Header Ads


Breaking News

Paroki Salam Tirakatan Theresianan

Paroki St Theresia Salam Magelang memiliki tradisi Theresianan untuk merayakan Hari Pelindung Gereja berupa kirab lukisan St Theresia dan doa novena berkeliling wilayah-wilayah di Paroki Salam. Pada tahun 2016 ini, puncak malam Theresianan digabungkan dengan tirakatan malam 1 Suro, Sabtu 1 Oktober 2016.

Menurut ketua panitia Agustinus Yulianto, Malam Theresianan dibuka dengan prosesi lukisan St Theresia menuju Gereja. Perarakan ini disambut dengan aneka pentas seni tradisi yang menggambarkan dinamika kehidupan umat Paroki Salam, antara lain teater gejok lesung, tari jathilan, tayub yang memuncak dengan tarian buto atau raksasa.

Memasuki Gereja, lukisan St Theresia ditahtakan dan dilanjutkan tirakatan  dengan lantunan tembang macapat yang menggambarkan tahun baru Jawa yang akan dimulai Senin (3/10).

Berperan sebagai tokoh Penthul, Rama Julius Blasius Fitri Gutanto, Pr menguraikan makna malam Theresianan. Buto atau raksasa yang menari chaos atau mengamuk saat prosesi Theresia menggambarkan manusia yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya. “Dan untuk mengendalikannya, kita harus mampu berpikir jernih, mengendalikan keinginan makan sebatas untuk bertahan hidup serta mengendalikan seksual sebagai sarana menumbuhkan keturunan, bukan semata mengumbar nafsu.”

Menutup uraian, Rama Fitri mengajak umat untuk hidup dengan baik sehingga mampu menjadi berkat melimpah, seperti hanya cacing yang mampu menyuburkan tanah. #Anton Wijayanto 

No comments