Header Ads

Breaking News

Bingung, Antara Gereja dan KUA

Rama Yeremias terkasih, saya dan pacar saya berencana menikah tahun depan. Kami sudah berpacaran 2 tahun dan pacar saya seorang muslim. Saya bingung dengan tawaran keluarga pacar saya. Meski tidak fanatik, keluarga pacar saya meminta pernikahan kami dilakukan di KUA, baru kemudian nantinya pemberkatan di Gereja. Alasannya, pacar saya anak lelaki tertua dan ayahnya sudah meninggal; dia berkewajiban untuk menikahkan adik-adiknya serta memandikan jenasah ibunya jika kelak meninggal dunia. Mohon petunjuk Rama. Terima kasih.

Valentina
Surakarta

Valentina yang baik, pertama-tama perlu diakui bahwa memilih pasangan hidup adalah hak asasi seseorang. Setiap orang bisa tertarik kemudian jatuh cinta dengan seseorang. Persoalan mulai muncul ketika setelah jatuh cinta dilanjutkan dengan pacaran serius. Misalnya, bagaimana mengenai soal iman yang berbeda, ketidaksetujuan dari keluarga masing-masing, bagaimana mengenai pendidikan iman anak-anak kelak, dll. Persoalan menjadi semakin rumit ketika dihadapkan dengan keputusan untuk menikah mau menggunakan upacara yang mana: tata cara pernikahan katolik atau non katolik? Hal ini akan menimbulkan persoalan tersendiri bagi Anda berdua serta bagi seluruh keluarga.

Kendati Gereja Katolik mengamini bahwa memilih pasangan hidup adalah hak asasi setiap orang dan oleh karenanya Gereja juga tidak melarang orang untuk menikah dengan seseorang sesuai dengan pilihan hatinya, akan tetapi Gereja tetap perlu memberikan rambu-rambu agar terjaminlah pernikahan yang bahagia dan langgeng serta terpeliharanya pula iman anggota Gerejanya.

Bagi mereka yang ternyata jatuh cinta dengan seseorang yang tidak seiman alias beda agama, saya menyarankan agar sedari awal dan bahkan sejak pertama berkenalan hendaknya sudah serius membicarakan soal perbedaan agama tersebut. Janganlah beranggapan bahwa kami toh belum pasti jadi menikah maka tidaklah terlalu perlu dan serius membicarakan masalah perbedaan keyakinan. Membicarakan di awal-awal masa perkenalan membuat Anda lebih bebas dan obyektif karena unsur perasaan belum terlalu kuat melingkupi hati dan pikiran Anda berdua. Maka janganlah segan-segan membicarakan hal yang krusial ini.

Menghadapi tawaran atau keinginan dari keluarga pacar hendaknya Anda berdua membicarakan dengan bijak dan bebas tanpa tekanan. Berdua sudah berpacaran dua tahun, pastinya telah memikirkan dan memutuskan bagaimana Anda berdua akan menjalani kehidupan nanti setelah menikah. Maka apapun tawaran atau desakan dari keluarga pacar, Anda harus kuat dan teguh dengan keputusan yang Anda berdua sendiri telah sepakati. Untuk itu Anda berdua dengan berani datang kepada orangtua pacar untuk menyampaikan keputusan Anda, apapun itu dan orangtua hendaknya mengikuti karena Anda berdualah yang akan menjalaninya.


Apabila Anda berdua sepakat untuk hendak menikah menurut tata cara Gereja Katolik, maka hendaknya Anda menghadap Rama Paroki untuk menanyakan syarat-syarat untuk pernikahan beda agama. Akan tetapi hal yang penting dan utama adalah bahwa Anda berdua sudah mempertimbangkan secara baik-baik untuk menjalani kehidupan perkawinan dengan beda keyakinan, memutuskan yang terbaik bagi Anda berdua tata cara manakah untuk menikah dan tentunya bagaimana pendidikan iman anak-anak nantinya. # 

No comments