Header Ads

Breaking News

Bagaimana Menjelaskan Hosti Menjadi Tubuh Kristus?



Yth Rama Luhur terkasih, saya mahasiswa di perguruan tinggi di Semarang. Saya dibaptis sejak bayi dan sudah komuni pertama serta sakramen krisma. Saya percaya, komuni suci itu Tubuh dan Darah Kristus sendiri. Namun sebagai mahasiswa, pikiran saya kadang bertanya bagaimana cara menerangkan perubahan hosti/roti menjadi Tubuh Kristus dan anggur menjadi Darah Kristus. Saya tetap percaya akan Tubuh dan Darah Kristus. Namun, apakah iman akan Tubuh dan Darah Kristus itu bisa dipertanggungjawabkan secara nalar/intelektual? Berkah Dalem

Victor
Semarang

Sdr Victor terkasih, iman Katolik itu penuh misteri. Dalam perayaan Ekaristi, kita diajak menyatakan misteri iman kita (wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitan-Nya kita muliakan, kedatangan-Nya kita rindukan). Misteri iman ini tidak bisa 100% diterangkan secara logika. 

Dalam perayaan Ekaristi, ada juga pengakuan iman akan TUBUH dan DARAH KRISTUS yang kita sambut dalam rupa roti dan anggur. Pengakuan iman ini juga tidak bisa 100% diterangkan secara logika. Namun, Gereja Katolik memberikan penjelasan kepada umat yang percaya. 

Dalam Kitab Hukum Kanonik (Hukum Gereja Katolik) Kan. 899 – §1 diuraikan bahwa  perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus sendiri dan Gereja; di dalamnya Kristus Tuhan, melalui pelayanan imam, mempersembahkan diri-Nya kepada Allah Bapa dengan kehadiran-Nya secara substansial dalam rupa roti dan anggur, serta memberikan diri-Nya sebagai santapan rohani kepada umat beriman yang menggabungkan diri dalam persembahan-Nya.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan bahwa pada saat konsekrasi dalam Misa, roti dan anggur di altar sungguh-sungguh menjadi Tubuh, Darah, Jiwa dan Ke-Allah-an Yesus Kristus. Roti dan anggur sudah tidak ada lagi, meskipun wujudnya dan sifatnya tetap roti dan anggur. Perubahan yang amat penting ini oleh Gereja Katolik dinamakan perubahan hakiki atau transsubstansiasi - perubahan seluruh substansi roti ke dalam substansi Tubuh Kristus, dan seluruh substansi anggur ke dalam substansi Darah-Nya.  

Misalnya, dalam KGK No. 1333 dijelaskan, memang benar bahwa dalam peristiwa konsekrasi dalam perayaan Ekaristi terjadi perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Katekismus menegaskan ajaran ini, “Di dalam perayaan Ekaristi, roti dan anggur diubah melalui perkataan Kristus dan seruan kepada Roh Kudus, menjadi tubuh dan darah Kristus..., roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus atas cara yang penuh rahasia, ….” 

Cara kehadiran Kristus itu dilukiskan: “dengan sesungguhnya, secara real, dan substansial Tubuh serta Darah bersama Jiwa dan ke-Allah-an Tuhan kita Yesus Kristus, dan dengan demikian seluruh Kristus” (Konsili Trente: DS 1651). Kehadiran ini bersifat substansial (KGK no 1375), karena “terjadilah perubahan seluruh substansi roti ke dalam substansi Tubuh Kristus, Tuhan kita” dan “seluruh substansi anggur ke dalam substansi Darah-Nya”. Maka, perubahan ini disebut dalam arti sesungguhnya, perubahan hakiki (transsubtansiasi) (DS: 1642 // KGK No. 1377).

Perubahan substansi ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak berubah, yang oleh Katekismus disebut ‘rupa’.  ‘Rupa’ ini adalah penampilan lahiriah, yaitu bentuk, warna, berat, dan rasa. Katekismus melukiskan hubungan antara kehadiran Kristus dan ‘rupa’ itu, “Kehadiran Kristus dalam Ekaristi mulai saat konsekrasi dan berlangsung selama rupa Ekaristi ada. Di dalam setiap rupa dan dalam setiap bagiannya tercakup seluruh pribadi Kristus, sehingga pemecahan roti tidak membagi Kristus.” (KGK no 1377). Jadi, ‘rupa’ ini juga tetap boleh disebut sebagai roti yang mengemban kehadiran riil atau substansial Kristus. Maka, rumusan ajakan imam dalam Anamnese empat itu benar dan tidak melanggar Ajaran Gereja. # 

No comments