Header Ads

Breaking News

Tantangan-tantangan Baru Seminari Tinggi Kentungan

“Tak terbayangkan bagaimana keadaan Gereja Katolik di Indonesia sekarang ini, andaikata pada waktu itu Tuhan tidak menggerakkan hati para perintis sehingga berani memulai pendidikan imam pribumi meski menghadapi banyak tantangan. Sungguh rahmat Tuhan yang tak henti-hentinya patut kita syukuri”


Enam belas tahun lalu, kalimat reflektif itu disampaikan oleh oleh Mgr. Valentinus Kartosiswoyo, Pr dalam sambutannya saat perayaan Tumbuk Ageng Seminari Tinggi St Paulus, Kentungan,  Yogyakarta. Refleksi tersebut menunjukkan penghargaan yang besar atas jasa para pendahulu. 

Pemikiran yang visioner dari para pendahulu itu memungkinkan Gereja Katolik Indonesia, terutama Gereja Keuskupan Agung Semarang, mempunyai tenaga-tenaga imam pribumi (= rama praja) yang signifikan. Dan semua diyakini atas campur tangan penyelenggaraan Ilahi. Tidak lah berlebihan jika dikatakan seminari merupakan jantung Gereja. Di sanalah dipersiapkan para calon gembala umat secara serius. 

Tahun ini, tepatnya pada 15 Agustur 2016, Seminarti Tinggi St Paulus Kentungan Yogyakarta tepat berusia 80 tahun. Sepuluh windu!  Lalu, tantangan-tantangan baru apa yang dihadapi oleh Seminari Tinggi, “kawah candradimuka” para calon gembala umat? Dan, harapan-harapan apa yang ditumpahkan padanya oleh umat Katolik maupuan para calon imam?

Kilas Balik
Keberadaan Seminari Tinggi St Paulus Kentungan tidak bisa dilepaskan dari sosok Mgr Petrus Joannes Willekens SJ, yang pada saat itu menjadi Vikaris Apostolik Batavia (1933-1952). Pada tanggal 15 Agustus 1936 Mgr. P.J. Willekens SJ merintis berdirinya Seminari Tinggi Santo Paulus untuk para calon imam diosesan di Indonesia bertempat di Kompleks Misi Muntilan. 

Dua puluh lima tahun sebelumnya, Mgr. Antonius van Velsen (Vikaris Apostolik Batavia) telah mendirikan Seminari Menengah di Muntilan demi pengembangan jumlah imam pribumi. Sebagian dari lulusan Seminari Menengah inilah yang masuk ke Seminari Tinggi.

Paling tidak ada lima  hal yang kiranya melatarbelakangi keputusan Mgr. P.J. Willekens, SJ untuk mendirikan Seminari Tinggi St. Paulus, yaitu: 
  1. Surat Apostolik Ad Extremas yang ditulis oleh Paus Leo XIII pada tahun 1893 dan Surat Apostolik Maximum Illud ditulis oleh Paus Benediktus XV pada tahun 1919. 
  2. Keputusan mendirikan sebuah institusi pendidikan imam diosesan tentulah memerlukan tersedianya fasilitas dan tenaga pendamping, dan di sini pihak Serikat Jesus turut berperan.
  3. Jumlah baptisan baru amat menonjol, terutama di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah yang notabene memiliki latar belakang budaya Jawa yang cukup kental. 
  4. Jumlah siswa di Seminari Menengah terus meningkat. 
  5. Korespondensi antara Vikaris Apostolik Batavia dengan Pimpinan Serikat Jesus.

Situasi politik yang tidak menentu, ditandai suasana perang, membuat proses pendidikan di Seminari harus mengalami perpindahan tempat. Pada zaman penjajahan Jepang Seminari pernah ditutup oleh pemerintah Jepang. Para calon imam dititipkan di paroki-paroki untuk nyantrik sambil belajar teologi serta pastoral dari para rama paroki. 
  • 3 September 1938 pendidikan Seminari Tinggi diselenggarakan di Mertoyudan. 
  • Januari 1941 pindah ke Jl. Code Yogyakarta. 
  • 24 Januari 1942, pindah ke Girisonta. 
  • 27 Januari 1942, pindah ke kompleks Novisiat Suster-suster CB, Jl. Colombo 19 Yogyakarta.
  • 29 Juli 1944, pindah ke kompleks asrama Boedi Oetomo, Sindunegaran Yogyakarta. 
  • 10 Desember 1945, pindah ke Kolose St. Ignasius Yogyakarta.
  • 20 Agustus 1952 pindah ke Jl. Code
  • Akhirnya, pada 6 Januari 1968 Seminari Tinggi St. Paulus menempati lahan yang luas di Kayen, Kentungan, Yogyakarta, hingga saat ini. 

Perjalanan perpindahan dari satu tempat ke tempat lain tersebut menyadarkan kita akan perjalanan bangsa Israel di padang gurun. Dalam homili Misa Tumbuk Ageng 26 Agustus 2000, Mgr. Ignatius Suharyo mengungkapkan, ”Menurut Kitab Suci, masa pengembaraan di padang gurun itu adalah masa ketika umat mengalami kasih setia Allah. Kasih setia Allah menjadi andalan satu-satunya”. 

Dalam melintas zaman itu, disadari bahwa pentingnya usaha untuk terus-menerus melakukan pembaruan agar semakin signifikan dan relevan bagi masyarakat dan umat yang dilayani. Dalam pembaruan itu, semangat dasar pendiri dan pelindung tidak bisa ditinggalkan. 

Salah satu semangat dasar pendiri Seminari Tinggi ini diungkapkan (alm.) Bapak Justinus Kardinal Darmojuwono pada peringatan ulang tahun ke-40 Seminari Tinggi, ”Mgr. Willekens mendambakan rohaniwan, biarawan/wati yang muncul dari putra-putri asli, yang bersatu dan bersama dengan umat Katolik pribumi dalam cara hidup dan penghayatan iman Kristiani...yang berpijak pada situasi rakyat, dengan rakyat, tetapi tidak tenggelam dalam solidaritas belaka, melainkan dalam kebersamaan tersebut, mampu mengangkat umat, baik dalam imannya maupun dalam kedudukannya, baik dengan cara hidup maupun inspirasi yang bersinar dalam diri mereka”. 

Singkatnya, Mgr. Willekens mencita-citakan sosok imam yang ”kerakyatan, terbuka, dan sederhana” dari tempat pendidikan calon imam yang berlindung pada St. Paulus, guru segala bangsa ini.


Penggembalaan Para Uskup 
Sejak menjadi bagian dari Vikariat Apostolik Semarang, Seminari Tinggi St. Paulus berada dalam empat periode penggembalaan Uskup yang berbeda. 

Periode pertama adalah masa penggembalaan Mgr. Albertus Soegijapranata SJ (1940-1963) yang berjuang untuk mengakarkan Gereja di tanah air Indonesia dengan semboyan “seratus persen Katolik dan seratus persen Indonesia”. 

Sejalan dengan perjuangan Rama F. van Lith SJ, cinta terhadap Gereja dan tanah air merupakan gerakan untuk mengakarkan iman dalam budaya setempat. Perjuangan ini sangat aktual di tengah perjuangan bangsa Indonesia yang sedang mempersiapkan dan kemudian mengisi kemerdekaannya. 

Sebagai bentuk nyata untuk mengembangkan Gereja yang lebih tangguh-mandiri dan misioner, Bapak Justinus Kardinal Darmojuwono (1964-1981) menekankan pelaksanaan prinsip desentralisasi dan subsidiaritas dalam Gereja Keuskupan Agung Semarang. Pembagian wilayah Keuskupan menjadi empat kevikepan yang ditopang oleh keterlibatan umat paroki-paroki dan wilayah-wilayah menjadi jalan untuk menumbuhkan keterlibatan umat dalam kehidupan Gereja. Dengan demikian, Gereja benar-benar mengakar dalam masyarakat setempat. 

Untuk meningkatkan kualitas imam-imam diosesan, pada tahun 1981 Bapak Justinus Kardinal Darmojuwono memprakarsai berdirinya Tahun Orientasi Rohani (TOR) di Jangli-Semarang bagi calon-calon imam diosesan Keuskupan Agung Semarang. Pembinaan yang semakin bermutu diharapkan membentuk imam-imam diosesan yang semakin sederhana. 

Pada masa penggembalaan Mgr. Julius Darmaatmadja SJ (1983-1996), semangat membumikan iman Gereja ditandaskan dengan mencanangkan pentingnya Gereja yang memasyarakat. Hal ini dirumuskan dalam tiga Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (1984-1990; 1990-1995; dan 1995-2000), melaluinya disosialisasikan beberapa hal yang diharapkan dihayati dan diperjuangkan umat beriman, yakni: a) mengembangkan komunitas-komunitas basis; b) mengembangkan keadilan sosial dan memberdayakan rakyat miskin; c) menegakkan kesetaraan laki-laki dan perempuan sebagai makhluk ciptaan Allah; d) memelihara lingkungan hidup; dan e) menumbuhkan kesadaran dan penghayatan akan nilai-nilai Injil di tengah arus zaman.

Penggembalaan Mgr. Ignatius Suharyo (1997-2009) ditandai oleh perjuangan Gereja menjadi relevan dan signifikan di tengah berbagai tantangan zaman dan keprihatinan bangsa. Gereja adalah peristiwa yang terus-menerus menanggapi keprihatinan hidup dan membentuk persekutuan yang hidup agar mampu semakin memberdayakan masyarakat, terutama yang kecil, lemah, miskin, dan tersingkir.

Visi Gereja yang hidup yang dikembangkan di Keuskupan Agung Semarang selama ini dilanjutkan oleh (alm.) Mgr. Johannes Pujasumarta (2010-2015). Dengan semangat “duc in altum” (bertolak ke tempat yang dalam), Mgr. Johannes Pujasumarta mengajak seluruh umat Keuskupan Agung Semarang, termasuk pada calon imam diosesan, untuk senantiasa bersyukur atas karya penyelenggaraan Tuhan.

Upaya “bertolak ke tempat yang dalam” ini dimaknai baik dengan berani masuk pada kedalaman relasi dengan Allah melalui pendalaman dan perayaan iman, maupun berani menceburkan diri dalam pergulatan masyarakat di bidang sosial, politik, kemasyarakatan, pemberdayaan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel, serta pelestarian keutuhan ciptaan.

Jujur, Disiplin, dan Gaul
Seperti apakah model pendidikan di dalamnya?  Menurut Rektor Seminari Tinggi St Paulus, Rama Joseph Kristanto Suratman, Pr., Seminari Tinggi merupakan jenjang pendidikan terakhir calon imam, khususnya untuk calon imam diosesan (praja).  

Sebelumnya, mereka menempuh empat tahun pendidikan seminari menengah (St Petrus Canisius, Mertoyudan, Magelang) dan setahun di seminari tahun orientasi rohani (TOR) Sanjaya, Jangli, Semarang.  

Seminari TOR memberikan dasar latihan-latihan rohani melalui refleksi, meditasi, renungan, hening, doa, devosi, pelayanan kepada orang-orang kecil. Diharapkan, ketika masuk di seminari tinggi hal-hal mendasar tersebut sudah bisa berjalan.

“Di Seminari Tinggi calon imam menjalani tujuh tingkat pendidikan, meliputi S1 (tingkat 1-4), S2 dan Lisensiat (tingkat 5-7). Antara S1 dan S2 ada masa yang disebut Tahun Orientasi Pastoral (TOP), di mana seorang calon imam magang di paroki atau lembaga kategorial yang ditunjuk, lembaga pendidikan misalnya. Waktunya satu tahun,” ucap Rama Kristanto. Tujuan masa TOP adalah supaya seorang calon imam “mencicipi”  karya pastoral yang akan digeluti jika sudah menjadi imam. 

Ada Wali Tingkat di setiap tingkat Seminari Tinggi. Mereka bertanggung jawab atas pendidikan, pendampingan, pengolahan panggilan, selama satu tahun. Untuk mengetahui perkembangan dan pengolahan panggilan, seorang calon imam atau frater harus wawancara dengan Wali Tingkat paling tidak satu atau dua kali per semester. 

Kehidupan selalu berjalan ke depan. Pasti selalu ada perubahan yang memunculkan hal-hal baru, tantangan baru, serta penyikapan baru di setiap generasi. Itu juga yang dihadapi komunitas seminari tinggi. Jika perubahan ini tidak disikapi dengan baik, akan ada jarak (generation gap). 

“Kami merasakan bahwa antara para calon imam dan staf seminari ada semacam generation gap. Staf seminari tinggi sebanyak 11 imam, rata-rata berusia antara 51-52 tahun. Sedangkan para frater ini merupakan lulusan SMA (seminari menengah) plus dua tahun,  berusia antara 21-22 tahun. Memang ada frater yang late vocation atau panggilan tertunda, tapi jumlahnya sedikit sekali,” ucap Rama Kristanto. 

“Generation Gap ini memang kami rasakan. Oleh karena itu kami bekerja sama dengan berbagai pihak, untuk memberi masukan mengenai Net Generation atau kategori Generasi XYZ  ini. Memang ini karakternya sungguh berbeda dari kami. Mereka ini lahir sudah dekat dengan piranti  teknologi nirkabel seperti HP, sehingga sudah bisa memainkan alat-alat tersebut meski mereka belum bisa membaca,” lanjut Rama Kristanto.

Sekalipun zaman terus berubah, Seminari Tinggi dalam proses pendidikannya selalu menekankan pada nilai-nilai mulia yang relevan untuk kehidupan. Hal itu dimanifestasikan melalui motto yang terus diperbarui setiap tahun. Dalam tahun ajaran 2016-2017 Seminari Tinggi St Paulus mempunyai motto: jujur (honest), disiplin (discipline), dan gaul (good interpersonal skill). 

Mengapa “pandai” tidak menjadi pilihan? Karena, ia menilai, pandai saja tidaklah cukup. Pandai tetapi tidak jujur, tidak disiplin, justru bisa menyesatkan. “Mereka adalah calon-calon gembala. Bayangkan apa jadinya jika tidak jujur dan tidak disiplin, untuk hal-hal yang sederhana sekalipun. Bisa kacau balau.”

Oleh karena itu, lanjut Rama Kristanto, yang ditekankan di  seminari tinggi ini adalah, pertama, learning atau belajar sesuatu. Lalu, kedua, habit atau  kebiasaan. Sesuatu yang dipelajari itu harus dibiasakan. Seperti bangun pagi, belajar, bekerja, masak, berdoa, latihan-latihan kotbah, latihan koor, latihan bicara di depan umum. 
“Semua itu butuh disiplin dan harus disiapkan betul hingga menjadi kebiasaan atau habit. Dan, dari learning ke habit itu muncullah believe atau keyakinan. Yaitu bahwa apa yang dipelajari, apa yang dibiasakan itu, adalah sesuatu yang baik.”

“Nah, ketika believe ini menguat, akhirnya jadilah mission, yaitu tindakan atau perilaku. Maka ada learning, habit, believe, dan mission. Itulah sebenarnya yang dibuat dengan motto Jujur, Disiplin dan  Gaul,” tutur Rektor Seminari Tinggi St Paulus ini.

Studi Banding
Untuk terus beradaptasi dengan perubahan zaman, para pengajar memiliki Forum Rektor, sebagai salah satu sarana untuk saling berkomunikasi dan mengembangkan diri. Forum ini terdiri dari seminari tinggi dan tarekat-tarekat, antara lain Seminari Tinggi Anging Mammiri, SCY, MSF, SSCC, SX, OFM, CSsR, SY, CFM, OCD, dan OMI. 

“Tahun 2015, kami mengirim beberapa frater ke Seminari Tinggi St Petrus Sinaksak, Pematang Siantar, supaya mereka tahu bagaimana pendidikan calon imam di sana.  Selain itu, delapan frater juga belajar di Sekolah ‘Selamat Pagi Indonesia’, Kota Batu, Malang, delapan lain belajar di Sekolah ‘Gulaku’ di Lampung. Juga ada tiga frater yang dikirim ke Filiphina selama satu bulan untuk belajar dan mengalami interaksi di komunitas Focolare,” kata Rama Kristanto.

Tahun ini Seminari Tinggi St Paulus mengirim Rama Dionisius Bismoko Mahamboro Rp dan Frater Antonius Hendri Atmoko untuk belajar dan melihat kondisi-situasi Marry Knoll di Amerika –organisasi Katolik yang orang-orangnya punya reputasi bergerak di komunitas wilayah kumuh, hidup dan mengenal “bahasa” mereka, berusaha mengatasi kemiskinan, memperbaiki kesehatan, serta membangun akses terhadap keadilan sosial-- selama satu bulan. 

Ketika pulang, mereka yang menjalani studi banding itu harus membuat refleksi. Refleksi itu dibaca ke sesama frater, lalu dibukukan.  “Dengan cara-cara seperti ini, semoga kami menjadi lebih terbuka untuk melihat perkembangan yang ada dan mengenal beragam metoda pendidikan di berbagai belahan Indonesia dan dunia,” katanya. 

Lalu, imam masa depan akan seperti apa? “Jujur, kami tidak tahu masa depan akan seperti apa. Yang kami berikan adalah bekal-bekal fundamental bagi para calon imam untuk meniti kehidupan  dan menghadapi perubahan sebagai ‘gembala’. Yang kami yakini, jika seseorang menjadi imam yang jujur, disiplin, dan gaul, sentire cum ecclesia (sehati-sepikir-seperasaan dengan Gereja lokal atau umat lokal), saya sudah senang. Yang terpenting adalah mau mendengarkan, rendah hati, dan melayani,” ucap Rama Kristanto.

Berani Berproses
Sebagai calon imam tingkat 6 di Seminari Tinggi St Paulus, Frater Andreas Krishna Gunawan  menilai, formatio pendidikan calon imam di seminari tinggi ini sudah mencukupi. Dengan tema atau motto setiap tahun yang selalu baru, seorang calon imam diajak untuk terus berproses untuk menjadi calon imam yang semakin baik, dan nantinya diharapkan bisa menjadi seorang imam yang semakin baik pula.

Untuk tahun ini motto yang dicanangkan adalah jujur, disiplin, dan gaul. Fr Andreas memandang bahwa motto ini mengajak seluruh calon imam di seminari tinggi untuk berani berproses dan berubah. Misalnya tentang kejujuran. “Kita diajak untuk belajar jujur pada diri sendiri, pada komunitas, keuskupan, dan umat,” ucapnya. 

Calon imam dari Paroki Kalasan ini juga menambahkan tentang kejujuran. Di seminari tinggi ini hanya ada 11 rama staf seminari, sedangkan para fraternya 90an orang. Nah, tidak mungkin seorang rama mampu secara membimbing dan mendampingi setiap calon imam secara intensif. Untuk itulah pentingnya kejujuran ditekankan. Untuk itu pula, kata jujur ditempatkan diurut pertama dari motto yang dicanangkan. 

Motto disiplin sangat penting dicanangkan bagi setiap calon imam. Disiplin pada diri sendiri dalam membagi waktu dan lain-lain, sangat penting bagi calon imam untuk membekali diri sebagai seorang imam. Bisa dibayangkan bagaimana jika seorang imam tidak mempunyai sikap disiplin. Pasti situasi paroki, komunitas, ataupun berbagai rencana jadwal tak akan berjalan dengan baik. 

Dengan motto gaul, Fr Andreas melihat perlunya seorang calon imam belajar untuk menjadi penuh inisiatif dan terbuka. Gaul di sini diartikan sebagai sikap imam dalam menyapa dan menggembalakan umatnya. “Sebagai imam praja yang lahir dari umat dan berkembang bersama umat, hendaknya ia lebih gaul dalam arti bisa lebih menyapa umat dengan lebih baik,” ungkapnya. 

Imam masa depan itu seperti apa? “Menyitir pesan Rama Hari Kustono (almarhum) saat saya akan menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral di Papua, jadilah imam yang suci. Kemudian saya refleksikan selama setahun, imam yang suci itu seperti apa di masa kini. Imam suci ialah imam yang mau melayani umat dan menyapa umat. Sehingga kebutuhan umat itu benar-benar terpenuhi,” tutur Fr Andreas.


Melayani dengan Murah Hati
Koordinator Umum Badan Pelayanan Keuskupan Pembaharuan Karismatik Katolik Keuskupan Agung Semarang, Laurentius Suhartono, melihat tantangan imam masa kini itu begitu kompleks. Ia pun menyebutnya antara lain, imam zaman sekarang harus bisa menyelami kehidupan umat, yang mau terlibat langsung dalam keprihatian umat. “Paus Fransiskus menyebutnya, seorang imam yang berbau dombanya,” ucap Suhartono menyitir ucapan Paus. 

Ia juga menambahkan, imam masa kini harus tahu perkembangan arus-arus zaman, seperti hedonisme dan individualisme. Selain itu imam perlu berevangelisasi di keluarga-keluarga parokinya. Dan yang tak kalah pentingnya, pelayanan sakramen sebagai tugas utama hendaknya semakin ditingkatkan, dan bukan sebaliknya malah diabaikan. 

Masih menurut Suhartono, dulu sewaktu menjadi Uskap di KAS,  Mgr Ignatius Suharyo pernah menyampaikan soal pelayanan yang murah hati.  Dan itu sangat berdampak kepada pelayanan imam-imam yang menjadi murah hati. Namun, ketika Mgr Suharyo telah berpindah tugas ke Jakarta, kini pelayanan yang murah hati itu sudah kurang begitu dirasakan oleh umat. 

Sementara itu Ketua Presidium Wanita Katolik RI DPD Jawa Tengah, MM Nunung Purwanti melihat tantangan besar bagi imam masa kini dan masa depan adalah seputar pluralisme dan politik Indonesia. “Karena hingga saat ini pluralisme di negara kita masih saja menjadi riak yang selalu mengganggu kehidupan berbangsa kita. Pada saat yang sama, dunia politik di Indonesia masih saja kurang mendukung bagi kehidupan berbangsa yang lebih harmonis.”

Secara pribadi Nunung berharap, imam masa depan harus seorang yang smart dan membumi. “Umat saat ini membutuhkan imam yang cerdas dan mampu menjadi gembala. Umat membutuhkan teladan dan kesaksian hidup beriman. Seperti Musa, yang berusaha meyakinkan umat bahwa tujuan hidup mereka adalah tanah terjanji,” tutur Nunung.

Lain lagi Antonius Adi Prabowo, tokoh Gereja Katolik Warak, Sleman, Yogyakarta. Tantangan yang dihadapi para imam saat ini adalah kecenderungan umat yang melakukan banyak simplifikasi, termasuk dalam hal liturgi. “Segalanya dibuat sederhana dan instan.”

Ia menyontohkan sembahyangan lingkungan dengan berbagai alasan dibuat sangat singkat dan secukupnya, tidak ada pendalaman. Umat melakukannya hanya untuk formalitas. Memang tidak semuanya begitu tetapi situasi nyata yang terjadi sekarang seperti itu.

''Begitu pula untuk kegiatan lain seperti kursus perkawinan, komuni pertama dan lainnya, peserta inginnya singkat dan langsung pada hasil. Fenomena tersebut sudah berlangsung beberapa waktu ini dan perlu perhatian tersendiri,'' papar Adi.

Hal lain yang ia sampaikan, kompleksitas persoalan dalam keluarga yang berpotensi pada perpecahan atau murtad. Ia mengatakan tugas imam sekarang bukan lagi sekadar pemimpin liturgi, tetapi juga pimpinan umat yang peduli dengan lingkungan sekitar, dengan keluarga-keluarga, birokrasi dan banyak hal lain.

“Imam memiliki ketaatan penuh pada janjinya sebagai pemimpin umat yang juga taat pada hirarki dan menjalankan dengan baik tugas-tugas pastoral, liturgial dan sosial. Imam yang berani berbeda dengan kemauan umat tidak seharusnya dianggap melanggar ketetapan Gereja,” tuturnya.

Di usia ke-80, rupanya makin banyak tantangan yang harus dijawab oleh Seminari Tinggi St Paulus, Kentungan, Yogyakarta. Demikian pun oleh para seminarisnya, yang kelak akan menjadi gembala umat, pemimpin teladan bagi umat. ***gunawan pr, elwin, agung, anto