukannya di rumah sakit tidak membuatnya melupakan keluarga. Setiap sore, dokter Mario meluangkan waktu untuk bercengkrama dengan anak istrinya di rumah. Selain itu di akhir pekan, keluarga kecil ini selalu pergi ke gereja dan rekreasi bersama. 

“Baginya menjadi seorang dokter merupakan sebuah rahmat dari Tuhan untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya menyelamatkan nyawa pasien,” akunya.# Ivonne Suryani

No comments